Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 34: Gadis Kerajaan


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu sejak peristiwa harimau putih yang sempat mengguncang ibukota. Kini, keadaan kota Rajatapura telah kembali damai dan tentram tanpa ada kekacauan.


Di bawah awan yang teduh, rombongan pengawal memasuki ibukota. Beberapa diantara mereka, menandu seorang gadis berparas cantik nan jelita. Gadis itu bernama Dhatri, putri dari seorang hulubalang kerajaan. Parasnya yang anggun, membuat para pria tergila-gila padanya.


Enzi yang sedang menjual buah hasil perkebunan, turut menyaksikan pemandangan dari iringan rombongan prajurit yang mengawal gadis kerajaan yang cantik jelita itu.


Hanya sebatas menyaksikan, tanpa ada getaran cinta sejak pandangan pertama.


"Minggir! Semuanya minggir!" perintah sang pengawal.


Para penduduk kota yang berada di lokasi, berdiri menepi, memberi ruang jalan kepada mereka


"Cantiknya..." ucap seorang pemuda yang terkesima akan kecantikan putri dari hulubalang saat melintas di hadapannya.


Sementara Enzi....


"Daganganku.... Daganganku.... Tidaaakkk!!! Heeiiii!! Tolong perhatikan cara jalan kalian! Lihatlah buah-buahanku ini! Semuanya kotor akibat debu dari derap langkah kalian! Kalau kalian ingin melintas, janganlah melintas di pasar! Ada banyak akses jalan dari luar menuju area kerajaan! Kalau sudah kotor begini, apakah kalian ingin bertanggung jawab? Tentu tidak bukan?" teriak Enzi di hadapan para pengawal yang melintas.


Salah satu pengawal tersenyum dan mengucapkan kata "Enyahlah! Bodoh!" sambil menghancurkan dagangan milik Enzi yang berupa buah-buahan.


"Tidaaaak! Daganganku...." Enzi tampak sedih, beberapa kali ia mengusap buah yang kotor agar kembali bersih. "Mereka sungguh keterlaluan! Ibuku telah bersusah payah memetik buah-buahan ini! Namun mereka.."


Buah yang didagangkan Enzi adalah buah pisang dan jeruk.


Rombongan pengawal berjalan dengan keangkuhan, melintasi jalan, menyingkirkan warga yang menghalangi akses jalan yang hendak mereka lintasi. Selang beberapa saat kemudian, mereka  lenyap dari pandangan.


"Orang-orang yang telah meraih kedudukan, seringkali bersikap arogan! Mereka senang menindas rakyat kecil seperti diriku yang tidak memiliki reputasi di kerajaan." keluh Enzi.


"Reputasi di planet yang tertinggal ini? Untuk apa? Apakah untuk bersenang-senang?" tanya Kaisar Quelle.


"Tentu saja bukan!" jawab Enzi.


"Sudahlah, lebih baik engkau fokus dengan tujuan awalmu! Fokus menjadi yang terkuat, untuk melindungi orang-orang yang engkau cintai. Fokus berdagang, demi keberlangsungan hidup! Reputasi dan kedudukan, bukanlah permainan yang cocok untukmu!" Kaisar Quelle mengingatkan Enzi tentang apa yang menjadi tujuan Enzi selama ini.


...............

__ADS_1


Sementara itu di suatu rumah yang ada di dalam area kerajaan. Rumah dari seorang pejabat kerajaan yang berposisi sebagai mantri atau yang kita kenal dengan sebutan mentri.


Seorang pemuda dengan pakaian mewah duduk di atas dipan sambil menikmati buah pisang yang segar. Pemuda itu bernama Ageng Parta, putra dari seorang mantri.


Dia menatap burung yang berkicau riang di atas pohon.


"Aku mendengar kabar, kalau hulubalang tua itu mengadakan sayembara. Apakah berita itu benar?" tanya Ageng Parta pada seorang abdi yang berdiri di samping sambil memegang satu sisir buah pisang.


"Benar tuan." jawab sang abdi.


Ageng Parta bertanya lagi, "Aku dengar juga, isi sayembara yang ia berikan melibatkan putri keduanya. Apakah benar demikian?"


Putri kedua hulubalang, merupakan kerabat lama dari Ageng Parta. Karena itulah, Ageng Parta merasa penasaran akan berita ini.


"Benar tuan. Karena saat ini beliau sedang mengalami kesulitan yang sangat berat, beliau menjadikan putrinya sebagai hadiah sayembara bagi siapa saja yang mampu menyelesaikan permasalahan yang beliau miliki."


"Permasalahan? Selain kuat, bukankah dia termasuk orang yang cerdas? Memangnya permasalahan apa yang sangat sulit untuk beliau tuntaskan?"


"Begini tuan, mungkin berita yang hendak aku sampaikan belum sampai ke telinga tuan."


Sang abdi menerangkan. "Menurut kabar yang beredar, ada kelompok bandit yang selalu membuat onar di kaki gunung Pulosari. Tidak sedikit warga yang menjadi korban. Warga yang melintas dirampok, dan dibunuh jika berani melawan. Kelompok bandit itu dipimpin oleh pendekar yang tekenal sangat keji. Kalau tidak salah, nama pendekar itu adalah pendekar tangan besi. Pendekar sakti yang memiliki pukulan keras seperti besi. Tangannya sangat kuat, sehingga mampu menghancurkan berbagai macam jenis senjata. Mendengar kabar yang meresahkan itu, tuan hulubalang memimpin pasukan untuk menangkap gerombolan bandit. Beberapa bandit tertangkap, namun tidak sedikit yang berhasil melarikan diri. Begitulah kejadiannya tuan.."


Ageng Parta meletakkan kulit pisang di sebelah kiri, lalu ia bertanya lagi. "Jadi, permasalahan berat yang menimpa hulubalang tua itu adalah menangkap seluruh gerombolan bandit itu?"


"Sebenarnya, bukan hanya itu saja tuan. Hamba mendengar kabar, bahwa istri dan putri bungsu beliau ditangkap dan dijadikan sandera. Pendekar tangan besi mengancam, apabila tuan hulubalang tidak membebaskan anak buahnya, dan mengirimkan sejumlah perak kepadanya. Maka dia tidak akan segan-segan untuk membunuh istri dan putri bungsu tuan hulubalang. Karena itulah, tuan hulubalang membuat sayembara, bagi siapa saja yang berhasil membebaskan istri, dan putri bungsunya, dan membereskan kelompok bandit tangan besi. Maka dia akan dinikahkan dengan putri keduanya, Dhatri."


Mendengar kabar itu, Ageng Parta merasa geram dan dia berteriak dengan suara lantang,"Kurang ajar! Aku tidak akan memaafkan bandit-bandit itu!"


.............


Rumah kediaman keluarga Enzi.


"Enzi, kemarilah nak.." sang ibu memanggil.


Enzi menyahut panggilan sang ibu dan datang menghampirinya. "Iya bu.."

__ADS_1


"Begini nak, ibu telah menetapkan jadwal pertemuanmu dengan Denok, putri dari teman terbaik ibu."


"Kapanpun jadwal pertemuannya, Enzi siap memenuhi keinginan ibu." jawab Enzi dengan penuh rasa hormat.


Sang ibu tersenyum bangga melihat putranya yang begitu penurut. "Bulan depan, kita akan menemui mereka. Jadi persiapkanlah dirimu nak."


"Baik bu.." jawab Enzi.


Keesokan harinya...


Cahaya sang mentari tiada lelah menyinari bumi. Memberikan asupan makanan pada tumbuh-tumbuhan, terutama tumbuh-tumbuhan yang dapat menghasilkan buah-buahan.


Di ladang pertanian Enzi berdiri. Memeriksa kualitas buah jeruk yang akan panen. Semua jeruk yang ia rawat, tampak baik-baik saja. Buah-buah tampak segar, dan menggiurkan.


"Buah-buahan ini akan panen sekitar satu hingga dua minggu ke depan. Sebelum masa panen itu, aku rasa, selama beberapa hari ke depan aku bisa menyempatkan diri untuk berburu hewan di Gunung Pulosari, untuk aku jadikan pakaian kulit berkualitas tinggi, sebagai hadiah persembahanku kepada Denok." ucap Enzi.


"Pulosari... Hmmm... Begitu ya? Di kaki gunung Pulosari, terdapat lembah yang dihuni oleh sekumpulan serigala. Lembah itu dikenal dengan lembah serigala. Sebelum naik gunung, mari kita singgah sejenak di sana!" kata Kaisar Quelle.


"Lembah serigala? Apakah itu rumah Ghiwa?" tanya Enzi.


"Iya." jawab Kaisar Quelle singkat.


"Baik! Ide bagus! Aku akan ke sana! Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya!" ucap Enzi dengan penuh semangat.


"Oh iya, ketika engkau tiba di sana, persiapkan mentalmu." saran Kaisar Quelle.


"Persiapkan mental? Memangnya kenapa dewa? Apakah di sana banyak hantu?" tanya Enzi penasaran.


"Hantu? Tentu saja bukan itu. Tapi, jika memang ada hantu, bukankah itu cukup menarik?" ucap Kaisar Quelle sambil bermain ayunan di taman yang ia ciptakan.


"Menarik? Menarik matamu! Engkau tidak tahu betapa menyeramkannya hantu-hantu gunung itu! Jika engkau tahu, mungkin..." Enzi menyadari, bahwa yang namanya hantu bukanlah suatu hal yang menyeramkan bagi Kaisar Quelle.


"Hmm? Mungkin kenapa? Lanjutkanlah."


"Tidak ada! Lupakan saja!"

__ADS_1


__ADS_2