
Bian tergesa - gesa pulang ke rumah. Ia ingin segera bertemu dengan Vega. Bian sedikit merasa bersalah karena menyuruh Vega utuk cepat pulang tadi siang.
Ketika Bian ingin menemui Vega di kamarnya, Ia melihat wanita sedang berdiri di balkon. Vega sedang menikmati teh hangat sambil melihat bintang. Di tempat favorit mereka.
"Ekhem" Bian berdehem memecah lamunan Vega.
"Kak Bian sudah pulang?" tanya Vega ketika melihat Bian dibelakangnya.
Bian mengangguk.
"Kamu buat sendiri pie buah tadi?" tanya Bian sambil membelai rambut belakang Vega.
Vega merasa sangat nyaman. Bian kembali memperlakukannya dengan lembut.
Orang ini punya kepribadian ganda, atau apa, batin Vega.
"Iya, tadi siang aku membuatnya bersama Ibu" jawab Vega sambil menatap manik Bian.
"Ayah dan Ibu sudah pulang?" tanya Bian lagi.
Ayah dan Ibu?, sejak kapan kak Bian manggil seperti itu, batin Vega.
"Sudah, mereka titip salam untukmu karena tidak bisa berpamitan secara langsung" jawab Vega.
Bian kembali mengangguk sambil masih mengelus rambut Vega lembut.
"Maafkan kakak, aku tidak bermaksud mengusirmu tadi. Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak enak, karena aku harus bekerja bersama Syaila" ucap Bian.
"Tidak apa apa kak, aku harus terbiasa dengan hal itu. Kak Syaila kan memang partner kerja kak Bian" sahut Vega.
"Terimakasih karena sudah mengerti" ucap Bian lagi.
Bian mengecup kening Vega dengan lembut. Kemudian Bian meraih tubuh Vega masuk kedalam pelukannya. Vega merasa kesulitan karena sedang memegang cangkir teh.
***
Hari ini Vega mempunyai jadwal kencan bersama kak Bian. Sebagai permintaan maaf, Bian mengajak Vega untuk keluar jalan - jalan sepulang kuliah.
Vega keluar kelas dan melihat mobil kak Bian sudah terparkir di depan gedung fakultas. Ia langsung membuka pintu dan masuk ke mobil. Vega tahu bahwa kak Bian harus merahasiakan keberadaannya, sehingga tidak pernah keluar dari mobil saat menjemput Vega.
"Kamu capek?" tanya Bian.
"Engga kok kak, aku sangat semangat mau jalan bareng kak Bian" jawab Vega ceria.
"Oke, kita makan dulu ya" ucap Bian sambil melajukan mobilnya.
"Dimana kak?" tanya Vega.
"Nanti kalo ada yang mengenali kakak gimana?" sambung Vega.
" Gapapa, kita cari resto yang tidak terlalu ramai" jawab Bian.
Mereka sampai disebuah restoran dekat pinggir pantai. Mereka membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menuju restoran tersebut.
__ADS_1
"Mba kami mau tempat yang bebas dari cctv, dan sepi" ucap.
"Dasar anak muda, knapa tidak ke motel saja" gerutu mba pelayan pelan.
Akhirnya mereka duduk di balkon resto yang menghadap laut di belakang.
"Kak Bian" panggil Vega.
"Hem?" sahut Bian menatap Vega.
"Gimana kalo suatu saat nanti fans kakak dan semua media tahu kalo kita bertunangan?" tanya Vega.
"Apa aku harus mengakui bahwa kita memang tunangan, atau memilih membantahnya? Aku tahu bahwa ini semua bisa memengaruhi karirmu kan kak" tanya Vega lagi sebelum Bian sempat menjawab.
"Kenapa berpikir sampai kesitu, abisin dulu makanannya. Aku hanya ingin berbahagia denganmu hari ini, tanpa memikirkan apa yang belum terjadi" jawab Bian.
"Baiklah kak" jawab Vega.
Benar kata kak Bian, kita jarang sekali menghabiskan waktu berdua, batin Vega.
"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Bian mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin menonton film kak, kemaren temenku ada yang merekomendasikan film horror" jawab Vega bersemangat.
"Oke, abisin dulu. Abis ini kita ke bioskop" ajak Bian.
"Eh tapi kak, kan mall lebih ramai orang. Bagaimana jika ada yang mengenalimu?" tanya Vega takut.
"Tenang saja, aku sudah sering menyamar saat pergi ke mall. Aman ko" jawab Bian yakin.
Sejak kecil Vega memang pemberani. Ia selalu terterik apabila ada film horror yang baru tayang. Namun kebalikan dari Vega, Bian justru sangat takut menonto film horror. Tadinya Bian ingin menyarankan film lain, tapi melihat Vega yang sangat antusias ingin menonton film tersebut, membuatnya mengurungkan niatnya.
Bian menggandeng tangan Vega memasuki mall. Ia tetap menggunakan masker dan topinya untuk melakukan penyamaran. Karena merasa masih cukup lama film dimulai, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan - jalan melihat isi mall.
"Kamu masih suka dengan warna kuning dan putih Ve" tanya Bian masih dengan mengenggam tangan Vega mesra.
"Masih, kakak masih ingat warna kesukaanku?" tanya Vega sambil tersenyum.
"Masih, aku juga masih ingat film kartun favoritmu" ucap Bian.
"Apa coba?" tanya Vega.
"Spongebob kan" jawab Bian.
"Ih itu kan dulu udah lama banget, akhir - akhir ini aku lebih suka larva" jawab Vega.
"Kenapa ganti" tanya Bian menghentikan langkah kakinya.
"Ya karna udah bosen kak, wajar dong ganti kartun favorit" jawab Vega.
"Kalo begitu beritahu aku semua hal yang berubah dari dirimu" ucap Bian.
"Aku hanya ingin jadi satu - satunya orang yang sangat mengenalmu Ve" sambung Bian sambil mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Baiklah kak, akan aku beritahu semuanya. Pelan - pelan kita saling mengenal lagi ya kak" ucap Vega.
"Kaka juga harus memberitahuku semuanya, meskipun hal yang mungkin akan menyakitiku, asalkan kaka mau jujur aku akan berusaha mengerti" ucap Vega lagi sambil memegang erat kedua tangan Bian.
Bian tersenyum.
"Baiklah..."
Belum sempat menjawab Vega, tiba - tiba ada teriakan dari lantai bawah.
"Itu Bian, iya kan dia Bian" teriak seorang gadis SMA yang sedang berjalan berasam dua orang temannya.
Mendengar teriakan tersebut, mata Bian reflek mencari sumber suara. Ia kemudian menggandeng tangan Vega untuk berlari menjauhi ketiga gadis SMA itu. Bisa bahaya apabila mereka ketahuan.
Ketiga anak SMA tersebut juga ikut berlari, mereka menaiki eskalator dengan tergesa. Namun ketika sampai di lantai temlat Bian dan Vega berada, mereka tidak menemukan siapapun.
Bian dan Vega sudah sampai dilantai paling atas mall.
"Kak, apa sebaiknya kita pulang saja?, gimana kalo mereka tetap mencari keberadaan kita?" tanya Vega.
"Tenang saja, mereka tidak akan menemukan kita, ayok kita beli popcorn dulu" ajak Bian setelah mereka mencetak tiket film.
Vega mengangguk dan berjalan mengikuti lamgkah kaki Bian. Mereka sengaja memesan kursi di pojok belakang, yang jauh dari jangkauan mata penonton lain.
"Tahu ga kak, aku selalu deg degan kalo mendengar suara dolby all around you" tanya Vega sambil mengingat ingat pertama kali ia masuk Bioskop.
"Tahu ga, kalo sekarang aku deg degan karena apa?" Bian balim bertanya.
Bian berbicara sambil berbisik di telinga Vega. Ia tidak ingin ada yang mengenali suaranya di situ.
"Apa?" Vega ikut berbisik ditelinga Bian.
"Aku bersama wanita cantik saat lampu akan dimatikan" bisik Bian lagi.
"Kak" ucap Vega sambil menyenggol lengan Bian.
Vega tiba - tiba merasa tersipu malu. Hari ini Bian penuh dengan kata romantis. Ia tidak terbiasa dengan semua itu. Begitu juga dengan Bian. Baru kali ini dia segombal itu didepan wanita.
Memang yah, kalo lagi dimabuk cinta, dunia serasa milik berdua. Tidak ada lagi kata alay dibalik kata cinta. Anjayy.
Lampu suda dimatikan dan film mulai terputar dilayar Bioskop. Bian segera membuka topi dan maskernya.
"Kak, nanti kalo ada yang lihat gimana?" tanya Vega sambil melirik ke sekeliling.
"Melibat dari mana, kamu ga lihat sebelah kita kosong" tunjuk Bian ke kursi di samping mereka.
Kebetulan teater 3 hari ini sedikit sepi. Tidak banyak orang yang suka menonton film horror di sore hari. Orang - orang disitu lebih memilih memesan tiket malam hari.
Iya sih, batin Vega.
Vega menengok kembali ke arah Bian. Seketika ia terpesona dengan ketampanan Bian, yang hanya terkena sedikit cahaya dari layar Bioskop.
Tampan sekali. Yatuhan, semoga dia yang menjadi jodohku. Jika jodonya orang lain, maka jadikanlah aku orang lain itu, batin Vega mengagumi ketampanan tunangannya itu.
__ADS_1
...Bersambung...