
Kabut pagi yang tebal menyelimuti hutan pegunungan. Tebalnya kabut pagi, menutupi goa yang terdapat di bawah kaki pegunungan.
Di dalam goa, Enzi duduk bersila di atas batu yang berukuran cukup besar. Di atas batu itu, Enzi belajar memahami tentang teknik ilmu tenaga dalam.
Mengatur nafas secara harmoni dan seimbang, berpikir tenang, lupakan masalah dunia, rasakan energi yang mengalir di dalam tubuh, dan rasakan kekuatan alam yang ada di sekitar. Itulah konsep dasar tentang teknik ilmu tenaga dalam yang Enzi pelajari. Meskipun sederhana, namun sulit bagi Enzi untuk menerapkannya.
"Pengaturan nafasmu sudah cukup baik. Namun yang perlu engkau perhatikan pertama adalah berpikir tenang. Engkau sudah cukup lama berlatih itu pada saat berada di bawah air terjun. Seharusnya engkau sudah menguasai tahapan yang satu ini!" kritik kaisar Quelle terhadap Enzi.
"........" Enzi hanya mampu terdiam, dirinya tidak berani berkomentar.
"Lupakan seluruh masalahmu untuk sementara waktu. Fokus rasakan energi alam yang ada di sekelilingmu!" perintah Kaisar Quelle secara tegas.
Enzi berusaha berpikir tenang, tanpa memikirkan masalah perdagangan maupun keadaan keluarga.
Seluruh pancaindra berfokus pada keberadaan energi yang berasal dari alam. Energi yang berasal dari makhluk hidup yang ada di bebatuan, tumbuh-tumbuhan, tetesan air yang bersumber dari mulut bagian atas goa, dan segala partikel energi yang ada di udara.
Dibutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan bagi Enzi untuk dapat merasakan keberadaan energi yang berasal dari alam dengan menggunakan seluruh kemampuan pancaindra yang dimilikinya.
"Oh, tampaknya engkau telah berhasil! Bagus! Terus tingkatkan kemampuan pancaindramu! Perluas daya jangkauannya! Perluas dan perluas!" kata Kaisar Quelle.
Sebelum melaksanakan instruksi yang Kaisar Quelle berikan, Enzi mengajukan pertanyaan.
"Guru... Eh, maksudku Dewa.. Aku ingin mengajukan pertanyaan."
"Silakan, sampaikan pertanyaanmu tanpa mengurangi tingkat konsentrasimu."
"Baiklah Dewa." Enzi berusaha untuk memfokuskan konsentrasi agar tetap stabil. Ketika ia sudah merasa bahwa dirinya mampu mengajukan pertanyaan dalam kondisi konsentrasi pikiran yang terus stabil, barulah Enzi menyampaikan pertanyaannya. "Dewa, apabila aku telah berhasil meningkatkan kemampuan pancaindra, apakah ada kemampuan khusus yang bisa aku dapatkan dari hasil peningkatan kemampuan pancaindra ini?"
"Tentu saja ada." jawab Kaisar Quelle singkat. Lalu ia menerangkan "Pancaindra. Indra penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra pengecap atau rasa, dan indra sentuhan. Jika engkau berhasil meningkatkan kemampuan dari pancaindra ini, sudah pasti kemampuan pancaindramu jauh lebih baik dari manusia pada umumnya."
__ADS_1
"Kalau itu.... Secara teorinya aku sudah tahu Dewa, apa yang jadi pertanyaanku itu adalah kemampuan khusus yang bisa aku dapatkan dari hasil latihan ini."
Kaisar Quelle menerangkan lagi, "Ketika engkau sudah berhasil meningkatkan kemampuan pancaindramu, engkau bisa membidik sumber energi alam yang ingin engkau serap ke dalam tubuhmu. Energi alam yang engkau serap ini, akan meningkatkan kekuatan tenaga dalammu. Semakin banyak energi alam yang berhasil engkau serap, maka tingkat kekuatan tenaga dalammu semakin bertambah. Walaupun pertambahannya tidak terlalu signifikan. Selain itu, engkau juga dapat memiliki penglihatan yang sangat tajam. Indra penglihatan yang mampu melihat musuh dari jarak yang sangat jauh maupun gelap. Engkau dapat mencium aroma dengan radius yang sangat jauh dari posisimu berada. Begitupula dengan kemampuan dari indra pendengaranmu. Untuk indra pengecap, kau dapat menetralisir makanan ataupun minuman yang mengandung racun sebelum makanan ataupun minuman itu masuk ke dalam tubuhmu. Sedangkan sentuhan? Engkau dapat merasakan keberadaan seseorang yang sedang bersembunyi dari jarak yang cukup jauh."
Enzi tersenyum bahagia mendengar penjelasan yang disampaikan Kaisar Quelle kepadanya.
"Mengagumkan." ucap Enzi dengan wajah ceria. "Aku jadi semakin bersemangat! Terima kasih Dewa atas ilmu berharga yang engkau berikan. Aku berjanji, akan belajar lebih giat dan tidak mengecewakanmu lagi!"
"Bagus! Terus tingkatkan kekuatanmu dan jadilah manusia terkuat di muka muka bumi ini!"
..............
Waktu terus berjalan, seiring bumi yang terus berputar mengitari matahari. Tujuh musim hujan, dan delapan musim kemarau telah berlalu sejak Enzi belajar menempa ilmu tenaga dalam di dalam goa.
"Haaa...!!!"
Enzi menghempaskan kekuatan tenaga dalam, dengan kedua tangan yang saling membentang.
Tenaga dalam yang Enzi hempaskan, mampu menghancurkan batu stalaktit dan stalagmit goa menjadi serpihan batu kecil berair yang berhamburan di permukaan tanah.
"Kekuatan yang luar biasa!!! Aku akan mengasah dan mengasah lagi, hingga tidak ada satupun pendekar yang mampu mengalahkanku dan menyakiti orang-orang yang aku sayangi!"
Kini Enzi telah tumbuh dewasa, meski wajahnya masih tampak seperti pemuda berusia 20 tahun, namun secara usia, dia sudah berumur 28 tahun.
Banyak hal yang telah berubah pada dirinya. Tubuhnya lebih kekar, dan pikirannya lebih matang.
"Sekarang, coba engkau ambil ranting pohon yang ada di luar sana, dan tebas batu besar yang ada di sebelah sana dengan ranting pohon itu!" perintah Kaisar Quelle.
Batu besar yang ditunjukkan oleh Kaisar Quelle berjarak sekitar 100 meter dari posisi Enzi berada.
__ADS_1
Masih dalam posisi duduk bersila, Enzi menggerakkan kedua jarinya. Jari tengah, dan jari telunjuk. Menerapkan teknik yang diajarkan Kaisar Quelle kepadanya. Mengambil ranting pohon yang paling kecil, tanpa harus melangkahkan kaki. Cukup jadikan udara sebagai perantara untuk mengambilnya.
Ranting pohon yang sangat kecil terangkat dari permukaan tanah. Terbang dengan cepat ke genggaman tangan Enzi yang tengah duduk bersila di dalam goa.
Masih dalam keadaan duduk bersila, Enzi memfokuskan aliran kekuatan tenaga dalam ke bagian tangan dan senjata yang ada dalam genggamannya. Saat aliran kekuatan tenaga dalam di seputar tangan dan senjata yang ada didalam genggaman itu mengalir secara harmoni, Enzi memfokuskan pikiran ke arah batu besar yang akan menjadi target tebasannya.
"Hiyaaaaa!!!"
Enzi mengayunkan ranting pohon secara horizontal. Membiarkan tekanan kekuatan tenaga dalamnya membelah partikel udara yang ada di hadapan Enzi secara horizontal, hingga menembus dan membelah batu besar yang menjadi target tebasannya.
Batu besar terbelah menjadi dua, dengan perpotongan garis lurus horizontal.
"Tidak buruk, selanjutnya coba engkau targetkan pada objek burung yang ada di atas pohon sana!" perintah Kaisar Quelle lagi.
Dengan menggunakan teknik yang sama, Enzi mengayunkan ranting pohon secara horizontal.
Slash!!!!!
Tubuh burung terbelah menjadi dua bagian secara horizontal.
"Sekarang, tunjukan kepadaku akan kecepatan gerakmu!" perintah Kaisar Quelle.
Enzi memusatkan kekuatan tenaga dalam pada bagian kedua kaki dan kedua tangan, kemudian ia bergerak dengan sangat cepat dari dalam mulut goa ke lembah pegunungan. Di lembah pegunungan, ia meninju bebatuan yang berukuran besar. Batu-batu besar itu hancur berkeping-keping, menjadi serpihan batu berukuran kecil.
Duarrr!!!! Duarrrrr!!! Duarrrr!!!!
"Hmmmm.... Tidak buruk, walau gerakanmu masih terlihat sedikit kasar. Engkau perlu meningkatkan lagi beberapa kemampuan gerakanmu, dan konsentrasi pukulanmu, hingga batu-batu yang engkau jadikan target itu hancur menjadi serpihan debu halus!" ujar Kaisar Quelle dalam memberikan bimbingannya kepada Enzi.
"Baik Dewa, terima kasih atas petunjuk yang dewa berikan kepadaku."
__ADS_1
"Sekarang engkau bisa kembali ke kota, dan melanjutkan segala aktivitasmu seperti biasa."
"Baik Dewa, aku akan kembali ke kota, dan akan melanjutkan kembali jalan hidupku sebagai seorang pedagang yang mampu menjaga dan melindungi orang-orang yang aku cintai."