
Sebelum berteleportasi ke istana, Kaisar Quelle berpesan kepada Dewi Afia untuk menjaga Permaisuri Ignia dengan baik dan jangan membiarkan Permaisuri keluar dari istana kerajaan Giginger.
Saat ini, Permaisuri Ignia menanyakan tentang keberadaan Kaisar Quelle. Tentu hal itu membuat Dewi Afia merasa bimbang untuk mengatakannya.
"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, maka Permaisuri akan mencemaskan Kaisar dan memaksakan diri untuk menyusulnya ke istana kekaisaran....
Jika aku diam saja, maka Permaisuri akan mencari tahu sendiri.
Mencoba berbohong padanya? Aku sungguh tidak berani." pikir Dewi Afia dengan rasa cemas.
"Dewi Afia?" Permaisuri Ignia memanggil nama sang dewi yang masih larut dalam kebimbangan.
Dewi Afia tampak melamun, tanpa memberi memberi respon sedikit saja.
"Dewi Afia? Apakah engkau baik-baik saja?" Permaisuri Ignia menggenggam tangan Dewi Afia.
Pada saat itulah Dewi Afia baru memberikan respon, "Ah~ iya, iya. Aku baik-baik saja Permaisuri."
Permaisuri Ignia menatap tajam, memandangi kedua bola mata Dewi Afia dalam-dalam, "Apakah engkau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Dewi Afia salah tingkah, sambil melambaikan kedua tangan dia menjawab, "Ah tidak, tidak. Tentu saja tidak ada hal yang aku sembunyikan darimu Permaisuri. Aku sungguh tidak berani..."
"Benarkah? Jika begitu, sekarang kamu jawab pertanyaanku! Di mana suamiku?"
Deg!
"Gawat! Aku belum menemukan langkah yang tepat untuk menjawab pertanyaan Permaisuri... Aduuuhh, bagaimana ini? Aku harus jawab apa?" Dewi Afia menundukkan pandangan, berupaya mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
"Baiklah, aku akan mengatakannya."
Dewi Afia menarik nafas panjang, dan berusaha bersikap tenang.
"Mengenai hal itu, Yang Mulia Kaisar memintaku untuk merahasiakan ini dari Permaisuri...." jawab Dewi Afia.
"Rahasia?" Permaisuri Ignia bertanya singkat.
"Benar Permaisuri, rahasia. Aku tidak berani memberitahukan rahasia ini kepada Permaisuri. Maafkan aku Permaisuri, aku sudah berjanji kepada Yang Mulia untuk merahasiakan keberadaan Yang Mulia dari Permaisuri."
Permaisuri Ignia menghela nafas, kemudian ia bertanya lagi, "Bukankah engkau juga sudah berjanji kepadaku untuk tidak menyembunyikan sesuatu dariku? Jika engkau masih merahasiakannya, bukankah engkau sudah berani melanggar janjimu kepadaku?"
Dewi Afia dengan tenang menjawab, "Permaisuri, menjaga rahasia bukan berarti aku menyembunyikan sesuatu dari Permaisuri.... Aku mengatakan bahwa Yang Mulia Kaisar memintaku untuk menjaga rahasia keberadaannya, sudah termasuk menyampaikan apa yang harus aku sampaikan kepada Permaisuri, tanpa ada yang harus aku sembunyikan dari Permaisuri."
"Hmm... Masuk akal." pikir Permaisuri Ignia.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak ingin berdebat denganmu!"
"Maafkan aku Permaisuri!"
"Tidak perlu meminta maaf! Dari jawabanmu, aku sudah tahu jika Yang Mulia sedang tidak berada di sini!"
Dewi Afia tertunduk malu.
Permaisuri Ignia memejamkan mata, memfokuskan pikiran dan memusatkan kekuatan penulusuran aura dewa, aura kekuatan milik Kaisar Quelle.
".....!!! Dia tidak berada di langit ini!!! Apakah pertarungannya dengan Granel telah dimulai?" pikir Permaisuri Ignia.
Permaisuri Ignia menutupi kedua mata yang masih terpejam dengan kedua tangannya dalam posisi tegak lurus horizontal. Kemudian dia menggerakkan kedua tangannya itu sesuai arah. Tangan kanan digerakkan ke kanan, dan tangan kiri di gerakkan ke kiri sampai kedua tangannya itu tidak menutupi kedua mata.
Permaisuri Ignia membuka kedua mata,
__ADS_1
"Observation! Lenca area!!!" Permaisuri menggunakan kemampuan melihat jarak jauh untuk melihat keadaan istana Kaisar Quelle.
"Sesuai dugaanku, pertunjukan yang aku nantikan telah dimulai." ucap Permaisuri Ignia dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istana Kekaisaran menjadi seperti ini?" Permaisuri Ignia tampak cemas. Cemas dalam kepalsuan. "Tidak! Tidak! Tidak seharusnya aku berada di sini! Aku harus kembali ke istana Kekaisaran!"
Tap!
Permaisuri Ignia memijakkan kaki, beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk berteleportasi.
"Tunggu!" Dewi Afia memegang pergelangan Permaisuri Ignia, berusaha mencegah sang permaisuri yang ingin kembali ke istana. "Ku mohon padamu Permaisuri, aku mohon kepadamu untuk tetap berada di sini!"
Permaisuri Ignia menatap tajam, "Cepat singkirkan tanganmu dariku!" perintahnya.
Dewi Afia menjawab, "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu ke istana Kekaisaran! "
"Kau berani menentangku?!" Permaisuri Ignia tampak marah.
"Aku tidak berani. Maafkan aku Permaisuri. Aku hanya tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa diri Permaisuri. Saat ini, kondisi istana Kekaisaran sedang dalam kacau, tentu saja itu sangat membahayakan diri Permaisuri jika Permaisuri datang ke sana sekarang! Jadi, aku memohon kepada Permaisuri untuk tetap berada di sini sampai keadaan istana benar-benar sudah aman."
"Segala apa yang terjadi di sana, sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku!" Permaisuri Ignia menarik pergelangan tangan, melepaskan diri dari genggaman tangan Dewi Afia.
Dewi Afia hanya mampu bersikap pasrah.
"Teleport!" Permaisuri Ignia berteleportasi ke istana Kekaisaran.
Swoooozzhh!!!
........
Istana Kekaisaran Quelle
Ucapan Scwertz menyulut emosi.
Pangeran Cusso yang telah terpojok, berjuang sekuat tenaga, berusaha membalikkan keadaan.
"Tutup mulutmu!!!" Pangeran Cusso bergerak secepat kilat, menyerang Scwertz dengan teknik andalan. "Hyaaaahhh"
"Teknik raja dewa! Divine shining slash!!!"
Teknik "Divine shining slash" teknik serangan yang cepat dengan jumlah potongan yang tidak terhingga. Skill serangan ini mampu memotong target hingga menjadi partikel terkecil yang tak mampu dilihat secara kasat mata.
Scwertz memberikan serangan yang serupa, namun dengan tingkat kekuatan yang berbeda.
Pangeran Cusso dan Scwertz, keduanya sama-sama berada di tahap raja dewa. Hanya saja, tahap kekuatan Scwertz sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat tahap kekuatan yang dimiliki oleh Pangeran Cusso.
"Teknik raja dewa! Divine shining slash!!!"
Swiiiinggg!!!
Clang!!!
Cahaya yang menyilaukan mata, itulah pemandangan yang dapat di lihat dari efek benturan kekuatan kedua belah pihak.
Ctack!!!
Pedang Pangeran Cusso patah.
Whooosshh!!!
__ADS_1
Pangeran Cusso terpental jauh, hingga tubuhnya membentur puing-puing bangunan yang telah runtuh.
"Cough!!! Cough!!! Cough!!!"
Pangeran Cusso terluka parah, dirinya terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut.
"....!!!!"
Scwertz merasakan pancaran energi yang sangat kuat. Pancaran energi yang terasa tidak asing baginya.
"Pancaran energi ini...." ucap Scwertz.
Scwertz memalingkan pandangan ke arah sumber pancaran energi yang menyita perhatiannya.
"Per...permaisuri Ignia?" Scwertz terkejut melihat sosok Permaisuri Ignia yang tiba-tiba saja sudah berada di istana. "Bukankah Permaisuri sedang terluka parah? Tidak! Tidak boleh! Permaisuri Ignia tidak boleh berada di sini! Tempat ini sangat berbahaya untuk keselamaran Permaisuri! Aku harus membawa Permaisuri pergi jauh dari tempat ini!" pikir Scwertz.
"Scwertz, apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?" tanya Permaisuri kepada Scwertz.
Scwertz tidak langsung menjawab, dirinya masih berpikir tentang langkah apa yang harus dia lakukan untuk dapat membawa Permaisuri ke tempat yang aman.
Pada saat Scwertz tengah berpikir, tanpa ia sadari Permaisuri Ignia telah berada di dekat Pangeran Cossu.
Scwertz terkejut saat menyadari akan hal itu.
"Permaisuri Ignia! Cepat menjauh darinya!" perintah Scwertz kepada Permaisuri Ignia, tanpa peduli akan perbedaan jabatan.
Permaisuri Ignia mengabaikan perintah Scwertz.
Scwertz cemas, dia mengambil langkah untuk membawa Permaisuri Ignia pergi jauh dari Istana.
Scwertz berdiri di dekat Permaisuri Ignia, dia mengulurkan tangan, mencoba meraih pergelangan tangan kanan Permaisuri.
"Maafkan aku Permaisuri, aku harus....."
Duggg!!!
Tanpa diduga, Permaisuri Ignia menyerang Scwertz dengan telapak tangan kanannya.
Scwertz terpental jauh, menembus dinding, pepohonan, bebatuan besar, hingga tertanam dalam-dalam di tebing perbukitan.
"Cough! Cough! Cough!" Scwertz tampak terluka parah. Ia mencoba bangkit, namun.....
"Apa? Deadly flower root?" Scwertz terkejut melihat akar-akar bunga mematikan yang melilit tubuhnya. Akar-akar berduri, mengandung racun yang sangat kuat, tiap sentuhan racunnya mampu melelehkan tulang seseorang yang masih berada pada tahap dewa.
"Permaisuri berniat membunuhku?" Scwertz menyadari penyebab dari kekacauan yang terjadi belakangan ini. "Mungkinkah... Mungkinkah Permaisuri yang menjadi dalang semua ini?"
Sesaat setelah Scwertz menyadari akan biang kekacauan yang terjadi di langit Gloxinia, tiba-tiba saja Permaisuri Ignia sudah terbang melayang di hadapannya.
"Gawat! Aku harus melarikan diri dari sini!" Scwertz berusaha untuk melepaskan diri dari lilitan akar, namun tidak bisa. Semakin berusaha ia melepaskan diri, maka semakin kuat juga lilitan akar itu.
Permaisuri Ignia hanya tersenyum memandangi wajah Scwertz yang tampak panik ketakutan.
Permaisuri Ignia datang menghampiri, lalu dia membisikkan kata "Terima kasih telah berpartisipasi dalam pertunjukkanku. Terimalah hadiah terindah dariku!"
"Soul sucking flower!"
"AAARRRRGGGHHHHH!!!!
"AAAAGGHHHH!!!"
__ADS_1