
Enzi berpikir, teknik apa yang efisien untuk membasmi sekumpulan bandit dalam waktu singkat.
"Teknik tenaga dalam ayunan pedang menghempas angin?
Atau...
Teknik pedang tanpa bayangan?
Teknik tenaga dalam ayunan angin pedang menghempas angin, dapat menumbangkan musuh dalam satu gerakan. Namun, teknik itu cukup menguras teknik tenaga dalam. Jika aku menggunakan teknik pedang tanpa bayangan, aku hanya cukup memfokuskan aliran tenaga dalamku ke kedua kaki dan tangan."
Kaisar Quelle dengan santainya menjawab, "Teknik pedang biasa tanpa tenaga dalam."
Enzi merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Sang Kaisar Dewa "Dewa, kalau aku menggunakan teknik pedang biasa, itu sangat membuang waktu. Lihatlah, berapa banyak korban yang akan berjatuhan sebelum aku membereskan para bandit-bandit ini."
Kaisar Quelle membalas perkataan Enzi "Begitu halnya denganmu yang terlalu lama membuat keputusan. Semakin lama engkau membuat keputusan, semakin banyak korban yang jatuh berguguran. Cepatlah ambil keputusan, dan basmi mereka semua!"
"Baik Dewa, maafkan aku. Aku sungguh ceroboh." ucap Enzi.
Enzi bergerak dengan cepat, membasmi para bandit tanpa adanya gerakan serangan yang terlihat.
Apa yang prajurit kerajaan lihat, hanyalah sekumpulan pasukan bandit yang tiba-tiba saja tumbang di depan mata mereka.
Itulah kehebatan teknik pedang tanpa bayangan yang diperagakan oleh Enzi.
"Apa yang terjadi?" Pemimpin bandit menara timur bertanya-tanya. Ia tampak kebingungan, melihat seluruh pasukannya yang tewas secara tiba-tiba dengan luka sayatan di leher mereka.
Begitupula dengan Ageng Phatra dan pasukannya. Mereka tampak kebingungan dengan kejadian mengejutkan yang tampak di depan mata.
"A..apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Ageng Phatra.
Tidak lama kemudian, giliran pemimpin bandit menara timur yang tumbang di depan mata, tanpa ada pergerakan sedikit pun. Hanya ada jejak luka sayatan pada leher. Luka sayatan yang sangat dalam.
"Siapa di sana?" tanya Ageng Phatra. "Musuh atau kawan?" Ageng Phatra memasang kuda-kuda, siap menangkis serangan yang tidak terduga. Meski pada kenyataannya ia tidak akan mampu menangkis serangan, bila serangan itu benar-benar datang padanya.
Enzi menampakkan diri. Ia berdiri di atas menara bandit yang terbuat dari kayu.
"Maafkan aku jika pergerakanku mengejutkanmu tuan ksatria..." ucap Enzi dengan posisi tubuh berdiri tegap.
"Oh, ternyata tuan pendekar. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang tuan berikan padaku. Perkenalkan, namaku Ageng Phatra dari Kerajaan Salakanagara. Bila tuan pendekar berkenan, bolehkah aku tahu siapa nama gerangan?" tanya Ageng Phatra dengan sikap santun.
"Aku? Aku hanyalah seorang pengembara yang kebetulan melintasi hutan ini." jawab Enzi sambil melihat keadaan di sekitar. Enzi merasakan energi hawa pembunuh di tempat lain yang jaraknya tidak jauh dari lokasi ia berdiri. "Sekarang, di sini sudah cukup aman. karena tuan ksatria kini telah selamat dari ancaman bandit, maka aku akan undur diri dari hadapan tuan ksatria. Jaga diri tuan ksatria baik-baik, dan semoga tuan dapat kembali dengan selamat." sambungnya.
"Tunggu!" pinta Ageng Phatra.
.......
__ADS_1
Namun sayang, Enzi telah beranjak dari lokasi ia berdiri. Hanya dalam sekejap saja, Enzi lenyap dari pandangan mata.
Whoooossshhh!
"Ilmu pendekar itu... Sungguh begitu tinggi." ucap Ageng Phatra. "Aku sungguh penasaran, siapa nama pendekar itu sebenarnya...?" sambungnya.
"Dari pakaian yang ia kenakan, tampaknya pendekar itu berasal dari negeri yang sama dengan kita tuan..." kata salah satu pasukan Ageng Phatra.
"Kalau begitu, aku akan terus mencari tahu, tentang jati diri pendekar yang tangguh itu. Aku ingin berguru padanya.." ageng Phatra menghela nafas. "Baiklah, sekarang mari kita lanjutkan misi penyelamatan para sandera!"
Ageng Phatra beserta para pasukan yang tersisa berjalan menuju markas persembunyian bandit.
Di sepanjang perjalanan, ia menemukan banyak mayat bandit yang tewas bergelimpangan di permukaan tanah.
"Semua mayat para bandit ini, memiliki pola yang sama. Luka sayatan pada leher. Luka yang sama pada bandit-bandit menara timur. Apakah ini semua juga termasuk perbuatan pendekar tangguh itu?" pikir Ageng Phatra dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Kita harus bergegas menyelamatkan mereka! Aku rasa, mereka disembunyikan di dalam goa ataupun lembah di sekitar sini. Ayo! Kita kesana!" Ageng Phatra berlari kencang ke tempat para sandera disembunyikan.
Enzi terus melibas dan membantai seluruh bandit yang ada di matanya.
Para bandit bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, semuanya tiba-tiba saja.."
Dua bandit yang saling bertanya-tanya itu pun turut tewas berjatuhan.
"Ini serangan! Seorang pendekar berilmu menye...." dalam sekejap mata, ayunan pedang menyanyat leher bandit itu, sehingga bandit itu belum sempat untuk menyelesaikan perkataannya.
Slassshh!!!
Pyuuuurrr!!!
"Semua bersiaga! Tetap waspada!" perintah salah seorang petinggi bandit.
"Aku akan laporkan kejadian ini pada ketua!!"
"Cepatlah! Biar kami yang menghadang pendekar ini! Aku rasa dia hanya menggunakan trik murahan!"
Slash! Slash! Slash! Slash! Slash!
"Pembantaian! Ini seperti pembantaian massal! Manusia... Manusia tidak mungkin mampu melakukannya!"
"Kau benar! Ini tidak mungkin ulah manusia! Menghabisi kelompok bandit tangan besi yang kuat begitu saja, tanpa terlihat oleh mata kita! Ini... Ini pasti ulah hantu!!! Ya, hantu!!! Sebaiknya kita pergi dari sini!" kata seorang bandit yang mengawas dari atas bukit.
__ADS_1
Para bandit yang berjaga di atas berlarian menyelamatkan diri.
"Tampaknya kelompok bandit ini bukan sembarang kelompok bandit. Jumlah mereka sangat banyak, jika saja tadi aku mengabaikan kelompok bandit ini, mungkin saja mereka mampu membuat kerajaan sendiri di masa yang akan datang. Aku tidak dapat membayangkan, seberapa besar ancaman dan kekacauan yang terjadi. Jika mereka mampu membuat kerajaan sendiri." gumam Enzi.
"......." Kaisar Quelle hanya mendengarkan, tanpa memberikan sepatah kata.
"Di depan sana ada goa! Aku merasakan aura tenaga dalam yang cukup kuat yang berasal dari dalam sana!" ucap Enzi.
Di depan mulut goa, terdapat banyak gerombolang bandit yang berjaga.
"Aku akan menghabisi gerombolan bandit-bandit ini, lalu aku akan melihat apa yang ada di dalam goa sana." Enzi bersiap mengeluarkan teknik pedang tanpa bayangan.
"Tunggu!" perintah Kaisar Quelle.
"Ada apa Dewa?" tanya Enzi.
"Sebaiknya engkau simpan tenaga dalammu, dan bertarunglah dengan menggunakan teknik ayunan pedang biasa khalayaknya pendekar yang ada di negeri ini!"
"Apa?" Enzi tersontak kaget mendengarnya. "De... Dewa, engkau tidak bercanda kan? Jumlah mereka begitu banyak, bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan mereka hanya dengan menggunakan teknik pedang biasa tanpa menggunakan teknik tenaga dalam?"
"Tentu saja bisa. Percayalah padaku."
Enzi mengambil golok dari salah satu bandit yang telah tewas terkapar.
Enzi berlari ke arah kerumunan bandit yang tengah berjaga di mulut goa, sambil menggenggam sebilah golok di tangan.
"Ada penyusup! Teriak seorang bandit!"
Para bandit berlari ke arah Enzi, menyambut kehadiran Enzi dengan ayunan golok mereka.
Clang!
Srettt!!!
Clang!
******!!
Clang!
Slash!
Satu persatu bandit berhasil ditumbangkan. Sampai pada akhirnya, Enzi berhasil memasuki mulut goa.
Di dalam goa, Enzi melihat para tawanan yang terdiri dari seorang wanita, seorang gadis muda dengan paras cantik nan jelita, dan beberapa pemuda yang sudah tidak berdaya dengan luka di sekujur tubuh. Mereka semua dalam kondisi terikat di bebatuan stalagmit.
__ADS_1
Enzi terkejut melihat apa yang terjadi di depan matanya.
"Me...ee..me..reka..."