
Selamat malam pak, Perkenalkan nama saya Nita Salsabila Putri, NIM L6212200024, berikut saya kirimkan tugas menulis, mata kuliah Dasar - Dasar Penulisan Naskah.
Judul : Trauma Keluarga
Nia adalah anak pertama dari sebuah keluarga berkecukupan. Dia memiliki satu orang adik kelas 1 SMA. Nia orangnya ceria dan penyayang. Keluarganya hidup bahagia dengan damai. Namun suatu hari, hidupnya kacau karena seorang pria.
Salsa masuk ke dalam kamar Nia. Ia melihat begitu banyak foto pria setengah bule tertempel di dinding kamar Kakaknya itu. Ia heran, mengapa Kakaknya segitunya menyukai seorang pria. Salsa memang masih sangat polos soal pria.
"Ngapain sih kak sibuk amat", ucap Salsa melihat kakaknya sedang merangkai buket bunga.
"Buat cintaku" jawab Salsa sambil menunjuk foto yang ada di dinding tersebut.
"Idih" cibir Salsa sambil duduk didepan Kakaknya. Ia heran darimana Kakanya mendapatkan banyak tangkai bunga mawar segar seperti itu.
"Tanganmu berdarah loh Kak," ucap Salsa melihat salah satu jari Nia yang lecet dan sedikit berdarah.
"Gapapa, tadi ga sengaja kena durinya," jawab Nia enteng.
"Ya ampun, begitu ya kalo orang dewasa jatuh cinta, lebih mentingin orang yang dicintai dari pada diri sendiri," ucap Salsa geram melihat Kakaknya.
Salsa pergi mengambil tisu alkohol, obat merah, dan plaster luka. Ia memaksa untuk mengobati luka Kakaknya itu. Mau tidak mau Nia memberikan tangannya untuk di obati.
"Kamu bantuin Kakak ya nanti, soalnya Kakak buru - buru ada janji sama temen," ucap Nia pada Salsa.
"Bantu apaan?" tanya Salsa. Biasanya Kakaknya akan menyuruhnya hal - hal aneh dan sulit.
"Anterin bunga ini ke tukang anter di depan gang ya, aku udah janjian jam satu nanti, suruh anterin ke alamat ini," ucap Nia memberikan catatan alamat.
"Tenang, besok aku traktir mcd deh," ucap Nia lagi karena Salsa seperti akan menolak.
__ADS_1
"Janji loh ya," ucap Salsa mengambil catatan alamat dari tangan Nia.
"Iyeee," jawab Nia sambil melanjutkan rangakaian bunganya.
Nia sengaja mengirimkan bunga tersebut untuk pria yang ada di foto dinding kamarnya. Ia menyelipkan catatan untuk mengajak pria tersebut ketemuan nanti malam di taman X pukul 20.00 wib. Salsa pun membaca catatan tersebut.
Salsa sudah selesei menyeleseikan tugas yang diberikan Kakaknya. Beberapa jam kemudian Nia menerima laporan dari tukang paket, bahwa kirimannya sudah sampai. Ia bersiap - siap untuk segera pergi ke taman tempatnya akan bertemu dengan si pria. Ia sengaja meminjam mobil Ibunya untuk pergi ke taman.
"Kak hati - hati loh ya, kamu kan belum punya sim. Kenapa ga naik motor aja sih?" ucap Salsa melihat Nia sudah siap lengkap dengan kunci mobil ditangannya.
"Tenang, malem malem ga ada polisi, aman," jawab Nia.
"Kata Mamah jangan malem - malem pulangnya Kak," ucap Salsa lagi. Mamahnya memang sangat ketat karena terlalu sayang ke kedua anaknya. Namanya juga orang tua kan. Orang tua mereka selalu meminta kedua putrinya itu untuk selalu berhati - hati.
"Oke, bntar doang langsung pulang lagi deh," ucap Nia menenangkan adeknya. Mamah dan Papahnya sedang pergi menghadiri acara pernikahan teman sekantor.
"Oke hati - hati Kak," ucap Salsa sambil menutup pintu.
"Kakakmu belum pulang juga nak?" tanya Mamah sedikit panik.
"Dia belum di kamar Mah?" tanya Salsa yang mengira saudaranya sudah pulang sejak tadi. Ia terlalu fokus pada layar laptonya.
"Belum, mobilnya juga belum ada," jawab Mamah.
Salsa langsung mengambil Hpnya dan menelepon Nia.
"Hallo Kak," ucap Salsa ketika Nia mengakat ponselnya.
"Hallo, kenapa Sal?" tanya Nia sambil menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa belum pulang?" tanya Salsa.
"Dia ga dateng - dateng , jadi aku tetep menunggu. Tapi sepertinya dia tidak akan pernah datang, jadi aku pulang, ini udah dijalan," jawab Nia. Ia terdengar sedikit kecewa, karena sudah menunggu hampir tiga jam, namun si pria tidak kunjung datang.
"Ga dateng? Ngapain Kakak menunggu sampai selama ini?" tanya Salsa sedikit marah. Mamahnya yang juga mendengar percakapan meraka ikut merasa kesal.
"Iya soalnya.... Akhhhhh!!!" belum sempat Nia menjawab pertanyaan Salsa, Dia berteriak dan terdengar gaduh di seberang telepon. Beberapa detik kemudian panggilan tersebut mati. Mamah yang juga mendengar suara tersebut langsung panik.
"Ada apa dengan Kakaknya Sa?" tanya Mamah.
"Coba Salsa telfon lagi dulu Mah," ucap Salsa tetap tenang.
Namun ponsel Nia sudah tidak bisa dihubungi lagi. Salsa mencoba lagi dan pagi. Namun tetap gagal. Hingga beberapa menit kemudian, mereka mendapat kabar bahwa Nia mengalami kecelakaan hebat. Nia pingsan dan sudah dilarutkan ke rumah sakit. Mendengar hal tersebut, Mamah langsung pingsan di kamar Salsa. Nia berteriak memanggil Papahnya, dan memberitahukan semuanya. Setelah Mamah sudah cuku sadar, mereka langsung bergegas ke rumah sakit. Nia masih berada di dalam ruang operasi. Kepalanya mengeluarkan banyak darah akibat benturan keras. Dokter perlu banyak waktu untuk menanganinya.
Setelah 4 jam diruang operasi, Nia berhasil diselamatkan. Ia dipindahkan ke salah satu kamar VIP. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, namun Nia tidak kunjung sadar. Ia terus menerus koma setelah kejadian tersebut. Mamah sangat sedih, hingga mentalnya sedikit terganggu. Mamahnya menangis setiap hari, karena putri pertamanya tidak kunjung bangun. Salsa merasa hari - hari yang harus Ia lalu cukuplah sulit. Dia yang saat itu masih kelas 1 SMA, harus kuat untuk menjaga dua wanita yang sangat Ia sayang. Tidak hanya itu, Peruasahaan mereka juga sedikit berantakan karena Papah harus membagi waktu antara keluarga dan bisnisnya. Papahnya harus tetap masuk ke kantor untuk mengatasi masalah - masalah yang ada. Setelah 9 bulan berlalu, akhirnya Nia bisa terbangun, dan bisa menjalani kehidupannya lagi secara normal. Bertemu dengan pria baik dan menikah. Namun trauma di keluarga mereka belum sepenuhnya hilang. Mamah masih harus rutin kontrol ke dokter untuk menghilangkan trauma tersebut.
Sejak Nia sadar, keluarga mereka tidak lagi membicarakan kejadian kecelakaan tersebut. Mereka memilih untuk melupakan dan kembali berbahagia seperti dulu. Namun tidak dengan Salsa, Ia terus mendendam dengan pria yang ada pada foto di dinding kamar Kakaknya dulu. Dia bahkan tidak mengenal sama sekali sosok pria tersebut, Tapi menurutnya, kalo bukan gara - gara pria itu, keluarganya tidak harus menderita dan mengalamu trauma seperti itu. Mereka bahkan tidak tahu keberadaan pria tersebut.
End.
Nita membaca kembali tulisannya.
"Apalagi yah yang kurang?" tanya Nita kepada diri sendiri.
Setelah merasa puas, Ia langsung mengirimkan tugas menulisnya itu kepada Zeeko melalui email. Jam sudah menujukan pukul 23.40. Tandanya bentar lagi habis waktu pengumpulan. Nita bersyukur karena dapat menyeleseikan tugas menulisnya dengan tepat waktu.
...Bersambung...
Maaf ya readers terlovee, updatenya sedikit terlambat. Ini udah update dari semalem tapi ga lolos-lolos. Karena author memiliki banyak kesibukan akhir - akhir ini, tapi tetep berusaha update setiap hari kok. Heheh.
__ADS_1
Like dan komennya jangan lupa ya, saran dan masukan sangat diterima. Terimakasih :<3