
"Huaaaaaa!!!!" Enzi turut berteriak, terkejut melihat reaksi pedagang yang baru saja terbangun dan berteriak ketakutan di depan wajahnya.
Sang pedagang panik, mencari sesuatu yang dapat dijadikan senjata pelindung diri.
Enzi berusaha memahami situasi.
"Tenang, tenanglah! Aku tidak bermaksud menyakitimu! Aku hanya berusaha menolongmu. Lihatlah! Aku tidak memiliki senjata apapun yang dapat melukaimu!" kata Enzi sambil mengangkat kedua tangannya.
Perlahan ia berjalan mendekat, berbicara lebih dekat dengan pedagang yang masih berbaring lemas itu.
Enzi mengeluarkan beberapa daging dari kain penyimpan makanannya.
"Ini, aku ada sedikit makanan untukmu. Makanlah tuan, walau tidak seberapa, makanan ini bisa memberimu energi."
Awalnya, pedagang itu masih menatap ragu. Namun secara perlahan, ia mulai mencoba mempercayai bahwa makanan yang diberikan oleh Enzi dapat memberinya energi.
Pedagang itu, memakan daging pemberian Enzi dengan lahap. Ia tampak kelaparan.
Enzi memberikan beberapa potong daging kancilnya lagi kepadanya.
Sekarang pedagang itu tampak kehausan. Kali ini, Enzi mengeluarkan tabung bambu yang berisi air minum.
"Minumlah!" Enzi membantu pedagang itu menegak minuman dari tabung bambu.
Seusai makan dan minum, pedagang itu angkat suara.
"Tuan.... Tolong aku tuan...!"
Pedagang itu menggenggam erat tangan kiri Enzi, berupaya memohon pertolongan padanya.
__ADS_1
"Katakanlah kepadaku, apa yang terjadi padamu? Dan hal apa yang bisa aku bantu?" tanya Enzi.
"Komplotan itu! Komplotan bandit bergolok hitam telah merampok kami tuan...! Teman-temanku dibunuh, dan lihatlah tanganku! Mereka memotong tanganku! Untung saja aku berhasil melarikan diri dari kejaran mereka!" kata si pedagang.
Apa yang menimpa diri pedagang, membuat Enzi teringat akan kejadian di masa lalu. Kejadian pembantaian keji yang dilakukan oleh perampok, pembantaian yang mengakibatkan sang ayah kehilangan nyawa. Bahkan, dirinya juga hampir kehilangan nyawa. Enzi tidak bisa melupakan kejadian yang kelam itu.
"Tidak! Mereka sengaja tidak mengejarmu dan membiarkanmu lari ke tengah hutan, agar engkau menjadi santapan hewan buas di hutan ini! Itulah yang terjadi pada para pedagang yang berhasil melarikan diri, namun tewas di mulut hewan buas!" Enzi tampak begitu geram. Ia mengepalkan tangan, ingin meluapkan seluruh emosi kepada seluruh bandit yang tampak di depan mata.
"Kapan dan di mana kau bertemu bertemu bandit-bandit itu?!" tanya Enzi dengan menahan luapan emosi.
"T..tadi malam. Di arah sana!" pedagang itu menunjuk ke arah Dukuh Pulosari. "Daerah hutan dekat Dukuh Pulosari." jawabnya.
"Tampaknya itu ulah pendekar setempat yang telah menyalahgunakan kekuatannya untuk melakukan tindak kejahatan." pikir Enzi.
"Kenapa pada malam itu engkau tidak berlari ke arah Dukuh Pulosari tuan?" tanya Enzi.
"Tadi malam, ketika kami sedang melanjutkan perjalanan kembali ke Dukuh Pulosari, gerombolan bandit itu datang menghadang kami di tengah perjalanan. Kami telah menyewa beberapa pendekar, namun pendekar-pendekar itu tumbang di tangan mereka. Saat aku berlari menuju Dukuh Pulosari, seorang dari mereka menghadangku, dan memotong tangan kiriku. Bandit itu tidak membiarkanku lari menyelamatkan diri ke Dukuh Pulosari. Saat aku berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit, gerombolan bandit terus menyerangku dengan senjata di tangan mereka. Mereka menatapku seperti menatap seekor ayam yang kerap mereka jadikan mainan. Aku berusaha bangkit dan berlari menuju hutan. Berusaha berlari menyelamatkan diri sejauh-jauhnya dari kejaran mereka."
"Tujuan mereka adalah harta benda yang engkau bawa selama perjalanan. Mereka berusaha membunuh kalian, karena mereka ingin membungkam kalian. Mereka tidak membiarkanmu lari ke Dukuh Pulosari, karena mereka tidak ingin berita tentang aksi mereka diketahui oleh para penduduk setempat. Mereka membiarkan lari ke tengah hutan, karena mereka yakin, dengan luka yang seperti itu kau akan tewas dengan sendirinya di tengah hutan. Dari gerak-geriknya, mereka hanyalah sekelompok bandit kelas teri yang mengandalkan jumlah dan mengincar mangsa yang mereka anggap lemah saja. Baiklah, aku akan membereskan mereka malam ini. Supaya keberadaan mereka tidak meresahkan kalian lagi. Namun sebelum itu, aku akan mengantarkanmu ke Dukuh Pulosari." kata Enzi.
"Terima kasih tuan... Terima kasih." ucap sang Pedagang sambil membungkukkan badan.
Enzi membantu pedagang itu berdiri, dan mengantarnya ke Dukuh Pulosari yang berjarak sekitar 8 kilometer dari posisi mereka berada. Enzi berjalan sambil melacak gerak gerik pancaran tenaga dalam yang mencurigakan.
"Oh iya tuan.." pedagang itu mulai mengingat sesuatu. "tepat sebelum bandit itu datang, ada seorang pendekar yang kami sewa pergi ke tengah hutan. Ia mengatakan, bahwa ada hewan buas yang tengah mengintai kami. Jadi dia memutuskan masuk ke dalam hutan seorang diri untuk menangani hewan-hewan buas itu. Kami semua menunggu, namun ia tidak kunjung datang. Jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan pelan, agar dia dapat menyusul kami. Aku rasa, saat ini dia masih berada di tengah hutan, dan menunggu pertolongan. Jika tuan berkenan, bisakah tuan menolong pendekar itu?"
"Tidak! Pendekar itu saat ini baik-baik saja! Sesuai dugaanku! Peristiwa perampokan ini, merupakan ulah dari komplotan pendekar yang menyalahgunakan kekuatannya. Pendekar yang engkau sewa itu, adalah bagian dari mereka. Atau dengan kata lain, dia juga seorang bandit!" terang Enzi.
Sang pedagang itu tampak terkejut. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas, jatuh tidak berdaya.
__ADS_1
"Tidak! Tidak mungkin! Kami sudah menyewa pendekar itu dengan bayaran yang begitu besar. Tidak mungkin dia melakukan hal ini kepada kami! Tidak mungkin!"
"Di dunia ini tidak ada suatu hal yang tidak mungkin." kata Enzi dengan meniru gaya Kaisar Quelle.
Enzi mengulurkan tangan, membantu pedagang itu berdiri, dan memberikan secercah harapan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Mari kita lanjutkan perjalanan ini." kata Enzi.
Pedagang itu bertanya "Lalu.. Lalu bagaimana dengan barang daganganku yang dirampok oleh bandit-bandit itu? Barang-barang itu adalah sumber mata pencarianku, sumber makananku untuk keberlangsungan hidupku. Tanpa itu, aku tidak bisa memberi makan istriku dan anak-anakku." pedagang itu tampak bersedih, memikirkan nasib dirinya sendiri dan keluarga yang menanti di rumah.
Enzi sangat memahami apa yang dirasakan oleh si pedagang.
"Aku akan membereskan bandit-bandit itu malam ini. Jika aku menemukan barang daganganmu di tangan mereka, aku akan segera mengembalikannya kepadamu." kata Enzi.
"Terima kasih, terima kasih tuan.." ucap pedangang itu dengan rasa syukur.
"Tidak perlu sungkan, tuan saudagar... Apa yang aku lakukan ini bukanlah apa-apa. Aku hanya tidak ingin tindak kejahatan terhadap masyarakat yang tidak tahu apa-apa terus terjadi di tanah ini!" ucap Enzi dengan halus.
Pintu gerbang Dukuh Pulosari telah tampak di depan mata.
Enzi tidak membayangkan bahwa dirinya akan berada di depan Dukuh Pulosari sebelum acara pertemuannya dengan Denok diselenggarakan.
"Dukuh ini... Belum saatnya bagiku untuk menginjakkan kaki di Dukuh ini di siang hari. Ya, aku belum siap untuk melihat gadis itu walau hanya sebatas menatapnya saja dari kejauhan." ucap Enzi sambil tersenyum.
"Ayo tuan, kita masuk ke dalam." pedagang itu mengajak Enzi untuk berkunjung ke Dukuh Pulosari.
"Tidak perlu, aku hanya bisa mengantarkanmu di sini saja. Masih ada banyak urusan yang harus aku selesaikan di luar sana." kata Enzi dengan sopan. Selang beberapa saat kemudian ia undur diri dari hadapan sang pedagang "Jaga dirimu tuan saudagar... Sesuai dengan janjiku, malam ini aku akan membereskan bandit-bandit itu!"
Seketika itu juga Enzi lenyap dari pandangan. Sang pedagang terkejut bukan kepalang dengan apa yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1