Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 31 Kesetanan


__ADS_3

Ryan dan Danis terlihat berlari di lorong gedung fakultas film dan tv. Mereka langsung mengarah ke toilet wanita disana. Danis segera menerobos kerumunan yang berdiri memenuhi area lubang pintu toilet.


"Permisi," ucap Danis.


Orang - orang yang melihatnya langsung meberikan jalan kepada anak dari pemilik kampus tersebut.


Melihat Danis yang sedang berdesakan ingin masuk ke dalam toilet, Sarah langsung melepaskan tangannya dari rambut Vega, kemudian berteriak kesakitan. Ia berpura - pura seolah dirinyalah korban dari Vega.


Danis langsung melerai pertikaian mereka. Ia sempat terdorong karena Sena dan Nita masih saling menarik dengan kasar dan liar. Bahkan Sinta sempat menyakar lengan Danis. Ryan hanya tersenyum tanpa ada niatan membantu. Baginya sangat lucu melihat pertengkaran antar wanita dewasa di depannya itu. Apalagi dia sangat hapal tabiat Vega sejak kecil. Vega tidak akan bertindak, kecuali orang lain menyentuhnya terlebih dahulu. Sudah dapat dipastikan bahwa kedua senior tersebut mengganggu Vega, dan Vega hanya membalasnya saja. Tanpa bertanya pun Ryan sudah tahu apa yang terjadi.


Akhirnya Ryan ikut memisahkan mereka. Nita masih merasa kesal dan terus melotot pada Sena, sambil membenarkan ikat rambutnya yang sudah melorot. Ia tidak peduli fakta bahwa Sena adalah seniornya. Nita beranggapan dirinya tidak perlu menghormati senior yang memang tidak layak untuk dihormati.


"Danis, mereka yang memulai," ujar Sarah manja sambil berpura - pura kesakitan.


"Kamu ga papa Ve?" tanya Danis memegang kedua bahu Vega. Ia tidak mepedulikan Sarah yang berbicara padanya, bahkan Danis tidak melirik sedikitpun.


Vega menggeleng, "Gapapa kok kak."


Danis merasa lega. Ia kemudian beralih ke kedua wanita senior itu.


"Berhenti mengganggunya jika kalian masih ingin berkuliah disini!" ucap Danis marah kepada Sarah dan Sena.


Danis mengajak Vega untuk keluar dari toilet, diikuti Nita dan Ryan. Nita sempat mencibir kepada Sena dengan tatapan smirk.


"Awas saja nanti," gumam Sena marah melihat kepergian Nita.


Sarah sangat kecewa. Harapannya untuk mendekati Danis benar - benar sudah pupus. Danis pasti sudah sangat membencinya.


Danis mengajak Vega duduk di salah satu taman kampus tersebut. Begitupun Nita dan Ryan yang setia mengikuti mereka. Vega melihat tangan Danis yang terluka akibat cakaran Sena. Ia segera membuka tasnya dan mengambil kantong kecil p3knya. Ia memang selalu membawa plaster luka, tisu alkohol, dan obat merah untuk berjaga - jaga akan sesuatu. Seperti hal yang terjadi kali ini misalnya.


"Ada luka kak," ucap Vega sambil memegang kantong tersebut, dan mengeluarkan tisu alkohol.


"Hah kamu terluka? sebelah mana?" tanya Danis panik.


"Bukan aku, tapi kakak," jawab Vega sambil menunjuk lengan Danis.


"Oh syukurlah bukan kamu," ucap Danis bernapas dengan lega.


Vega segera mengobati luka di tangan Danis. Ia mengeluarkan tisu alkohol dari bungkusnya, dan menyeka sisa darah di lengan Danis. Kemudian ia memberikan obat merah di luka tersebut. Terakhir Vega membalutkan plaster luka berukuran kecil di lengan Danis.

__ADS_1


"Nah sudah," ucap Vega bangga melihat hasil karyanya.


"Makasih Ve," ucap Danis sambil tersenyum.


Ryan merasa risih akan pemandangan didepan matanya. Seperti pepatah yang mengatakan, seolah - olah dunia hanya milik mereka berdua. Yang lain cuma ngontrak, jadi tidak dipedulikan.


"Ekhem," dehem Ryan.


"Gue sama Nita udah kayak hantu taman aja nih ya, ga keliatan kayaknya," ucap Ryan meledek Danis dan Vega.


Vega menengok ke arah Nita. Ia melihat Nita sangat berkeringat, ditambah lagi anak rambutnya yang berantakan kemana - mana. Begitupun Nita, Ia juga melihat rambut Vega yang masih mencuat - cuat kemana - mana. Mereka bertatapan, dan kemudian... tertawa terbahak - bahak.


"HAHAHAHHAHA."


Danis dan Ryan saling bertatapan tidak mengerti, mengapa kedua wanita itu saling tertawa tidak jelas seperti itu.


"Apa karena rambutnya di jambak dan tercabut dari kulitnya, jadi otak mereka sedikit konslet?" tanya Ryan ke Danis.


"I think so," ucap Danis menjawab Ryan.


"Kamu gapapa kan Nit?" tanya Vega kepada Nita, tanpa memedulikan Danis dan Ryan yang bingung dengan sikap mereka.


"Syukurlah, maafin aku ya Nit. Gara - gara ngebelain aku, kamu jadi harus berurusan dengan dua senior tadi," Vega meminta maaf kepada Nita.


"Hahaa selow kali, udah lama banget gue ga berantem sama orang. Sekali - kali, dua orang angkuh itu perlu diberi pelajaran," jawab Nita sambil menangkupkan kedua tangannya tangguh.


Vega tersenyum melihat wanita cantik nan tangguh di depannya itu. Ia beruntung memiliki teman sebaik Nita.


"Btw lu tadi keren banget pas nyeramahin mereka. Tenang, penuh wibawa, udah kaya Gubernur ngomong di depan masyarakat," ucap Nita sambil menerawang.


"Yeee kamu mah. Itu tadi aku sebenernya ngutip lirik sebuah lagu. Kayaknya pas banget gitu buat mereka," ucap Vega.


"Lah hahahah, memangnya ada lagu yang begituan Ve?" Nita menertawakan ide konyol dari Vega.


Ryan dan Danis hanya menyimak obrolan kedua bestie itu, sambil sesekali bergeleng - geleng. Habis berantem mati - matian, tapi sekarang terlihat biasa - biasa saja. Dimana Vega dan Nita yang sedang marah - marah seperti sedang kesetanan tadi.


***


Simon mengecek pesan yang masuk ke dalam HP nya. Ia sedang berada di gedung agensi, menemani Bian membahas masalah skandal yang ia hadapi. Simon segera menyerahkan HP nya kepada Bian.

__ADS_1


Bian mendapatkan sebuah Vidio dari salah satu mata - matanya. Vidio mengenai pertikaian antara Vega, Nita, dan kedua senior di kampusnya tadi.


"Sialan, berani - beraninya mereka menyentuh gadisku," gumam Bian sambil menggebrak meja.


Semua staff diruangan tersebut kaget. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, kenapa tiba - tiba Bian marah dan menggebrak meja.


"Kami akan segera mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi kebenarannya ka Bian," ucap salah satu staff muda di sana. Ia merasa bahwa Bian marah kedapa mereka, yang tidak becus menangani persoalan yang terjadi.


Bain pergi meninggalkan ruangan dengan kasar. Simon meminta maaf dan ijin meninggalkan ruangan kepada para staff. Ia segera berlari mengejar Bian. Simon bersyukur karena Bian tidak membanting HP miliknya, namun hanya meninggalkannya diatas meja.


"Siapa kedua wanita tersebut?" tanya Bian ketika memasuki lift.


"Mereka senior Nona Vega dari jurusan Managemen tuan," jawab Simon.


"Cari informasi tentang mereka berdua, aku akan membuat perhitungan dengan mereka," ucap Bian sambil mengepalkan keduan tangannya.


"Baik tuan," jawab Simon menurut.


"Bagaimana dengan Vega? Apakah dia baik - baik saja?" tanya Bian teringat akan tunangannya.


"Nona Vega tidak apa apa tuan, tadi ada Ryan dan Danis yang melerai pertikaian mereka, tidak ada yang terluka" ucap Simon menjelaskan laporan yang sudah ia terima.


"Danis lagi?" guman Bian kesal. Bian tidak suka jika Vega harus berdekatan dengan cowo itu. Bian sangat takut Vega bisa goyah kepada Danis.


"Suruh terus awasi mereka, laporkan setiap detail yang terjadi," Bian memerintahan Simon.


"Jangan sampai ada lagi yang berani menyentuh gadisku, bahkan sehelai rambutpun, mereka akan berurusan denganku" ucap Bian menegaskan.


"Baik tuan," jawab Simon patuh.


"Bagaimana dengan reporter yang ku minta kemaren?" tanya Bian mengingat sesuatu.


"Saya sudah menemukan beberapa reporter dari perusahaan besar tuan. Dan saya juga sudah mengirimkan foto - foto yang tuan berikan," ucap Simon.


"Bagus," Bian tersenyum smirk, Ia tidak sabar menanti berita panas yang akan muncul nanti.


...Bersambung...


Karena mood author lagi bagus, jadi hari ini UP dua bab ya hehehe. Ikutin terus ya kelanjutan dari novel pertamaku ini. Terimakasih banyak. Jangan lupa like dan komen. Oh ya, ditambakan ke favorit ya biar bisa dapetin notif updatean setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2