Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 45: Guru dan Murid


__ADS_3

Rumah kediaman keluarga Denok.


Dukuh Pulosari.


"Perkenalkan, nama hamba Darmawan. Hamba adalah putra bungsu dari keluarga Sarkesh, keluarga saudagar dari Dukuh Pulosari."


Seorang pemuda dengan perawakan tinggi berkulit sawo matang, berkumis tebal, dan berambut keriting datang menemui keluarga Denok.


"Tidak perlu terlalu formal nak, kami tahu tentangmu. Engkau adalah putra saudagar di dukuh ini. Hahaha...." kata ayahnya Denok.


"Suamiku benar, keluarga mana yang tidak mengenalimu nak.." sambung ibunya Denok.


Denok tersenyum menatap Darmawan yang tengah berdiri di hadapan sang ayah.


"Silakan duduk nak!" Ayahnya Denok mempersilakan Darmawan untuk duduk.


"Terima kasih paman." ucap Darmawan, dan ia pun duduk di kursi bambu.


"Silakan, sampaikan kepadaku, apa tujuanmu kemari nak? Apakah ayahmu mengutusmu untuk mengajak orang tua ini menjalin kerja sama perdagangan?" ayahnya Denok mengajukan pertanyaan dengan penuh semangat.


"Bukan, bukan itu paman..." jawab Darmawan.


Ayahnya Denok tampak sedikit kecewa mendengarnya. Tanpa menunjukkan rasa kecewa ia bertanya "Lantas, apa maksud dan tujuanmu kemari nak?"


"Jadi begini paman, maksud dan tujuan datang kemari itu... Untuk menyampaikan perasaan saya kepada putri paman, Denok. Saya menyukai Denok paman!" jawab Darmawan.


"Oh hohoho... Ternyata begitu, hohoho... Baiklah, baiklah nak! Paman mengizinkanmu untuk menjalin hubungan dengan Denok. Tapi semua itu tergantung dari Denok, apakah dia bersedia menjalin hubungan denganmu atau tidak?" ayahnya Denok memberikan respon yang positif terhadap keinginan Darmawan untuk menjalin hubungan dengan putrinya, Denok.


Denok berlari dan bersembunyi di kamar tidurnya. Ia merasa terkejut dan belum siap dengan perasaan Darmawan terhadapnya.


"Terima kasih paman.." ucap Darmawan.


"Hohoho tidak perlu sungkan..." kata ayahnya Denok.


........................


Sementara itu di lembah serigala.


"Lin, mulai hari ini engkau bisa tinggal di sini. Engkau bisa berubah wujud kembali menjadi rubah, dan bermain bersama serigala-serigala betina di lembah ini!" kata Kaisar Quelle sambil memegang pundak Naisha Lin.

__ADS_1


"Lin ingin tinggal bersama guru..." Naisha Lin memasang wajah imut, berusaha merayu hati sang guru.


Kaisar Quelle berpikir sejenak, mempertimbangkan keputusan yang akan diambil. "Bagaimana menurutmu apakah muridku bisa tinggal bersama di rumahmu?" tanya Kaisar Quelle pada Enzi.


"Eh? Tinggal bersama di rumahku?" Enzi pun terkejut, dan ia langsung membayangkan suasana rumah ketika ia tinggal bersama dengan gadis yang sangat cantik. Wajah Enzi pun memerah dan ia berkata "Jangan guru! Jangan! Itu tidak baik, dan melanggar norma masyarakat! Terlebih lagi, aku akan menikah dengan perempuan pilihan ibuku..." jawab Enzi tegas.


"Ah, begitu ya?" Kaisar Quelle menghela nafas. "Hufffft, apa yang disebut dengan norma ini memang selalu merepotkan. Ya, walau tujuan sebenarnya baik..."


Kaisar Quelle menolehkan pandangan, menatap kedua mata Naisha Lin dalam-dalam.


"Maaf Lin, untuk sementara ini tidak bisa. Jika aku membawamu bersamaku, penduduk kota akan memerangi kita." ucap Kaisar Quelle kepada Naisha Lin.


Kemudian dengan polosnya Naisha Lin bertanya, "Kenapa mereka memerangi kita guru? Apakah guru telah berbuat salah kepada mereka? Atau... Apakah guru belum membayar hutang kepada mereka?"


"Bicara apa kau ini anak kecil? Mereka memerangi bukan karena hal itu. Melainkan karena kita memiliki jenis kelamin yang berbeda. Aku laki-laki, dan engkau perempuan. Laki-laki dan perempuan yang belum menikah, tidak boleh tinggal di bawah atap yang sama." terang Kaisar Quelle.


"Begitu ya?" Naisha Lin tertunduk lesu. Namun beberapa saat kemudian dia tampak bersemangat lagi dengan kedua mata yang berbinar-binar ia berkata "Lin ada ide!" ucap Lin sambil mengacungkan jari terlunjuk.


"Hum?" Kaisar Quelle mencoba membaca pikiran Lin, namun ia tidak melihat atau mendengar apa-apa dari pikiran Lin.


"Bagaimana kalau kita menikah saja guru? Dengan begitu, kita bisa hidup bersama selamanya...." usul Naisha Lin dengan penuh semangat.


Naisha Lin tertunduk lemas lagi dan bertanya "Kenapa tidak boleh guru?"


Kaisar Quelle menjawab, "Status guru dan murid, itu sama seperti status orang tua dan anak. Jadi aku adalah ayahmu, dan engkau adalah putriku. Apakah engkau sudah mengerti?"


"Hu um, Lin mengerti..." jawab Lin menganggukkan kepala dan tertunduk lesu.


Kaisar Quelle menggenggam erat kedua pipi Naisha Lin. "Lin tidak perlu khawatir, selama sepekan, guru akan berkunjung ke sini dan mengajakmu jalan-jalan berkeliling kota."


"Guru berjanji?" tanya Lin sambil menunjukkan jari kelingking.


Kaisar Quelle mempertemukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Naisha Lin. Kedua jari kelingking mereka saling mengikat erat, mengikat suatu janji yang harus ditepati. "Tentu. Guru berjanji padamu Lin! Walau apapun yang terjadi, guru akan datang mengunjungimu di sini."


Naisha Lin tersenyum simpul, ia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya atas janji yang dibuat oleh sang guru, Kaisar Quelle.


"Guru ada urusan penting lain yang harus guru selesaikan di rumah. Jaga dirimu baik-baik Lin, tidak perlu sungkan untuk bermain dengan serigala-serigala itu! Sampai bertemu lagi!" Kaisar Quelle undur diri dari hadapan Naisha Lin.


"Hu um" jawab Lin menganggukkan kepala. Ia terus menatap sang guru yang perlahan lenyap dari pandangannya.

__ADS_1


"Lin, kemarilah! Mari bergabung bersama kami! Kami punya daging yang lezat untukmu!" Ghiwa dengan wujud manusia, memanggil Naisha Lin dan mengundangnya menyantap daging kancil bakar.


Aroma daging kancil bakar yang harum, menggiurkan lidah Naisha Lin.


"Lin Mauuuu!" teriak Lin sambil berlari ke arah Ghiwa dan para serigala lainnya.


Ghiwa dan para serigala lainnya memperlakukan Naisha Lin sebagai keluarga.


Naisha Lin tampak bahagia menjadi bagian dari keluarga lembah serigala.


...............


Enzi mengambil alih kendali raga. Ia melangkah cepat melintasi hutan. Kali ini ia melintas di bawah pohon yang rindang. Melintas melalui jalur yang biasa digunakan oleh para pedagang.


Di jalan yang ia lalui itu, ia merasakan keberadaan pedagang yang diam tidak bergerak di satu titik. Ia merasakan suatu hal yang tidak beres di sana.


Enzi mempercepat gerak langkah kaki, hingga pada akhirnya ia tiba di lokasi.


Seorang pedagang setengah berbaring, dengan tubuh bersandar di bawah pohon. Tangan kirinya terpotong, dengan kondisi saluran luka yang ditutupi dengan kain yang dililit dan diikat kuat.


Enzi memakai topeng dan baju pendekar, lalu berjalan perlahan menghampiri pedagang itu. Ia menolehkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Menatap seluruh area, namun ia tidak tidak melihat akan adanya barang dagangan milik sang pedagang.


Apa yang Enzi lihat hanyalah seorang pedagang yang mengalami luka bacokan.


"Dewa, tampaknya aku memerlukan bantuanmu untuk mengobati pedagang yang malang ini." ucap Enzi kepada Kaisar Quelle.


"Buka tangan kananmu! Aku akan memberikan obat pemulih untuk orang yang malang itu!" perintah Kaisar Quelle.


Enzi membuka tangan, cahaya berwarna mint muncul di telapak tangan Enzi.


"Masukkan bola cahaya itu ke dalam mulutnya!" perintah Kaisar Quelle.


"Baik." jawab Enzi.


Enzi memasukkan cahaya berwarna mint itu ke dalam mulut pedagang.


Seluruh luka bacokan yang terdapat pada tubuh pedagang itu pun pulih seketika. Kini tidak ada tanda-tanda adanya bekas luka bacokan pada tubuhnya. Hanya kondisi tangannya sajalah yang masih terpotong, dengan luka yang telah menutup.


Sang pedagang membuka mata, dan terkejut melihat wajah bertopeng Enzi yang berada tepat di depan kedua matanya.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaa!!!!"


__ADS_2