Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 51 Malam Pertama


__ADS_3

Acara pesta pernikahan telah berakhir. Semua tamu undangan sudah meninggalkan aula pernikahan. Kecuali kuarga dan kerabat dekat . Nita juga sudah izin pulang. Zeeko terus saja memaksa untuk mengantarkan Nita. Karena memang hari sudah malam. Atas bantuan Vega, akhirnya Nita mau dibujuk dan diantar pulang oleh Zeeko.


Vina mondar - mandir mencari Alma. Alma meninggalkan tas dan ponselnya di situ, sehingga tidak bisa dihubungi.


"Kenpa Vin?" tanya Ryan yang melihat Alma kebingungan.


"Alma kemana yah, dari tadi kok ga keliatan," tanya Vina.


"Lah bukannya tadi pergi bareng Danis," jawab Ryan yang melihat Danis dan Alma keluar bersama tadi.


"Oh iya? Kakak punya nomernya Kak Danis?" tanya Vina.


"Bentar ku tanyain," jawab Ryan yang enggan memberikan nomor Danis pada Vina.


Ryan mulai mengetik pesan dan bertanya dimana keberadaan Danis dan Alma. Setelah beberapa saat Danis pun membalas.


"Mereka lagi di Cafe depan, tapi jalan kaki tadi berangkatnya. Terus minta dijemput. Kamu mau ikut?" tanya Ryan, sekalian modus biar bisa berduaan dengan Vina.


"Mauu," jawab Vina antusias.


****


Di kamar pengantin baru.


Vega duduk di depan meja rias sambil membersihkan sisa makeupnya menggunakan micellar. Sedangkan Bian hanya diam menunggu di sofa, sambil memandang ke arah Vega. Dirinya masih tidak menyangka jika mereka sudah resmi menikah.


Vega sengaja meperlama aktivitasnya di depan cermin, Ia merasa canggung harus berbuat apa. Berbeda dengan Bian yang sudah sering bermain dengan banyak wanita, Vega masih sangat polos. Bahkan dirinya ragu untuk melakukan hubungan suami istri. Bagaimana jika Ia langsung hamil, bagaimana dengan kuliahnya. Nanti Ibu Anna bakal kecewa atau tidak. Vega masih menimang - nimang, apakah Dirinya harus menunda hubungan suami istri dulu. Sampai dia benar - benar lulus. Bisa saja pakai pengaman, tapi apakah bisa benar - benar aman. Vega masih melamun sambil menyisir rambutnya pelan.


"Sayang, masih lama?" tanya Bian yang merasa tidak sabar menunggu Vega.


Vega langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah iya, aku udah selesei kok Kak," jawab Vega sambil meletakan sisirnya diatas meja.


Vega berjalan ke arah Bian dan ikut duduk di sofa.

__ADS_1


"Kakak cape? mau langsung tidur aja?" tanya Vega basa - basi, karena sedikit grogi.


"Engga, aku belum ngantuk sama sekali malah," jawab Bian sambil merangkul pundak Vega.


"Emmm Kak, aku mau ngomong sesuatu," ucap Vega ragu - ragu.


Melihat ekspresi Vega, Bian langsung mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Vega.


"Kenapa, kamu belum siapa melakukannya malam ini? tidak apa - apa, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu sampai kapanpun kamu siap, mengerti?" ucap Bian mendahului Vega.


"Kakak beneran gak papa?"tanya Vega merasa bersalah.


"Ga papa, dengan kamu bersedia menjadi istri sah ku saja, aku sudah sangat senang sekali. Pelan - pelan aja gapapa, nanti kita lakuin kalo kamu udah benar - benar siap yahh," jawab Bian sambil mengecup kening Vega. Sebenarnya ada rasa tidak ikhlas di hatinya. Ia sudah menunggu bertahun - tahun untuk malam ini, dengan satu - satunya wanita yang Ia cintai. Namun Bian tidak mungkin memaksakan nafsunya kepada Vega.


"Makasih Kak," ucap Vega.


"Kamu mau jalan - jalan keluar?" ajak Bian. Bahaya jika harus terus berduaan di kamar dengan posisi menempel seperti ini. Bian sudab merasa sesak. Tidak mungkin Ia mengajak Vega langsung tidur. Bian sudah minum segelas kopi, tadi sebelum masuk ke kamar.


"Aku sebenarnya lapar Kak, dari siang belum sempet makan apa apa," ucap Vega.


"Emm, aku mau nasi goreng di depan gang deket komplek rumah," jawab Vega.


"Kenapa milih yang jauh dari hotel sayang??" tanya Bian. Pasalnya jarak antara hotel dan rumah Alfa Seirious cukup jauh.


"Tapi yang udah pasti enak disitu Kak," jawab Vega dengan wajah memohon.


"Yaudah kita kesitu, nanti langsung pulang aja sekalian ke rumah yah," jawab Bian.


***


Di mobil.


Ryan menyetir mobilnya keluar dari Hotel, menuju cafe yang dimaksud oleh Danis.


"Vin kamu capek yah?" tanya Ryan kepada Vina yang sedari tadi hanya diam saja.

__ADS_1


"Hah, engga kok Kak," jawab Vina yang memang tidak merasa capek sama sekali.


"Tapi kamu keliatan capek deh," ucap Ryan lagi.


"Kenapa memang?" Vina bingung, perasaan wajahnya baik saja - saja. Dirinya tidak menunjukan wajah lelah sedikitpun.


"Soalnya dari tadi kamu terus - terusan berkeliaran di pikiranku," jawab Ryan menggombal.


Tidak cuma Vina yang syok dengan gombalan tersebut. Ryan juga merasa sangat malu, bisa - bisanya dia melancarkan aksinya secepat itu. Dirinya memang sudah belajar cara merayu cewe kepada Danis. Mantan playboy mulut buaya itu.


"Kak Ryan kenapa deh, nanti kalo Vina baper memangnya Kak Ryan mau tanggung jawab?" tanya Vina.


"Ya kalo kamu mau menikah kayak Kak Bian sama Vega, aku juga mau, tapi jangan sekarang, tunggu aku sukses dulu ya," jawab Ryan dengan mode serius.


"Kak Ryan sedang melamarku atau apa sih?" gumam Vina dengan keras.


"Engga, aku gamau melamar dengan tidak romantis seperti ini. Tunggu lamaranku yang sesungguhnya ya," ucap Ryan.


Vina menatap tajam ke arah Ryan. Dirinya sedang membaca wajah Ryan. Namun tidak ada tanda - tanda bercanda sama sekali.


Apa Kak Ryan beneran serius. Duh nih jantung mana ga bisa di ajak kompromi. Jangan kenceng - kenceng dong berdetaknya. Kan malu kalo sampe terdengar ke telinga Kak Ryan, batin Vina sedikit mengarang. Ryam tidak mungkin bisa mendengarkan detak jantungnya. Apalagi mereka sedang berada di dalam mobil, dengan suara mesin mobil yang menyala.


"Kak Ryan pasti udah sering banget ya ngegombal sama cewe," tuduh Vina masih mencoba mencari tahu, apakah Ryan serius atau tidak dengan perkataannya barusan. Namun belum sempat di jawab, Ryan sudah memarkirkan mobilnya didepan kafe. Danis dan Alma berjalan ke arah mobil yang mereka tumpangi.


Danis membukakan pintu untuk Alma dan duduk berdua di kursi belakang.


"Tasmu ga dibawa Ma, aku takut banget, kirain kamu diculik atau apa, Kan kita berangkatnya berdua. Kalo aku balik ke Jogja sendirian, yang ada Mamahmu marah - marah. Dikira aku gabisa jagain temen sendiri. Apalagi bapakmu yang galak itu," cecer Vina ketika Alma sudah duduk di belakangnya.


"Hahah iya sorry baangett, tadi lupa. Ga mungkin lah aku biarin kamu pulang ke jogja sendirian. Kan mau muncak dulu bareng - bareng," jawab Alma cengengesan.


"Oh iya bener, Kak Danis besok kita jadi kan liburan bareng Vega sama Kak Bian," tanya Vima beralih kepada Danis. Alma hanya bisa diam. Ia tahu bahwa Danis masih sangat sakit jika harus mendengar kata Vega dan Bian.


"Jadi dong, gue udah suruh orang sana buat bersihin Vila dan siapin bahan makanan," jawab Danis berpura - pura terlihat baik - baik saja.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2