Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 49: Pembersihan


__ADS_3

Dukuh Pulosari di malam hari, suasananya terasa dingin dan sepi. Tidak ada satu pun warga yang berani keluar rumah, terlebih lagi melangkah keluar melintasi jalan mengunjungi rumah tetangga.


Di malam yang dingin itu, Enzi berjalan dengan mengenakan topeng dan baju pendekar. Ia berjalan di malam hari, menyusuri hutan yang gelap dan menakutkan.


Suara derap langkah kaki hewan buas terdengar dengan jelas di sepanjang ia berjalan melintasi hutan.


Sambil membawa peti dagangan yang sudah tidakĀ  lagi terpakai, Enzi berjalan menuju kawasan Dukuh Pulosari. Dukuh yang menjadi tujuannya dalam membasmi bandit-bandit yang telah meresahkan warga


Tap!


Tap!


Tap!


Enzi terus berjalan, dengan tatapan penuh kewaspadaan.


Tatapan dan aura membunuhnya yang begitu tajam, membuat hewan-hewan buas tidak berani mendekatinya.


"Apa yang sedang engkau lakukan?" tanya Kaisar Quelle pada Enzi.


"Mencari bandit." jawab Enzi singkat.


"Mencari? Mencari mereka dengan cara yang sama dengan cara primitif yang biasa digunakan oleh makhluk-makhluk lemah yang ada di planet ini?" tanya Kaisar Quelle dengan nada menyinyir. Kaisar Quelle menghela nafas, mengungkapkan rasa kecewa pada diri Enzi, "huffffttt... Apa gunanya aku mengajari teknik mendeteksi aura, jika engkau lebih memilih untuk menggunakan cara primitif seperti itu?"


"Aku melakukan ini untuk menghemat energi. Teknik itu terlalu banyak menggunakan energi. Hari ini aku sangat lelah. Jadi aku harus menyimpan energiku yang tersisa." terang Enzi dalam mengungkapkan alasan dan penyebabnya.


Enzi mempercepat gerak langkah kaki, tanpa mengurangi tingkat kewaspadaannya.


Sampai pada akhirnya, ia tiba di suatu tempat yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Dukuh Pulosari berada.


Sekelebat objek bergerak dengan cepat di atas kepala Enzi. Menyambut kehadiran Enzi dengan serangan tusukan belati yang tajam.


Enzi bergerak dengan cepat, menghindari serangan yang datang kepadanya.


"Sudah ku duga, engkau bukanlah seorang pedagang yang sedang melakukan perjalanan." ucap bandit yang baru saja melancarkan serangan kepada Enzi secara tiba-tiba.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku ini benar-benar seorang pedagang...! Lihatlah penampilanku! Ucapanmu benar-benar telah menyinggungku!" ucap Enzi dengan wajah iba.


"Tch! Orang bodoh mana yang percaya jika engkau seorang pedagang? Engkau berjalan seorang diri di tengah malam, membawa peti dagangan dengan gerak jalan penuh celah, seolah-olah engkau adalah pedagang bodoh yang pantas dijadikan sebagai target empuk! Hanya pendekar saja yang bersandiwara seperti itu " ucap sang bandit


"Jika aku bukan seorang pedagang, lantas kenapa engkau menyerangku? Bukankah kau sebaiknya bersembunyi saja di sarangmu?" tanya Enzi dengan nada memprovokasi.


"Karena aku ingin tahu, pendekar bodoh mana yang tengah mengantarkan nyawa ke sarang buaya!" ucap sang bandit.


"Sarang buaya? Apakah sebutan itu tidak terlalu berlebihan? Dari segi kemampuanmu, aku rasa tempat ini lebih layak disebut sebagai sarang serangga tidak berguna." ledek Enzi.


Mendengar ucapan Enzi, membuat diri bandit itu mendidih dalam luapan emosi.

__ADS_1


"Tutup mulutmu pendekar angkuh!!! Aku akan menghabisimu sekarang!!!"


Sang bandit bergerak menghunuskan golok dari sarungnya.


Belum sempat melayangkan serangan, tiba-tiba saja kepala bandit itu terlepas dari lehernya.


Crotttt!!!!


Darah mengucur deras ke atas dari lubang leher si bandit.


Mengucur bagaikan air mancur.


Tubuh bandit terkapar seketika.


Sementara kepalanya, menggelundung di atas permukaan tanah.


Enzi berhasil membunuh bandit itu hanya dalam satu gerakan saja.


Gerakan tangan yang begitu sangat cepat, seakan ia tidak melakukan gerakan apa-apa.


"Lemah! Sangat lemah!" ucap Enzi.


"Jangan lupa untuk mengambil senjata milik bandit yang baru saja engkau bunuh itu! Aku alan menjual senjata itu ke masa depan!" perintah Kaisar Quelle kepada Enzi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Enzi menuruti apa yang Kaisar Quelle perintahkan kepadanya.


Whozzz..!!!


Whozzzz...!!!


Dalam gelapnya malam di tengah hutan, sekumpulan bandit bergerak dengan cepat di atas dahan pepohonan. Mengamati pergerakan Enzi, menunggu celah untuk dapat menghabisinya.


Namun sayang, selagi mereka menunggu celah, Enzi bergerak secepat kilat membelah kepala mereka, dengan golok yang ada di tangan kanannya. Golok milik bandit yang ia bunuh sebelumnya.


Sekumpulan bandit berdatangan, kali ini mereka menyerang dari kejauhan. Menembakkan jarum beracun secara bersamaan ke arah Enzi yang sedang berjalan.


Instinct Enzi yang tajam, mampu membaca arah datangnya jarum-jarum beracun yang mematikan.


Enzi berhasil menghindari serangan, dan melesat dengan cepat ke posisi mereka berada.


Slassshhhh!!!!


Bandit-bandit itu tumbang seketika.


Tumbang dalam kegelapan malam.


Enzi terus berjalan, mengikuti sumber energi tenaga dalam milik beberapa pendekar keji yang menjalankan profesi malam sebagai bandit hutan.

__ADS_1


Berjalan perlahan, menyimpan energi yang ia miliki.


Di sebuah gubuk di tengah hutan, gubuk yang hanya diterangi obor genggam pada dinding, sekumpulan pendekar keji berbagi hasil barang hasil jarahan mereka.


Barang-barang berharga yang mereka rampok dari tangan para pedagang Dukuh Pulosari.


"Hahahahaha.... Aku tidak menyangka, jika aku bisa memiliki harta kekayaan sebanyak ini hanya dalam beberapa hari saja. Hahaha...." kata pendekar keji bersenjatakan parang yang bergerigi tajam.


"Hahaha... Tentu saja! Ini semua berkat hasil bekerja sama kita dengan Tuan Sarkesh! Bekerja sama dengannya, benar-benar sangatlah menguntungkan." kata pendekar keji bersenjatakan kapak panjang.


"Kau benar! Selama kita bekerja sama dengan Tuan Sarkesh, selain kita mendapatkan sejumlah upah darinya, kita juga memperoleh barang hasil jarahan dari pedagang yang kita rampok. Hahaha..." kata pendekar bersenjata tombak.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hahaha.." kata pendekar bersenjata celurit.


Pada saat mereka tertawa, tiba-tiba saja pintu ruangan gubuk terbuka.


Seketika itu juga, para pendekar keji memasang kuda-kuda, bersiap menyambut kedatangan tamu tak diundang di tempat persembunyian mereka.


Dari luar pintu, Enzi berdiri, memasang kuda-kuda, bersiap melakukan serangan pembuka.


"Ajian tinju besi!!!" Enzi menggunakan teknik serangan pamungkas milik pendekar tangan besi, yang berhasil ia kalahkan beberapa hari yang lalu.


Whoooosssshhh!!!!


Tekanan tenaga dalam yang dahsyat, terhempas dari tubuh Enzi.


Tekanan tenaga dalam yang dahsyat itu membuat tubuh para pendekar keji terpental jauh hingga menembus dinding gubuk yang terbuat dari bambu.


Prakkkk!!!


"Coughh!! Cough!!!"


Tubuh para pendekar keji itu terluka. Mereka mengalami luka dalam yang cukup serius, akibat tekanan tenaga dalam Enzi.


"Cough!!! Cough!!! Jahanam! Siapa yang berani melakukan itu kepada kami!" teriak pendekar keji bersenjata tombak dengan nada menggertak.


Enzi yang bertopeng tengkorak datang mendekat, menghampiri sekumpulan pendekar keji yang mencoba bangkit dan menghadapi dirinya.


"Ajian tangan besi!


Haaahhh!!!"


Lagi-lagi Enzi mengerahkan ajian tangan besi, mengubah tangannya menjadi kuat seperti besi.


"Ajian itu.... Jangan-jangan.... Kau adalah bandit tangan besi? Bagaimana mungkin? Bukankah kau saat ini berada di penjara?


Tidak.. Tidak... Bukan itu maksudku. Bandit tangan besi, mari kita bicarakan baik-baik. Jika engkau menginginkan harta benda, aku bisa memberikannya kepadamu."

__ADS_1


__ADS_2