Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 48 Penipu tampan


__ADS_3

"Hei kamu!" sapa Ryan yang baru saja pulang dari kampus dan aka menaikki tangga. Biasa, mahasiswa tingkat akhir, sukanya ngerjain skripsi ramai - ramai di kampus.


"Kamu?" Vina bingung mengapa pria waktu itu bisa ada disini.


"Kok bisa disini? Ngapain?" tanya Ryan bingung melihat gadis itu ada dirumahnya.


"Aku kesini buat temanku Vega," jawab Vina.


"Oh kamu sahabatnya Vega dari Jogja?" tanya Ryan memastikan.


"Iya, kamu sendiri kenapa bisa disini?" tanya Vina yang masih bingung.


"Ini rumahku, rumah orang tuaku lebih tepatnya," jawab Ryan.


"Ohh, Kak Ryan?" tanya Vina memastikan.


Ryan menggangguk. Mereka tidak menyangka bisa bertemu untuk kedua kalinya di beda kota.


Flash back on.


Ryan bersama Danis, dan beberapa teman jurusan mereka pergi ke Jogja, beramai - ramai saat liburan semester. Mereka memang sudah beberapa kali liburan bersama. Ke Jogja, Bromo, Bali, dan lain - lain. Saat itu, Ryan dan temannya pergi ke jogja menggunakan mobil Danis. Mereka sudah memesan kamar hotel untuk menginap.


Namun saat sedang berjalan - jalan di Malioboro, dirinya tertinggal mobil Danis. Sebenarnya hal itu disengaja oleh teman - temannya. Mereka ingin mengerjai Ryan. Danis menyembunyikan dompet Ryan di mobilnya, sehingga Ryan ditinggal hanya dengan tangan kosong. HP nya pun sudah mati.


Tanpa disengaja Ia melihat gadis cantik sedang duduk di salah satu bangku di pinggiran jalan Malioboro. Ryan memberanikan diri untuk meminjam uang kepada gadis itu.


"Permisi, maaf mengganggu, emm bolekah aku meminjam sedikit uang untuk naik ojek. Aku tertinggal rombongan temanku, dan tidak membawa dompet. Nanti langsung ku ganti setelah sampai di hotel," ucap Ryan kepada Vina.


"Hmm, aku hanya punya segini. Ambilah," ucap Vina yang langsung memberikan uang disakunya. Ryan yang belum Ia kenal, terlihat seperti orang baik - baik dan tidak akan berbohong sepertinya.


"Oke, boleh minta nomer rekeningnya. Biar bisa langsung di tf," ucap Ryan.


Vina memberikan kertas kecil berisi catatan nomor rekening milik Ibunya. Dia belum memiliki rekening sendiri waktu itu.


"Oke makasih, tapi bolehkah aku meminta bantuan satu kali lagi?" tanya Ryan hati - hati.

__ADS_1


"Iya apa?" tanya Vina.


"Boleh minjem hp buat pesen ojol?, soalanya ponselku sudah mati, baterainya habis," ucap Ryan meminta bantuan.


Vina memberikan ponselnya pada Ryan. Sebenarnya sejak tadi Ia sangat grogi berhadapan dengan pria tampan di hadapannya itu.


"Ini makasih, sekali lagi makasih ya," ucap Ryan. Kemudian Ia pamit setelah pesanan ojolnya datang.


Namun setelah kejadian itu, dirinya tidak sempat mengembalikan uang yang Ia pinjam. Ryan kehilangan kertas kecil berisi nomer rekening gadis ya meminjaminya uang itu. Dirinya merasa bersalah karena terlihat seperti penipu. Setiap kembali ke Jogja Ia akan mencari gadis itu, namun tidak pernah bertemu.


Flashback off.


Ryan yang merasa bersalah karena sudah dua tahun berlalu, dan belum mengembalikan uang yang dia pinjam. Namun sebalikannya, Vina senang akhirnya bisa bertemu dengan pria tampan waktu itu. Dirinya bahkan lupa bahwa Ryan meminjam uangnya dulu. Dia tidak peduli dengan uang kecil itu.


"Maaf, dulu kertas kecil itu hilang entah kemana, percaya deh aku bukan penipu," ucap Ryan ingin meluruskan kejadian tempo dulu.


"Iya aku percaya, tidak mungkin orang se kaya Kakak, menipu gadis hanya untuk uang sedikit," ucap Vina.


"Aku ganti sekarang ya," ucap Ryan sambil mengambil dompet di tasnya.


"Kalo begitu, lain kali aku traktir makan deh ya buat ganti uang itu," ucap Ryan menawarkan alternatif lain.


"Baiklah, tapi harus makanan yang mahal ya Kak," jawab Vina bergurau.


"Iya, apa aja deh," jawab Ryan sambil tertawa melihat kelucuan Vina.


"Sebenarnya aku mau ambil minum sama cemilan, tapi gatau dimana persis dapurnya," ucap Vina meminta bantuan kepada Ryan.


"Oh, ikut aku," jawab Ryan.


Ryan membantu Vina mengambil minum dan menyiapkan cemilan untuk Vega dan Alma yang ada di kamar. Ryan dan Vina terlihat sangat akrab sekali, seperti teman yang sudah lama kenal. Karena Vina adalah sahabat Vega, jadi Ryan mengganggap Vina sama seperti Vega, seperti adik sendiri.


Vina membuka pintu kamar Vega dan meletakan nampan berisi minuman. Di ikuti Ryan yang membawa beberapa cemilan.


"Kak Ryan, kok bisa bareng gitu?" tanya Vega penasaran.

__ADS_1


Alma yang tidak tahu apa - apa pun heran. Mengapa Vina lama sekali pergi, dan kembali bersama seorang pria tampan yang di panggil Kak Ryan oleh Vega itu.


"Iya tadi ketemu di bawah, gue ke kamar dulu ya , capek mau tidur siang," Ryan pamit dan pergi meninggalkan kamar Vega menuju kamarnya.


Setelah Ryan keluar dan menutup pintu, barulah Alma mengutarakan kekepoannya kepada Vina.


"Inget ga, cowok ganteng yang minjem duit pas kita ke Malioboro?" tanya Vina memulai ceritanya.


"Cowo penipu itu, yang ga ngembaliin utangnya?" tanya Alma.


"Hahaha bukan penipu juga sih, jadi orang itu ternyata adalah Kak Ryan, Kakaknya Vega ternyata yah, dan Dia bukan sengaja tidak membayar uang itu kembali, tapi karena catatan kertas nomor rekeningku hilang katanya," ucap Vina menerangkan.


"Bohong kali tuh Kak Ryan," ucap Vega asal.


"Ya masa orang sekaya Dia mau nipu buat uang kecil sih Ve," protes Vina.


"Iyasih," jawab Vega cengengesan.


"Oh tapi berati Dia dong cinta pertamamu sejak SMA," Vina langsung menutup mulut Alma yang berbicara terlalu keras. Ia tidak ingin suara Alma terdengar sampai telinga Ryan. Dirinya tidak tahu kalo kamar - kamar di rumah itu dibuat kedap suara.


"OMG! benar juga! Cinta pertamamu yang selama ini kamu cari hahahah," ucap Vega mengingat kembali ke waktu dulu. Vina sering mengajak Alma dan Vega untuk berjalan - jalan ke Malioboro, hampir setiap minggu. Ia ingin sekali bertemu dengan pria peminjam uang itu. Namun tidak pernah Ia bertemu lagi. Dan akhirnya menyerah.


"Kebetulan banget, Kak Ryan jomblo loh Vin," ucap Vega sambil menggoda Vina.


Pipi Vina langsung bersemu merah. Dirinya memang paling tidak bisa jika di goda soal pria.


"Tapi kamu kan lagi suka sama Kaka tingkat senior fisika itu Vin," ucap Alma mengingatkan Vina.


"Iyasih, tapi jantungku tidak pernah berdebar saat berdua dengan senior itu. Berbeda dengan saat bertemu dengan Kak Ryan," ucap Vina sambil menempelkan telapak tanggannya di dadanya.


Vega ikut menempelkan tanganya di dada Vina. Benar saja, Ia juga bisa merasakan detak jantung Vina yang sangat kencang. Alma ikut menempelkan tangannya, tapi bukan di dada Vina, melainkan di pipi Vina.


"Fix! terdeteksi gila karena jatuh cinta," ucap Alma yang merasakan kedua pipi Vina yang sedikit memanas bersemu merah itu.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2