Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 50: Harta Rampokan


__ADS_3

"Berapa? Berapa jumlah yang engkau inginkan, wahai bandit tangan besi? Sebutkanlah!" Pendekar keji itu panik, memohon pengampunan. Berharap barang-barang hasil rampasan yang ia tawarkan kepada Enzi, dapat menyelamatkan nyawanya sendiri.


Dengan sorot pandangan matanya yang begitu tajam, Enzi bertanya kepada bandit yang tengah menjerit ketakutan di hadapannya, "Kau tahu apa yang aku inginkan saat ini?"


Dengan kedua mata berkaca-kaca, dan keringat dingin yang mengalir di sekujur wajah, pendekar keji itu berkata, "Iya, iya, aku ingin tahu. Cepat katakan kepadaku, wahai bandit tangan besi, aku akan berikan itu kepadamu! Apapun yang engkau mau!!"


Enzi berjalan mendekat, hingga derap langkah kakinya berhenti, dan ia berdiri tepat di hadapan pendekar keji yang merengek memohon pengampunan.


Seorang pendekar keji dengan senjata kapak panjang bangkit, dan bergerak menyerang Enzi dari belakang.


Saat serangannya hampir mengenai tubuh Enzi, tiba-tiba saja tubuh pendekar keji bersenjata kapak panjang itu terpotong-terpotong menjadi beberapa bagian.


Slash!!!


Slash!!!


Slashhh!!! Slashhh!!! Slassshhh!!!


Terpotong-potong oleh serangan tenaga dalam Enzi dengan kecepatan gerak yang tidak mampu dilihat secara kasat mata.


"Ah, maaf, baru saja ada seekor serangga kecil yang mengganggu perbincangan kita. Omong-omong, sampai di mana pembicaraan kita tadi?" tanya Enzi kepada pendekar keji dengan sorot pandangan matanya yang begitu tajam.


"........" pendekar keji hanya mampu diam, tidak berani mengucapkan sepatah kata. Dirinya sudah terlampau tenggelam dalam rasa ketakutan.


"Oh iya..." Enzi berhasil mengingatnya. "Apa yang aku ingin darimu? Tentu saja aku menginginkan nyawamu! Tapi setelah dipikir-pikir lagi, nyawamu sangatlah tidak berharga untuk dibunuh dengan kedua tanganku ini. Jadi aku rasa, tidak ada salahnya jika aku melepaskanmu dan membiarkanmu hidup, menikmati hari indah bersama wanita-wanitamu!" Enzi memijakan kakinya di atas kepala pendekar keji itu.


Tentu saja, itu bukanlah diri Enzi yang sebenarnya. Melainkan diri Kaisar Quelle yang mengambil alih raga Enzi secara tiba-tiba.


Kaisar Quelle mengambil alih raga Enzi, karena Enzi hampir saja membunuh pendekar keji itu sebelum menggali suatu informasi darinya.


Ia mengambil alih, tepat di saat Enzi diserang oleh pendekar senjata kapak panjang dari belakang.

__ADS_1


"Be..benar tuan, engkau benar tuan! Mohon..mohon lepaskan aku! A..aku berjanji tidak akan bertindak bodoh lagi Tuan..." pendekar keji merengek meminta pengampunan.


Kaisar Quelle menurunkan kaki kanannya, kali ini ia memijakkan kakinya tepat di atas pundak kanan pendekar keji itu.


"Baiklah, baiklah... Aku akan melepaskanmu, namun sebelum itu... Engkau harus menjawab pertanyaanku!"


"Ten...tentu.. Tentu tuan, aku akan menjawab semua pertanyaanmu tuanmu tuan... Apapun itu.. Tanyakanlah... Silakan tanyakanlah kepadaku tuan..." ucap pendekar keji tanpa berani memandang wajah Enzi yang berada dalam kendali Kaisar Quelle.


"Aku lihat, kalian bukanlah bandit biasa yang hanya sekedar mengincar harta benda... Jika kalian berniat mengincar harta benda semata, tentu kalian bisa memperolehnya lebih banyak jika kalian melakukannya di tengah hutan yang berada di dekat ibukota. Hal yang menjadi pertanyaanku pertama, apa tujuan kalian sebenarnya yang merampok harta benda dari para pedagang Dukuh Pulosari?"


"I...itu karena..." pendekar keji berpikir sesaat, ada sedikit kebimbangan di hatinya untuk mengungkapkan kebenarannya. Namun apalah daya, nyawa dia untuk saat berarti daripada ancaman dari atasannya. "Kami hanya menjalankan perintah dari seseorang tuan... Seseorang yang sangat berpengaruh di Dukuh Pulosari... Bahkan, beliau memiliki sanak keluarga di Kerajaan. Karena itulah, kami tidak berani menentangnya Tuan..."


Kaisar Quelle tidak menyangka, bahwa permasalahan yang tengah terjadi tidak sesederhana yang dilihat.


"Katakanlah kepadaku, siapa orang yang engkau maksudkan itu?"


Pada saat pendekar keji itu hendak menyampaikan informasinya, tiba-tiba saja ada sebuah jarum beracun melesat dengan begitu cepat ke arahnya.


Jarum beracun yang ditembakkan itu berputar arah, melesat dengan cepat, menusuk tubuh bandit yang menembakan jarum beracun itu ke arah pendekar keji.


Bandit itu tewas seketika, akibat serangan senjatanya sendiri.


"Orang itu bernama Tuan Sarkesh..." jawab pendekar keji.


"Sarkesh? Siapa dia? Apakah dia orang kerajaan?"


"Bukan Tuan, dia bukan orang kerajaan. Dia adalah saudagar terkaya dan paling berpengaruh di Dukuh Pulosari. Dia memiliki sanak keluarga di Kerajaan, yang menjabat sebagai penagih pajak Tuan..."


"Kalau begitu, cepatlah engkau jelaskan kepadaku tentang seseorang yang bernama Sarkesh itu!" perintah Kaisar Quelle.


Pendekar keji, menyampaikan informasi yang ia ketahui tentang sosok Sarkesh kepada Kaisar Quelle secara detail. Dalam penjelasannya itu ia menyampaikan, bahwa Sarkesh adalah sosok saudagar kaya yang tamak akan harta dan roda perdagangan. Ia ingin, seluruh pangsa pasar perdagangan di dukuh Pulosari berada di bawah genggaman tangannya. Itulah sebabnya, ia menyuruh Pendekar keji untuk merampok dan menghabisi para pedagang yang menurutnya dapat menghambat bisnis perdagangannya.  Ia melakukan itu semua, karena tidak ingin bisnisnya disaingi oleh pedagang lain yang menjual dagangan serupa dengannya.

__ADS_1


"Begitulah kejadian yang sebenarnya tuan..."


"Aaaaahhh~ betapa arogannya serangga kecil itu. Kekayaannya tidak seberapa, namun arogansinya luar biasa. Baiklah, sekarang beri tahu padaku, di mana engkau sembunyikan harta jarahan itu!!!"


"Di... Di sana Tuan... Di dalam gubuk itu! Kami menyimpan semua harta rampokan itu di bawah tanah yang ada di dalam gubuk itu!" kata si bandit sambil menelunjukkan jarinya ke arah gubuk kecil yang telah hancur.


Kaisar Quelle menggunakan sedikit kemampuan mata dewanya, untuk memeriksa kebenaran dari apa yang diinformasikan oleh pendekar keji itu kepadanya.


Dari hasil penglihatan mata dewanya, ia melihat sebuah peti yang berisi barang dagangan yang memiliki nilai harga jual tinggi. Tidak hanya barang dagangan, di dalam beberapa peti yang ada di sana, terdapat beberapa keping mata uang berupa perak dan emas.


"Tuan.... Tolong jangan bunuh aku Tuan... Tolong lepaskan aku... Aku berjanji tidak akan membuat kekacauan lagi di dukuh ini Tuan... Bahkan, saya bersedia mengorbankan nyawa saya demi melindungi penduduk dari penjahat-penjahat itu Tuan..." lagi-lagi pendekar keji itu merengek meminta belas kasih. Ia merasa tidak yakin, bahwa Kaisar Quelle akan menepati janjinya setelah memperoleh seluruh informasi yang dibutuhkan.


"Aku adalah seorang pria yang memegang kata-kataku! Aku berjanji kepadamu, untuk melepaskanmu! Namun sebelum itu, aku harus memusnahkan seluruh kemampuan ilmu bela dirimu, tenaga dalammu, pengetahuanmu, dan melumpuhkan inti dari kekuatan tenaga dalammu, sehingga engkau tidak lagi mampu mempelajari ilmu bela diri. Dengan kata lain, engkau tidak lebih dari seorang pria yang cacat!!!"


"Eh?!!!" pendekar keji terkejut mendengarnya. Kedua matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebat, seperti mulut goa.


Kaisar Quelle menjentikan jari.


Tick!


Seketika itu juga tubuh pendekar keji ambruk, dan tidak sadarkan diri. Selain itu, seluruh kemampuan yang dimiliki pendekar keji itu lenyap, dan inti dari kekuatan tenaga dalamnya telah dilumpuhkan. Dengan begitu, Pendekar keji tidak mampu lagi berlatih ilmu bela diri dan hanya bisa menjadi seorang penduduk biasa.


"Dewa, orang itu sangat keji, kenapa engkau tidak membunuhnya?" Enzi merasa kecewa dengan apa yang diputuskan oleh Kaisar Quelle.


"Apa yang aku lakukan kepadanya, lebih menyakitkan daripada kematian, jika di hatinya masih tersimpan sifat buruk dan keji. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."


"Tapi Dewa...."


"Sudahlah... Lebih baik kita kembalikan seluruh harta hasil rampokan itu kepada pemiliknya."


Sesuai dengan petunjuk yang diberikan, Kaisar Quelle mengambil seluruh harta rampokan dari tangan pendekar keji. Kemudian, dia mengembalikan seluruh harta rampokan itu kepada seorang Pedagang Dukuh Pulosari yang memohon bantuan kepada dirinya, dan meminta pedagang itu untuk mengembalikan beberapa peti dagangan yang lain kepada para keluarga pedagang yang menjadi korban.

__ADS_1


__ADS_2