Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 29 Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

Bian dan Vega kembali ke rumah bergandengan tangan, dengan perasaan senang, seolah tidak akan ada masalah apapun yang mengganggu hubungan mereka. Ibu juga sangat bahagia menyambut kedatangan mereka. Ibu bersyukur, Vega dan Bian bisa kembali bersama lagi.


"Bu, besok pagi aku kan ikut kak Bian kembali ke Jakarta," ucap Vega kepada Ibu Anna.


"Baguslah, bagaimana dengan rencana mencari kosnya Ve?" tanya Ibu.


"Vega tetap akan mencari kos Bu, aku ingin belajar hidup mandiri sambil berkuliah," jawab Vega tanpa meminta persetujuan Bian terlebih dahulu.


Bian langsung melotot kepada Vega tanda tidak terima.


"Kenapa harus pindah?" bisik Bian di telinga Vega. Ia tidak ingin Ibu Anna mendengarnya.


Melihat hal tesebut, Ibu Anna langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Ibu ingin memberikan waktu keduanya untuk berbicara.


"Kamu ga perlu lagi dong pindah ke kosan Ve," ucap Bian ketika Ibu sudah masuk ke dalam.


"Tapi kak, Ve cuma ingin mandiri. Selama ini Vega sangat bergantung ke tante Riri. Kali ini Vega mau belajar mandiri, belajar menjadi wanita tangguh yang cocok ada disamping kakak," jawab Vega.


Bian memegang ke dua tangan Vega.


"Aku tidak butuh wanita tangguh Ve, kamu boleh bergantung padaku. Aku yang akan melindungimu. Jadi kamu hanya perlu percaya padaku dan tetap disisiku oke?" ucap Bian menatap manik mata Vega.


"Tetap tinggal di rumah kami ya, dengan begitu aku bisa mengawasimu dan melindungimu, seperti janjiku pada almarhum kakek," ucap Bian mencoba meyakinkan Bian.


Mendengar nama Kakek disebut, Vega tidak berani lagi menolak.


"Baiklah kak, aku tetap tinggal dirumah," jawab Vega sambil mengangguk.


"Terimakasih Ve," Bian memeluk tubuh Vega dan mengecup keningnya.


***


Vega dan Bian sudah sampai di bandara. Mereka baru mendarat bebarapa menit yang lalu. Vega kembali menyalakan ponselnya, banyak sekali panggilan tidak terjawab dan notif pesan yang masuk.


Vega membuka grup obrolannya dengan bestienya di jogja.


"Berita itu benar Ve? Kak Bian sudah putus dengan Syaila?" tanya Alma.


"Kak Bian akan segera menikahimu?" tanya Vina.


"Ve lihat artikel ini, mereka mengatakan alasan putusnya karena ada pelakor" Vina menulis pesan sambil mengirimkan link artikel yang sudah dia baca.


Vega langsung membuka artikel tersebut yang berjudul,


"Sudah Pacaran 3 Tahun, Putus Gara - Gara Pelakor?"


Kemudian ada artikel lain tentang Bian.

__ADS_1


"Upload foto bersama pacar barunya, siapakah wanita tersebut?"


"Bian Alfa Seirious diam - diam bertunangan denga gadis lain"


Vega menscroll berita - berita terbaru mengenai Bian. Banyak sekali komentar - komentar yang menjelek - jelekkannya, tanpa tahu siapa dirinya.


"Kak, bagaimana ini?" tanya Vega sambil memeberikan HPnya kepada Bian.


Bian sudah mengetahui hal tersebut sejak semalam. Ia memang menyuruh agensinya untuk mengonfirmasi bahwa ia sudah putus dengan Syaila. Agensinya sempat menolak, namun Bian mengancam akan keluar dari agensi tersebut jika tidak dituruti.


"Kamu tenang saja, biar aku yang urus, gausah di pikirin. Cukup memikirkanku saja," jawab Bian sambil mengelus rambut Vega.


"Tapi aku takut kak, bagaimana kalo hal tersebut memengaruhi karir kakak?" Vega merasa khawatir.


"Kalo karirku hancur ya tinggal berhenti dan bekerja di perusahaan Papah" jawab Bian enteng.


"Kak!" Vega kesal karena Bian menanggapi hal tersebut dengan santainya.


Bian tersenyum.


"Aku tahu kamu khawatir Ve, tapi mulai sekarang ga ada yang lebih penting dari kamu di hidupku. Berhenti menjadi artis itu bukan masalah bagiku, selama ada kamu disisiku. Aku bisa menjadi apa saja," jawab Bian memegang bahu Vega.


"Tapi itu kan mimpi kakak sejak dulu," Vega masih merasa tidak enak kepada Bian.


"Tahu ga alasan kenapa dulu aku memutuskan memilih jadi artis?" tanya Bian.


"Itu karena aku sedang patah hati berat kepadamu, sampai akhirnya aku bertemu dengan Simon yang mengajakku menjadi artis. Katanya biar aku bisa sibuk dan mudah melupakanmu," jawab Bian menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Vega.


Bian mengangguk.


"Sekarang tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap menjadi artis Ve. Kecuali kalo kamu yang menyuruhku," jawab Bian.


"Jangan berhenti jadi artis kak. Tetaplah menginspirasi dan memberi semangat kepada banyak orang," ucap Vega.


Bian mengangguk, lalu menggandeng tangan Vega menuju mobil yang menjemputnya. Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang yang memfoto mereka secara diam - diam.


"Inilah sosok wanita yang menjadi orang ketiga di hubungan Bian dan Syaila"


Muncul artikel baru lagi terkait hubungan percintaan Bian.


Banyak sekali komentar - komentar jahat di artikel tersebut.


"Wanita ******, tidak tahu malu."


"Berani - beraninya merebut Bian dari Syaila."

__ADS_1


"Cantikan Syaila kemana mana bgst."


"Yaelah, gadis desa doang."


"Pasti tuh cewe pake guna - guna buat godain kak Bian."


"Jaga baik - baik pasangan kalian yah, sekarang pelakor merajalela dimana - mana."


Vega menangis di kamarnya ketika membaca komentar - komentar jahat tersebut. Ia tidak bermaksud untuk menjadi orang ketiga dihubungan kak Bian dan Syaila.


Kumudian ia membaca lagi komentar yang muncul. Kali ini bukan komentar jahat.


"Jaga mulut kalian kalo bicara, gadis itu tidak bersalah apa - apa. Kak Bian memang tidak pernah mencintai Syaila sejak awal," komentar seseorang dengan user Vinvin127.


"Syaila sama Bian itu cuma settingan agensi, wajar saja jika mencintai wanita lain, jadi berhenti ikut campur urusan orang. Jatuh cinta itu tidak salah. Memangnya kalian akan jadi lebih baik jika menghina orang lain," komentar Get_Soul.


Vega menghapus air matanya. Ia tidak boleh menangisi hal seperti ini. Masih ada yang mengharapkan kebagaiannya di luar sana. Ia tidam boleh cengeng. Ia hanya perlu percaya pada kak Bian, semua masalah ini akan teratasi.


Vega memilih untuk meletakan HP nya dan pergi tidur. Ia harus mulai berkuliah besok pagi.


***


"Gimana, kamu sudah melakukan apa yang kuperintahkan?" tanya Bian kepada Simon ketika berada di dalam mobil.


"Sudah tuan. Dan memang betul, orang suruhan Syaila yang diam - diam mengikuti tuan di Bandara," ucap Simon.


Bian mengepalkan tangannya marah.


"Saya sudah memerintahkan orang- orang kita untuk menghapus semua artikel terkait Nona Vega," ucap Simon lagi.


"Baguslah," jawab Bian.


"Tapi saya sebenarnya khawatir sekali dengan Nona Vega, pasalnya banyak sekali komentar jahat yang merundungnya tuan. Saya takut, fans Syaila akan mengejarnya di dunia nyata," ucap Simon sambil melihat ke arah spion di depannya memandang pantulan wajah Bian.


Bian langsung teringat dengan Vega. Vega adalah tipe orang yang pasti akan membaca komentar - komentar tersebut. Dia tidak bisa menurut jika disuruh mengabaikannya.


"Tenang saja, aku akan membalas Syaila," ucap Bian.


"Segera carikan reporter andal, aku akan memberi bahan yang sangat menarik untuk mereka," Bian memerintahkan Simon.


"Baik tuan," jawab Simon tegas.


Bian tidak sabar ingin segera sampai ke rumah. Ia ingin melihat bagaimana keadaan Vega.


Dia pasti sangat sedih membaca komentar - komentar itu, batin Bian.


Ini salahku, harusnya aku memutuskan Syaila sejak dulu. Sebelum masalahnya menjadi rumit seperti ini, Bian merutuki dirinya sendiri di dalam hati.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2