Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 22 Sekali lagi maafkan aku


__ADS_3

Danis memilih untuk mengantarkan Vega ke Jogja. Ia tidak mungkin membiarkan gadis yang ia cintai itu melakukan perjalanan jauh dengan keadaan seperti itu.


Ini bukan kali pertama Danis berkendara ke Jogja. Dia sering berlibur bersama teman - temannya di kota pelajar itu.


Danis menengok ke arah Vega yang terlihat tertidur pulas dikursinya. Masih ada sedikit air mata di ujung matanya.


Aku tidak tahu apa masalahmu Ve, tapi aku berharap kamu bisa mengatasinya dan berakhir bahagia, batin Danis.


Danis ingin mengusap pipi Vega. Namun ia urungkan niatnya. Danis kembali fokus melajukan mobilnya.


***


Malam ini Bian tidak pulang ke rumah. Ia pamit kepada Ibunya untuk menginap di Apartemen. Dia tidak ingin membangunkan mamahnya larut malam, untuk membukakan pintu.


Bian melempar handuk yang selesei ia gunakan. Dia mencari HP nya di atas kasur.


"Kenapa gadis itu tidak membalas pesanku" gumam Bian.


Ia sudah mengirim pesan beberapa kali kepada Vega, namun tidak ada satupun yang dibalas.


Bian mencoba menelepon Vega. Namun hp nya tidak aktif.


Bian merasa gengsi jika harus menanyakan keberadaan Vega kepada mamahnya.


Karena merasa sangat lelah syuting seharian, Bian memutuskan untuk tidur dan beristirahat.


Alarm Bian berbunyi pagi sekali. Hari ini ia harus syuting cukup jauh, di kota Y. Bian bersiap dan segera berangkat ketika Simon menjemputnya.


"Apakah gadis itu belum bangun juga, pesanku tidak dibaca" gumam Bian ketika di dalam mobil sambil mengecek HP nya.


"Tuan berbicara denganku?" tanya Simon yang mendengar Bian berbicara sendiri.


"Tidak" jawab Bian masih fokus dengan HP nya.


Hari sudah hampir siang, ketika mereka sampai di kota Y. Mereka membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk perjalanan.


Ponsel Bian berdering. Ia segera mengambil HP nya. Berharap tunangannya telamembaca pesannya, dan segera meneleponnya.


Ternyata mamah Riri yang menelepon.


"Hallo, kenapa mah?" tanya Bian.


"Kamu dimana?" tanya Mamah Riri.


"Di kota Y, kenapa memangnya mah?" tanya Bian penasaran. Tidak biasanya mamahnya menelepon pagi - pagi seperti ini.


"Kamu kenapa dengan Vega?" tanya mamah lagi.

__ADS_1


"Kenapa apanya mah, kami baik - baik saja" ucap Bian bingung.


"Baik - baik saja bagaimana, Vega meminta membatalkan pertunangannya denganmu" ucap mamah sedikit kesal kepada anaknya.


"Hah, maksud mamah?" tanya Bian.


"Dia tidak mau lagi menerima perjodohan ini" jawab Mamah Riri.


"Kemarin kami baik - baik saja" ucap Bian mulai khawatir. Ia sangat takut apabila ucapan mamahnya benar.


"Vega dimana mah? Dia tidak mau membalas pesanku" tanya Bian.


"Vega pulang ke jogja. Tadi Ibunya yang kasih tau mamah" ucap mamah Riri.


Bian langsung merasa lemas. Dia kesal dan takut. Padahal dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Kemaren dia memperlakukan Vega dengan sangat lembut.


Bian mematikan telepon dari mamahnya. Dia kembali mencoba menghubungi Vega. Kali ini panggilan terhubung, namun tidak di angkat.


Bian mencoba berkali - kali, namun tetap tidak di angkat.


Bian teringat dengan Nita, temannya Vega yang kemaren mengantarnya pulang. Tapi ia mempunyai nomor Nita.


"Simon, cepat carikan nomor teleponnya Nita. Temannya Vega" perintah Bian kepada Simon.


"Baik tuan" Simon memang sudah terbiasa mendapatkan perintah - perintah seperti ini.


"Gimana, sudah dapat?" tanya Bian kepada Simon.


"Sudah tuan" Simon memberikan nomor telepon Nita kepada Bian.


Tanpa ba bi bu Bian langsung menelepon nomor tersebut.


"Hallo" terdengar suara Nita dari seberang telepon.


"Kemaren kamu yang mengantar Vega, kamu tahu ada apa dengannya ketika pulang?" tanya Bian tanpa basa basi.


"Maaf ini siapa?" tanya Nita.


"Bian" jawab Bian singkat.


OMG, ini beneran Bian artis papan ata itu, Dia meneleponku gadis pinggiran sepertiku??, batin Nita.


"Maaf kak, kemarin aku tidak menunggunya pulang. Setahuku, kak Danis yang mengantarnya pulang. Tapi tiba tiba pagi ini dia memintaku untuk menyampaikan ijin cuti kuliahnya ke UPT" jawab Nita. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan Vega.


"Danis yang mengantarnya?" tanya Bian memastikan.


"Iya kak" jawab Nita. Dirinya tidak berani mengaku, bahwa dialah yang menyuruh Bian menunggu Vega. Bisa terkena amuk nanti.

__ADS_1


Bian langsung mematikan HP nya tanpa mengucapkan apapun lagi.


Bian tiba - tiba merasa marah. Apa karena cowo itu, Vega tiba - tiba membatalkan perjodohannya. Tapi ia sedikit ragu, rasanya tidak mungkin.


Bian tidak tahu harus berbuat apa. Sudah puluhan kali Bian mencoba menelepon Vega namun tetap tidak diangkat.


Syaila mendekat ke arah Bian.


"Kenapa Bi?" tanya Syaila sambil merangkul lengan Bian.


Tiba - tiba Bian teringat sesuatu. Kemaren ia sempat meninggalkan Vega berdua dengan Syaila.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Bian.


"Apa yang kamu katakan kepada Vega" tanya Bian mengulangi pertanyaannya.


Syaila hanya terdiam. Bian semakin yakin, telah terjadi sesuatu diantara Syaila dengan Vega.


"Jawab aku Sya" bentak Bian sambil mencengkeram kedua lengan Syaila.


Syaila bergidik ngeri. Baru kali ini ia merasakan kemarahan seorang Bian Alfa Seirious. Pria yang sudah menjadi pasangannya 3 tahun terakhir ini.


"Aku hanya memberitahunya apa yang sesungguhnya terjadi" jawab Syaila.


"Memangnya apa?" tanya Bian mengencangkan cengkramannya.


"Kamu menerima perjodohan ini karena ancaman dari mamahmu, dan jelas akan sangat memngaruhi karirmu apa bila media tahu tentang perjodohan kalian" ucap Syaila sambil bergetar.


Bian tidak bisa menyangkal fakta tersebut. Memang yang dikatakan Syaila semuanya benar. Tapi itu dulu. Sekarang dia sudah yakin akan keputusannya menerima perjodohan ini. Bian sangat mencintai Vega. Dulu maupun sekarang, cintanya untuk Vega masih sama.


"Kenapa kamu memberitahunya Sya?" tanya Bian pelan. Cengkramannya mulai melemah.


"Tapi semua itu benar kan Bi, kamu tidak ingat dengan mimpi kita. Kamu gamau kan menghancurkan karirmu sendiri" ucap Syaila meyakinkan Bian.


Bian melepaskan tangannya dari Syaila. Kemudia ia pergi meninggalkan lokasi syuting. Hatinya sangat sakit, membayangkan Vega mendengar semua ucapan Syaila.


Sekali lagi maafkan aku Ve, lagi - lagi aku membuatmu menangis. Maafkan aku kek, berkali - kali aku tidak menepati janjiku, batin Bian.


Bian kembali ke apartemen setelah menyeleseikan syutingnya. Dia sangat kacau malam ini. Mamah Riri menyuruh Bian untuk pulang ke rumah. Namun Bian menolak.


Simon tidak tega jika harus meninggalkan Bian sendirian di Apartemennya. Namun Bian menyuruh Simon untuk segera pergi meninggalkannya. Ia butuh waktu untuk sendiri.


Bian mencoba menelepon Vega lagi dan lagi. Namun HP Vega kembali tidak aktif. Baru kali ini Bian merasa sangat hancur. Rasanya seperti dejavu. Dulu ia juga pernah sekacau ini. Hatinya hancur, saat kakek Vega menyuruhnya untuk menganggap Vega sebagai seorang adik.


Namun kali ini ia merasa lebih sakit dari pada dulu. Bian takut Vega tidak akan mau menemuinya lagi. Bian takut tidak bisa melihat wajah Vega lagi. Wajah wanita pujaannyaa. Wajah yang selalu mengisi hari - harinya. Hampir seumur hidupnya, hanya ada nama Vega direlung hatinya. Rasa takut itu melebihi ketakutannya akan kehilangan karir sebagai artis.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2