Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter : Kehancuran Kekaisaran Quelle


__ADS_3

Teknik benih ratu bunga beracun, teknik racun bunga yang paling mematikan di langit Gloxinia. Bila benih-benih bunga beracun itu masuk ke dalam tubuh seorang dewa, maka dipastikan tubuh dewa itu akan lumpuh, di sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bunga-bunga beracun, lalu dewa itu mati dalam balutan bunga di sekujur tubuh. Namun apabila seseorang itu telah mencapai tingkat kaisar dewa, maka benih-benih ratu bunga beracun itu hanya melumpuhkan tubuh sang kaisar dewa untuk sementara waktu. Tergantung dari tingkat kekuatan yang dimiliki sang kaisar dewa. Semakin tinggi tingkat kekuatan sang kaisar dewa, maka durasi kelumpuhan yang terjadi akan semakin singkat.


"Membunuh? Apakah engkau sedang bercanda?" tanya Kaisar Quelle tersenyum kecut. Ia merasa sakit hati akan pengkhinatan yang dilakukan oleh seseorang yang begitu sangat ia cintai.


"Tidak, aku tidak bercanda." jawab Permaisuri Ignia.


"Dengan teknik yang lemah ini?" tanya Kaisar Quelle dengan rasa sakit di hati.


"Iya, tentu saja."


"Hahahaha..." Kaisar Quelle tertawa terbahak-bahak. Di balik tertawanya itu, dirinya merasakan rasa sakit yang begitu menyayat hati.


Kesedihan yang begitu mendalam. Itulah hal yang tengah ia rasakan.


"Mungkin kekuatan benih ratu bunga beracunku hanya melumpuhkan tubuhmu untuk sementara waktu saja. Tapi..... Apakah engkau menyadari apa yang terjadi selanjutnya?"


"........" Kaisar Quelle hanya diam dan memikirkan siasat busuk apa yang sedang direncanakan oleh Permaisuri Ignia kepadanya.


Tanpa berbasa-basi, Permaisuri Ignia bergerak melesat dengan cepat, melayangkan serangan telapak tangan ke arah dada Kaisar Quelle.


Kaisar Quelle menghindari serangan, tanpa mampu mengendalikan organ tubuhnya yang mulai terasa lumpuh.


Permaisuri Ignia terus menyerang dan menyerang, sementara Kaisar Quelle terus menghindari serangan.


"Aku harus bertahan sampai efek racun bunga ini lenyap dari tubuhku!"


Permaisuri Ignia meningkatkan kekuatan serangan, menghunuskan jari-jari telapak tangan, dan menjadikannya sebagai senjata tajam yang mematikan.


Whoooossshh!!!


Whooosssshhh!!! Whooossshhh!!! Whoooossshhh!!!


Slassshhh!!!


Pada saat kedua mata Kaisar Quelle berfokus kepada gerakan serangan telapak tangan Permaisuri Ignia, tiba-tiba saja muncul serangan lain dari arah yang tidak terduga. Serangan pukulan pemecah langit dari Kaisar Granel yang licik.


Buaaagghhhh!!!!


Kaisar Quelle terpental jauh, hingga tubuhnya membentur dinding istana.


"Tch! Seperti biasa, engkau hanya mampu memainkan permainan para pecundang." Kaisar Quelle sangat muak dengan serangan khas para pengecut yang dilakukan oleh Kaisar Granel.


"Teruslah mengeluh bocah tengik! Seluruh dunia pun sudah tahu, bahwa hal yang terpenting adalah hasil. Tidak ada satupun yang peduli tentang bagaimana prosesnya itu terjadi!"


"Sungguh menggelikan mendengar kata-kata sampah itu darimu!" ketus Kaisar Quelle dengan penuh rasa kesal.


"Sial! Sampai berapa lama lagi aku terus berada dalam kondisi seperti ini?" gumam Kaisar Quelle dalam hati. Ia menatap wajah para musuh yang berdiri angkuh di hadapannya. "Tch! Sampah-sampah ini sungguh membuatku muak! Aku sudah tidak tahan untuk menghabisi mereka semua sekarang juga!!"


"Yang Mulia, kenapa engkau menatapku seperti itu? Mana tatapan mesra yang biasa engkau berikan kepadaku di saat kita masih bersama memadu kasih? Tolong berhentilah menatapku seperti itu Yang Mulia, aku takuuut!" Permaisuri Ignia mengolok Kaisar Quelle, menunjukkan sifat aslinya.


Tidak lama kemudian, Permaisuri Ignia menghampiri Pangeran Cusso dan mengobati seluruh lukanya.


"Hahahaha... Hahahahahaha..." Kaisar Quelle tertawa terbahak-bahak, menyaksikan pemandangan menggelikan yang tampak di depan mata.


"Tampaknya dia sudah mulai gila." kata Pangeran Cusso.


Kaisar Quelle terbang di udara. Kemudian ia mengaum keras.

__ADS_1


"Huuuaaaaaaahhhh!!!!"


Seketika itu juga langit Gloxinia terbelah, dataran berguncang, seluruh bangunan runtuh, dan kilatan petir yang disertai kencang menyambar ke berbagai arah.


Kekuatan energi yang begitu besar milik Kaisar Quelle, dapat dirasakan oleh seluruh dewa dataran langit Gloxinia. Bahkan, para penduduk dataran bawahpun merasakan kedahsyatan tekanan kekuatan energi yang dimiliki Sang Kaisar.


Dewi Alkyna yang berada di ruang rahasia dungeon Seron yang telah hancur pun merasakan aura kekuatan Kaisar Quelle yang begitu dahsyat.


"Anak itu sedang dalam bahaya! Aku harus menolongnya!"


Dinding barrier yang begitu kuat, menyelimuti kawasan istana Kekaisaran. Dinding barrier yang sengaja dibuat oleh Permaisuri Ignia, agar tidak ada satupun dewa maupun dewi yang datang memberi pertolongan.


Kaisar Granel mengerahkan tenaga, memperkuat dinding barrier yang tercipta. Begitupula dengan Pangeran Cusso.


Pandangan kedua mata Permaisuri Ignia dan Pangeran Cusso saling bertemu, mereka saling bertukar senyuman.


Di luar dinding barrier, Dewi Alkyna berdiri seorang diri. Mengerahkan segala serangan, berusaha menerobos masuk ke zona pertarungan.


Namun apalah daya, seluruh kekuatan yang ia miliki tidaklah sebanding dengan tingkat kekuatan dinding barrier yang dibuat oleh dua dewa yang sudah mencapai tingkat raja dewa, dan seorang dewa yang sudah mencapai tingkat kaisar dewa.


Selang beberapa saat kemudian, datang bala bantuan dari pelosok negeri yang berada di bawah naungan Kaisar Quelle. Mereka bekerja sama, berusaha menghancurkan dinding barrier yang terbentang luas di depan mata. Namun apalah daya, dinding barrier itu tetap saja tidak bisa dihancurkan.


Kaisar Quelle menyadari akan keberadaan Dewi Alkyna. Di tengah kerisauan, Kaisar Quelle mengirim pesan kepada Dewi Alkyna melalui kekuatan telepati "Bibi! Apa yang engkau lakukan di sini? Cepat keluar dari dataran langit ini! Dataran langit ini dalam bahaya! Pergilah ke galaxy lain, galaxy yang berada jauh dari sini!"


"Tidak! Aku akan menyelamatkanmu!" jawab Dewi Alkyna.


Kaisar Quelle membujuk, "Bibi, Makhluk-makhluk sialan ini sangat kuat! Kekuatan yang kalian miliki, bahkan tidak akan mampu untuk mengimbangi kekuatan mereka! Cepat keluarlah dari dataran langit ini sebelum terlambat!"


"Tidak! Aku harus melindungimu! Aku tidak ingin lagi kehilangan seseorang yang begitu berarti bagiku!"


Kaisar Quelle memberi instruksi kepada Teris yang masih berada di luar dinding barrier melalui kekuatan telepati.


"Teris?"


"Hamba disini Yang Mulia, saat ini hamba masih berusaha untuk menghancurkan dinding barrier ini agar kami semua bisa menyelamatkan Yang Mulia."


"Sudah cukup!" perintah Kaisar Quelle.


"....???"


"Permaisuri Ignia berada di pihak mereka. Jika kalian masuk, kalian semua berada dalam bahaya."


"Apa?" betapa terkejutnya Teris mendengar kabar itu. Kemudian ia bertanya, "Bagaimana mungkin?"


"Karena itu, aku mohon kepadamu untuk mengevakuasi seluruh penduduk dan pasukan yang berada di bawah perlindungan kita, ke dataran langit Agret untuk sementara waktu! Saat kalian tiba di sana, katakanlah kepada mereka bahwa kalian adalah pendudukku."


"Baik Yang Mulia, hamba akan memerintahkan mereka semua untuk berevakuasi sekarang!"


"Tunggu! Aku ada satu permintaan lagi kepadamu!"


"Apa itu Yang Mulia?"


"Tolong engkau jaga bibiku!"


"Bibi? Maafkan hamba Yang Mulia, bukankah..."


"Dewi cantik berambut cokelat, bermata biru, dengan gaun biru yang berada di depanmu itu adalah bibiku. Tolong lindungi dan jagalah dia."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia."


Teris mengambil alih komando kepemimpinan. Dengan penuh keberanian dan jiwa kepemimpian, ia mengintruksikan seluruh pasukan yang berada di sekitar dinding barriel untuk kembali ke kerajaan. Dia juga menginstruksikan kepada seluruh panglima kerajaan yang ada di sekitar dinding barrier, untuk menyampaikan pesan kepada para raja. Pesan yang berisi tentang pengevakuasian seluruh penduduk ke dataran langit Agret.


..............


Instruksi kepada para raja, panglima kerajaan, dan para penduduknya dapat berjalan dengan lancar.


Namun ada satu hal yang sangat menyulitkan Teris dalam proses pengevakuasian ini. Teris merasa kesulitan, ketika dirinya membujuk Dewi Alkyna untuk segera mengevakuasikan diri dari dataran langit Gloxinia. Karena langkah membujuk tidak memberikan hasil yang efektif, Teris dengan terpaksa mengerahkan teknik melody yang dapat menidurkan sang dewi. Dengan cara itu, dia dapat membawa pergi Dewi Alkyna dari langit Gloxinia.


Pada saat seluruh penduduknya telah berhasil dievakuasikan dari dataran langit Gloxinia,  Kaisar Granel memutuskan untuk menghancurkan dinding barrier yang dibuat oleh tiga musuh yang ada dihadapannya.


Crekkkk... Crekkk...


Creeeengggg!!!


Dinding barrier berhasil dihancurkan hingga menjadi pecahan kecil seperti serpihan kaca.


"Dengan kondisi tubuh yang seperti ini, sangatlah tidak mungkin bagiku untuk dapat menangani ketiga pecundang ini! Jika aku memaksakan diri, sama saja dengan bunuh diri! Aku harus menyelamatkan diri dari sini! Namun bagaimana caranya? Mengorbankan raga? Walaupun aku tidak ingin melakukannya, namun hanya inilah satu-satunya cara untuk dapat meloloskan diri dari sini!" pikir Kaisar Quelle. "Namun sebelum itu.... Aku harus memberikan sedikit serangan yang dapat mengalihkan perhatian mereka!"


"Thunderblade!!!"


Pedang-pedang petir berjatuhan dari langit, menyambar seluruh musuh yang ada di hadapan Kaisar Quelle secara membabi buta.


Kaisar Granel, Pangeran Cusso, dan Permaisuri Ignia, bergerak dengan cepat menghindari serangan pedang-pedang petir yang jatuh menghujam dari atas langit.


Saat mata mereka bertiga tertuju pada serangan hujan pedang petir, Kaisar Quelle memasukkan jiwanya sendiri ke dalam crystal energi kehidupan, menyerap seluruh energi yang tersisa di dalam seluruh aliran organ tubuh.


Setelah semua energi yang ada di dalam tubuh telah terserap,  Kaisar Quelle melepaskan jiwa beserta crystal energi kehidupannya dari raga.


Jiwa Kaisar Quelle beserta crystal energi kehidupannya berhasil melarikan diri dataran langit Gloxinia. Terbang melesat dengan sangat cepat, tanpa sepengetahuan Kaisar Granel, Pangeran Cusso, dan Permaisuri Ignia.


Serangan hujan pedang petir pun berhenti karena tidak adanya lagi energi yang tersisa di raga Kaisar Quelle yang telah lumpuh.


Kaisar Granel, Pangeran Cusso, dan Permaisuri Ignia memanfaatkan moment itu dengan menyatukan kekuatan yang mereka miliki. Dengan segenap kekuatan yang ada, mereka bertiga secara serempak mengerahkan serangan kekuatan penghancur yang begitu kuat ke tubuh Kaisar Quelle.


Tubuh Kaisar Quelle menerima serangan yang sangat kuat itu begitu saja. Wajar saja, raga tanpa jiwa tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada yang mengendalikannya.


Booomm!!!


Blarrrr!!! Blarrrr!!!! Blarrrr!!!


Bzzzzztttt!!! Bzzzzzztttt!!!! Bzzzzzttt!!!


Whooozzzzzzzhhhhh!!!!


Tubuh Kaisar Quelle lenyap tak tersisa. Tanpa meninggalkan jejak, walau satu partikel kecil saja.


Kaisar Granel, Pangeran Cusso, dan Permaisuri Ignia tampak bahagia. Mereka bertiga menganggap diri mereka telah berhasil menggapai tujuan mereka, dengan hasil yang memuaskan, sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.


Menguasai dan memimpin dataran langit Gloxinia dengan penuh sanjungan dari seluruh dewa dari penjuru langit. Itulah salah satu keinginan mereka.


Namun pada kenyataannya, hanya mereka bertiga lah, dewa yang tersisa di dataran langit Gloxinia.


Dewa dan dewi yang berada di bawah kepemimpinan Kaisar Granel telah binasa, sedangkan seluruh dewa dan dewi yang berada di bawah kepemimpinan Kaisar Quelle telah mengungsi ke dataran langit Agret.


Mereka hanya bisa menunggu, hadirnya dewa dan dewi baru, yang datang dari dataran planet Gloxinia.

__ADS_1


__ADS_2