Jodohku Seorang Artis

Jodohku Seorang Artis
Bab 55 Belanja kan


__ADS_3

Ryan mengirimkan pesan kepada Vina. Ia mengajak Vina untuk segera bersiap pergi ke supermarket di daerah itu.


"Bentar, mandi dulu deh ya Kak. Takutnya pulangnya kesorean," ucap Vina melalui voice note.


"Oke, aku juga," jawab Ryan.


Setelah mandi dan bersiap, mereka segera berangkat ke swalayan terdekat mengikuti google map dari ponsel Vina.


"Belok atau lurus Vin?" tanya Ryan ketika dihadapkan pertigaan di depan mereka.


"Lurus.... eh maksudku belok kanan," ucap Vina yang ragu. Biasalah, wanita cantik kan seringkali payah dalam membaca map.


"Bener nih ya, belok kanan," ucap Ryan sambil membelokan mobilnya ke arah kanan.


"Eh ternyata salah kak, ini jadi dibuatin jalur baru deh, maaf ya kak" ucap Vina merasa bersalah karena salah mengarahkan Ryan.


"Oh oke, gamasalah," ucap Ryan senang - senang saja harus berdua lebih lama dengan Vina.


"Depan, ambil kiri ya Kak," ucap Vina. Kali ini Ia sangat berhati - hati, karena tidak ingin salah jalur lagi.


"Okee," ucap Ryan menurut.


Mobil melaju lurus kedepan. Di sekitar jalan hanya ada pohon kayu putih yang menjulang tinggi. Tidak ada perumahan sama sekali di jalan tersebut.


"Kak, ternyata dari tadi internetnya ga terhubung," ucap Vina panik.


"Hah, ini bener kan jalannya?" Ryan juga mulai panik. Karena sudah lama Ia berkendara namun belum juga sampai. Padahal menurut Danis, supermarket bisa ditempuh dalam waktu 20 menit.


"Gatau Kak, mapnya udah ga jalan lagi, gada sinyal," ucap Vina sambil mengangkat ponselnya tinggi - tinggi.


"Coba deh Hp Kakak," lanjut Vina.


Ryan mengambil Hp yang ada di saku depan celananya.


"Sama, punyaku malah silang. Darurat," ucap Ryan ketika memerikasa ponselnya.


"Ya ampunnn, mana mulai gelap," Vina semakin takut dan panik. Tidak ada lampu sedikitpun disitu. Ditanbah lagi jalan pegunungan yang berkelok - kelok dan naik turun.


Vina mencoba melakukan panggilan telepon kepada Vega, untungnya Ia rutin mengisi pulsa untuk berjaga - jaga. Tersambung, namun tidak terangkat.


"Duh, kemana sih Vega," ucap Vina.

__ADS_1


Ryan menepikan mobilnya. Ia takut jika terus melaju, maka akan semakin tersesat.


"OMG, HPku lowbat Kak. Ada charger ga?" tanya Vina semakin panik. Ia lupa untuk mencharger HP nya sebelum pergi tadi.


"Ga ada, di kamar semua," ucap Ryan yang teringat bahwa Danis sudah mengeluarkan semuanya dari mobil.


"Aduh, mending kita balik aja yuk Kak ke jalan tadi. Kita ke tempat yang banyak sinyal," ajak Vina.


"Oke, aku cari jalan buat atret dulu deh ya," ucap Ryan kembali melajukan mobilnya. Mobil mereka sudah semakin melaju tetapi tidak kunjung menemukan area untuk putar balik. Yang ada hanya jurang di sebelah kanan dan gunung bebatuan di sebelah kiri.


***


"Woylah ini yang belanja lama banget, katanya 20 menit sampai sampai supermarket," ucap Nita saat sedang berkumpul di rooftop. Mereka sedang mempersiapkan pesta bbq yang akan di lakukan sebentar lagi.


"Coba gue telepon dulu si Vina. Sengaja nih pasti lama lama berduaan," Alma mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Vina.


"Ga aktif datanya," ucap Alma ketika panggilannya hanya terhubung, tidak berdering.


"Oh iya, coba deh gue telpon si Ryan," ucap Danis yang juga heran mengapa mereka berdua lama sekali belanjanya.


"Ga aktif juga," ucap Danis bingung.


"Mending Kakak susul deh mereka. Takutnya mereka keasar dan ga dapet sinyal. Dari tadi aja HP ku ga ada sinyal internet" ucap Vega yang panik karena besti dan adik iparnya tidak bisa dihubungi.


"Aku ikut deh Kak," ucap Alma menawarkan diri untuk menemani Danis.


"Oh oke ayok. Ka Zeeko, minjem mobilnya ya," ucap Danis meminta kunci mobil kepada Zeeko.


Mereka berdua langsung meluncurkan mobil menju supermarket di daerah situ. Kurang lebih 20 menit perjalanan, mereka sampai di depan salah satu supermarket yang tidak terlalu besar. Hari sudah benar - benar gelap. Danis memarkirkan mobilnya. Tiba - tiba ada panggilan masuk di ponsel Alma.


"Kak Ryan Kak," ucap Alma menunjuka layar HPnya ke arah Danis.


"Buruan angkat," jawab Danis.


"Hallo Kak, kalian dimana?" Alma langsung bertanya keberadaan Ryan dan Vina setelah menjawab panggilan tersebut.


"Hemm, gatau nih. Kita tadi kesasar dan kehilangan sinyal. Ini baru dapet lagi," ucap Vina yang menggunakan HP Ryan untuk melakukan panggilan.


"Oh astagaaa. Terus kalian belum belanja sama sekali?" tanya Alma.


"Ya belum, orang nyasar gini," jawab Vina.

__ADS_1


"Yaudah kalian langsung nyari map pulang aja deh. Aku sama Kak Danis didepan supermarketnya nih. Biar kami aja yang belanja," sahut Alma agar bisa cepat memulai pesta bbq.


"Oh okedeh, kami langsung ke arah Vila ya. Takut nyasar lagi kaya tadi. Serem banget hutannya gelap," curhat Vina.


"Iya iya kalian langsung pulang aja, syukur ga terjadi apa apa. Semua orang sangat khawatir tadi Vin," Alma.


"Iya maapin, nih langsung pulang. Daftar belanjaannya ku pap aja ya," ucap Vina sambil memoto kertas daftar belanjaan, dan mengirimkan pada Alma.


"Okeh udah masuk, kalian hati - hati ya sampai vila," ucap Alma.


"Iya siap, semangat belanjanya, bye," Vina menutup telepon dan mematikan panggilannya.


Vina masih memegang ponsel Ryan. Ia ingin segera mengembalikan ponsel tersebut, namun secara tidak sengaja dia melihat wallpaper Ryan yaitu foto sebuah tangan, yang menurut Vina adalah tangan Ryan. Sedang menggenggam tangan seorang wanita.


"Tangan siapa Kak?" tanya Vina tiba - tiba penasaran dengan foto tersebut.


"Hah?" Ryan langsung memalingkan wajahnya ke arah Vina. Dan Vina menunjukan layar ponsel Ryan.


"Eh gaperlu di jawab. Bukan urusanku juga," Vina mengurungkan pertanyaannya. Ia tidak ingin kecewa akan jawaban Ryan.


Ryan bingung, kenapa Ia sampai lupa untuk mengganti wallpappernya. Foto itu adalah foto tangannya mengenggam tangan Nise. Saat mereka pacaran dulu. Padahal Ia sudah menghapus semua foto - fotonya bersama Nise dulu.


"Oh itu.. aku jarang membuka HP, sehingga lupa mengubah wallpaperku," jawab Ryan sedikit panik. Ia takut Vina akan berpikiran bahwa dirinya belum moveon dari mantannya.


"Oh," jawab Vina singkat. Ia segera membalikan ponsel Ryan dengan wajah cuek.


"Beneran deh, aku terlalu sibuk sampai ga sadar kalo wallpapper HP ku masih foto itu," Ryan mencoba menjelaskan tanpa diminta oleh Vina.


"Lah gapapa Kak, kan ponsel Kak Ryan. Ya bebas," Vina berusaha menjaga intonasi suaranya dan berpura - pura tidak peduli dengan persoalan itu.


Ryan merasa Vina marah padanya. Dia tidak ingin Vina menganggap bahwa dirinya hanya bermain - main dalam mendekatinya.


"Lagian foto ini jelek banget, ga jaman pake wallpapper gambar tangan doang," ucap Ryan mencoba mencemoh fotonya sendiri.


Ia membuka kamera dan mengarahkan ke wajahnya, lengkap dengan Vina di sampingnya.


"Vin, liat sini," ucap Ryan.


Cekrek, Ryan mengambil foto selfie mereka berdua secara kilat. Karena Ia juga harus membagi fokusnya dengan mobil yang dikendarainya.


"Ih Kak Ryan, akunya pasti merem tadi. Kenapa tiba - tiba ngajakin foto sihhh," protes Vina.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2