
Bian kembali akan menjemput Vega sepulang kuliah. Namun hari ini Ia sedikit terlambat. Ada beberapa hal yang harus Ia lakukan terlebih dahulu. Vega tetap harus menunggu meskipun Bian lama datang, hingga mengharuskannya bertemu dengan Danis.
"Gimana Kak skripsiannya?" tanya Vega ketika Danis memaksa untuk menemani Vega menunggu Bian.
Hari sudah mulai gelap, Danis tidak mungkin meninggalkan Vega sendirian di sana. Hampir semua mahasiswa sudah meninggalkan fakultas itu. Kebetulan tidak ada kegiatan kampus malam ini.
"Emmm ya masih proses pelan - pelan, aku gamau cepat - cepat lulus juga, nanti jadi makin ga ada alasan untuk ketemu kamu Ve," ucap Danis dengan wajah melas.
"Kak Danis, aku gamau Kakak terus - terusan berharap kepada hal yang tidak pasti seperti ini," ucap Vega memprotes alasan Danis.
"Ijinkan aku untuk tetap menemuimu Ve, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menjadi teman baikmu, itu saja cukup Ve," ucap Danis memohon.
"Sampai kapapun kamu bisa kok Kak terus jadi teman baikku," jawab Vega.
Padahal aku mau lebih dari sekedar teman Ve, tidak adakah kesempatan bagiku untuk menjadi pasanganmu, Danis bertanya di dalam hatinya.
"Baik Ve, jadi perlakukan aku selayaknya seorang teman yah. Jangan menghindariku apalagi menjauhiku oke?" ucap Danis.
"Baik Kak," jawab Vega sambil mengangguk. Danis adalah cowo pertama yang memperlakukan dia dengan istimewa setelah Vega pindah ke Jakarta.
Bian sudah sampai di depan fakultas, namun Ia tidak menemukan Vega di depan gedung fakultasnya. Bian merasa bersalah karena memaksa Vega untuk tetap menunggunya. Padahal Ia telat datang, hingga hampir 40 menitan. Bian berjalan, mencari ke dalam lorong kampus. Akhirnya Bian menemukan Vega, sedang bersama seorang pria. Bian segera berlari mendekati Vega.
"Ve!" panggil Bian sambil merapatkan kepalan tangannya ketika mengetahui pria itu adalah Danis.
"Kak Bi, kenapa ga telfon kalo udah sampai," ucap Vega yang kaget melihat Bian berlari ke arah mereka.
Vega segera berdiri menggenggam tangan Bian. Vega tidak ingin Bian marah melihat dirinya sedang bersama Danis. Seketika Bian mengurungkan niatnya untuk memarahi Danis yang berani mendekati tunangannya itu.
"Ayo kita pulang," Bian menarik tangan Vega menuju ke arah mobil.
"Kak Danis, kami duluan ya," ucap Vega tergesa - gesa, karena Bian berjalan dengan langkah kaki cepat.
__ADS_1
Danis hanya mengangguk pelan. Ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Hadiah yang belum sempat Ia berikan kepada Vega. Hari ini memang hari ulang tahun Vega. Danis sengaja mencari Vega di fakultasnya, untuk memberika hadiah ulang tahun.
"Selamat ulang tahun Ve," ucap Danis ketika Vega dan Bian sudah tidak terlihat sama sekali. Seharusnya tadi Ia lebih cepat memberikan hadiah yang sudah Ia siapkan itu.
***
Ketika berada di dalam mobil, Bian hanya terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. Hari ini memang Bian ingin berpura - pura cuek kepada Vega. Misi untuk meberikan kejutan untuk Vega. Namun ternyata Bian harus benar - benar cuek sekarang, karena melihat Vega hanya berdua dengan Danis di fakultas yang tidak lagi ada orang tadi.
Vega menengok ke arah Bian.
"Kakak marah aku bertemu dengan Kak Danis?" tanya Vega pelan.
"Tidak" Bian hanya menjawab singkat. Semua ini memang salahnya karena terlalu lama datang menjemput Vega.
"Tadi kami hanya berpapasan secara tidak sengaja, Ia memaksa menemaniku menunggumu Kak, karena fakultas sudah sangat sepi," ucap Vega menjelaskan.
Bian menengok ke arah Vega dan mengelus lembut kepala Vega.
"Iya Kak, cuma nama Kak Bian yang terukir dalam hatiku," jawab Vega sambil tersenyum.
Vega dan Bian sampai di kediaman Alfa Seirious sekitar pukul 18.20. Namun rumah masih sangat gelap. Lampu - lampu belum ada yang menyala. Kecuali lampu pos satpam.
"Mati lampu memangnya Kak?" tanya Vega polos.
"Iya mungkin," jawab Bian berbohong. Meskipun mati listrik, keluarganya pasti punya generator pembangkit listrik. Tidak mungkin gelap - gelapan seprti itu.
Bian membukakan pintu untuk Vega. Ia menyuruh Vega untuk jalan di depan. Vega membuka pintu rumah yang tidak terkunci dengan hati - hati.
Dan... SUPRISEEE!!!
Semua lampu kembali menyala. Semua orang di rumah itu sedang berkumpul diruang depan, lengkap dengan orang tua Vega yang sengaja berkunjung dari Jogja.
__ADS_1
"Happy birthday to you, happy birthday to you," mereka mulai menyanyikan lagu ulang tahun. Bian terlambat karena sibuk menyiapkan semua kejutan ini.
Vega merasa sangat terharu, biasanya Ia hanya merayakan ulamg tahunnya bersama kedua bestienya yang ada di jogja sambil menonton sunset. Namun kali ini Ia mendapatkan kejutan ulang tahun yang sangat meriah. Mereka bahkan menghias seluruh isi ruangan. Besar sekali kue bertulisan 'Selamat ulang tahun Vega' itu.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya," Ibu Anna berjalan mendekat ke arah putrinya sambil membawa kue ulang tahun itu.
Vega kemudian berdoa dan meniup lilin yang ada di hadapannya.
"Selamat ulang tahun ya nak," ucap Ibu Anna kepada putrinya. Ia menyerahkan kue tersebut kepada suaminya, dan langsung memeluk anaknya dengan haru.
Kejutan tidak berakhir sampai disini. Semua orang di kagetkan dengan Bian yang tiba - tiba berjongkok dan mengeluarkan buket bunga yang sejak tadi Ia sembunyikan dibalik badannya. Vega spontan memutar tubuhnya menghadap ke arah Bian.
Semua orang menantikan apa yang akan Bian lakukan selanjutnya.
"Ve, aku tahu kalo aku bukan cowo baik - baik sperti yang kamu harapkan. Aku sudah berkali - kali menyakitimu. Maafkan aku pernah membuatmu menangis. Tapi maukah kamu mengukir masa depan yang Indah bersamaku. Membangun keluarga kecil kita, Will you marry Ve," ucap Bian sengaja melamar Vega di depan seluruh keluarga mereka berdua.
Kali ini semua orang menunggu, reaksi apa yang akan diberikan oleh Vega yang masih tetap diam. Vega bingung, apakah dia benar - benar sudah yakin untuk menikah dengan artis idolanya yang dulu sering membuatnya menangis itu. Detik demi detik berlalu. Bian sudah merasakan keringat dingin di seluruh tubuhnya. Ia sangat takut Vega menolaknya, apalagi mengingat pertemuan Vega dengan Danis tadi sore. Apakah Danis sudah merayu Vega. Bian bertanya - tanya dalam hati.
Melihat wajah Bian yang sudah putus asa, Vega langsung mengambil bunga tersebut.
"Mana mungkin aku menolak lamaran cinta pertama dan terakhirku ini," jawab Vega.
Tepuk tangan meriah langsung menggema di seluruh ruangan. Mamah Riri lah yang paling bersemangat bertepuk tangan. Ibu Anna juga merasa sangat senang, Ia merangkul suaminya karena merasa bersykur, akan ada yang menggantikan mereka menjaga dan mencintai Vega dengan sepenuh hati.
"Bagus, kita bisa diskusikan tanggal pernikahan malam ini jeng," ucap Mamah Riri terburu - buru kepada Ibu Anna.
"Baiklah, mumpung masih disini kan Yah," jawab Ibu Anna meminta persetujuan dari Ayah.
Mereka menghabiskan malam ulang tahun Vega dengan penuh canda tawa. Begitu juga Ryan dan Zeeko, mereka asik mengobrol mengenai kampus baru tempat Zeeko mengajar. Yang tak lain adalah kampus Ryan juga. Zeeko ingin bertanya mengenai Nita, karena Ia pikir Nita adalah pacar Ryan yang sekarang. Namun Ia urungkan, karena Bian sudah bergabung bersama mereka.
...Bersambung...
__ADS_1