
Mansion pahlawan, dibangun di atas reruntuhan taman. Mansion megah yang secara khusus dibangun untuk para dewa dan dewi yang gugur di medan perang. Di dalam mansion terdapat patung-patung yang menyimpan crystal energi kehidupan para dewa dan dewi yang gugur dalam medan pertempuran demi melindungi negeri yang mereka cintai. Patung-patung yang dibentuk sesuai dengan wujud asli para dewa dan dewi yang telah gugur di medan perang.
Istana Kekaisaran Quelle telah berhasil dibangun kembali dalam waktu yang sangat singkat. Namun, istana itu masih tampak sangat sepi. Hanya Kaisar Quelle, Permaisuri Ignia, dan Dewi Hyancinthi yang mendiami istana Kekaisaran.
Kaisar Quelle berniat untuk memanggil dan mengumpulkan kembali seluruh pasukan yang tersisa. Akan tetapi.....
"Yang Mulia, alangkah baiknya jika Yang Mulia menangguhkan dahulu akan rencana Yang Mulia dalam mengumpulkan mereka Yang Mulia." saran Permaisuri Ignia.
"Menangguhkan? Kenapa engkau memintaku untuk menangguhkan rencanaku? Mengumpulkan mereka disaat seperti ini merupakan suatu hal yang penting demi membangun kembali negeri ini."
"Yang Mulia, alangkah baiknya jika kita memberi waktu kepada mereka untuk menenangkan diri mereka. Tidak sedikit dari sanak keluarga dan kerabat mereka yang gugur di tangan musuh Yang Mulia. Jika Yang Mulia mengumpulkan mereka kembali disaat rasa duka masih menyelimuti hati mereka. Maka tindakan Yang Mulia itu sama saja dengan menyiksa suasana hati dan pikiran mereka Yang Mulia. Mohon pertimbangkan kembali rencana Yang Mulia."
Kaisar Quelle terdiam, berpikir sejenak. "Aku rasa apa yang dikatakan Ignia ada benarnya juga. Ya, lebih baik aku menunggu hingga suasana hati mereka benar-benar merasa tenang."
"Hmmmm.... Baiklah, baiklah. Aku akan mengikuti saranmu."
"Terima kasih atas kebijaksanaan Yang Mulia."
Kaisar Quelle memejamkan mata, fokus pada kekuatan deteksi pancaran aura dan energi, mencari keberadaan pasukan Kaisar Granel yang tersisa. Jika menemukan mereka, maka dia akan mendatangi para pasukan Kaisar Granel beserta para sekutunya yang masih hidup dan memberikan mereka dua pilihan. Bergabung menjadi bagian dari kekuatan Kekaisaran Quelle, atau musnah secara terhormat demi mempertahankan harga martabat dan harga diri.
"Yang Mulia..." Permaisuri Ignia memanggil, memecahkan suasana dan konsentrasi pikiran sang Kaisar.
"Hm...? Ada apa lagi?" sahut Kaisar Quelle dengan penuh kesabaran.
"Yang Mulia, menurut hamba, bukankah lebih baik Yang Mulia menghidupkan para pejuang yang gugur di medan pertempuran?"
Kaisar Quelle menghela nafas lalu berkata "jika aku menghidupkan mereka, itu sama saja dengan melawan hukum alam. Mereka yang telah pergi, maka biarlah mereka pergi. Itu sudah menjadi takdir mereka."
"Jika Yang Mulia tidak ingin melawan hukum alam, kenapa Yang Mulia memintaku untuk menumbuhkan kembali tangan dewi kecil itu? Bukankah itu jiga termasuk melawan takdir?"
"Apa yang aku minta darimu adalah bagian pemulihan. Membantu mereka yang tidak memiliki kemampuan meregenerasi tubuh secara sepat. Jadi, aku rasa itu bukanlah bagian dati melawan takdir. Melainkan bagian dari teknik pengobatan. Bukankah begitu?" terang Kaisar Quelle kepada Permaisuri Ignia sembari melempar kedipan mata.
"Baik Yang Mulia, hamba mengerti."
"Apakah ada pertanyaan lagi? Jika ada, ungkapkanlah sebelum aku beranjak dari sini!"
"Tidak ada Yang Mulia."
Kaisar Quelle beranjak dari kursi singgasana, melangkah pergi menuju ruang rahasia istana.
Ruang rahasia yang terletak di dataran langit atas. Dataran langit buatan yang melayang di langit luas. Langit luas dari dunia buatan yang diciptakan oleh Raja Dewa Quenice. Lokasi dunia buatan ini berada dibalik portal rahasia yang tersembunyi di ruang perpustakaan tua istana. Posisi ruang perpustakaan tua berada di ruang bawah tanah istana. Tanah dari dataran langit Gloxinia.
Ruang rahasia, dibangun secara khusus sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja dewa terdahulu. Tempat peristirahatan terakhir kakek dan nenek Kaisar Quelle dari keluarga ibu, Raja Dewa Quenice, dan sang ibu yang bernama Dewi Ellena.
Selain sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja dari keluarga Kaisar Quelle, ruang rahasia itu juga menyimpan gulungan teknik rahasia yang telah lama hilang dari dataran dan langit Gloxinia. Teknik rahasia yang sangat hebat, dan mampu membuat siapa saja yang mampu menguasai teknik yang terdapat di dalamnya, menjadi sosok makhluk yang sangat kuat dan tidak tertandingi akan kemampuan bertarungnya.
Di dalam ruang rahasia itu, Kaisar Quelle menyampaikan curahatan hatinya kepada kedua orang tuanya telah beristirahat dengan tenang.
Pada saat Kaisar Quelle hendak menyampaikan isi curhatan kepada kedua orang tua, tiba-tiba saja Kaisar Quelle merasakan pancaran aura energi yang sangat kuat.
Deg!!!
"Pancaran energi ini?
Si tua bangka?
Dia belum musnah setelah terkena serangan seperti itu?"
__ADS_1
Kaisar Quelle berpaling, menatap patung yang berisi crystal energi kehidupan kedua orang tuanya yang telah beristirahat dengan tenang.
"Ayah, ibu, ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu di luar sana. Aku akan kembali ke sini setelah aku berhasil membereskan urusanku yang satu ini! Sampai jumpa ayah, sampai jumpa ibu. Aku mencintai kalian."
Kaisar Quelle berkonsentrasi, berteleportasi ke posisi Kaisar Granel berada.
..........
Taman Istana Kaisar Quelle
"Cepat! Katakan kepadaku, dimana bocah tengik itu berada?!" Kaisar Granel bertanya dengan kasar.
Kaisar Granel mencekik leher Permaisuri Ignia, mengangkatnya leher sang permaisuri, sehingga Permaisuri Ignia sulit untuk bernafas.
"A...aa...aku, t..ti..tii..dak ta..ta..h..uu.." jawab Permaisuri Ignia.
Dewi Hyacinthi tiba di lokasi Permaisuri Ignia dan Kaisar Granel berada. Dia tersontak kaget melihat keadaan Permaisuri Ignia yang tengah tercekik.
"Permaisuri....!!!" Dewi Hyacinthi mengeluarkan senjata berupa kipas, bersiap melayangkan serangan ke arah Kaisar Granel.
Kaisar Granel menghempaskan sedikit tekanan aura, tekanan aura yang dihasilkan menghancurkan seluruh bangunan yang ada di sekitar.
Dewi Hyacinthi tidak mampu menahan daya tekanan aura Kaisar Granel, tubuhnya ambruk di tempat, dan dia tidak sadarkan diri.
"Ttt..t..to..l..o...n..g... le..pas...kan.. A..ku du..luuu..." pinta Permaisuri Ignia.
Kaisar Granel melempar tubuh Permaisuri Ignia hingga dirinya terpental jauh menghantam monumen pahlawan yang tinggi menjulang.
Duarrr!!!
Permaisuri Ignia terluka parah. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, luka itu hilang, dan tubuhnya tampak pulih kembali.
Permaisuri Ignia bangkit, hanya sekedar bangkit, tanpa memberikan perlawanan.
Apa yang dilakukan oleh Kaisar Granel dan Permaisuri Ignia lakukan hanyalah sandiriwara semata. Sandiwara untuk memancing Kaisar Quelle keluar dari tempat persembunyian.
Kaisar Granel bertanya lagi, bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Katakan kepadaku, dimana bocah tengik itu berada?"
Dengan tenang Permaisuri Ignia menjawab "Aku tidak tahu."
"Kau bilang tidak tahu? Berani-beraninya engkau menipuku!"
Kaisar Granel bergerak dengan cepat, melayangkan cengkraman tangan kanan ke rahang Permaisuri Ignia
Whooosshh!!!
Saat Kaisar Granel tengah melesat ke arah posisi Permaisuri Ignia berdiri, tiba-tiba saja kilatan cahaya muncul dan menyambar dari arah kanan.
Kaisar Granel melangkah mundur, menghindari serangan kilatan cahaya yang mengarah kepadanya.
"Tch! Akhirnya engkau muncul juga bocah tengik!"
"Seharusnya akulah yang bertanya hal itu kepadamu wahai tua bangka? Dari mana saja kau tua bangka? Kenapa engkau baru muncul lagi sekarang? Padahal pertarungan kita di luar sana belum usai." Kaisar Quelle tersenyum geli. "Aku sudah mencarimu, namun aku tidak dapat menemukanmu. Aku pikir engkau sudah musnah bersama planet kecil itu."
"Jangan sombong dulu bocah tengik! Karena kali ini aku akan menghabisimu!"
"Benarkah? Coba saja kalau bisa!'"
__ADS_1
Kaisar Granel melesat dengan cepat, melayangkan seeangan tinju tangan kanannya sebelum Kaisar Quelle menggunakan kekuatan dimensi ruang dan waktu yang dapat memindahkan mereka ke zona pertarungan yang sesuai dengan Kaisar Quelle inginkan.
Pertarungan fisik, tinju dan terus melayangkan tinju.
Kaisar Quelle bergerak dengan cepat menghindari serangan tinju yang terus melesat ke arah wajahnya.
"Apa yang terjadi dengan si bodoh ini? Kenapa sejak tadi dia hanya terus menghindari serangan yang datang ke arahnya? Apakah dia terluka?" pikir Permaisuri Ignia disaat ia menyaksikan secara langsung pertarungan dua kaisar dewa.
Permaisuri Ignia memggunakan teknik mata dewa, mengamati sirkulasi energi Kaisar Quelle.
"Eh? Semua tampak normal,, lantas apa masalahnya? Kenapa dia hanya terus menghindari seluruh serangan?"
Permaisuri Ignia berpikir dan terus berpikir dengan cermat.
"Um? apakah mungkin?"
Permaisuri Ignia menyadari akan penyebab permasalahannya.
"Apakah mungkin karena janji yang ia buat padaku?"
Permaisuri Ignia beranggapan, bahwa Kaisar Quelle hanya bisa menghindari serangan yang datang, karena faktor janji yang ia buat dengan Permaisuri Ignia.
Padahal, kenyataannya bukanlah karena faktor itu. Kaisar Quelle hanya terus dan terus menghindari serangan, karena Kaisar Quelle tidak ingin tanah kelahirannya hancur dan musnah akibat pertarungan ini.
"Kalau begitu, ini adalah kesempatan yang bagus untuk menghabisi si bodoh itu!"
Permaisuri Ignia mengayunkan tangan, membuka portal dimensi tempat Pangeran Cusso bersembunyi.
"Gate!"
Pangeran Cusso keluar dari balik portal.
Berdiri di samping kanan Permaisuri Ignia, menyaksikan dua kaisar dewa bertarung di taman istana.
"Aku akan membantu ayahku!" kata Pangeran Cusso.
"Jangan! Di sana sangat berbahaya!" kata Permaisuri Ignia dalam upaya yang seolah-olah mencegah langkah berbahaya yang akan dilakukan oleh Pangeran Cusso. Namun pada kenyataan, itu merupakan bagian dari rencananya.
"Tidak apa-apa sayang, disana ada ayah. Aku yakin, kita akan baik-baik saja.."
"Ta..tapi..." ucap Permaisuri Ignia berpura-pura cemas.
"Tidak apa-apa, percayalah kepadaku."
Permaisuri Ignia menganggukkan kepala.
Pangeran Cusso bergerak, melesat dengan cepat menuju titik pertarungan antara dua kaisar dewa.
"Aku akan membantumu ayah! Bertahanlah! Karena kemenangan ada di tangan kita!"
"Huffffftt... terpaksa aku harus mengorbankan area ini demi membersihkan langit ini dari dua sampah langit Gloxinia."
Kaisar Quelle menjentikkan jari
Tik!
"Teknik Kaisar Dewa! Divine Execution!"
__ADS_1