
"Pertama, aku akan membuat topeng terlebih dahulu." Kaisar Quelle mengambil tulang kepala rusa, lalu mengubah tulang kepala rusa itu menjadi topeng yang sesuai dengan bentuk wajah manusia.
Topeng yang dibuat oleh Kaisar Quelle, mampu menutupi bagian dahi kepala hingga bagian hidung dan seluruh pipi, tanpa menutupi bagian lubang hidung dan bibir.
Kaisar Quelle menempa topeng itu dengan sedikit aliran energi yang dimilikinya.
"Dengan sedikit sentuhan ini, maka topeng ini tidak akan hancur walau tertimpa oleh batu meteor." kata Kaisar Quelle sambil menguji kekuatan topeng itu dengan teknik tebasan pedangnya tanpa menggunakan tenaga dalam. Namun sebelum itu, dia membuat ruang zona pelindung yang dapat membendung kekuatan tebasannya, agar tidak menimbulkan kerusakan di area sekitar.
Pedang yang digunakan oleh Kaisar Quelle merupakan pedang milik prajurit yang tewas di tangan pasukan bandit tangan besi.
"Bagaimana dengan pakaianku?" tanya Enzi.
"Selanjutnya untuk pakaianmu?
Ini hanyalah pakaian yang akan engkau gunakan untuk sementara waktu. Jadi aku akan membuat ala kadarnya saja."
"Kalau yang robek itu bagaimana? Apakah engkau bersedia memperbaikinya?" tanya Enzi.
"Tenanglah, aku tidak hanya akan memperbaikinya, melainkan memperkuatnya dengan sedikit aliran energiku, sehingga pakaianmu tidak akan robek lagi meski berulang kali terkena tebasan senjata tajam." Kaisar Quelle menempa pakaian Enzi dengan sedikit aliran energi dan menguji kualitas ketahanannya terhadap berbagai serangan tebasan pedang tanpa tenaga dalam.
"Sejak tadi, aku tidak merasakan akan adanya tenaga dalam yang engkau miliki, saat engkau menebaskan pedang ke topeng dan baju itu. Bagaimana jika engkau gunakan tenaga dalammu? Apakah tetap kuat dan tidak tergores sedikit pun?" tanya Enzi.
Kaisar Quelle tersenyum dan berkata, "Tentu saja akan hancur berkeping-keping, hingga kedua bola matamu tidak dapat melihat partikel pecahan dari kedua benda yang aku tebas." jawab Kaisar Quelle.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Kaisar Quelle, Enzi pun langsung menarik kesimpulan.
"Itu berarti topeng dan baju yang telah dewa perkuat, tetap bisa hancur ketika seorang musuh yang aku hadapi mengerahkan tenaga dalamnya kepadaku?"
Kaisar Quelle menjawab, "jangan samakan antara energi dewa dengan tekanan tenaga dalam manusia. Jika engkau ingin menguji ketahanan baju dan topeng ini, engkau bisa mengujinya dengan kekuatan tenaga dalammu!"
"Baiklah, kalau begitu izinkan aku untuk menguji ketahanan topeng dan baju itu terhadap serangan tenaga dalamku, wahai dewa..." pinta Enzi.
Kaisar Quelle mengembalikan alih kendali raga kepada Enzi dan meletakkan kedua benda yang telah ditempa itu di atas permukaan tanah. Saat itu juga, dinding barrier yang melindungi area di sekitar turut lenyap.
Enzi memasang kuda-kuda, mengumpulkan seluruh tenaga dalam yang mengalir di dalam tubuhnya, memfokuskan aliran tenaga dalam ke tangan dan senjata pedang yang ada dalam genggamannya. Lalu, dia menebaskan pedangnya itu ke arah baju dan topeng yang ada di atas permukaan tanah.
"Heyaaaaa!!!"
Bluarrrrrr! Bluarrrrr!! Bluarrrrrrrr!!!
Whoooossshhh!
Duaarrrr!!!! Duuaaarrrrr!!!!
__ADS_1
Permukaan tanah porak poranda, terbelah menjadi menjadi beberapa bagian, meninggalkan jejak tebasan pedang dengan garis lobang yang begitu dalam. Baju dan topeng yang ia tebas turut tenggelam ke dalam permukaan tanah yang terbelah.
Enzi mengerahkan tenaga dalam, menggerakkan jari jemari tangan kanan, menerbangkan tumpukan tanah dan batu ke udara.
Diantara tumpukan tanah dan batu yang melayang di udara itu, Enzi mencari keberadaan topeng dan baju yang ia tebas.
"Ketemu!" Enzi berhasil menemukan topeng dan baju diantara tumpukan tanah yang melayang di udara.
Enzi memfokuskan aliran tenaga dalamnya ke arah topeng dan baju yang telah ia tebas, agar tetap melayang di udara.
Seketika itu juga, tumpukan tanah dan batu pun berjatuhan. Hanya topeng dan baju saja yang masih dalam posisi melayang di udara.
Enzi menggerakkan jari jemari tangan kanan, mengambil kembali topeng dan baju yang melayang melalui aliran tenaga dalam yang mengalir di udara.
Tab!
Topeng dan baju yang Enzi tebas sudah berada dalam genggaman tangan.
Enzi memeriksa kondisi topeng dan pakaian yang telah ia tebas.
Tidak ada sedikit pun goresan yang membekas pada topeng dan pakaiannya.
Enzi merasa puas dengan hasil topeng dan baju yang telah ditempa oleh Kaisar Quelle.
Di bawah cahaya sang rembulan, Enzi mencoba melakukan beberapa gerakan bertarung, menguji kenyamanan topeng yang ia kenakan. Termasuk beberapa gerakan sulit seperti teknik terbang di atas pedang, teknik tubuh berputar di udara, dan teknik pedang menusuk bumi. Enzi mencoba melakukan beberapa gerakan dari tiga teknik yang sulit itu, hanya untuk memastikan bahwa topeng yang ia kenakan itu tidak lepas di tengah pertarungan.
"Aku sudah puas dewa, kini kita dapat bertukar posisi lagi."
Mereka berdua pun bertukar posisi.
Kaisar Quelle mengambil alih tubuh Enzi.
"Sekarang aku akan menunjukkan kepadamu, bagaimana tingkat kekuatan tebasan pedangku tanpa menggunakan tenaga dalam."
Kaisar Quelle melompat tinggi ke langit, mengayunkan tangannya dari atas ke bawah, menebaskan pedangnya ke arah bukit yang tinggi menjulang dalam satu kali tebasan. Ia menebas bukit itu seperti seorang pedagang yang sedang membelah buah semangka.
Whoooosssshhh!
BLAAAAAAARRRR!!!!!
Bukit yang tinggi menjulang terbelah menjadi dua.
"Aa..a...aaaa" Enzi terkejut bukan kepalang. "Dd..de..wa, a..aa..pa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Dengan santai Kaisar Quelle menjawab "aku hanya sedikit mengayunkan pedang."
"Aku tahu itu! Yang menjadi maksud pertanyaanku, kenapa engkau menghancurkan bukit itu?" tanya Enzi dengan perasaan sedikit kesal.
"Seperti apa yang aku katakan padamu sebelumnya, aku hanya sedikit menunjukkan sedikit kekuatan tebasan pedangku tanpa menggunakan tenaga dalam. Mengenai bukit yang terbelah, engkau tidak perlu khawatir. Aku akan mengembalikannya ke keadaan semula." jawab Kaisar Quelle.
"Mengembalikan ke keadaan semula? Apa maksudmu?"
Kaisar Quelle menjentikkan jari.
Tick!
Siuuuwwwww....
Waktu berputar balik ke keadaan sebelum ia menebas bukit yang tinggi menjulang.
Ingatan Enzi tentang bukit yang terbelah menjadi dua pun hilang akibat efek dari kekuatan memutar balikkan waktu milik Kaisar Quelle.
..........
....Sementara itu di kediaman hulubalang.
"Aaaahh.. Aku tidak bisa tiduuur... Kenapa hati ini terus memikirkannya?" Anindita tampak gelisah, memikirkan sosok pria yang sebenarnya tidak ingin dipikirkannya.
"Omong-omong, dia sedang apa ya?" Anindita berjalan, membuka jendela kayu, dan menatap keindahan sang rembulan yang bersinar di tengah malam. "Apakah saat ini dia sedang menatap rembulan yang sama? Wahai bulan, tolong sampaikan salam rinduku padanya....
Aaaaa.. Bicara apa aku ini?"
Kedua mata Anindita terus terjaga hingga fajar tiba.
Keesokan paginya barulah ia tertidur pulas, walau cahaya mentari telah menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Dia adalah Dhatri, Kakak perempuan dari Anindita.
Tock! Tock! Tock!
"Dita... Ayo bangun...." Dhatri menempelkan daun telinganya pada pintu. Mendengarkan gerak gerik Anindita yang ada di dalam kamar dari balik pintu. "Dita.... Bukankah engkau sudah berjanji pada Kakak, untuk menemani Kakak mengunjungi pasar hari ini?"
Anindita masih tertidur pulas di dalam kamarnya, meski Dhatri telah berulang kali membangunkannya dari balik pintu.
"Tuan pendekar! Engkau sungguh jahat! Dita tidak akan memaafkanmu!" teriak Dhatri mengigau.
__ADS_1