Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 19: Aku Bersedia


__ADS_3

Enzi bertanya-tanya, "Di mana ini?


Tempat apa ini?


Kenapa di sini sangat gelap?


Siapa orang itu?"


Sementara itu apa yang dipikirkan oleh Kaisar Quelle...


"Aku tidak menyangka, bahwa anak ini masih hidup! Aku sudah terlanjur menyarangkan crystal energiku ke dalam tubuh ini. Jika aku melepaskan jiwaku dari tubuh ini, maka tubuh ini akan hancur sebelum energi yang aku sarangkan di tubuh ini, berhasil aku serap kembali sepenuhnya. Jika hal itu terjadi, maka tidak sedikit kekuatanku yang hilang. Mau tidak mau, aku harus meyakinkan anak ini agar bersedia berbagi raga denganku. Namun sebelum itu..."


Kaisar Quelle secara tidak sengaja membaca pikiran Enzi. Dengan sigap Kaisar Quelle menjawab, "Saat ini kita berada di ruang jiwa yang ada di dalam ragamu. Namaku adalah Quelle, Kaisar Dewa dari dunia yang berada jauh di luar bumi."


Enzi merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kaisar Quelle.


"Di.. di dalam ragaku? Kaisar Dewa?"


Enzi belum mengerti apa itu Dewa. Kosakata itu masih terdengar asing baginya.


"Ya, di dalam ragamu. Bisa dikatakan, jiwaku dan jiwamu berada di raga yang sama. Jadi, jiwaku saat ini berada di dalam ragamu."


Enzi berusaha mencerna kata-kata yang dikatakan oleh Kaisar Quelle.


"Jadi, maksudmu itu.... Jiwamu saat ini tengah merasuki tubuhku. Dengan kata lain, engkau adalah penunggu hutan ini yang merasuki tubuhku di saat aku tidak sadarkan diri. Bukankah begitu?"


"Penunggu hutan? Aku bukanlah penunggu hutan ini. Aku adalah Kaisar Dewa yang turun dari langit!"


"Aku tidak tahu apa yang engkau maksud dengan Kaisar Dewa. Aku baru mendengar sebutan itu. Namun dari ucapanmu dan pakaianmu, aku sudah mulai mengerti bahwa engkau adalah makhluk halusĀ  dari Kerajaan lain yang tengah merasuki tubuhku."


Kaisar Quelle menyadari bahwa istilah dewa belum sampai ke telinga Enzi. Kalaupun dirinya menjelaskan, Enzi tetap tidak mengerti dengan apa yang Kaisar Quelle ucapkan.


"Aku bukanlah sosok makhluk yang engkau pikirkan. Engkau akan mengerti tentang siapa diriku seiring dengan berjalannya waktu. Karena mulai saat ini, engkau akan berbagai raga denganku."


"Apa?! Apa katamu? Aku berbagai raga denganmu? Kenapa aku harus mengikuti kata-katamu? Ini ragaku! Kenapa aku harus berbagi raga denganmu? Aku tidak mau! Cepat! Keluarlah dari ragaku! Aku tidak ingin berbagi raga denganmu!"


"Jika aku keluar dari ragamu, maka tubuhmu akan hancur!"


"Omong kosong! Aku tidak percaya!"

__ADS_1


"Jika engkau tidak percaya, coba engkau lihatlah sendiri kondisi tubuhmu! Lihat, segala luka yang ada pada tubuhmu! Semua lukamu, telah pulih sepenuhnya." Kaisar Quelle mengembalikan kendali raga kepada Enzi untuk sementara waktu guna menunjukkan kepadanya tentang bagaimana kondisi raganya saat ini.


Enzi melihat kondisi tubuhnya. Ia terkejut saat melihat dengan kedua matanya sendiri mengenai apa yang terjadi pada tubuhnya. Tidak ada bekas luka di sekujur tubuh, bahkan robekan luka pada perut yang begitu menyakitkan telah pulih sepenuhnya, seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


Kaisar Quelle mengambil alih raga Enzi lagi, dan ia bertanya pada jiwa Enzi, "Bagaimana? Apakah engkau sudah percaya dengan ucapanku?"


Melihat apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya, Enzi semakin bingung. "Bagaimana? Bagaimana mungkin itu terjadi? Luka yang ada pada tubuhku, termasuk luka yang sangat berat dan mustahil untuk disembuhkan. Akan tetapi, bagaimana mungkin hanya dalam waktu singkat...?"


Mendengar ucapan yang keluar dari lisan Enzi, Kaisar Quelle berpikir untuk memberikan tawaran yang menarik kepada Enzi.


"Apa yang engkau pikirkan tentang seseorang yang bisa terlihar awet muda, tidak termakan oleh usia, dan dapat hidup abadi?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kaisar Quelle kepadanya, membuat diri Enzi tertawa.


"Aku belum pernah memikirkan hal itu. Jika aku bayangkan, tentu suatu hal yang menakjubkan. Namun tidak mungkin, suatu hal yang seperti itu ada di muka bumi ini."


"Bagaimana jika hal itu terjadi padamu?"


"Tentu hal itu sangat menarik. Akan tetapi, aku rasa itu hal yang tidak mungkin."


"Tidak ada yang tidak mungkin. Jika aku tetap berada di dalam ragamu, maka engkau akan awet muda dan dapat hidup abadi. Jika aku keluar dari ragamu, maka tubuhmu akan hancur dan engkau akan mati saat itu juga. Semua tergantung pada pilihanmu."


Untuk membuktikan ucapannya, Kaisar Quelle mengembalikan kendali raga kepada Enzi.


"Sekarang coba kau perhatikan tangan kananmu!"


Enzi melihat kondisi tangan kanannya. Dia menggerak-gerakkannya, dan semua tampak baik-baik saja.


Kaisar Quelle menyerap secuil energi yang ada pada tangan Enzi ke dalam crystal energi kehidupan.


Tangan kanan Enzi mengering seketika, menyisakan tulang, dan tidak bisa digerakkan.


"Tidak! Tidak! Apa yang terjadi pada tanganku?" Enzi panik ketakutan.


"Itulah gambaran kecil dari apa yang terjadi jika aku keluar dari ragamu. Apakah engkau masih menginginkan hal itu?"


Tanpa berpikir panjang Enzi menjawab, "Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau hal itu terjadi! Ada banyak hal yang harus aku urus di dunia ini! Aku harus mengurus ibu dan adikku yang masih kecil!! Tolong biarkan aku hidup! Ku mohon...."


Kaisar Quelle menyalurkan kembali secuil energi kehidupan ke tangan kanan Enzi.

__ADS_1


Tangan kanan Enzi tampak kembali normal seutuhnya.


"Aku percaya padamu! Aku percaya padamu! Aku bersedia berbagi raga denganmu!"


Sejak malam itu, Kaisar Quelle dan Enzi berbagi raga bersama.


"Enzi, aku ingin melihat suasana di planet ini secara langsung. Jadi aku akan mengambil ragamu untuk sementara waktu. Aku akan mengembalikan kendali raga ini kepadamu ketika engkau hendak bertemu dengan keluargamu, dan ketika engkau sedang ada keperluan penting yang engkau miliki secara pribadi. Omong-omong, apakah engkau keberatan akan hal itu?"


Dengan sigap Enzi menjawab, "Tidak, tentu saja aku tidak keberatan. Silakan engkau gunakan raga ini Tuan..."


"Baiklah, sebelum itu..." Kaisar Quelle menoleh ke arah tubuh ayah kandung Enzi yang terbujur kaku dan tidak lagi bernyawa. "Aku akan mengawetkan tubuh ayahmu agar ia tidak membusuk di tengah perjalanan. Setelah aku mengawetkannya, aku akan membantumu membawa tubuh ayahmu ke kampung halamanmu, dan memakamkan beliau di sana."


"Terima kasih Tuan, terima kasih atas kebesaran hati Tuan yang telah bersedia membantuku. Maafkan aku yang telah bersikap tidak sopan kepada Tuan sebelumnya."


"Tidak perlu dipikirkan. Itu hal yang wajar terjadi, saat seseorang baru saja bertemu untuk pertama kali." ucap Kaisar Quelle dengan bijaksana. "omong-omong, engkau tidak perlu memanggilku dengan panggilan Tuan. Cukup panggil saja aku Quelle."


"Baik Tuan.. Maaf, maksudku baik Quelle."


Kaisar Quelle tersenyum dan ia melangkah maju ke tempat mayat ayah kandung Enzi yang terbaring kaku.


Tik!


Kaisar Quelle mengetuk kening ayah kandung Enzi, memasukkan sedikit energi yang mampu mengawetkan tubuh mayat.


Kaisar Quelle melirikkan pandangannya ke arah Raju yang masih bersandar lemas di tepi pohon.


Hanya dengan sentilan jari, ia menembakkan energi penyembuh dalam bentuk bola yang berukuran kecil dan berwarna hijau bercahaya ke dalam tubuh Raju.


Tubuh Raju pulih seketika. Raju terkejut dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.


"Engkau yang ada di sana! Tolong bantu aku membuatkan kereta untuk mengangkut seluruh barang berharga yang ada di sini!" Perintah Kaisar Quelle.


"Kereta?" Raju tidak mengerti dengan apa yang Kaisar Quelle ucapkan.


"Ya, kereta. Tolong buat dua kereta. Kereta untuk mengangkut barang-barang yang ada di sini, dan satu kereta untuk mengangkut tubuh mayat ini."


Raju hanya diam tanpa memberikan jawaban. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang Kaisar Quelle ucapkan.


"Aku rasa, engkau tidak mengerti dengan maksud ucapanku! Kalau begitu, tolong engkau kumpulkan seluruh barang-barang yang ada di sini! Biar aku saja yang membuat kereta untuk mengangkut mereka."

__ADS_1


"Ba..baik..."


__ADS_2