Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 53


__ADS_3

Keesokan harinya, Enzi mulai ikut berlatih bela diri di perguruan padi.


Dirinya berlatih dari ilmu bela diri yang paling dasar. Melatih stamina dan kekuatan fisik Enzi.


Selama latihan, Enzi menyembunyikan kekuatan dan pengalaman yang dimilikinya sebagai seorang pendekar. Seakan-akan, ia hanyalah seorang pemuda biasa yang belum pernah menyentuh ilmu seni bela diri.


Dirinya berpura-pura merasa lelah dan jalan tertatih-tatih saat menjinjing dua karung batu di masing-masing tangannya, baik itu tangan kanan dan tangan kiri.


Di atas bukit itu sang guru berdiri, mengawasi para muridnya yang sedang berlatih bela diri.


"Ha!"


"Ha!"


"Ha!"


Ayunan tinju yang berisi sedikit tenaga dalam, dilontarkan oleh para murid ke arah batang pohon yang rindang.


Sebatang pohon bergetar, tatkala terkena tekanan angin dari tinju yang dilontarkan oleh para murid perguruan padi.


"Lebih kuat lagi!" perintah sang guru dalam memberikan arahan kepada salah satu muridnya.


Seorang murid mengerahkan tenaga dalam yang lebih besar ke arah batang pohon.


Serangan tenaga dalam yang dihasilkan oleh sang murid itu, menghasilkan sedikit ledakan pada pohon, dan membuat pohon itu tumbang seketika.


"Hal yang terpenting dalam seni bela diri adalah konsentrasi, ketenangan berpikir, dan kekuatan tenaga dalam yang kita miliki!" terang sang guru kepada muridnya.


"Baik, kami mengerti guru! Terima kasih atas arahan yang guru berikan kepada kami!" ujar para murid secara serempak.


Sementara itu Enzi, dia masih menjinjing batu-batu besar yang diperolehnya dari tepi sungai.


Batu-batu besar itu, dikumpulkan di samping bangunan perguruan, dan nantinya akan digunakan sebagai media latihan para murid perguruan padi dalam mengasah kemampuan mereka.


.......


Sementara itu di dalam ruang jiwa tempat di mana Kaisar Quelle berada...


Di atas kasur yang empuk, Kaisar Quelle rebahan santai. Ia menikmati butiran anggur yang manis dan segar.

__ADS_1


Sesekali ia membuka smartphone, membaca artikel sejarah yang akan terjadi di masa mendatang.


"Hmm, jadi seperti itu. Di masa mendatang, dunia bisnis merupakan dunia baru di planet ini. Siapapun yang memiliki kekuatan bisnis yang kuat, maka dia akan mengendalikan segala sesuatunya. Bahkan, orang-orang pemerintahan pun bisa berada di bawah kendali para penguasa di dunia bisnis." ucap Kaisar Quelle tatkala ia membaca serangkaian informasi yang tersimpan di dalam smartphone.


Kaisar Quelle pun mulai mempelajari tentang dunia bisnis yang akan terjadi di masa depan. Dirinya berniat untuk menerapkannya, tatkala ia mengambil alih tubuh Enzi.


Kaisar Quelle duduk di tepi kolam, melihat keadaan yang terjadi di luar sana. dirinya melihat apa yang tengah dilihat oleh Enzi.


Kaisar Quelle melihat, seorang guru yang tengah memperagakan seni bela diri dihadapan murid-muridnya. Memperagakan suatu gerakan indah, gerakan dua tangan yang mengayun secara berirama.


Sang guru menghempaskan kedua telapak tangannya itu ke bebatuan.


"Ha!"


"Bluarrrr!!!"


Bebatuan itu pecah berkeping-keping, melontarkan kepingan batu kecil yang berhamburan ke udara dan jatuh ke permukaan tanah secara tak beraturan.


Para murid terkesima melihat apa yang baru saja diperagakan oleh sang guru. Begitupula dengan Enzi yang pura-pura terkesima dengan apa yang baru saja diperagakan oleh Kakek tua itu.


"Hebat! Hebat! Guru sungguh hebat!" sanjung para murid kepada sang guru.


Sang guru memalingkan pandangan ke arah para murid, dan kemudian ia berkata, "Ajian ini bernama pukulan harimau gunung! Ajian yang akan kalian pelajari pada pelajaran selanjutnya."


Seorang murid dengan perawakan tubuh kekar berdiri di depan tumpukan batu besar.


Di depan batu itu ia berkata dalam hati, "Aku akan menunjukkan kepada mereka, bahwa aku adalah murid terbaik di perguruan ini."


Murid bertubuh kekar nafas itu meregangkan kedua kaki, menarik nafas panjang, dan mengumpulkan energi tenaga dalam sambil mengayunkan kedua telapak tangannya secara berirama seperti apa yang baru saja diperagakan oleh sang guru.


Tenaga dalam yang telah dikumpulkan, dia hempaskan dengan cepat dan kuat dengan kedua telapak tangannya.


Whoosssshhh!!!


Angin berhembus kencang di sekitar bebatuan, tanpa ada satupun bebatuan pun yang goyah akibat tekanan angin yang dihasil dari kekuatan tenaga dalam sang murid bertubuh kekar itu.


"Sial Aku tidak menyangka, jika kekuatan tenaga dalamku masih serendah ini!" gumam sang pendekar bertubuh kekar di dalam hati.


Tanpa disadari, Sang Guru sudah berdiri di belakang sang murid bertubuh kekar itu.

__ADS_1


Sang murid bertubuh kekar sangat terkejut saat sang guru menepuk pundaknya seraya berkata, "Tidak buruk. Cukup tingkatkan lagi kekuatan tenaga dalammu." Selang beberapa saat kemudian sang guru berpaling dan menatap para murid seraya berkata, "baik! Cukup sampai di sini pelajaran kalian hari ini! Silakan kalian latih jurus yang baru saja aku tunjukkan kepada kalian!"


"Baik Guru!" sahut para murid perguruan padi.


Para murid perguruan padi, mencoba mempraktekan apa yang telah guru mereka ajarkan.


Namun sayang, belum ada satupun dari mereka yang berhasil mendekati dari kata menguasai jurus itu. Termasuk Anindita dan Dhatri.


Sementara Enzi, hanya duduk santai di atas dipan yang terbuat dari bambu, sambil menyaksikan kemampuan para murid perguruan padi yang sedang latihan.


"Ya, aku rasa guru benar. Kemampuan mereka tidaklah buruk." bisik Enzi dalam hati.


........


Saat malam tiba, para murid perguruan padi mengisi waktu istirahatnya di dalam kamarnya masing-masing.


Ruang kamar sederhana, dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.


mereka semua tertidur pulas, melepas rasa lelah, sesuai berjuang keras mempelajari ilmu seni bela diri di sepanjang hari.


Di dalam ruang kamar yang bercahayakan lampu obor, Dhatri dan Anindita saling berbincang-bincang, membicarakan suatu hal yang tidak berarti.


Sementara itu di ruang kamar Enzi...


"Aku rasa semuanya sudah tertidur pulas. Sekarang saatnya bagiku untuk latihan." ucap Enzi pada diri sendiri.


Selang beberapa saat setelah mengucapkan hal itu, Enzi langsung bergerak melesat dengan cepat melalui pintu jendela.


Bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga gerakannya tidak mampu terlihat oleh kedua mata.


Di tengah hutan yang lokasinya tidak jauh dari perguruan padi, Enzi mulai mengasah kekuatan tenaga dalamnya.


Enzi duduk di atas pucuk pohon, dengan posisi duduk bersila seperti orang yang sedang bertapa.


Pada saat Enzi mulai mengasah kekuatan tenaga dalamnya, tiba-tiba saja ia merasakan suatu tekanan tenaga dalam.


Enzi merasa tidak asing dengan sumber kekuatan tenaga dalam yang ia rasakan.


"Kekuatan tenaga dalam ini? Tidak salah lagi!"

__ADS_1


Tidak jauh dari posisi Enzi berada, seorang pria tua berlatih ilmu seni bela diri dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi di dunia persilatan.


Pria tua yang tengah berlatih itu tidak lain adalah sang guru perguruan padi.


__ADS_2