Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 17: Planet Biru


__ADS_3

Ratusan tahun telah berlalu sejak Kaisar Quelle melepaskan jiwa dan crystal energi kehidupan dirinya sendiri dari dalam raga.


Situasi dan keadaan di dataran langit Gloxinia, masih terasa hampa. Hanya Kaisar Granel, Pangeran Cusso, dan Permaisuri Ignia yang menjadi penghuninya. Belum ada makhluk dari dataran bawah Gloxinia yang mencapai ranah dewa semenjak terjadinya pertarungan besar antara Kaisar Quelle dengan Kaisar Granel yang beraliansi dengan Permaisuri Ignia.


Seluruh raja, pasukan, dan penduduk yang berada di bawah naungan Kaisar Granel telah musnah sepenuhnya. Termasuk istri, keluarga dan kerabat dari Kaisar Granel. Hanya putranya lah satu-satunya keluarga yang tersisa.


Para raja, pasukan, dan penduduk yang berada di pihak Kaisar Quelle, kini telah menghuni dunia baru. Mereka menghuni dunia baru, setelah pengungsian mereka yang cukup lama di dataran langit Agret.


Dunia baru yang diciptakan oleh Teris dan Alkyna. Dunia yang indah, dengan suasana alam yang serupa dengan suasana alam yang terdapat di planet Gloxinia.


Sementara itu di tempat lain....


Di dalam crystal energi kehidupan yang diselimuti oleh gelembung pelindung, jiwa Kaisar Quelle melesat dengan sangat cepat di angkasa.


Bergerak melesat dengan sangat cepat, melintasi berbagai macam planet. Kaisar Quelle berusaha mencari dan terus mencari planet yang cocok untuk dijadikan sebagai hunian barunya.


Satu persatu planet yang memiliki kehidupan ia telusuri. Namun belum ada satupun planet yang sesuai baginya untuk dihuni.


Kaisar Quelle mencari planet yang indah dengan aneka tumbuhan yang bermanfaat seperti yang ada pada planet Gloxinia.


Di sepanjang perjalanannya, Kaisar Quelle hanya menemukan planet yang tandus, penuh dengan gunung aktif, suhu ekstrem, dan ada juga planet yang memiliki banyak tumbuhan, namun hanya terdapat tumbuhan beracun di dalamnya. Bahkan, ada beberapa yang hanya berisi makhluk-makhluk ganas yang saling bertarung satu sama lain tanpa henti.


Kaisar Quelle terus melaju dan melaju di angkasa yang sangat luas. Melintasi planet, dan bintang-bintang. Terbang melintasi berbagai macam planet, dari satu galaxy ke galaxy yang lain.


Terkadang, di sepanjang perjalanan, ia melihat kendaraan ruang angkasa milik makhluk dari suatu planet yang melintas dengan cepat. Namun kecepatan mereka, tidaklah secepat dengan kecepatan terbang yang dimiliki oleh Kaisar Quelle.


Tanpa adanya raga, Kaisar Quelle tidak mampu menciptakan dunia. Dia membutuhkan inang dari makhluk yang sekarat atau baru saja kehilangan nyawa, untuk dijadikan sebagai raga barunya.


Selang beberapa puluh tahun kemudian, Kaisar Quelle tiba di wilayah galaxy bima sakti, galaxy yang menjadi tempat bumi berotasi. Di wilayah galaxy bima sakti, Kaisar Quelle melihat planet biru yang indah dari kejauhan. Dia merasa tertarik dengan planet biru yang indah itu. Karena rasa ketertarikannya, Kaisar Quelle memutuskan untuk mengurangi laju kecepatan, dan terbang menuju ke planet biru.


Sesampainya di atas atmosfer bumi, Kaisar Quelle tidak langsung turun ke bumi. Dia tetap berada di atas atmosfer, mengobservasi keadaan alam dan makhluk hidup yang ada di planet bumi.


...............


Suatu tempat di wilayah Salakanagara tahun 155 masehi.


Di tengah hutan yang lebat, rombongan kawalan pedagang beriringan jalan mengawal barang dagangan yang dikirim dari Kerajaan Agninusa atau biasa yang dikenal dengan sebutan Kerajaan Api, menuju Rajatapura, ibu kota Kerajaan Salakanagara.


Kerajaan Agninusa, terletak di Kepulauan Gunung Krakatau. karena letaknya inilah, maka Kerajaan Agninusa dikenal sebagai Kerajaan Api. Sedangkan Kerajaan Salakanagara, terletak di wilayah Jawa Barat, lebih tepatnya di sekitar area Banten, untuk wilayah yang masyarakat kenal saat ini.


Rombongan kawalan pedagang dipimpin oleh seorang pria muda bertubuh kekar, tanpa ada busana yang mutupi tubuhnya. Hanya kain yang dililit dengan mode lilitan yang sama seperti dengan model lilitan kain yang dikenakan oleh masyarakat negeri india di zaman itu. Pria gagah perkasa yang memimpin rombongan kawalan para pedagang itu bernama Raju.


Rombongan pedagang yang Raju kawal, bukanlah pedagang biasa. Mereka semua adalah Saudagar kaya yang tengah melakukan perniagaan antar Kerajaan. Tentu, nilai jual barang dagangan mereka, memiliki nilai jual yang sangat tinggi.


"Matahari sudah mulai tenggelam, alangkah baiknya jika kita lanjutkan perjalanan ini esok pagi." usul Raju.


Ketua rombongan pedagang menyetujui usulan dan mengajak teman-temannya untuk berisitirahat sejenak. "Ayo, ayo semuanya! mari kita beristirahat dahulu di sini hingga fajar tiba!"


Para rombongan pedagang berjalan menepi ke bawah pohon yang rindang, meletakkan peti dagangan, merebahkan badan.

__ADS_1


Para pengawal bergerak serempak, menyiapkan kayu bakar, sebagai cahaya penerang dan penghangat tubuh mereka di malam hari.


Saat malam tiba, para rombongan pedagang duduk melingkar di dekat perapian, menghangatkan tubuh, sembari menyantap hidangan makan malam berupa daging kelinci yang mereka panggang di atas perapian.


Para pengawal berdiri dalam posisi siaga, bersiap melindungi para pedagang dari serangan yang tidak terduga.


Tidak jauh dari posisi kawalan rombongan pedagang berada, terdapat sekumpulan bandit berilmu tinggi yang terus mengintai mereka. Bandit gunung yang telah berpengalaman, dan telah lama mengintai para rombongan di sepanjang perjalanan dari pesisir pantai.


Para bandit terus mengintai para rombongan dari atas pohon, menunggu moment yang tepat untuk menjalankan aksi mereka.


Meskipun sekumpulan bandit ini merupakan sekelompok bandit berilmu tinggi dan memiliki banyak pengalaman, namun merampok seluruh peti dagangan dari tangan para pedagang, bukanlah perkara yang mudah. Terlebih lagi, rombongan pedagang yang mereka incar ini dikawal oleh beberapa pendekar tangguh dari Kerajaan Agninusa. Pendekar tangguh yang selalu mendapatkan tawaran dari para pedagang, untuk menjadi pengawal bayaran.


Diantara rombongan pedagang itu, ada seorang anak laki-laki yang masih sangat muda. Seorang anak laki-laki dengan kulit yang berwarna sawo matang, hidung mancung, dan memiliki bentuk mata yang sedikit tajam. Anak laki-laki itu bernama Enzi Farraz. Usianya menginjak 20 tahun. Ayahnya merupakan seorang pedagang terkemuka di kota Rajatapura. Enzi menemani sang ayah berdagang, dan berniaga di Kerajaan Agninusa. Setelah urusan perdagangan dan perniagaannya selesai, mereka kembali ke kota Rajatapura bersama para rombongan para pedagang dari Kerajaan Agninusa.


"Ayah..." Enzi berbisik kepada sang ayah.


Sang ayah menyahut dan bertanya "ada apa Nak?"


Pada saat Enzi hendak menjawab dan menyampaikan suatu hal kepada sang ayah, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh serangan mendadak yang menyerang ayahnya. Serangan pisau terbang yang menusuk tepat di kening kepala sang ayah.


Jlebbb!!!


Sang ayah tewas seketika, tepat di depan kedua mata Enzi. Tewas di tempat, dalam kondisi duduk bersila, dan kedua mata masih dalam keadaan terbuka.


"...........


....Aaa... Aaa...yaa..aah....?"


"Tidakkkk!!! Tidakkk!!!" Enzi berteriak histeris dalam isak tangis yang menyanyat dada.


"Ayah... Ayah... Tidak ayah, bertahanlah... Bertahanlah ayah..." Enzi panik, memegang erat tulang pipi sang ayah, membersihkan darah yang mengalir di kening sang ayah, ia terus melakukan berbagai macam cara untuk membangunkan sang ayah.


Beberapa pengawal terbang ke arah sumber datangnya serangan.


Bandit yang bersembunyi di dalam rindangnya pepohonan, melemparkan serangan pisau ke arah rombongan pedagang yang tengah berdiri kaku dalam ketakutan.


Jleb!!!


Jleb!!!


Jleb!!!


Pisau-pisau terbang bersarang di kepala para pedagang. Para pedagang itu pun tewas seketika.


"Jahanam!!!" teriak Raju yang telah tersulut amarah murka.


Raju menghunuskan pedang, menumbangkan pohon yang ada di hadapannya dalam sekali tebasan.


Whooossshhh!!!

__ADS_1


Dughhhh!!!


Para bandit keluar dari persembunyian, menembakan senjata pisau ke arah para pengawal.


Swiiiiiiing!!!


Para pengawal bergerak dengan cepat menghindari serangan.


Raju melompat ke arah sekumpulan bandit. Tubuhnya berputar di udara, tangannya mengayunkan pedang panjang, dan berhasil menebas sekumpulan bandit yang ada di hadapannya hanya dalam satu tebasan.


Melihat beberapa anak buahnya terluka, ketua bandit angkat bicara.


"Melukai anak buahku, hanya dalam sekali tebasan? Tampaknya engkau bukanlah pendekar biasa. Siapa namamu?"


"........" Raju hanya diam tanpa memberi jawaban. Dia sedikit melirikkan matanya ke arah Enzi dan beberapa pedagang yang masih hidup.


Enzi masih terus menangis, meratap akan kepergian sang ayah. Ia masih tidak menerima akan mimpi buruk yang terjadi kepadanya.


Raju memerintahkan beberapa anak buahnya untuk melindungi Enzi dan para pedagang yang masih hidup.


Anak buah Raju membuat formasi pertahanan, melindungi para pedagang yang masih bisa diselamatkan.


Melihat alur pergerakan lawan yang seperti itu, ketua bandit pun memutuskan untuk berpikir dengan cermat. Dia berpikir keras, memikirkan strategi yang tepat dalam waktu singkat.


Setelah berpikir dengan cermat dalam beberapa saat, ketua bandit memutuskan untuk menghabisi Raju terlebih dahulu.


Ketua bandit memberi instruksi kepada anak buahnya untuk menyerang Raju dari berbagai arah.


Raju memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi segala serangan yang tertuju kepadanya.


Anak buah Raju bersiap untuk membantu, namun...


"Tetaplah di posisi kalian!!! Lindungi para saudagar!!! Cukup aku saja yang menghadapi cecunguk-cecunguk kecil ini!" perintah Raju.


Salah satu anak buah Raju melihat serangan senjata golok yang mengarah ke kepala Raju dari belakang, seketika itu juga ia berteriak, "Ketua! Awas di belakangmu!!!!"


Tanpa menoleh ke belakang, Raju menangkis serangan dengan pedang panjang.


Clang!!!


Beberapa bandit yang ada di sekelilingnya ikut menyerang.


Kali ini Raju melompat, melompat tinggi di udara. Sesekali ia menapakkan kaki di atas mata golok yang dihunuskan oleh para bandit.


Pada saat Raju sibuk menangani gerombolan bandit, tanpa diduga, Ketua bandit menembakkan jarum beracun ke arah para pengawal secara beruntun.


Jarum beracun yang sangat kecil, ditembakkan di tengah gelapnya malam. Tentu, hal itu membuat para pengawal tidak mampu menghindari serangan.


Jarum-jarum beracun bersarang di tubuh para pengawal. Racun yang mematikan menyebar dengan cepat melalui aliran darah ke seluruh organ tubuh.

__ADS_1


Hanya dalam beberapa saat, para pengawal tewas di tempat.


Para pedagang panik ketakutan. Mereka lari berhamburan ke tengah hutan, tanpa peduli akan betapa gelapnya kondisi hutan di waktu malam. Mereka terus berlari dan berusaha menyelamatkan diri. Tanpa peduli akan kehadiran hewan buas penghuni hutan yang siap memangsa mereka kapan saja.


__ADS_2