
Ryan menaiki tangga dengan wajah yang murung. Bahkan saat berpapasan dengan Zeeko di bawah tadi, Ia hanya say hello sedikit dan langsung pergi untuk menuju kamarnya. Tumben sekali, tidak biasanya Ryan seperti itu.
Ryan berpapasan dengan tiga wanita cantik yang siap berjalan - jalan ke mall. Melihat sepupunya yang sudah lama tidak Ia temui, Lucia langsung berlari memeluk Ryan.
"Hai brother, how are u?" tanya Lucia sambil masih memeluk Ryan.
Namun yang di peluk itu tidak meresponnya.
"Hei, whats wrong baby?" tanya Lucia melihat wajah Ryan yang sedari tadi Ia tekuk.
Vega juga merasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Ryan.
"Kenapa Kak, kenapa murung gitu wajahnya," tanya Vega sambil berjalan mendekat, di ikuti Nita dari belakang.
"Emmm, gapapa, cuma masalah tugas akhir dengan dosbing gue," jawab Ryan sekadarnya.
"Ohh stress anak tingkat akhir yah, udah mending ikut kita aja ke Mall," Vega mengajak Ryan ikut untuk melupakan rasa stressnya.
"Iya betul, nonton kita bioskop ayok," ajak Lucia. Ryan sudah terbiasa dengan cara bicara Lucia yang masih berantakan.
"Mau nonton apa memangnya?" tanya Ryan sedikit tertarik.
"Kali ini terserah deh, kakak yang milih, kita semua manut," jawab Vega. Nita mengangguk tanda setuju dengan bestienya itu. Ia juga tidak tega melihat Ryan yang biasanya ceria, suka becanda, sekarang terlihat murung dan sedih seperti itu.
"Baiklah, aku ikut kalian," jawab Ryan.
"Yeay," ketiga gadis itu berteriak senang.
Mereka berangkat ke Mall berempat naik mobil Ryan. Lucia duduk di depan, dan Vega duduk bersama Nita di belakang. Bian memang tidak bisa mengantar Vega, dikarenakan ada urusan bersama Zeeko.
Ryan memesan tiket film horror yang sedang ramai, yaitu "KKN di Desa Penari". Sebenarnya Nita tidak terlalu suka dengan film horror. Ia sangat parnoan, dan susah tidur setelah menonton film horror. Namun kali Ia harus mengalah, dan mau tidak mau harus terima.
Film mereka baru akan diputar pukul 21.05. Masih ada waktu sekitar 1.5 jam lagi menunggu film tersebut. Mereka memutuskan untuk berjalan - jalan terlebih dahulu, melihat baju - baju wanita. Ryan mengikuti ketiga gadis tersebut dengan patuh. Ia sudah mirip seperti manajer yang mengikuti girlband berbelanja.
Ketika sedang mencoba - coba sepatu, Nita melihat Nise, pacae Ryan, sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang cowo tampan.
Nita langsung mendekati Vega dan berbisik ditelingan Vega, "Ve, liat deh, itu ada Kak Nise, tapi jalan sama cowo lain."
"Hah mana?," Vega terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang Nita maksud.
"Itu, iya bukan sih?" tanya Nita memastikan.
"Busyet, iya beneran Nit," jawab Vega mulai heboh.
"Ada apa?" tanya Ryan melihat dua gadis itu berbisik-bisik meributkan sesuatu.
Vega kaget kalo ternyata Ryan ada di belakang mereka. Vega ragu, haruskan Ia memberitahukan kepada Ryan atau tidak.
__ADS_1
"Emm, aku mau ngasih tau sesuatu, tapi kakak jangan marah ya," ucap Vega kepada Ryan.
"Iya, apa memangnya? gabawa dompet?" tanya Ryan menebak.
"Bukan, em, itu.. anu.. disana ada Kak Nise sama cowo lain," tunjuk Vega ke adah toko emas di seberang mereka.
Ryan melihat ke arah yang di tunjuk Vega. Namun Ia hanya mendesah pelan. Tidak terkejut sama sekali. Wajahnya kembali murung seperti tadi.
"Are u okay kak?" tanya Nita kepada Ryan.
"Ya, I'm okay. Gue udah tau kok kalo Nise selingkuh dibelakang gue," jawab Ryan pasrah.
"What, terus kamu diem aja gitu kak?" tanya Vega sedikit menikkan suaranya.
"Ya mau gimana lagi, gue kan cinta mati sama Nise," jawab Ryan lesu.
"Ya cinta mati sih boleh - boleh aja, tapi goblok jangan dong kak," ucap Nita tanpa menyaring perkataannya terlebih dahulu.
Vega membenarkan ucapan Nita.
"Bener Kak, Kak Ryan gaboleh dong diem aja kaya gini, ngapain kek," ucap Vega.
"Aku memang berniat memutuskannya secepatnya Ve, aku juga tipe orang yang bisa memaafkan apa saja, kecuali pengkhianatan," ucap Ryan.
"Nah bagus dong kak," ucap Vega.
Vega dan Nita merasa sangat kasihan melihat Ryan yang hampir menangis. Ternyata cowo dan cewe sama saja, mereka bisa menangis kalo patah hati.
"Gapapa Kak, Kakak pasti bisa lepas dari Kak Nise. Kakak kan orang baik, harusnya bersyukur berpisah dengan cewe yang tidak baik - baik. Bersyukur karena Kakak tahu lebih cepat. Nanti tuhan pasti kasih pengganti yang terbaik deh, percaya sama aku," ucap Vega panjang lebar.
"Iya, aku akan memutuskannya secepatnya," jawab Ryan.
"Nah gitu dong, orang Kak Ryan kan cakep, gampang banget pasti lah dapet yang baru, yang lebih oke dan cantik, kaya gadis di jomblo abadi di samping ini misalnya," ucap Vega sambil melirik ke arah Nita.
"Yee, kok jadi gue sih dibawa - bawa," ucap Nita protes.
Lucia keluar dari ruang ganti, Ia memang baru saja mencoba tiga setelan baju yang sudah Ia pilih. Sehingga tidak tahu menahu soal perselingkuhan yang baru saja terjadi di luar.
"Aku mo beli semuanya, bagus banget," ucap Lucia.
"Kenapa your eye merah bro?" tanya Lucia melihat Ryan demikian.
"Gapapa, gue kelilipan tadi," jawab Ryan asal.
"Dah mau jam 9 nih, yuk naik, filmnya bentar lagi mulai," ajak Vega.
***
__ADS_1
Vega, Ryan, Nita, dan Lucia keluar dari ruang teater 3 sekitar pukul 23.10 WIB. Mall sudah tutup dan gelap.
"Gila ngeri banget, sampe mau mual," ucap Nita berlebihan.
"Baru gitu doang Nit," jawab Vega.
"Emm, biasa," Lucia ikut memberikan komentar. Sebenarnya dia tidak terlalu paham ceritanya, karena tidak mengenali budaya orang Indonesia.
Bian duduk disalah satu kursi tunggu di depan teater, Ia sengaja datang untuk menjemput Vega tanpa memberutahukan kepada Vega terlebih dahulu.
"Kak Bian udah lama nuggu disini?" tanya Vega.
"Belum, cuma 40 menit?" jawab Bian enteng.
"Cuma?" tanya Vega.
"Yah, dan selama 40 menit itu aku sibuk berfoto dan memberikan tanda tangan kepada fans yang lewat," ucap Bian lagi.
"Harusnya Kakak nanya dulu dong kita kelar jam berapa," Vega merasa bersalah.
"Gapapa, sejak lahir aku memang tidak suka dengan namanya 'menunggu', tapi sekarang aku sangat suka dengan kata 'menunggumu'," Bian sedikit menggombal.
Ketiga orang dibelakang Vega mual mendengar gombalan Bian yang sedang di mabuk cinta itu.
"Gue ambil ya Veganya," ucap Bian sambil menggandeng tangan Vega.
"Tunggu, Kak Ryan tolong anterin Nita ya, kasihan udah malem. Biar Lucia bareng kami," Vega menahan tangan Bian yang menariknya.
"Tapi sayang, nanti kita jadi gabisa itu.." bisik Bian di telinga Vega. Ia ingin tidak ada yang mengganggu mereka berduaan. Pasalnya seharian Vega sudah menghabiskan waktu tanpanya.
"Itu apa sih?" tanya Vega sambil memelototkan matanya pada Bian.
Bian langsung menggelengkan kepalanya takut.
"Gausah deh, gue bisa naik ojol," ucap Nita kepada Vega.
"Udah sama gue aja deh, udah malem," potong Ryan.
"Yaudah deh kalo maksa," jawab Nita yang padahal belum ada yang memaksanya.
"Dih, siapa juga yang maksa dah," jawab Ryan mencibir.
"Kalo udah niat ngasih tumpangan, harus ikhlas dong Kak," ucap Nita.
"Gada yang bilang ga ikhlas disini woy Nit," jawab Ryan kesal.
...Bersambung...
__ADS_1