Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 43 Sikap baik yang menyakitkan


__ADS_3

Zeeko kembali mengajar di kelas Vega. Kali ini Ia menggunakan setelan jas yang baru Ia beli kemarin. Setelan yang Ia kenakan hari ini sangat cocok untuknya, sehingga makin tampan, sangat tampan.


Di akhir kuliah, Zeeko memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk berlatih menulis sebuah naskah. Bisa juga menuliskan kisah pribadi sendiri yang mengesankan. Mahasiswa bebas memilih tema. Zeeko hanya ingin melihat kemampuan para muridnya dalam mengekpresikan sesuatu melalui tulisan.


"Ada yang belum paham mengenai tugasnya?" tanya Zeeko memastikan bahwa mahasiswanya benar - benar memperhatikannya, bukan hanya sekedar mengagumi wajahnya, seperti kata Vega tempi hari.


"Mengerti Pak,"jawab seluruh mahasiswa dengan serentak.


"Baik, tugasnya tidak perlu di print yah, cukup di kirim ke email saya dalam bentuk pdf. Deadlinenya hari minggu sebelum pukul 23.59 okee. Keterlambatan akan mengurangi penilaian," ucap Zeeko menerangkan.


Biasanya para mahasiswa akan protes jika diberikan deadline dihari minggu. Mereka tidak ingin weekendnya terganggu oleh tugas Karena pasti mereka akan mengerjakan tugas dihari deadline yang di berikan, alias deadliner. Namun kali ini mereka tidak mengeluh sama sekali. Menurut mereka apapun yang di lakukan Zeeko itu indah dimata mereka.


"Ada pertanyaan sebelum kelas saya akhiri?" tanya Zeeko kepada mahasiswanya.


Tidak ada yang menjawab. Tandanya tidak ada yang ingin ditanyakan.


"Baik jika tidak ada pertanyaan, saya akhiri. Selamat siang."


"Siang pak,"


Zeeko mengemasi barang - barang miliknya yang ada di meja. Tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan mata Nita, namun keduanya langsung salah tingkah dan memilih untuk mengalihkan pandangan mereka.


***


Hari ini Vega harus memberitahukan soal pernikahannya kepada Danis. Vega tahu bahwa Danis masih sangat berharap padanya. Ia tidak ingin Danis berlarut - larut dalam kekecewaan.


Semalam Vega sengaja mengubungi Danis terlebih dahulu dan meminta bertemu, ada sesuatu yang ingin Ia berikan langsung kepada Danis. Vega meminta Nita untuk menemaninya pergi ke fakultas seni. Dengan senang hati Nita mengikuti Vega. Vega berjanji akan mentraktir Nita di kantin fakultas seni.


Vega berjalan bersama Nita ke arah basecamp seni. Terlihat senior seni sedang sibuk dengan laptopnya masing - masing. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Termasuk juga Ryan dan Danis.


Vega mendekati Danis dan memanggilnya, "Kak Danis," ucap Vega pelan.

__ADS_1


Mendengar suara gadis pujaan hatinya, seketika Danis menengok ke arah sumber suara.


"Vega, kenapa kamu yang kesini. Kan sudah ku bilang aku yang akan menemuimu. Harusnya kamu chat aja kalo udah kelar kelas," ucap Danis yang tidak ingin Vega lelah karena jarak fakultasnya dengan fakultas Vega lumayan jauh apabila jalan kaki.


"Gapapa Kak, kami sekalian mo ke kantin nanti," jawab Vega sambil tersenyum.


Danis mengajak Vega berbicara di salah satu bangku taman fakultas seni. Sedangkan Nita memilih menunggu dan mengobrol bersama Ryan.


"Kak, skripski Kakak emangnya tentang apa?," tanya Nita basa basi, daripada hanya harus diam menunggu.


"Punya gue, representasi motif batik di keramik," jawab Ryan.


"Keramik lantai maksud Kakak?" tanya Nita tertarik.


"Iya, buat laintai yang kita injek ini," jawab Ryan.


"Wahh, keren juga ya kalo rumah - rumah di Indonesi pada makai keramik motif batik. Kayak cinta Indo banget gitu," Nita mengomentari topik skripsi Ryan.


"Eh lu ada kenalan anak jurusan film yang jago tak vidio ga?, gue butuh orang nih buat dokumentasi proses pembuatan keramik. Gue niatnya mo bikin vidio promosi tentang keramik motif batik itu. Biar industri keramik juga tertarik," ucap Ryan.


"Nahh, lu ga sibuk kan Nit? bisa dong bantu - bantu gue," Ryan bersykur tidak perlu mencari - cari orang untuk membantu tugas akhirnya.


"Bisa si atur, tapi apa yang bisa gue dapetin Kak?" tanya Nita sambil mengangkat satu alisnya.


"Lu mau apa gue turuti deh, asal jangan sesuatu yang butuhin duit banyak heheh," jawab Ryan, padahal masalah keuangan tidak masalah baginya. Ia mendapatkan jatah bulanan yang tidak sedikit dari orang tua.


"Dih pelit amat, nanti deh gue pikirin dulu," ucap Nita.


Di sisi lain.


"Mau ngomong apa Ve?" tanya Danis kepada Vega. Karena baru kali ini Vega duluan yang meminta untuk bertemu.

__ADS_1


Vega membuka tasnya dan mengeluarkan undangan pernikahannya untuk Danis.


"Aku mau memberikan ini Kak," ucap Vega.


Deg, seketika dunia Danis berasa runtuh. Gadis pujaan hatinya akan menikah dengan pria lain. Semakin tidak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Vega. Pupus sudah semua doa dan harapan. Danis mengambil undangan tersebut dengan perasaan sedih.


"Kamu serius mau menikah dengan Kak Bian Ve? Tidak adakah lagi kesempatan bagiku Ve? Aku mohon Ve, pikirkan baik - baik, kurasa aku sangat mencintaimu Ve," ucap Danis sedikit memohon.


"Maafkan aku Kak, Kakak itu orang baik, Kakak pantes dapetin yang lebih baik dari Vega, Vega yakin Kakak akan bertemu dengan gadis baik yang juga sangat mencintai Kak Danis," ucap Vega mencoba menghibur Danis yang terlihat sangat sedih itu.


"Jangan bersikap perhatian Ve, karena hal - hal yang kau lakukan untuk bersikap baik, semua menyakitkan bagiku Ve," jawab Danis.


"Aku tahu Kak, semua ucapan yang ku katakan hanya akan menyakitimu. Tapi kau harus menyelamatkan hatimu Kak. Jika kakak terlalu banyak memberikan hatimu untuk orang yang tidak menerimamu, Kakak akan kehabisan cinta untuk orang berikutnya," ucap Vega yangenginginkan Danis bisa berbahagia meskipun bukan dengannya.


Danis hanya diam sambil memandangan undangan yang diberikan oleh Vega. Dia memang sudah menyiapkan diri untuk situasi saat ini. Namun ternyata hatinya belum mampu menerima kenyataan ini. Sangat sakit, kehilangan orang yang bahkan hubungannya tidak pernah dimulai. Kehilangan orang yang bahkan belum pernah dimiliki. Jika dirinya bertemu lebih awal dengan Vega, akankan dia bisa mendapatkan dan memiliki Vega.


"Sekali lagi maafkan aku Kak, aku ingin orang pertama yang mendapatkan undangan itu Kakak, teman baikku, Kakk harus datang ya," ucap Vega lagi.


"Akan aku usahakan Ve," jawab Danis. Sepertinya Dia tidak mampu melihat gadis yang Ia cintai menikah dengan orang lain di depan matanya.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu Ve," tanya Danis.


"Apa Kak?"


"Ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya," ucap Danis.


Vega berpikir sejenak, tunangannya aka sangat marah jika mengetahui ada pria lain yang memeluknya. Namun disisi lain Ia tidak bisa menolak permintaan Danis.


"Baiklah Kak," ucap Vega mengangguk. Ini untuk terakhir kalinya.


Danis memeluk tubuh Vega dengan hangat. Tidak terasa air matanya menetes di bahu Vega. Danis segera mengelap air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan gadis yang Ia sukai itu.

__ADS_1


"Terimakasih Ve," ucap Danis.


...Bersambung...


__ADS_2