Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 7 Dating?


__ADS_3

Pagi – pagi


Keluarga Alfa Seirious sedang menikmati sarapan bersama, lengkap dengan Bian. Mamah senang akhirnya Bian kembali kerumah tanpa disuruh. Padahal ia telah membujuk Bian saat makan malam terakhir kala itu. Namun Bian menolak terang –terangan perintah mamahnya saat itu.


"Ve, kapan lu kenalan sama si Danis dah?” tanya Ryan memecah keheningan.


“Oh, semalem. Tapi darimana kakak tau?” tanya Vega balik.


“Tadi dia telfon gue, katanya mau mampir sekalian jemput lu. Tapi gue gabolehin, dia tuh playboy tau, siapa siapa mau di embat,” jawab Ryan menerangkan


Tiba – tiba Ryan mempunyai ide jahil, untuk melihat bagaimana reaksi kak Bian.


“Tapi kalo lo mau, gue bisa bilangin ke dia buat jemput lo, biar gue berangkat sama cewe gue aja,” tawar Ryan sambil melirik ke Kak Bian.


Belum sempat menjawab, tiba – tiba si kulkas dua pintu bersuara.


“Gaboleh berisik ketika makan, telen dulu makanan lo yan,” tegur Bian datar.


Ryan tahu, kalo dulu kakaknya sangat menyayangi Vega ketika masih kecil. Bahkan Bian yang merengek – rengek ke orang tuanya untuk segera berkunjung ke Jogja. Yaa, sebelum kakek Vega meninggal tepatnya.


“Gimana Ve lu ma..?” belum sempat menyeleseikan perkataannya, Ryan sudah mendapat tatapan tajam dari sang kakak, sehingga Ryan mengurungkan tawarannya itu.


Akhirnya Vega berangkat bersama Ryan mengunakan mobil Ryan.


***


Di kantin.


“Aku boleh duduk disini kan?” tanya Danis menghampiri meja Vega dan Nita.


“Boleh, tentu kak,” sahut Nita tanpa meminta persetujuan Vega.


Kantin yang mereka datangi terletak difakultas seni. Hampir semua anak seni mengenal Danis, sang gitaris tampan idola semua wanita. Orang - orang mulai melirik siapa gadis itu, kenapa bisa dekat dengan Danis sang idola.


“Ve, kamu hari ini kelas sampe jam berapa?” Tanya Danis.


“Emm, jam tiga kalo gasalah. Kenapa kak?” tanya Vega.


“Sebenernya adekku ulang tahun hari ini, tapi aku gatau kesukaan cewe itu apa. Kamu mau ga bantuin kakak nyari hadiah buat adekku?” tanya Danis dengan mata memohon.


Modus amat, batin Nita sambil senyam senyum mendengarkan permintaan Danis ke Vega.


“Bisa sih , kebetulan aku juga mau beli beberapa buku kuliah. Kamu mau sekalian ikut ga Nit” tanya Vega ke Nita.


Nita tahu kalo Danis sebenarnya hanya ingin mengajak Vega, sehingga ia langsung menolak.


“Ga deh, gue gabisa, soalnya gue harus nganterin mamah gue check up ntar sore,” bohong Nita.


“Yuadah nanti jam tiga ku jemput  ya Ve, gue ke kelas dulu bye,” pamit Danis sambil mengedipkan satu mata.

__ADS_1


***


Di lokasi syuting.


“Mikirin apa tuan? Nona Vega ya?” tanya Simon manajer sekaligus asisten pribadi Bian.


Sialan, tahu dari mana sih asisten satu ini. Batin Bian kesal.


“Gausah kepo deh lo mon,” jawab Bian ketus.


Simon sangat tau mengenai kisah antara Bian dan Vega yang dojodohkan. Simon mengira kalo sebenernya tuannya itu memang suka ke vega, tapi tidak mau mengakui perasaan sendiri. Simon sebagai manager berharap tuannya itu bertobat, menetapkan hatinya untuk satu wanita, dan berhenti bermain – main dengan banyak wanita.


“Dari tadi tuan ga fokus aktingnya, harus berapa kali lagi ngulangnya tuan?” tanya Simon yang merasa greget karena sudah berkali kali take vidio namun sang artis terus saja mengacaukannya.


“Udah dapet info tentang Danis, bocah jurusan seni itu,” tanya Bian tanpa menjawab pertanyaan simon.


“Udah tuan, Danis itu temennya Ryan. Anak band kampus yang banyak fansnya. Katanya sedikit playboy. Oh ya dia itu anak dari pemilik kampus,” jawab Simon menjelaskan.


“Oke, Awasi terus mereka berdua,” perintah Bian kepada Simon.


***


“Tuh Ve udah dijemput sama pangeran,” ucap Nita sambil menunjuk ke pintu keluar.


“Pangeran apaan sih Nit,” jawab Vega malu malu, karena ledekan Nita.


“Ayok, tapi sebelum magrib aku harus udah pulang kak, gaenak nanti tanteku nyariin,” jawab Vega


“Oke siap cantik,” jawab Danis genit


“Ngapain sih kak manggil – manggil aku cantik, kakak kan udah punya pacar di senior jurusan film kan?” tanya Vega menyelidik.


Vega tidak sengaja mendengar percakapan seniornya ketika di toilet tadi pagi. Salah satu dari senior tersebut menyebut dirinya sebagai pacar Danis.


“Oh Alya? Kita udah putus kok, tenang aja”


Whatt???, kapan putusnya orang tadi pagi mereka masih pacaran perasaan. Batin Vega namun tidak berani bertanya langsung.


Mereka akhirnya berangkat menuju mall Ursa Mayor, ya mall terdekat.


Vega memilihkan beberapa barang yang biasa disukai wanita. Mulai dari makeup hingga boneka.


Ketika sedang melihat - lihat boneka,


"Lucu banget deh boneka beruang ini. Mirip banget sama kak Danis. Item manis," tunjuk Vega ke salah satu boneka beruang.


Danis merasa senang sekali. Secara tidak langsung, Vega mengatakan bahwa dirinya manis.


"Yaudah kita beli yang itu," ucap Danis sambil mengambil boneka tersebut.

__ADS_1


"Ada juga beruang kecil, yang ini lebih mirip" tunjuk Vega ke gantungan boneka beruang.


"Lihat kak, di belakangnya ada inisial hurufnya juga," lanjut Vega saat membalik gantungan boneka tersebut.


"Pilih yang ini saja," Danis mengambil boneka beruang coklat berinisial D.


Setelah selesei memilih, mereka berjalan menuju kasir untuk membayarnya.


"Wah banyak sekali ya kak yang dibeli," ucap Vega melihat satu kantong besar berisi belanjaan Danis.


"Ini untukmu," Danis memberikan gantungan boneka berinisial D tadi.


"Tapi kak, ini kan hadiah buat adekmu," jawab Vega tidak enak


"Aku sengaja membeli ini untukmu, sebagai ucapan terimakasih karena telah membantuku memilih hadiah," Danis


"Emm, makasih banyak ya kak," Vega menerima pemberian Danis.


Danis tersenyum senang, karena Vega mau menerima gantungan boneka itu.


"Magribnya kan masih lama, gimana kalo kita makan dulu Ve," ajak Danis.


"Boleh, ayo di mana kak?" tanya Vega. Kebetulan ia juga merasa lapar.


"Udah ikut aja yuk," ajak Danis sambil menggandeng tangan Vega.


Saat keluar dari mall menuju ke parkiran mobil, tiba - tiba ada seorang pria bertopi mendekat. Wajahnya tertutup rapat oleh masker. Pria tersebut menarik paksa tangan Vega.


“Ayo pulang, keluarga sudah menunggu dirumah,” ucap pria tersebut sambil menarik tangan Vega.


“Lepasin, lo siapa berani narik – narik cewek gue?” Danis mencoba melepas gengaman si pria bermasker.


“Lu gausah ikut campur urusan gue,” jawab Bian kasar.


Vega  mengenali bahwa itu suara Kak Bian, ia langsung melepaskan tangan Danis yang mencoba menahannya.


“Ini kakaku kak, kami pulang dulu ya. Maaf. Kita bisa makan bareng lain kali,” ucap Vega sambil mengikuti langkah Bian.


Danis menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung, siapa laki – laki itu. Bukannya Vega anak tunggal.


Ketika mendekati mobil Bian, Vega langsung melepas genggaman tangan Bian dari tangannya.


“Kakak tahu darimana aku ada disini? Dan untuk apa kakak menjemputku?” tanya Vega sedikit kesal karena merasa terganggu.


“Kamu gaperlu tahu gue tahu darimana. Cepat naik, mamah, papah, om dan tante sudah menunggu dirumah,” jawab Bian.


Hah, maksudnya Ibu dan Ayah ada disini? Batin Vega sambil memasuki mobil.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2