
"Hooo, lihatlah siapa datang? Seorang pendekar bertopeng yang mengantarkan nyawanya kepada kita." ucap seorang pendekar bertubuh kekar yang berdiri bersandar di dinding goa.
Gerombolan bandit tertawa, "Hahahahaha.."
Enzi mengabaikan pendekar itu untuk sementara waktu. Kedua sorot matanya berfokus pada seorang wanita dengan tubuh penuh luka yang terus menatap diri Enzi dengan tatapan matanya yang sayu.
"Sss...se..selamatkan putriku." kata wanita itu.
Enzi pun menjawab, "Aku akan menyelamatkan kalian dari sini! Namun sebelum itu.." Enzi menoleh ke arah ketua bandit yang memberi kode kepada pasukan bandit untuk menyerang.
Pasukan-pasukan bandit mulai melakukan penyerangan.
Di ruang goa yang sempit, mereka mengayunkan parang.
"Heyaaaa!"
Enzi berhasil menghindari serangan.
"Tampaknya, bandit-bandit ini sedikit lebih kuat dibanding dengan bandit-bandit yang aku hadapi sebelumnya di luar sana!" ucap Enzi.
Serangan demi serangan dilayangkan ke arah Enzi.
Enzi terus berupaya menghindari serangan.
Srettt!!!
Serangan salah satu bandit berhasil merobek pakaian Enzi.
"Apakah aku perlu mengerahkan kekuatan tenaga dalamku untuk saat-saat seperti ini?" pikir Enzi.
"Tidak perlu." jawab Kaisar Quelle. "cukup gunakan teknik berpedangmu seperti biasa." sambungnya.
"Eh?" Enzi terkejut mendengar saran dari Kaisar Quelle. "Tapi dewa.. Mereka ini sangat kuat! Aku tidak yakin jika aku mampu mengalahkan mereka jika aku tidak mengerahkan tenaga dalam!"
Kaisar Quelle memberi arahan, "Uji kekuatan fisikmu melalui teknik berpedangmu!"
"Eh? Kekuatan fisik?"Enzi berusaha mencerna tentang maksud dari ucapan Kaisar Quelle. Selang beberapa saat kemudian ia memahami dengan apa yang dimaksudkan oleh Kaisar Quelle tersebut. "Oh, baiklah!" Enzi mengayunkan golok dengan sekuat tenaga.
Whoosshh!
__ADS_1
Golok yang diayunkan Enzi menghasilkan tekanan kekuatan yang luar biasa.
Segerombolan bandit mampu ditekan mundur, dan sulit bagi mereka untuk membalas serangan.
"Kekuatan pendekar ini! Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?" pikir Pendekar tangan besi.
Pendekar tangan besi melangkah maju, menyuruh pasukannya untuk menyingkir dari hadapannya.
"Kalian semua bukanlah tandingannya! Menyingkirlah! Biar aku yang menghadapinya!"
Para gerombolan bandit bergerak mundur memberi ruang kepada pendekar tangan besi untuk bertarung melawan Enzi.
"!!!!?" Enzi merasakan tenaga dalam yang cukup kuat dari tubuh pendekar tangan besi.
"Dewa, tampaknya ketua bandit itu sangat kuat. Aku rasa, aku tidak mampu mengalahkannya jika aku menggunakan teknik pedang biasa tanpa adanya tenaga dalam." kata Enzi.
"Baiklah, kalau begitu kau bisa gunakan tenaga dalammu sedikit saja." saran Kaisar Quelle.
"Baik! Aku akan mengikuti saranmu." jawab Enzi.
Kaisar Quelle memberi syarat, "Engkau boleh menggunakan teknik tenaga dalammu, tapi engkau tidak boleh menggunakan teknik-teknik pedang yang aku ajarkan padamu! Engkau hanya diperboleh menggunakan teknik berpedang yang aku ajarkan kepadamu, jika engkau bertemu dengan musuh yang benar-benar sangat sulit untuk engkau hadapi!"
"Gunakan teknik bertarung yang dimiliki oleh pendekar yang menjadi lawanmu!" jawab Kaisar Quelle.
"Apa? Apakah itu mungkin? Bagaimana caranya aku menggunakan teknik lawan bertarungku jika aku belum pernah mempelajari teknik itu? Bahkan, aku belum pernah melihatnya sama sekali dewa..." keluh Enzi sambil menghindari serangan demi serangan yang dilayangkan oleh pendekar tangan besi.
Kaisar Quelle menjawab, "Perhatikanlah gerakan demi gerakan yang dilayangkan pendekar itu kepadamu! Ingatlah baik-baik setiap gerakannya, dan ikutilah setiap gerakannya pada langkah selanjutnya! Ah~ aku rasa, akan lebih menarik lagi jika engkau mengikuti gerakannya setelah dia mengeluarkan semua jurus-jurusnya!"
Enzi mengikuti petunjuk yang Kaisar Quelle berikan padanya.
Ia membuang golok yang ada di genggaman tangan, mengamati dan mempelajari secara seksama gerakan tinju pendekar tangan besi yang di arahkan padanya.
"Apakah engkau hanya mampu menghindari seranganku? Apakah memang hanya seperti itu kemampuanmu? Hahahaha.." Pendekar tangan besi merasa di atas angin, dirinya merasa sangat percaya diri, hingga berani mengolok Enzi yang hanya mampu menghindari serangannya tanpa ada serangan balasan darinya.
"Aku akui, bahwa engkau memiliki jurus yang cukup tangguh. Satu pukulan darimu, sudah cukup untuk menghancurkan bebatuan. Bahkan, engkau bisa menangkis serangan senjata tajam yang mengarah kepadamu. Meski begitu, aku merasa tidak yakin, jika engkau mampu mengalahkanku dengan semua jurus yang engkau miliki!" Enzi memancing pendekar tangan besi untuk mengeluarkan semua teknik pukulan yang dimiliki.
"Omong kosong! Sejak tadi engkau hanya mampu menghindari seranganku! Hanya butuh waktu saja bagiku untuk membuatmu bertekuk lutut di hadapanku!" ucap pendekar tangan besi dengan penuh percaya diri.
Sementara itu, di depan mulut goa...
__ADS_1
"P...pp..pem..bantaian.. ini pembantaian! Pembantaian massal tanpa belas kasihan! Seluruh bandit binasa dalam kondisi yang mengenaskan! Dan... Semuanya itu dilakukan olehnya hanya seorang diri? Tidak... Tentu saja aku tidak mempercayainya jika aku tidak melihat dengan kedua mataku sendiri! Semua ini nyata! Ini gila! Ini suatu hal gila yang belum penah aku lihat sebelumnya seumur hidupku." Tubuh Ageng Phatra bergemetar, melihat tumpukan mayat bandit yang bergelimpangan di sepanjang jalan menuju goa.
"Tuan.. di depan sana ada goa. Sepertinya para sandera dikurung di dalam sana!" kata salah seorang pasukan.
"Ayo kita ke sana!" perintah Ageng Phatra dengan wajah berkeringat.
Sesampainya di dalam goa, ia melihat pertempuran yang terjadi antara Enzi dengan pendekar tangan besi.
"Apakah engkau sudah mengerahkan semua kemampuanmu?" tanya Enzi sambil tersenyum picik.
"Tch! Jangan sombong dulu kau tikus hutan!" geram pendekar tangan besi yang telah tersulut emosi.
"Dari pola seranganmu, tampaknya engkau telah kehabisan jurus." kata Enzi. "Aku ada ide yang menarik untukmu. Dengan menggunakan jurus yang sama denganmu, bagaimana jika kita adu kelihaian? Siapa diantara kita yang lebih mahir menggunakan jurus-jurus itu?"
"Berhentilah beromong kosong bajingaaan!!!" pendekar tangan besi melayangkan pukulannya dengan keras ke arah Enzi.
Enzi dengan mudah menghindari serangan.
Blarr!!
Pukulan yang dilayangkan pendekar tangan besi menghancurkan stalaktit yang ada di sekitar.
"Sekarang, aku akan membuatmu merasakan pukulan dari jurus-jurusmu sendiri." kata Enzi dengan penuh percaya diri.
Enzi membalas serangan pendekar tangan besi, dengan menggunakan teknik gerakan pukulan tangan besi.
"Apa? Pendekar itu menggunakan jurus yang sama dengan jurus yang dimiliki oleh pendekar besi? Tidak hanya itu, dia juga sangat lihat menggunakannya? Gila! Ini sulit dipercaya!" Ageng Phatra semakin terkesima dengan kemampuan bertarung yang dimiliki oleh Enzi.
"Tuan, sebaiknya kita jalankan misi kita terlebih dahulu." seorang prajurit mengingatkan Ageng Phatra akan tujuannya.
"Baik! Sekarang mari kita bebaskan keluarga hulubalang tua itu beserta lainnya!" ujar Ageng Phatra dengan penuh semangat. "Sebelum itu, mari kita basmi bandit-bandit itu!" sambungnya sambil menunjukkan senjatanya ke arah gerombolan bandit yang tersisa.
Gerombolan bandit sudah bersiaga, menyambut serangan yang datang tiba-tiba.
"Seraaaang!!!!" teriak Ageng Phatra dalam memimpin pasukannya menyerang para bandit.
Unggul dalam jumlah pasukan, membuat Ageng Phatra berhasil menumbangkan gerombolan bandit yang tersisa.
"Cepat! Lepaskan tali-tali ini!" perintah Ageng Phatra "Berikan juga mereka minuman! Karena kondisi mereka yang lemah, tolong bantu mereka minum!" sambungnya.
__ADS_1
"Baik tuan!"