Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 39: Putri Bungsu Hulubalang


__ADS_3

Ageng Phatra berhasil membebaskan para sandera, sementara Enzi masih menikmati pertarungannya dalam menghadapi pendekar tangan besi.


"Heyaaaa!" pendekar tangan besi melayangkan pukulannya sekuat tenaga.


Enzi mengeluarkan teknik yang sama, sehingga pukulan mereka saling berbenturan.


Dughhh!!


Tenaga dalam Enzi lebih besar dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki oleh pendekar besi. Meski tenaga dalam yang dikerahkan Enzi hanyalah sedikit saja.


Pendekar tangan besi terpental beberapa langkah. Ia mengalami sedikit luka dalam akibat tekanan tenaga dalam dari kepalan tangan Enzi.


"Cuihhh!!" pendekar tangan besi membuang ludah, kedua matanya memerah, ia tidak dapat lagi menyembunyikan amarah murka.


"Keparat kau! Aku akan membunuhmu! Heyaaaaa!!!" lagi-lagi pendekar tangan besi melayangkan pukulannya ke arah Enzi. Pukulan kali ini berbeda dari sebelumnya. Pendekar tangan besi, menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke bagian tangan kanan dan kiri. Tangan yang ia gunakan untuk menyerang Enzi.


"Berhentilah menghinaku dengan terus menerus menggunakan jurus-jurusku!!!! Bajingan kau!!! Haaaa!!!"


Enzi menggunakan teknik yang sama dengannya, mengikuti pergerakan, dan menyamakan kecepatan.


Ageng Phatra beserta pasukannya, dan para sandera yang berhasil diselamatkan hanya mampu terpana menyaksikan pertarungan sengit yang terjadi di depan kedua mata mereka.


"Inikah yang disebut dengan pertarungan antar pendekar? Ini sungguh mengagumkan..." kata Ageng Phatra.


"Kak Ageng Phatra, siapa nama pendekar yang tangguh yang telah menyelamatkan kami, dan tengah bertarung dengan ketua bandit itu?" tanya Anindita, putri bungsu hulubalang yang telah berhasil diselamatkan.


"Mengenai siapa dia, itu masih menjadi suatu misteri bagiku." jawab Ageng Phatra.


"Benarkah? Ini sungguh aneh, bahkan untuk seorang ksatria tangguh sepertimu, tidak tahu mengenai jati diri pendekar itu. Ini sungguh menarik." ucap Anindita separuh meledek.


"Jangan meledekku. Itu tidak lucu." keluh Ageng Phatra. "Omong-omong, apakah kondisimu sudah membaik?"


"Hu um.." jawab Anindita sambil menganggukkan kepala.


"Engkau ini sungguh aneh, baru beberapa saat yang lalu engkau tampak lemas tidak berdaya dengan kondisi tubuh terikat di batu itu. Tapi siapa sangka, kini engkau terlihat baik-baik saja." kata Ageng Phatra.

__ADS_1


"Hmph! Tadi itu, aku lemas karena laper dan haus tahuu! Ditambah lagi, aku sudah berhari-hari berdiri di sana!" ketus Anindita dengan perasaan kesal dan dengan wajah menunduk. Saat Anindita menundukkan pandangan, secara tidak sengaja ia melihat potongan pakaian milik Enzi yang terjatuh di atas permukaan goa.


Secara sukarela, Anindita mengambil potongan kain milik Enzi yang tergeletak di permukaan goa.


Anindita menatap sang ibu yang tengah duduk sambil meminum sekantung air dari salah satu prajurit.


"Kakak, tolong antarkan ibuku dan beberapa sandera yang selamat untuk kembali ke kerajaan." pinta Anindita.


"Bagaimana denganmu? Apakah engkau tidak akan ikut bersama kami?" tanya Ageng Phatra.


"Untuk sementara aku akan tetap berada di sini. Ada hal yang harus aku selesaikan di tempat ini." jawab Anindita.


"Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu di sini." kata Ageng Phatra.


"Bagaimana ibuku dan yang lainnya?" tanya Anindita.


"Percayakan saja pada pasukanku. Semuanya akan aman dan baik-baik saja." jawab Ageng Phatra.


Enzi meningkatkan kecepatan gerak, mengurangi daya tekanan pukulan. Dia melakukan itu dengan tujuan hanya ingin melumpuhkan, tanpa harus menghilang nyawa sang pendekar tangan besi.


Serangan demi serangan dari pukulan yang dilayangkan Enzi, berhasil meremukkan tulang tangan dan kaki pendekar tangan besi.


"Apakah engkau masih bisa bertarung, wahai bandit gunung?" tanya Enzi dengan nada memprovokasi.


"Sial!!! Tubuhku!!! Ughhh...!!!" Pendekar tangan besi meringis kesakitan.


"Lihatlah! Pendekar itu berhasil melukai ketua bandit!" kata Anindita sambil menelunjukkan jari ke arah Enzi dan pendekar tangan besi.


" Ya, engkau benar. Pendekar itu sangat tangguh. Namun sayangnya, ia berusaha menyembunyikan jati dirinya dari kita." ungkap Ageng Phatra.


"Menurut Kakak, siapa ya pendekar itu?" tanya Anindita penasaran.


"Dia hanya mengatakan kepadaku, bahwa dirinya hanyalah pengembara." jawab Ageng Phatra.


"Apa? Dia seorang seorang pengembara? Apakah engkau mempercayai perkataan pendekar itu?" tanya Anindita sambil memegang erat potongan kain pakaian Enzi yang robek.

__ADS_1


"Aku rasa sih begitu.... Toh tidak ada gunanya dia membohongi kita. Hehehe... Hehe.." jawab Ageng Phatra.


"Hmph! Lihatlah ini!" Anindita menunjukan potongan kain pakaian milik Enzi kepada Ageng Phatra. "Peganglah kain ini! Ini adalah potongan kain milik pendekar itu! Dari pakaian yang dia kenakan, apakah kau masih yakin bahwa dia adalah seorang pengembara?"


"Huh? Kain ini? Bukan ini jenis kain yang biasa dikenakan oleh para bangsawan dan saudagar kaya di kerajaan?" Ageng Phatra terkejut saat mengetahui jenis kain pakaian yang dikenakan oleh Enzi.


"Benar Kak! Pakaian yang dia kenakan, bukanlah pakaian yang bisa dipakai oleh para pengembara begitu saja. Karena kain pakaian yang dia kenakan, merupakan kain pakaian yang berasal dari Dinasty Han. Engkau tahu betapa mahalnya kain dari pakaian itu? Hanya kalangan bangsawan dan saudagar kaya yang mampu membelinya." terang Anindita.


"Apa? Pendekar tangguh itu adalah seorang bangsawan? Bagaimana mungkin seorang bangsawan memiliki kemampuan bertarung seperti itu?" Ageng Phatra bertanya-tanya merasa kebingungan.


"Perasaanku berkata seperti itu... Atau lebih besar kemungkinan kalau dia adalah saudagar kaya yang sedang melakukan perjalanan perdagangan." kata Anindita.


Ageng Phatra berpikir sesaat, memikirkan segala kemungkinan tentang dari kalangan mana Enzi berasal.


"Ya! Engkau benar Anindita. Pasti! Dia pasti seorang saudagar kaya yang sedang menyelamatkan teman-temannya!" ungkap Ageng Phatra dengan penuh keyakinan.


Tidak puas hanya dengan sebatas meremukkan tulang, kini Enzi mematahkan tulang tangan dan tulang kaki pendekar tangan besi hingga lumpuh total.


Pendekar tangan besi meraung kesakitan.


"Aaaarrgggghhhh!!!"


Setelah pertarungannya dengan pendekar tangan besi itu berakhir, Enzi menolehkan pandangannya ke arah orang-orang kerajaan dan undur diri dari hadapan mereka. "Bandit itu telah lumpuh, sekarang ia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepada kalian. Untuk tindakan selanjutnya, aku serahkan kepada kalian. Memberi hukuman atau membebaskan bandit ini di tengah hutan dan membiarkan dia tewas dimakan hewan buas, itu semua tergantung keputusan kalian."


"Terima kasih tuan pendekar yang telah menyelamatkan kami dari tangan para bandit. Aku mewakili keluargaku, tidak akan pernah melupakan kebaikan hati tuan kepada kami." ucap Anindita dengan penuh rasa hormat.


"Tidak perlu dipikirkan, ini sudah menjadi kewajibanku menyelamatkan orang yang tidak bersalah dari tangan para pembunuh berdarah dingin. Terlebih lagi, jika aku membiarkan mereka... Akan ada banyak lagi korban yang berjatuhan. Aku tidak ingin hal itu terjadi." ucap Enzi. "Baiklah, karena urusanku di sini sudah selesai, aku akan melanjutkan perjalananku. Sampai jumpa di lain waktu, jika takdir mempertemukan kita!"


"Tuan pendekar! Tunggu! Jika aku boleh tahu, siapakah nama tuan pendekar yang sebenarnya?" tanya Anindita tersipu malu.


"Ah, aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah pengembara yang kebetulan melintasi hutan ini." jawab Enzi. "Baik, sampai jumpa nona kecil... Suatu kehormatan bagiku bisa berkenalan dengan kalian..."


Saat itu juga Enzi langsung lenyap dari pandangan.


"Menghilang? Dia menghilang dalam waktu sekejap? Aku tidak salah lihat bukan?" Ageng Phatra terkejut melihat Enzi yang tiba-tiba saja lenyap di depan matanya.

__ADS_1


"Nona kecil.... Dia memanggilku nona kecil? Huaaaaa!!!! Menyebalkaaaaan!!! Awas saja jika kita bertemu lagi! Aku berjanji akan membuatmu menikahiku!" ungkap Anindita sambil meremas kuat potongan kain pakaian milik Enzi.


__ADS_2