
Bian menyusuri pantai. Jalan yang sering ia lalui ketika bersepedaan dengan Vega saat masih kecil.
Sepeda itu apakah masih ada, Bian bertanya di dalam hati.
Dia sudah berjalan hampir 30 menit disana, namun belum juga menemukan dimana Vega berada. Bian membuka ponselnya, tapi tidak ada sinyal sedikit pun. Maklum, daerah pantai.
Bian duduk di sebuah gubuk. Kakinya merasa pegal karena tidak biasa berjalan jauh. Dia menikmati terpaan angin pantai, hingga tidak sadar tertidur sambil bersandar di tepian gubuk.
Seorang gadis berjalan mendekatinya. Gadis itu berdiri terdiam sambil memandang wajah yang sedang tertidur itu.
Cup.
Gadis itu mengecup bibir Bian, kemudian berlalu pergi sambil berlari kecil.
Bian terbangun ketika matahari sudah hamir tenggelam. Dia memutuskan untuk pulang, karena tidak menemukan Vega. Bian berpikir mungkin Vega sudah ada dirumah.
Bian kembali ke parkiran mobil. Ia melajukan mobilnya kembali ke rumah Vega yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Benar saja, Vega membukakan pintu untuknya. Tanpa berkata apapun, Vega kembali ke kamarnya, meninggalkan Bian dengan wajah bingungnya.
Apa Vega membenciku?, batin Bian.
"Eh nak Bian sudah kembali, tadi tidak bertemu Vega ya?" tanya Ibu Anna ketika memasuki ruang tamu.
"Hmm tidak bu, ternyata Veganya sudah pulang duluan," jawab Bian.
"Yasudah, nak Bian mandi dulu terus makan malam. Baru berbicara dengan Vega," Ibu Vega mengantar Bian ke kamarnya.
Tidak seperti biasanya, Bian tidak bermalas - malasan saat di kamar mandi. Ia ingin segera bertemu dan berbicara dengan Vega.
Ketika Bian masuk ke ruang tamu, Vega sudah duduk disalah satu kursi bersama Ayah dan Ibunya.
Bian duduk di depan Vega, berseberangan.
"Ayok makan dulu nak Bian," ajak Ayah Vega ramah.
Ibu mengambilkan nasi untuk Bian.
"Mau pake lauk apa?" tanya Ibu Anna kepada Bian.
"Biar saya sendiri aja tante," ucap Bian mengambil piring dari tangan Ibu Anna.
Vega tidak memedulikan interaksi antara Bian dengan orang tuanya. Ia sibuk mengambil lauk untuk dirinya sendiri dan langsung memakannya. Hening, tanpa bersuara.
Bian sesekali mencuri pandang kepada Vega. Vega ikut menatap Bian balik. Tanpa ekspresi. Bian merasa canggung dan langsung mengalihkan pandangan.
Setelah selesei makan, Bian berdehem.
"Ekhem."
"Emm, Ve bisakah kakak berbicara denganmu sebentar," ujar Bian.
Vega menatap kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu menggangguk tanda diperbolehkan.
Vega berdiri, memberikan isyarat pada Bian untuk mengikutinya. Vega berjalan menuju beranda samping rumah yang menghadap ke arah jalan. Di sekeliling beranda terdapat bunga - bunga cantik yang Ibunya tanam.
Vega duduk di kursi panjang. Bian mengikuti, dan duduk di samping Vega. Vega diam menunggu. Bian semakin bingung, harus memulainya dari mana.
__ADS_1
Bian mulai membuka suara.
"Itu Ve, kenapa tiba - tiba membatalkan perjodohan?" tanya Bian.
"Aku rasa itu keputusan yang terbaik untuk kita berdua kak," jawab Vega tanpa menatap Bian.
"Tapi tidak untukku Ve," ucap Bian menatap Vega.
"Bukannya kakak senang, perjodohan ini dibatalkan?" tanya Vega berpura - pura tidak mengerti.
"Tidak Ve, aku ingin perjodohan ini tetap dilanjutkan" ucap Bian dengan wajah memohon.
"Tenang saja kak, pembatalan perjodohan ini tidak akan membuat tante Riri menyuruhmu berhenti jadi artis. Aku akan berbicara dengan tante Riri nanti di Jakarta," ujar Vega.
"Ini bukan karena itu, ga ada hubungannya," jawab Bian.
"Terus apa kak?" tanya Vega penasaran.
"Karena.." Bian tidak bisa meneruskan perkataannya.
Kenapa kak, tidak bisakah kamu mengatakan cinta kepadaku?, batin Vega.
"Sudahlah kak, ini memang benar - benar keputusan yang terbaik untuk kita" ucap Vega sambil berlalu pergi meninggalkan Bian sendirian di kursi itu.
"Karena aku mencintaimu Ve, aku ingin kamu menjadi istriku, teman seumur hidupku," guman Bian yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Kamu memang pengecut Bi, aku kecewa padamu, batin Bian memaki diri sendiri.
Vega memasuki kamar. Ada beberapa notif chat di ponselnya.
"Giman Ve, lancar?" tanya Alma.
Vega kemudian membalas, "Gagal total, dia ga berani bilang apa - apa".
"Masa? kalian udah ngobrol kah?" tanya Vina lagi.
Alma juga mulai mengetik, "Jadi cuma ngobrolin apa?"
"Kami cuma ngobrol sebentar doang, terus ku tinggal deh. Abisnya dia gabisa ngomong alasan kenapa perjodohan ini harus di lanjutkan" balas Vega.
"Kan kata kak Ryan, Kak Bian sayang ke kamu Ve, sampai kacau gitu," Alma ikut membalas.
***
Flasback
Vega berjalan - jalan menyusuri pantai bersama dua sahabatnya. Tiba - tiba ponselnya berbunyi.
Tuing!
Vega segera membuka ponselnya. Namun dia langsung kecewa, karena yang dia dapat bukan pesan yang ia harapkan.
Pesan itu dari kak Ryan.
"Gimana Ve, udah baikan?" tanya Ryan.
"Baikan apanya kak?" Vega balik bertanya lewat chat tersebut.
__ADS_1
"Dengan kak Bian," balas Ryan.
Vega merasa bingung, "Baikan gimana, orang tiga hari ini kami bahkan tidak berkomunikasi sama sekali. Kami benar - benar sudah berakhir kak".
"Kan kak Bian ada di jogja sekarang," Ryan memberitahu Vega.
"Hah? dia disini? ngapain kak?" tanya Vega tidak percaya.
"Ya mau nemuin lu lah" balas Ryan lagi.
Kemudian Ryan mengirim sebuah foto. Vega membuka foto tersebut.
"Apartemen Kak Bian" Bian mengirim pesan lagi.
"Kenapa berantakan seperti itu?" Vega heran kenapa banyak sekali botol minuman berserakan.
"Dia habis galau, selama dua hari mabuk - mabukan. Gara - gara kehilangan tunangan" Ryan menerangkan foto tersebut.
Ah masa kak Bian galau aku membatalkan perjodohan ini, bodo amat deh, palingan galau karena diancam tante Riri untuk berhenti jadi artis, batin Vega.
"Ve kamu ga jadi ambil tas?" tanya Vina mengagetkan Vega yang sedang diam berpikir itu.
"Oh ya lupa, kalian tunggu sini," Vega berlari kembali ke arah warung tempat mereka membeli es kelapa. Vega memang sengaja menitipkan tasnya disana sebelum jalan - jalan. Vega harus mengambilnya sebelum mereka pulang.
Ketika melewati sebuah gubuk, Vega melihat pria tampan yang akhir - akhir ini berlarian di kepalanya. Ya, Kak Bian. Pria itu terlihat sedang tertidur, bersandar di tepian gubuk. Vega mendekat dan memandang lekat wajah Bian.
Jadi benar kata kak Ryan, kak Bian datang kesini untuk menemuiku, batin Vega.
Vega mengecup lembut bibir Bian. Kemudian ia langsung tersadar, tidak seharusnya ia melakukan hal tersebut. Mereka sudah bukan tunangan lagi.
Kau mencoba untuk tidak peduli lalu apa, hanya bertemu tiga puluh detik dan kau langsung menyerah, aku kecewa Vega, batin Vega merutuki diri sendiri.
Vega berlari meninggalkan Bian yang masih tertidur. Vega kemudian bercerita kepada kedua temannya, tentang pertemuannya dengan Bian beberapa menit yang lalu. Vega juga bercerita tentang foto yang dikirimkan oleh kak Ryan.
"Wah, beneran dong Kak Bian mau mengajakmu kembali melanjutkan perjodohan," ucap Vina heboh.
"Ya mungkin iya, mungkin juga tidak," jawab Vega pasrah.
"Ga boleh pesimis gitu dong Ve, pasti iya deh. Ngapain juga kak Bian jauh - jauh kesini" ucap Vina penuh penekanan.
"Tunggu deh Ve, kamu ga boleh loh ya langsung mau menerimanya kembali sebelum dia bilang cinta padamu," Alma menasehati Vega.
Vega menatap wajah Alma dengan tatapan bertanya.
"Pokoknya kalo kak Bian ngajakin buat lanjutin perjodohan kalian, kamu tolak aja dulu Ve. Kamu harus pura - pura cuek dan tetep kekeh untuk membatalkan pertunangan. Coba lihat seberapa besar perjuangannya untuk mendapatkanmu lagi. Kalo memang dia benar - benar cinta, pasti dia bakal berjuang mati - matian deh Ve. Karir tidak lah penting lagi jika kita gabisa bersama orang yang kita cintai, percaya deh," Alma menerangkan panjang lebar.
Vina merasa, perkataan Alma kali ini ada benarnya dan sedikit keren "Anjay".
"Anjay - anjay ndasmu, gini - gini aku udah sangat senior dalam urusan percintaan," ucap Alma sambil melotot ke arah Vina.
"Kalo ternyata kak Bian cuma ingin menuruti perintah mamahnya bagaimana?" tanya Vega ragu - ragu.
"Buktinya dia sampe mabuk gitu Ve pas galau" Vina menimpali.
"Gini aja deh Ve, kita lihat dulu gimana perlakuannya padamu. Kalo udah terbukti dia tulus mencintaimu, baru deh kamu putusin mau lanjut atau tidak," Alma menyarankan.
"Baiklah, sekarang ayo kita pulang dulu. Nanti kak Bian keburu bangun," ajak Vega.
__ADS_1
...Bersambung...