
Keesokan harinya....
Embun pagi menyelimuti segala penjuru hutan. Di sepanjang kaki melangkah, sangat sulit untuk melihat arah jalan dengan sepasang bola mata. Namun hal itu tidak berlaku untuk Kaisar Quelle yang merupakan seorang dewa, Ghiwa yang merupakan seekor serigala, dan Raju yang merupakan seorang pendekar yang berpengalaman dalam mengawal para pedagang.
Di dalam ruang jiwa...
"Enzi.. Bersiaplah! Sesaat lagi kita akan tiba di ibukota. Sesuai dengan perjanjian, engkau akan mengambil alih kendali raga ini sesampainya kita di sana."
"Iya." jawab Enzi tertunduk lesu.
Enzi tampak begitu sedih. Ia masih berada dalam suasana duka, masih terngiang-ngiang di benaknya akan sosok ayah yang selalu membimbing dan mengajarkannya akan banyak hal. Disisi lain, dia terus memikirkan tentang bagaimana nasib keluarganya di masa yang akan datang.
Tentu, semua yang ada di pikiran Enzi dapat terbaca oleh Kaisar Quelle, meski sang kaisar tidak ada keinginan untuk membaca apa yang ada di pikiran Enzi.
"Sebelum itu, aku akan memberitahukan akan beberapa hal penting kepadamu."
Enzi yang tampak sedih hanya menganggukan kepala.
"Pertama, aku sudah menyiapkan seorang pengawal pribadi sekaligus seorang kawan yang akan setia melindungimu."
Enzi melirikan kedua matanya ke arah Kaisar Quelle dan ia bertanya, "Apakah orang yang engkau maksudkan itu adalah Raju?"
Kaisar Quelle dengan tenang menjawab, "Tentu saja bukan, dia terlalu lemah untuk dapat melindungimu. Aku telah menyiapkan sosok pengawal yang sangat kuat. Saat engkau membuka mata, engkau akan melihat sosok pria perkasa yang sedang menarik kereta peti dagangan. Pria itu bernama Ghiwa. Dia akan setia melindungimu dan akan menjadi teman baik untukmu."
"Kenapa engkau begitu mempercayai orang itu? Apakah orang itu keluargamu? Atau... kerabatmu?" tanya Enzi ragu.
Kaisar Quelle menjawab "Dia adalah seekor serigala."
Enzi tersontak kaget "Apa? Serigala? Serigala bertubuh manusia? Siluman serigala? Apakah kau sudah gila? Kau mengirim siluman jahat itu untukku? Apakah engkau ingin menghabisiku dan keluargaku?"
Dengan sabar Kaisar Quelle berkata, "Tenanglah, tenang.... Serigala itu telah meminum darahmu yang telah bercampur dengan energi dewaku. Dia tidak akan menyakiti ataupun mengkhinati kita..."
__ADS_1
"Kenapa engkau bisa seyakin itu? Apakah engkau tidak tahu kalau serigala itu hewan yang sangat licik dan berbahaya? Mungkin saat ini dia tampak baik dan setia di hadapanmu. Namun pada suatu saat nanti? Apakah sikapnya akan masih sama? Tidak! Serigala itu sudah pasti membunuhmu!"
"Dia tidak akan mampu membunuhku."
"Tch! Engkau terlalu percaya diri! Lihat saja, engkau pasti akan menyesal! Sebaiknya engkau bunuh serigala itu sebelum kita tiba di kota!"
"Sudah aku katakan, dia tidak akan mampu membunuhku. Dia telah meminum darah yang telah bercampur dengan energiku. Jika dia memiliki niatan untuk mengkhianatiku walau sedikit saja, maka energi dewa yang mengalir di dalam tubuhnya akan meledak dan menghancurkannya hingga menjadi partikel-partikel terkecil."
Apa yang diucapkan Kaisar Quelle, sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat Enzi. Namun Enzi tidak bisa untuk tidak mempercayai ucapan Kaisar Quelle, karena Enzi telah melihat sendiri bukti nyata akan kekuatan Kaisar Quelle yang sangat sulit diterima oleh akal pikiran.
"Baiklah aku mempercayaimu. Jika sampai tercium gelagat mencurigakan darinya, engkau harus bertindak cepat untuk menangani siluman serigala itu." kata Enzi
"Engkau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Hal yang engkau lakukan adalah cukup bersikap baik kepadanya. Jangan bersikap kasar, karena naluri hewan di planet ini berbeda dengan naluri manusia. Naluri mereka lebih sensitif." kata Kaisar Quelle dalam memberi saran.
"Baiklah, aku akan mengikuti saranmu!" kata Enzi.
"Aneh, kenapa aku selalu menyepakati semua yang dikatakan oleh arwah penasaran ini?" gumam Enzi dalam hati. "Arrggggh... Arwah penasaran ini membuatku kesal!"
Kaisar Quelle percaya, suatu saat nanti Enzi akan tumbuh menjadi pria yang bijaksana seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman yang dimiliki.
Gerbang ibukota yang terbuat dari kayu telah tampak dari kejauhan.
"Enzi, sekarang saatnya kita bertukar posisi! Ingat pesanku!"
"Ya!" jawab Enzi singkat dan terdengar sedikit kesal.
Enzi mengambil alih kendali raga.
.........
"Aduh duh... Kakiku kenapa terasa begitu pegal? Padahal aku sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh. Apa yang telah dilakukan arwah penasaran itu terhadap tubuhku?" gumam Enzi dalam hati.
__ADS_1
Ketika Kaisar Quelle mengembalikan kendali raga kepada Enzi, Crystal energi kehidupan Kaisar Quelle menutup aliran energi dewa dari crystal energi kehidupan ke seluruh organ tubuh Enzi. Hal itu Kaisar Quelle lakukan untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan. Meski begitu, energi dewa yang telah menyebar masih melekat di dalam tubuh Enzi. Hanya saja, energi dewa yang melekat itu tidak aktif. Hal itu terjadi karena tidak ada supply energi dari crystal energi kehidupan Kaisar Quelle. Karena faktor itulah, kaki Enzi terasa begitu lelah setelah banyak digunakan oleh Kaisar Quelle dalam mencari hewan tunggangan yang berujung terbentuknya aliansi baru antara Kaisar Quelle dengan lembah serigala.
Saat memasuki ibukota, para penduduk kota terus memandangi rombongan Enzi. Meski sebenarnya, apa yang penduduk kota lihat adalah kereta pengangkut peti barang dan kereta mayat yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Para penduduk kota terus menatap kedua kereta itu tanpa berkedip.
"Benda apa itu?" para penduduk kota saling bertanya.
Bahkan ada diantara mereka yang menerka-nerka. "Tidak tahu, aku juga baru melihat benda itu. Apakah itu hasil karya terbaru dari kerajaan Agninusa?"
"Aku ingin memilikinya." kata salah satu penduduk.
Para penduduk kota tidak hanya terpana dengan kedua kereta yang dibuat oleh Kaisar Quelle. Ada beberapa orang gadis kota yang terus mandangi paras Ghiwa dan terpana akan ketampanannya.
"Siapa pria yang ada di samping Enzi itu? Dia sangat tampan" gadis-gadis kota saling bertanya.
"Aku tidak tahu, aku baru melihat pria tampan itu hari ini." jawab seorang gadis.
Rombongan Enzi terus berjalan, hingga mereka tiba di rumah orang tua Enzi.
Rumah sederhana, dengan pondasi bangunan yang terbuat dari kayu.
Terdengar derap langkah kaki yang bersumber dari dalam rumah, dan pintu rumah pun dibuka, oleh seorang gadis cantik berkulit sawo matang. Gadis cantik itu bernama Euis, adik dari Enzi.
Gadis itu tampak riang, menatap kehadiran sang kakak yang berdiri di hadapannya.
"Ibu... Kak Enzi sudah datang..." Euis memanggil sang ibu yang tengah beraktivitas di dapur.
Sang ibu berlari, menyambut kedatangan putranya yang baru saja kembali dari Kerajaan Agninusa. Kerajaan yang lokasinya berada di luar pulau jawa.
Sang ibu memeluk erat tubuh Enzi, lalu beliau melirikkan pandangan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Selang beberapa saat kemudian beliau bertanya "Enzi, dimana ayahmu? Kenapa ibu tidak melihatnya?"
__ADS_1