
Terdengar kabar buruk di kota, akan keberadaan seekor harimau putih yang mengancam keselamatan warga. Hewan-hewan ternak banyak yang hilang, hanya menyisakan bangkai dan tulang saat ditemukan di tengah hutan.
"Harimau! Ini semua ulah seekor harimau! Aku melihatnya! Aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri! Harimau itu berwarna putih! Aku yakin itu!" keluh seorang warga kepada prajurit kerajaan.
"Di mana kau melihat harimau putih itu?" tanya seorang prajurit.
"Di sana! Di peternakan milik Tuan Bagya!" jawabnya sambil menunjuk ke arah luar dinding perbatasan ibukota. Peternakan Tuan Bagya terletak di luar dinding perbatasan ibukota Rajatapura.
"Ayo kita periksa!" seru sang prajurit.
Beberapa prajurit kerajaan yang bertugas, memeriksa langsung kondisi lokasi kejadian.
Sesuai dengan laporan warga, di sekitar tanah peternakan, para prajurit kerajaan menemukan jejak darah hewan yang berceceran.
"Teman-teman! Ayo kita ikuti jejak darah ini!" seru seorang prajurit kerajaan. Kemudian ia memberi instruksi kepada warga kota yang ada di sekitar lokasi. "Untuk seluruh warga, tolong harap kembali ke kota. Jangan berkeliaran di sekitar ini untuk sementara waktu! Situasi di area ini masih sangat berbahaya untuk keselamatan kalian."
Para warga kembali ke ibukota, mereka berharap masalah ini dapat segera terselesaikan secepatnya.
Tidak jauh dari peternakan, para prajurit menemukan seekor sapi yang telah menjadi bangkai. Sapi itu, diduga milik Tuan Bagya yang hilang.
"Aku akan segera melaporkan kejadian ini kepada Paduka Raja." ucap seorang prajurit kerajaan.
.................
Kabar mengenai keberadaan akan seekor harimau putih yang meresahkan dan mengancam keselamatan penduduk kota, telah sampai ke telinga Raja. Menanggapi permasalahan itu, Sang Raja dengan sigap memerintahkan para prajurit terbaik kerajaan, untuk menangkap hewan yang telah meresahkan warga.
Agar masalah ini cepat terselesaikan sebelum adanya korban jiwa, Sang Raja memberikan pengumuman kepada seluruh prajurit dan para pendekar yang hidup di kerajaan Salakanagara.
"Barangsiapa yang berhasil membunuh atau menangkap harimau putih itu hidup-hidup dan membawanya ke hadapanku, maka aku akan mengangkat orang itu sebagai hulubalang di kerajaanku!"
Pengumuman Sang Raja tersebar ke penjuru kota Rajatapura.
...............
Pusat kota Rajatapura.
"Hei, apakah engkau mendengarnya?" tanya seorang pemuda kota Rajatapura kepada kawannya.
__ADS_1
"Berita apa? Cepatlah sampaikan kepadaku kawan." Kawannya balik bertanya.
"Aku mendengar kabar dari istana, bahwa Raja akan mengangkat siapa saja yang berhasil membunuh harimau putih yang meresahkan kita selama ini, akan diangkat menjadi seorang hulubalang kerajaan. Sungguh menggiurkan bukan?" kata pemuda itu.
"Iya menggiurkan, tapi taruhannya? Nyawa! Aku tidak berani mempertaruhkan nyawaku demi mendapatkan jabatan itu!" jawab kawannya.
"Dasar pecundang!" pemuda itu tampak kecewa akan jawaban yang diberikan oleh sang kawan.
"Hei! Jangan asal menyebutku pecundang! Memangnya engkau sendiri berani melakukannya? Ha!?" sang kawan bertanya kepada sang pemuda dengan perasaan kesal.
"Tentu saja!" jawab si pemuda.
"Puihhhh! Omong kosong!" kawannya merasa bahwa si pemuda itu hanya membual saja.
"Engkau tidak percaya? Lihat saja nanti! Aku akan membuktikannya kepadamu!" kata si pemuda itu dengan penuh percaya diri.
Keesokan harinya, si pemuda yang ingin menjadi hulubalang itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di tengah hutan, dengan luka cabikan harimau di sekujur tubuh.
Para prajurit kerajaan bekerja sama dengan para pendekar, mencari keberadaan harimau putih.
"Ya, aku juga penasaran. Aku sudah mencari hewan buas itu di daerah perbukitan, namun tak kunjung menemukannya." kata pendekar yang lain.
Para prajurit dan pendekar tidak mengetahui, bahwa harimau putih ini sebenarnya bukanlah hewan buas biasa. Melainkan seekor siluman atau jelmaan dari seorang pendekar sakti yang sempat melegenda. Pendekar Harimau dari Gunung Salak. Itulah wujud asli dari harimau putih itu.
Sebenarnya, pendekar harimau bukan pendekar yang jahat. Akan tetapi, karena pengaruh teknik tenaga dalam dan jurus harimau yang ia dalami, sang pendekar harimau hilang kendali dan berubah wujud menjadi seekor harimau putih yang buas.
Sudah satu tahun lamanya sejak ia berubah menjadi seekor harimau putih yang buas dan tidak terkendali.
........
Rumah keluarga Enzi.
Euis sudah menikah sejak dua tahun yang lalu dan ikut sang suami membangun rumah tangga di desa terpencil. Sang ibu juga berulang kali meminta Enzi untuk segera menikah dengan seorang gadis kota, yang merupakan putri dari kerabat terdekatnya.
"Rumah ini terlalu besar bila hanya dihuni oleh kita berdua. Alangkah baiknya ibu memiliki seorang menantu yang dapat menemani ibu di rumah ini. Jadi Ibu berencana ingin menjodohkanmu dengan putri dari teman terbaik ibu. Nanti Ibu akan menetapkan jadwal pertemuanmu dengannya." itulah kalimat yang diucapkan sang ibu kepada Enzi.
Enzi mengangguk, menuruti permintaan sang ibu.
__ADS_1
"Tapi alangkah baiknya jika pertemuan itu diadakan setelah kasus besar yang terjadi di kota ini telah usai. Sangat berbahaya rasanya jika kita mengadakan pertemuan di tengah kekacauan yang terjadi belakangan ini bu..."
"Di kota ini memang sering terjadi kekacauan nak, untung saja, masalah kekacauan itu dapat diselesaikan dengan baik oleh raja kita." ucap sang ibu.
"Tapi.. kekacauan yang terjadi kali ini berbeda bu.. Kekacauan yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh keberadaan harimau putih yang terus mengancam masyarakat. Tidak sedikit hewan ternak yang hilang dan ditemukan dalam kondisi sudah menjadi bangkai. Bahkan, ada penduduk kota yang tewas di tangan harimau putih ini bu."
Sang ibu tampak cemas mendengar kabar yang disampaikan oleh Enzi. Wajar saja, semenjak putrinya menikah, sang ibunya tetap berada di rumah, dan tidak banyak mendengar berita yang terjadi di kota.
"Baiklah nak, kita akan mengadakan pertemuan setelah masalah ini usai." ujar sang ibu.
Sang ibu melanjutkan aktivitasnya, memasakkan menu makan siang untuk keluarga.
.........
"Dewa, bagaimana menurutmu tentang kasus yang terjadi belakangan ini?" tanya Enzi kepada Kaisar Quelle.
Kaisar Quelle yang tengah menikmati secangkir tebu hangat menjawab, "Pada dasarnya, harimau itu hanyalah memakan hewan ternak. Dari sini kita dapat melihat, bahwa harimau putih itu hanya ingin bertahan hidup. Selama beberapa waktu, tidak ada kasus pembunuhan terhadap manusia yang disebabkan oleh harimau putih itu. Sampai pada akhirnya, terdengar berita menggiurkan di tengah-tengah warga akan imbalan jabatan kepada siapa saja yang mampu menaklukan harimau putih itu. Nah, di sinilah awal bencana itu dimulai."
Kaisar Quelle mengambil kue cokelat khas langit Gloxinia yang dibuat dengan tangannya sendiri. Memakan kue cokelat itu secara perlahan.
Enzi berusaha mencerna dan memahami penjelasan yang disampaikan oleh Kaisar Quelle kepadanya. Selang beberapa saat kemudian Enzi berkata dengan mengambil kesimpulan,"Jadi, karena faktor imbalan jabatan itu, tidak sedikit warga yang berburu harimau putih. Lalu, untuk melindungi diri dari ancaman warga, harimau putih ini terpaksa bertarung melawan warga yang terus memburunya. Akibatnya, tidak sedikit warga yang tewas di tangan harimau putih. Bukankah begitu?" tanya Enzi memastikan.
Dalam kondisi mengemut cairan cokelat yang meleleh di mulut, Kaisar Quelle menjawab, "Yap, benar! Seperti itulah kondisinya!"
Enzi bertanya lagi "Lalu, apa solusinya agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan?"
Kaisar Quelle menjawab, "Tentu saja dengan cara membuat sekumpulan manusia bodoh itu menghentikan perburuannya, dan menyiapkan beberapa daging hewan ternak di dekat hutan untuk kebutuhan si harimau putih."
"Eh?" Enzi terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Kaisar Quelle. Selang beberapa saat kemudian Enzi bertanya, "Harimau putih itu hewan buas, apakah hewan buas bisa tahu bahwa daging ternak yang diletakkan di dekat hutan itu memang sengaja disediakan untuknya?"
Kaisar Quelle menjawab, "Siapa bilang dia hewan buas? Harimau putih itu merupakan jelmaan dari manusia yang kehilangan kendali atas kekuatan khusus yang ia miliki!"
"Ha? Manusia?" Enzi merasa terkejut bukan kepalang.
Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Enzi, Kaisar Quelle memberikan teguran kepadanya, "Tidak perlu terkejut seperti itu. Karena terkejut tidak akan memecahkan solusi!"
"B..bbaik dewa." jawab Enzi.
__ADS_1