Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 44: Naisha Lin


__ADS_3

Fajar datang menyongsong, sang mentari menampakkan dirinya dari arah timur, air yang jernih mengalir diantara bebatuan. Serigala-serigala betina meneguk air jernih yang mengalir dari mata air pegunungan.


Di dalam goa dasar lembah, seorang gadis cantik duduk manis di atas batu yang beralaskan dedaunan.


Ia mengucek kedua mata dengan menggunakan bagian atas jari telunjuknya.


"Di mana aku? 


Tempat apa ini?


Bukankah beberapa hari ini aku duduk di atas puncak gunung?


Kenapa aku bisa berada di sini?" 


Itulah yang terlintas di benaknya, saat gadis cantik itu baru saja terbangun dari mimpinya.


"Eh? Tubuhku? Tangan ini? Kaki ini? Kulit ini? Badan ini? Bukankah semuanya ini merupakan bentuk tubuh manusia? Apakah saat ini aku sedang bermimpi?" gadis itu tampak bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Wajar saja, selama ia melalukan proses penyerapan energi alam, ia berada di alam bawah sadar. Sehingga ia tidak menyadari dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Ketika ia berpikir sesuatu, berbagai pengetahuan yang belum pernah ia pelajari sebelumnya mengalir di dalam isi kepalanya.


"Ada apa denganku? Kenapa ini? Kenapa aku melihat sesuatu hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya di dalam pikiranku? Aaaaaa....! Apa yang terjadi padakuuuu!"


Gadis itu berdiri dan terlihat panik. Ia berjalan ke sana kemari. Saat berjalan pun ia baru menyadari....


"Eh? Cara berjalanku? Sejak kapan bisa berjalan seperti ini? Tidak..! Tidak! Aku harus menenangkan diri!" saat mengucapkan kata 'menenangkan diri', terlintas di benaknya untuk mencuci muka dan mengambil daun sebagai wadah untuk minum.


"Aaaaaaaaaaa!!!" gadis cantik itu menjerit dalam kepanikan.


Saat ia melihat di sekeliling, ia baru menyadari, bahwa dirinya berada di goa serigala. Rumah bagi para serigala di gunung Pulosari.


"L..lem..lembah se..ri..ga..la? Apa..kah a..ku a..da di lem..bah seri..gala?" Ia bertanya-tanya, lalu ia pun tertawa "Hahahaha... Sepertinya ada yang salah denganku~"


Gadis cantik itu berjalan, melihat-lihat suasana di sekitar.


Goa tempat persembunyian serigala betina cukup indah. Ada banyak aneka buah-buahan yang tumbuh di sekelilingnya.

__ADS_1


Gadis kecil memetik buah jambu, menikmati kesegaran buah ditiap gigitannya. Saat ia menikmati kesegaran buah jambu, tiba-tiba saja ia mencium aroma manusia.


Gadis itu berjalan, mengikuti arah dari sumber aroma itu. Sampai pada akhirnya, ia melihat sosok pemuda yang tengah berdiri menatap langit.


Sosok pemuda yang dilihatnya itu adalah Kaisar Quelle.


Kaisar Quelle berpaling, menatap gadis kecil yang berdiri di belakangnya.


"Ternyata engkau sudah bangun gadis kecil..." Kaisar Quelle menyambut kehadiran gadis kecil dengan senyuman yang hangat.


"Jantungku? Kenapa jantungku berdegup kencang?" pikir gadis cantik.


Kaisar Quelle tidak sengaja membaca pikirannya.


Kaisar Quelle datang menghampiri, berjalan mendekat, dan terus mendekat, hingga mereka berdua bisa saling mendengar suara  hembusan nafas. Saling bertatapan, hingga wajah gadis cantik itu tampak memerah seperti bunga mawar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kaisar Quelle sambil memegang dahi si gadis cantik.


Gadis cantik hanya diam dan terus menatap kedua mata Kaisar Quelle.


"Nama?" gadis cantik itu tampak bingung, dia membuka dunia pengetahuan yang ada di dalam otaknya. Namun dia tidak menemukan kalimat pengetahuan tentang nama dirinya sendiri.


"Aaaaaaaa!!!!" gadis itu berteriak sambil memegang kepala dan menggeleng-gelengkannya. "Nama.... Siapa namaku?"


Kaisar Quelle menyadari bahwa gadis cantik itu belum memiliki nama. Wajar saja, tidak semua hewan rubah memiliki nama.


Kaisar Quelle memegang pundak si gadis cantik seraya ia berkata "Bagaimana jika aku memberimu sebuah nama?"


Gadis cantik yang lugu itu bertanya-tanya. "Memberiku nama?"


Kaisar Quelle menjawab "Iya, aku akan memberikan nama yang cantik untukmu."


Gadis cantik itu menganggukkan kepala seraya berkata "Mauuuu!"


"Baik, kalau begitu aku akan memikirkan nama yang cantik untukmu." Kaisar Quelle memegang bibir bawah dengan jari telunjuk sembari memikirkan beberapa nama "Pulosari, Sari, Ruru.... Ah, tidak tidak! Aku akan memberikan namamu sesuai dengan apa yang ada pada dirimu. Engkau adalah sosok makhluk yang memiliki suatu hal yang spesial, dan yang mempertemukanmu denganku adalah cahaya yang ada berasal dari tubuhmu. Naisha Lin. Naisha artinya spesial, Lin artinya cahaya. Bagaimana jika aku memberimu nama Naisha Lin? Nama yang cantik bukan?"

__ADS_1


Gadis cantik itu dengan semangatnya menjawab "Naisha Lin! Naisha Lin! Namaku Naisha Lin!" Ia tampak sangat bahagia dengan nama itu. Wajahnya merah merona, kedua matanya berbinar, dan bibirnya tersenyum manis.


Kaisar Quelle mengelus-elus rambut Naisha Lin seraya berkata "Mulai sekarang, aku adalah gurumu, dan engkau adalah muridku. Aku akan melindungimu dan membimbingmu menjadi seorang wanita yang kuat!"


Naisha Lin menganggukkan kepala dengan penuh semangat dan suka cita. "Hu um!" jawabnya.


..............


Sementara itu di kota Rajatapura.


"Ditaaa, apakah engkau yakin... Kalau pendekat tangguh bertopeng itu adalah seorang saudagar dari kota ini?" tanya Dhatri pada Anindita yang tengah berjalan di tengah kota.


Kota Rajatapura tampak ramai seperti biasanya. Para penduduk melakukan transaksi jual beli, dan ada juga yang saling bertukar informasi.


Termasuk dua gadis bangsawan ini. Mereka berjalan di tengah kota, sembari mencari dan memperbincangkan sosok pendekar tangguh bertopeng yang hingga kini belum terpecahkan.


"Iya Kakak... Dita sangat yakin kalau pendekar tangguh bertopeng itu adalah seorang saudagar dari kota ini!" jawab Anindita dengan penuh keyakinan.


"Sudah beberapa hari kita mencari, sosok saudagar yang mengenakan pakaian yang sama dengan potongan kain pakaian yang engkau tunjukkan padaku. Akan tetapi.... Sampai saat ini kita tak kunjung menemukan sosok pendekar itu." kata Dhatri.


"Mungkin saja, saat ini dia masih dalam perjalanan perdagangan." kata Anindita dengan penuh percaya diri.


"Bukankah dirimu sendiri yang mengatakan, kalau pendekar itu tidak mungkin berada dalam perjalanan perdagangan, ketika dia menyelamatkanmu dan ibu dari bandit-bandit itu?"


"Eeee... Itu.. Eeee..." Anindita tampak kebingungan, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Sejak awal engkau bercerita padaku tentang pendekar tangguh bertopeng itu, aku merasa dia bukan berasal dari kota ini." kata Dhitra dalam menyampaikan pendapatnya kepada Anindita.


"Dari sini....! Pendekar itu berasal dari kota ini! Dita yakin itu!" ungkap Anindita dengan tegas dan penuh keyakinan.


"Dita... Ilmu bela diri pendekar terbaik di kota ini, tidak jauh berbeda dengan ilmu bela diri yang dimiliki oleh pasukan elite di kerajaan ini... Terlebih lagi jika orang itu adalah seorang saudagar. Itu sangatlah tidak mungkin adikku... Para saudagar, sejak kecil tumbuh dan dibesarkan sebagai seorang saudagar. Mereka tidak memiliki waktu luang untuk berlatih ilmu bela diri dengan tingkatan yang cukup tinggi. Kalaupun mereka menyempatkan diri untuk berlatih ilmu bela diri, mereka hanya mampu menguasai beberapa teknik bela diri saja.... Itulah kenapa, ketika para saudagar hendak melakukan perjalan perdagangan, mereka selalu menyewa veteran, prajurit bayaran, dan beberapa orang pendekar yang tangguh..." terang Dhitra.


"Emmmm, kalau begitu... Pendekar tangguh bertopeng ini bukanlah saudagar, melainkan seorang pendekar tangguh yang sedang melintasi negeri ini? Jadi, apa yang dikatakan oleh pendekar itu bahwa dia adalah seorang pengembara itu benar?" tanya Anindita.


"Kakak rasa begitu. Kakak merasa, bahwa pendekar itu mengatakan hal yang sejujurnya kepadamu. Pengembara yang kebetulan melintas. Itu artinya, dia seorang pendekar dari suatu negeri. Pakaian yang dia kenakan, berasal dari Dinasty Han. Memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Para pendekar dari Dinasty Han, memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi.  Jadi merasa, kalau pendekar tangguh bertopeng itu berasal dari negeri itu."

__ADS_1


__ADS_2