
Ageng Phatra dan Anindita menyusul rombongan pedagang dan istri hulubalang yang berhasil diselamatkan, kembali ke wilayah istana kerajaan.
Di rumah Tetua hulubalang.
"Istriku..." Hulubalang tua menyambut kedatangan istrinya. Sang istri menangis dalam pelukan.
"Ayahanda." Anindita yang berdiri di depan sang ayah, datang menghampiri dan memeluk kedua orang tuanya.
"Maafkan ayah.. Maafkan ayah yang tidak berdaya ini..." ucap sang hulubalang.
"Tidak ayah.. ayah tidak perlu meminta maaf kepada kami. Kami sudah merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan ayah lagi." ucap Anindita.
"Pasti itu sangat berat! Ayah berjanji tidak akan membiarkan kalian melalui hari-hari berat itu lagi." ucap sang hulubalang penuh penyesalan.
Di tepi tiang kayu Dhatri berdiri. Menyaksikan ayah, ibu, dan adik bungsunya yang telah dipersatukan kembali.
"Wahai Ageng Phatra sahabatku, terima kasih telah menyelamatkan ibu dan adikku." ucap Dhatri kepada Ageng Phatra yang berdiri di samping kanannya.
"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya melakukan hal kecil. Orang yang paling berjasa dalam menyelamatkan ibu dan adikmu bukanlah aku. Melainkan seorang pendekar berilmu tinggi." ungkap Ageng Phatra..
"Pendekar berilmu tinggi? Siapakah gerangan?" tanya Dhatri penasaran.
"Seorang pengembara yang kebetulan melintasi hutan." jawab Ageng Phatra.
...............
Kabar tentang seorang pendekar tangguh bertopeng yang telah menyelamatkan keluarga hulubalang tangguh kerajaan, telah tersebar luas di penjuru kota.
Sang hulubalang, memberikan misi khusus kepada pasukannya, untuk mencari tahu tentang siapa sosok pendekar tangguh bertopeng yang menyelamatkan istri dan putri bungsunya itu. Dia telah menyiapkan hadiah yang besar untuknya, dan berniat untuk menikahkan putrinya dengan pendekar tangguh itu.
Mendengar kabar itu, tidak sedikit pendekar yang mengaku sebagai pendekar tangguh bertopeng. Untuk membuktikan kebenaran itu, sang hulubalang menguji kemampuan para pendekar yang mengaku sebagai pendekar tangguh bertopeng, dengan ujian bertarung melawan sepuluh pasukan elitenya secara bersamaan. Dengan syarat, seorang pendekar yang mengaku sebagai pendekar tangguh bertopeng itu harus mampu mengalahkan sepuluh pasukan elitenya hanya dalam hitungan sepuluh detik saja.
__ADS_1
Akibat dari persyaratan yang sangat berat itu, tidak sedikit pendekar yang mengaku sebagai pendekar tangguh bertopeng merasa malu dan mundur dari ujian kemampuan bertarung yang diberikan oleh sang hulubalang.
Ujian berat yang diberikan oleh sang hulubalang pun menjadi topik hangat yang diperbincangkan oleh para pendekar dan seluruh penduduk kota Rajatapura.
"Mengalahkan sepuluh pasukan elite hanya dalam waktu sepuluh detik? Yang benar saja? Itu sangatlah mustahil! Mana mungkin ada pendekar yang seperti itu?" gumam seorang pendekar dengan goresan luka di tangan kanan.
"Ya, kau benar! Itu tidak mungkin! Tampaknya hulubalang tua itu tidak berniat menikahkan putrinya dengan sang pahlawan." kata seorang pendekar yang kehilangan mata kirinya.
"Benar! Jika dia memang berniat, seharusnya dia langsung membawa pendekar itu ke hadapannya, dan langsung menikahkan dia dengan putrinya tanpa harus membuat persyaratan yang tidak masuk akal itu!" kata salah seorang warga yang ikut berkumpul bersama para pendekar.
"Tch! Hulubalang macam apa dia! Tidak berani turun tangan, membuat sayembara dengan memanfaatkan kecantikan putrinya sendiri. Setelah istri dan putri kecilnya berhasil diselamatkan? Lihatlah apa yang terjadi...? Dia hanya berpura-pura mencari pendekar tangguh dengan mengadakan ujian yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh seseorang! Bahkan seorang pendekar terkuat yang melegenda seperti pendekar harimau pun, tidak akan mungkin mampu melakukannya!" gumam pendekar celurit.
"Ya! Benar! Aku rasa itu hanyalah akal bulusnya saja!" kata seorang pendekar berkepala botak dengan goresan luka di wajahnya.
......Sementara itu, di lembah serigala.
"Kalian tahu? Sekarang Ghiwa sudah mampu mengalahkan beruang-beruang gunung itu seorang diri. Hahahaha..." kata Grayscale dengan penuh semangat.
"Sampai sekarang aku tidak menyangka, Ghiwa kecil yang lemah, kini sudah menjadi serigala terkuat di Keluarga kita! Hahahaha..." kata Whitefang, Serigala berbulu putih yang disegani di lembah serigala.
"Aku lapar, bisakah kalian menyediakan makanan untukku?" Kaisar Quelle mengusap-usap perut yang sudah berdemontrasi meminta makanan.
"Tentu tuan, aku akan menyediakan makanan yang lezat untukmu." ucap Grayscale.
Grayscale meminta pasukannya untuk menangkap beberapa ekor rusa dari gunung.
Dengan tubuh yang telah berevolusi, menangkap beberapa ekor rusa di gunung bukanlah hal yang sulit dilakukan, dan memakan waktu lama, hanya diperlukan waktu kurang dari sepuluh menit bagi mereka untuk dapat menangkap beberapa ekor rusa dan membawanya ke lembah serigala.
Di lembah serigala...
"Makanan telah kami sediakan tuan..." Grayscale beserta anak buahnya membawakan beberapa ekor rusa ke hadapan Kaisar Quelle.
__ADS_1
"Aku akan mengambil empat potong kakinya saja. Untuk selebihnya, bisa kalian konsumsi bersama-sama." kata Kaisar Quelle sambil memotong empat kaki rusa.
Kaisar Quelle mengeluarkan energi api dari telapak tangan, energi api dengan suhu panas yang kecil. Dengan api yang ada di telapak tangannya itu, Kaisar Quelle membakar potongan kaki rusa dan memakannya dengan lahap.
Seluruh serigala turut menikmati santapan daging rusa dengan lahap, hingga hanya menyisakan tulang belulangnya saja.
Melihat tulang belulang yang berserakan, terlintas suatu ide di benak Kaisar Quelle untuk membuat topeng.
"Dewa, engkau ingin apakan tulang belulang itu?" tanya Enzi penasaran.
"Aku ingin membuatkan topeng untukmu. Dengan topeng ini, engkau tidak perlu lagi khawatir dengan identitasmu. Engkau bisa membawa topeng yang aku buat ini, ke mana pun kakimu melangkah.
Enzi bertanya lagi "Kalau kulit-kulit itu?"
"Aku akan menjadikan kulit-kulit ini sebagai bahan pakaianmu untuk sementara waktu. Karena aku harus melepaskan dan membuang pakaian yang engkau kenakan sekarang ini ke dalam gia." jawab Kaisar Quelle.
Enzi terkejut mendengarnya. "Ke..kenapa engkau ingin membuangnya? Pakaian yang aku kenakan ini kan harganya sangat mahal..."
"Lihatlah tanda robekan pada pakaian ini!" Kaisar Quelle menunjukkan bekas robekan pakaian yang disebabkan oleh hasil petarungannya dengan bandit. "Seseorang telah mengambil potongan kain pakaianmu yang robek, dan mencari tahu tentangmu melalui potongan kain itu! Jika engkau masih menggunakan pakaian ini, maka jati dirimu bisa terbongkar." jawab Kaisar Quelle.
"Apa!?" Enzi terkejut mendengarnya. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.
"Tidak perlu terkejut seperti itu!" kata Kaisar Quelle.
"Dewa, engkau sedang bercandakan? Hehehe.." Enzi mulai panik.
"Tidak, aku tidak bercanda." jawab Kaisar Quelle dengan sikap tenangnya.
"Dewa, kenapa dia sampai begitu niatnya mencariku? Apakah aku melakukan kesalahan padanya? Apakah ada ucapanku yang dirasa kurang sopan padanya? Bagaimana jika dia menemukanku dan menangapku karena kesalahan yang tidak aku sadari itu dewa? Jika aku sampai tertangkap, bagaimana nasib keluargaku di rumah? Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana ini dewa?" ungkap Enzi dengan penuh rasa cemas.
"Oy oy, engkau ini bicara apa? Dia mencarimu karena engkau telah menyelamatkan nyawanya. Dia beserta keluarganya ingin berterima kasih padamu. Jika engkau ingin menemui mereka, sebagai bentuk rasa menghargai keinginan mereka yang ingin bertemu dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepadamu, engkau bisa menemui mereka dengan pakaian khusus yang hanya engkau gunakan saat menyembunyikan identitasmu." terang Kaisar Quelle.
__ADS_1
"Oh, begitu rupanya... Baiklah, kalau begitu aku akan mengenakan pakaianku yang robek itu sebagai baju tempur saja. Namun sebelum itu, aku harus memperbaiki bagian kain yang robek itu terlebih dahulu." kata Enzi sambil tersenyum lega.
"Ya, kau benar. untuk sementara waktu juga, engkau harus mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit rusa ini selama melakukan perburuan di gunung Pulosari!" kata Kaisar sambil menunjukkan kulit rusa di tangan kanannya.