Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 15 Bertunangan?


__ADS_3

Semua pengunjung langsung berteriak seru.


"Terima! Terima! Terima!" teriak seluruh pengunjung.


Bian marah melihat hal tersebut. Ia menggebrak meja, kemudian berjalan menuju Syaila. Bian mencium paksa Syaila.


Pengunjung yang mengenali pasangan artis tersebut sedang berciuman mesra, juga ikut meneriaki.


Beberapa orang langsung mengambil Hp nya untuk mengabadikan momen tersebut.


Belum sempat menjawab ucapan Danis, Vega langsung menengok ke arah pandangan pengunjung lain. Ia syok melihat Bian sedang berciuman mesra dengan pacaranya.


Tiba - tiba Vega merasa sakit hati. Ia mengambil tasnya, kemudian berlari keluar.


Danis bingung melihat Vega yang tiba - tiba berlari keluar. Ia kemudian ikut berlari menyusul Vega.


"Kamu kenapa Ve?" tanya Danis ketika berhasil menyusul Vega.


"Gapapa, aku hanya sedikit pusing, ingin pulang istirahat" jawab Vega.


"Yaudah aku antar ya" ajak Danis menarik tangan Vega menuju parkiran mobil.


Bian pun melihat Vega yang berlari keluar. Ia menghentikan ciumannya dan pergi meninggalkan Syaila yang merasa kebingungan.


Tiba - tiba mencium dan tiba - tiba meninggalkan. Membuat pengujung lain yang sedang menonton merasa kecewa.


Danis sangat khawatir karena Vega terlihat murung selama perjalanan pulang.


"Kamu serius gapapa Ve?" tanya Danis memastikan.


"Gapapa kok kak, beneran" jawab Vega sambil menyembunyikan air matanya.


"Yaudah kamu istirahat" ucap Danis tidak ingin mengganggu Vega lagi.


Danis sangat merasa bersalah. Ia mengira penyebab Vega seperti ini, karena telah menembaknya di depan umum. Padahal tujuannya hanya ingin terlihat romantis di depan Vega.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah besar. Danis langsung berlari membukakan pintu untuk Vega.


"Vega maafin aku ya, aku ga bermaksud buat kamu seperti ini" Danis meminta maaf sebelum Vega masuk ke dalam rumah.


"Ini bukan gara - gara kak Danis kok. Tiba - tiba Vega merasa pusing aja" jawab Vega menenangkan Danis.


"Soal yang tadi, kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu Ve. Jangan buru - buru untuk menjawab. Aku bakal tunggu sampai kapanpun kamu siap" lanjut Danis.


"Baik kak, maaf dan terimakasih" jawab Vega.


"Aku pulang dulu Ve" pamit Danis.


"Hati - hati kak" jawab Vega.


Danis masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya pergi dari rumah besar.


Saat Vega sedang berjalan ke arah pintu masuk, lagi - lagi ada yang menarik tangannya dengan kasar.


"Kamu jadian dengan Danis" tanya Bian tanpa melepas genggaman tangannya.


"Aw sakit kak, lepasin" Vega mencoba melepaskan genggaman tanggannya Bian. Namun ia kalah kuat dengan Bian.


"Jawab aku Ve!" bentak Bian.


Vega hanya terdiam dan tertunduk tidak mampu menjawab Bian.

__ADS_1


"Jangan berpacaran dengan Danis Ve" ucap Bian pelan.


Tangis Vega pecah, sedari tadi ia sudah menahan tangisnya selama di dalam mobil. Kali ini Vega tidak sanggup lagi menahan air matanya.


"Kakak tuh apa apaan sih. Memangnya kakak punya hak apa, buat ngurusin hidup Ve. Kemaren kakak menciumku, sedangkan tadi kaka mencium kak Syaila di depanku. Kakak itu jahat. Kakak ga berhak buat ngelarang aku pacaran dengan siapa" ucap Vega menggebu - gebu. Ia ingin mengeluarkan semua unek - unek yang ada di kepalanya, namun terhenti.


Tiba - tiba Danis menarik tubuh Vega mendekat dan langsung menciumnya. Vega menolak ciuman itu dan mencoba melepaskan diri sambil memukul dada bidang Bian.


"Kakak jahat, lepasin" ucap Ve di sela - sela paksaan ciumannya Bian.


Namun Bian lebih kuat dari pada Ve. Ia mulai memperdalam ciumannnya.


Akhirnya Vega pun membalas ciuman tersebut. Vega mengalungkan tangannya ke leher Bian. Kali ini Vega lebih berani daripada ciuman terakhir mereka.


Setelah bebarapa saat mereke berhenti. Napas mereka sudah sangat habis. Ditambah hidung Vega yang sedikit ber ingus karena menangis.


Bian mengelap air mata yang tersisa dipipi Vega.


"Maafin kakak" Bian mengecup kening Vega dengan lembut.


Kemudian Bian menggandeng tangan Vega masuk kedalam Rumah. Saat tiba di ruang keluarga, semua penghuni rumah terkejut menatap Bian yang sedang menggandeng tangan Vega.


"Kami akan bertunangan" ucap Bian dengan yakin didepan keluarganya.


"Tapi tanpa diketahui media" sambung Bian.


Vega sangat syok mendengar Bian berkata demikian. Namun berbeda dengan mamah Riri. Ia langsung tersenyum dan berlari ke arah Bian dan Vega.


"Baik, kalian akan segera bertunangan. Mamah janji tidak akan ada satu media pun yang tahu" ucap mamah Riri sambil mengenggam tangan kedua anak tersebut.


Bian tetap ingin menjaga reputasinya sebagai artis. Apalagi dia sedang mempromosikan film terbarunya bersama Syaila. Bian tidak ingin media heboh dan penggemarnya mengamuk.


Bian dan Vega menuju lantai atas. Mereka memasuki kamar masing - masing dengan perasaan campur aduk. Setelah membersihkan diri, mereka berbaring di kasurnya.


Vega bingung apakah ini hanya prank, atau ia sedang bermimpi. Apakah jika besok pagi ia bangun, semuanya akan berakhir. Ia tak percaya jika sebentar lagi akan bertunangan dengar artis dingin kulkas dua pintu itu.


Tuing!


Tiba - tiba ada notifikasi pesan masuk di Hp nya.


"Sedang apa?" Bian mengirim pesan.


"Memikirkan kak Bian" balas Vega.


"Eh bukan, maksudku memikirkan menu sarapan besok pagi" balas Vega lagi meralat pesan sebelumnya.


"Oh" balas Bian kesal.


"Aku bohong hehe, aku benar - benar sedang memikirkanmu" balas Vega lagi.


Bian tersenyum membaca balasan pesan dari Vega.


Aku juga, batin Bian.


Bian kemudian menekan tombol panggil.


"Halo, kenapa kak?" tanya Vega sedikit tercekat suaranya. Ia merasa sedikit grogi karena tiba - tiba Bian menelepon.


"Mau melihat bulan di balkon?" tanya Bian.


"Oh ayok" jawab Vega antusias.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar masing - masing. Vega melihat Bian sedang berjalan menuju balkon. Ia kemudian sedikit berlari menyusul Bian.


"Yah mendung kak, bulannya ga keliatan" cicit Vega.


"Tidak apa - apa. Aku hanya ingin berdua denganmu" ucap Bian.


Vega merasa malu mendengar ucapan Bian. Ia langsung menunduk sambil senyum. Ini pertama kalinya ia menjalin asmara dengan seseorang.


Bian meraih tangan Vega dan menggenggamnya lembut.


"Kenapa?" tanya Bian.


"Aku hanya malu kak" jawab Vega malu - malu sambil mencuri pandang ke mata Bian.


"Hatiku berdegup kencang tidak karuan" sambung Vega lagi.


"Aku juga. Hatiku juga sangat deg degan" jawab Bian.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertunangan dengan romantis. Tapi aku tidak mau kesalip Danis" ucap Bian sambil mengingat kejadian di Cafe tadi.


"Maafkan aku kak" jawab Vega merasa bersalah, karena telah pergi berdua bersama Danis.


"Bagaimana dengan permintaannya?" tanya Bian.


"Aku belum menjawab kak. Besok secepatnya akan ku tolak" jawab Vega sambil menatap mata Bian.


"Baiklah" Bian menarik Vega dan memeluknya dengan erat. Untuk beberapa saat mereka tetap seperti itu, sambil menikmati terpaan angin malam.


Bian melepaskan pelukannya.


"Sudah malam ayo tidur. Besok pagi kamu harus kuliah" ajak Bian.


Vega mengangguk.


Kemudian Bian menggandeng tangan Vega dan mengantar ke kamarnya.


"Sana masuk, selamat tidur ya. Gausah mimpi indah, yang penting tidur nyenyak" ucap Bian tanpa ada kata - kata romantis.


"Iya" jawab Vega sambil mengangguk dan masuk ke dalam kamar.


Namun tangan Bian tidak mau melepas genggamannya. Ia merasa tidak rela harus melepas tangan wanitanya itu.


"Aku masuk ya kak" ucap Vega lagi.


Bian mengangguk tanpa melepas tangan Vega.


Vega tersenyum melihat tangannya masih digenggam oleh Bian.


"Kak aku masuk dulu yaa" ucap Vega lagi.


"Iya" jawab Bian, namun lagi - lagi tangannya tidak mau lepas.


Vega tersenyum kemudian mengecup pipi Bian.


"Udah malam kak, aku mau tidur" ucap Vega sambil melepaskan tangannya dari genggaman Bian.


"Good night kak" sambung Vega lagi.


Bian hanya tersenyum sambil mengelus pipinya. Ia sangat senang mendapatkan ciuman dari Vega.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2