
Hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka berdua ketika berada didalam mobil menuju ke rumah.
Ya ampun kenapa lagi sih nih kulkas dua pintu, tadi baik banget. Sekarang kumat lagi hhhhh. Batin Vega.
Saat sedang asik mengumpat didalam hati, tiba tiba terdengar gemuruh petir di ikuti turunnya hujan. Awan menjadi sangat gelap kala sore hari menjelang malam itu. Angin kencang menguncang - guncang pohon seakan menyuruhnya untuk tumbang.
Kabut tebal menyelimuti jalanan yang sedang mereka lewati. Mengakibatkan jarak pandang menjadi pendek.
Ya tuhan, maafkan aku karena telah berkata kasar. Aku takut. Batin Vega yang merasa seram karena cuaca yang tiba tiba buruk.
"Kita mampir ke apart dulu. Aku tidak bisa melihat jalan dengan jelas" ajak Bian yang merasa pandangannya sedikit kabur akibat kabut tebal.
Kebetulan posisi mereka tidak jauh dari apartemen yang dimiliki Bian. Sedangkan rumah besar masih cukup jauh dari tempat mereka sekarang.
"Iya kak" dengan cepat Vega mengiyakan karena semakin takut mendengar gemuruh petir yang menggelegar.
Mereka menaiki lift menuju lantai 9, dimana apartemen Bian berada.
Ting! Pintu lift terbuka.
Kemudian Bian menuju kamar 907 dan membuka pintu apartemen.
"Ayo masuk" ajak Bian.
Vega merasa sedikit ragu, ia takut jika harus berhadapan dengan kulkas dua pintu dalam satu ruangan.
"Kecuali kalo kamu mau semalaman tinggal diluar" sambung Bian.
Vega langsung mengejar Bian masuk kedalam apart, sebelum pintu mulai menutup.
"Kamu mandi dulu sana, aku mau masak sesuatu. Kamu lapar kan seharian belum makan" perintah Bian lembut.
"Emm, tapi aku gapunya baju ganti kak" sahut Vega.
"Di lemari ada baju ganti cewek" ucap Bian.
Vega terdiam.
Jangan - jangan baju wanita simpanan kak Bian, ogah amat makenya. Batin Vega
"Gusah mikir macem-macem, itu baju baru bukan bekas orang. Gada wanita yang pernah ku ijinkan masuk ke apartku" sambung Bian melihat wajah Vega yang hanya diam.Vega terlihat berpikir yang aneh aneh.
Sejak kapan gue jadi "aku kamu" ke tuh gadis. Batin Bian.
"Oh, yasudah aku mandi dulu kak" jawab Vega sambil bergegas mengambil baju dan pergi ke kamar mandi.
Apartemen Bian memang luas, tapi hanya ada satu tempat tidur dan satu toilet. Itupun tidak ada pembatas yang membedakan antara kamar tidur, dapur, dan ruang tamu.
Bian sengaja memilih ruang yang tidak terlalu luas, karena ia tidak ingin menyewa pembantu untuk membersihkan apartemennya. Bian juga selalu melarang teman wanitanya datang ke apartemen. Ia tidak suka orang lain menyentuh barang - barang miliknya.
Tunggu, tadi kata kak Bian gada wanita yang boleh masuk ke apartemennya? Kok aku boleh? Apa kak Bian bener bener nganggep aku bukan wanita ya?. Batin Vega sedikit kecewa karena merasa hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.
__ADS_1
Vega mengenakan baju wanita yang ia ambil di lemari tadi. Ternyata sebuah dress tidur panjang berbahan satin. Vega heran darimana Bian mendapatkan baju semacam ini.
HP vega berdering ketia ia masih didalam kamar mandi. Mendengar HP yang berdering terus menerus, akhirnya Bian berinisiatif untuk mengangkat telepon tersebut.
Mamah, batin Bian.
"Halo Ve, kenapa belum pulang. Anginnya kenceng banget tuh, cepetan pulang sayang" suruh mamah Riri.
"Kami di apart mah" jawab Bian
"Oh kalian berdua di apart, ya sudah gausah pulang. Kalian bermalam disitu saja. Jaga Ve baik baik Bi" suruh mamah dari seberang telepon.
"Tapi mah.." protes Bian.
"Gada tapi - tapi, anginnya kenceng banget , bahaya kalo maksa naik mobil" jawab mamah Riri dan langsung menutup telepon.
Bian mengembuskan napasnya kasar. Ia tau kelicikan mamahnya yang sengaja menyuruhnya untuk tidak pulang, agar bisa bermalam bersama gadis kecil itu.
Vega keluar kamar mandi dengan rambut basah yang masih dibungkus handuk kecil. Ia tidak menemukan pengering rambut ataupun sisir, sehingga harus keluar dengan penampilan seperti itu.
"Kak Bian!" panggil Vega.
Bian menengok, dan..
Gleg!
Bian merasa, Vega sangat sexy, dengan leher jenjangnya yang sangat terpampang nyata.
Bian langsung mengalihkan pandangannya kemudian menjawab,
"Dimana pengering rambutnya kak?" Tanya Vega.
Kemudian Bian menunjuk salah satu laci didekat kamar tidur.
Selesei mengeringkan rambut, Vega berniat ingin membantu Bian memasak. Namun ternyata Bian telah selesei memasak.
Mereka makan dengan tenang diatas meja dapur. Kali ini Bian memasak spageti yang ada dikulkas.
"Kak kapan kita pulang?" tanya Vega memecah keheningan.
"Kita ga pulang, tidur disini" jawab Bian.
"Mamah pasti nyariin kita, ini udah malem banget kak" sambung Vega lagi
"Tadi mamah udah telfon, dia ngelarang kita pulang, anginnya masih kenceng" jawab Bian ketus
"Kecuali kalo kamu mau nekat pulang sendiri sana" sambung Bian lagi
Vega hanya menggerutu kesal. Ya mana mungki dia berani pulang sendiri di cuaca seperti ini.
"Biar aku saja kak yang mencuci piringnya, kan kakak tadi udah masak" usul Vega
__ADS_1
Bian memilih untuk mandi dan berendam di dalm bathup. Ia sengaja berlama - lama di kamar mandi karena tidak ingin canggung berdua dengan Vega.
Vega sedang sibuk bermain dengan HP nya . Ya, dia sedang asik membalas chat Danis sang playboy bermulut manis itu.
"Kamu ga kangen Ve?" tanya Danis.
"Kangen siapa?" balas Vega.
"Aku lah, masa kucing tetangga" balas Danis lagi.
"Wkwkwk, kan kemaren baru ketemu. Ngapain kangen?" jawab Vega.
"Tau ga, beberapa orang menangis bukan karen sedih" balas Danis.
"Terus karena apa?" balas Vega
"Karna aku rindu kamu, tapi kamu ga rindu balik xixixi" Danis.
"Manis banget nih mulut buaya" balas Vega lagi.
"Eh tau ga Ve, tadi kan aku ngecas Hp ya" balas Danis.
"Iya terus kenapa?" balas Vega penasaran.
"Tapi yang penuh malah cintaku padamu hehehe" balas Danis ngegombal lagi.
"Ya ampun kak Danis pinter banget sih kalo ngegombal ke cewe" balas Vega.
"Iya dong, anaknya siapa dulu. Btw kamu kenal ga sama orang tuaku?" tanya Danis lagi.
"Engga lah" balas Vega.
"Yuadah besok sekalian aku kenalin jadi calon wkwkw" gombalan Danis terus berlanjut.
"Udahlah kak, jangan gombal terus. Nanti aku baper gimana" jawab Vega yang sebenernya sudah hampir muntah membaca pesan gombalan dari Danis.
"Ya bagus dong kalo kamu yang baper, kan aku gombalnya ke kamu. Kalo orang lain yang baper malah bahaya dong" Danis.
Vega tertawa membaca pesan balasan dari Danis yang secara terang - terangan sedang menggodanya.
Tiba - tiba
Ceklek!
Bian sengaja membuka pintu dengan keras untuk mengagetkan Vega. Sebenarnya Bian sudah selesei mandi sejak tadi. Namun Vega malah asik bermain dengan handphonenya.
Vega mengurungkan niatnya untuk membalas chat Danis.
Walaupun mereka belum menyetujui perjodohan, namun Vega merasa harus tetap jaga jarak dengan pria lain.
"Kamu tidur dikasur, aku bisa tidur di sofa" ucap Bian datar.
__ADS_1
...Bersambung...
Gimana readers terlovee? lanjut ga nih? Mereka bermalam berduaan hihi.