Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 27: Transaksi Dagang


__ADS_3

Di bawah air terjun yang dingin, Enzi duduk bersila. Memfokuskan pikiran, belajar ilmu tentang pengendalian diri.


"Malam ini aku akan bertemu pedagang dari negeri seberang itu di penginapan.  Aku akan menawarkan beberapa pernak pernik laut yang tersisa di peti. Ada begitu banyak pernak pernik laut yang tersisa, sangat disayangkan jika pernak pernik laut itu tidak laku terjual seluruhnya. Aku berharap, pedagang dari negeri seberang itu bersedia berniaga denganku sebelum ia kembali ke negerinya. Ya, aku sangat mengharapkan itu. Ah, betapa gugupnya aku." ucap Enzi kepada Kaisar Quelle.


Di dalam ruang jiwa, Kaisar Quelle mendengarkan curahan isi hati Enzi sembari menikmati buah semangka di atas rerumputan. Selama berada di dalam ruang jiwa yang gelap, Kaisar Quelle merasa jenuh dengan isi ruang yang tampak begitu gelap. Karena dirinya tidak kuasa menahan rasa jenuh, Kaisar Quelle memutuskan, untuk menciptakan dunia kecil yang dapat dia nikmati selama berada di dalam ruang jiwa.


"Tidak perlu gugup, anggap saja semua itu sebagai permainan." ucap Kaisar Quelle dengan santainya sambil menyemburkan biji semangka dari mulut.


"Permainan? Mata kau itu permainan!" ucap Enzi kesal.


"Percayalah pada dirimu sendiri. Aku yakin engkau dapat melakukannya."


........


Udara yang dingin, menyelimuti kota Rajatapura pada malam itu. Bintang-bintang di langit bersinar terang di tengah gelapnya malam. Kelap kelip cahaya ribuan kunang-kunang yang bertebaran di permukaan bumi, menjadi cahaya penerang kota.


Di dalam penginapan "Terang Bulan", Enzi duduk terpaku di hadapan pedagang dari India.


Gugup, harap-harap cemas. Itulah perasaan yang terus menghantui diri Enzi pada pertemuan itu. Perasaan yang berbanding terbalik dengan rasa percaya diri yang ia rasakan di pagi hari.


Pedagang dari India, memeriksa kualitas gelang dan kalung pernak pernik laut yang ditunjukkan oleh Enzi kepadanya. Ia memeriksa pernak pernik itu dalam waktu yang sangat lama.


Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika hendak berniaga. Beberapa diantaranya adalah jenis, penampilan, kualitas, target pasar, dan tingkat keuntungan yang bisa didapatkan dari barang yang hendak perniagakan. Bila tidak memperhatikan point-point itu, maka hanya kerugian besar yang bisa didapatkan.


"Tuan saudagar, cinderamata ini sangat populer di kalangan gadis di kota. Terutama di kalangan putri para bangsawan kerajaan. Jika tuan saudagar membeli dan menjualnya kembali ke negeri tuan, maka semakin besar keuntungan yang bisa tuan dapatkan." ucap Enzi dalam mempromosikan produk yang diperdagangkannya."


Sang pedagang pun bertanya "Berapa harga beli satu cinderamata?"


Enzi menjawab "Untuk satu gelang harganya 25 copper, sedangkan kalung harganya hanya 50 copper saja tuan."

__ADS_1


Sang pedagang bertanya lagi. "Berapa jumlah ketersediaan cinderamata yang engkau miliki?"


"Tersisa satu peti lagi tuan." jawab Enzi.


Tanpa berpikir panjang, sang pedagang memberi keputusan "Baiklah, kalau begitu aku pesan semuanya!"


"Terima kasih tuan, cinderamata yang tuan pesan akan aku antarkan kepada tuan saudagar esok pagi di tempat ini." ucap Enzi.


"Bagus, bagus. Kalau begitu aku akan menyiapkan uangnya untukmu dan akan menyerahkan uang itu padamu esok pagi." ucap sang pedagang.


"Terima kasih tuan." ucap Enzi. Tidak lama kemudian Enzi berdiri "Aku undur diri dan mempersiapkan cinderamata yang tuan pesan terlebih dahulu. Sampai bertemu lagi di esok pagi tuan."


Enzi berjalan perlahan keluar dari pintu penginapan.


"Hufffttt... Leganya...." ucap Enzi merasa lega.


"Apakah engkau yakin, jika jumlah perhiasan yang terbuat dari pernak pernik laut itu sebanyak satu peti?" tanya Kaisar Quelle sambil menyantap ikan bakar di dalam ruang jiwa.


"Mengenai perhiasan itu, bukankah itu merupakan barang dagangan milik ayahmu?" tanya Kaisar Quelle sambil menyisihkan dan mencabut duri ikan dari selah-selah gigi.


Enzi menghela nafas dan berusaha tersenyum menutup kesedihan. "Benar, itu adalah barang dagangan milik ayahku. Ayah membeli gelang dan kalung-kalung itu dari seorang pengrajin perhiasan di kerajaan Mandala Agny Nusa."


"Membeli perhiasan laut dengan jumlah yang sangat banyak. Itu artinya, ayahmu membeli barang-barang itu untuk jangka waktu yang panjang. Dengan kata lain, barang dagangan yang tidak langsung habis dijual."


"Iya, engkau benar. Tidak seharusnya aku menjual barang-barang itu secara terburu-terburu. Namun apalah daya, keadaan keluargaku berkata lain. Hal itulah yang memaksaku untuk menjual barang dagangan milik ayah secepatnya." jawab Enzi.


Setelah seluruh barang dangan yang ada di dalam peti berhasil dijual, Enzi telah memantapkan diri untuk mencari nafkah dengan berdagang dari hasil sumber daya lokal seperti dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, laut yang berada di wilayah Kerajaan Salakanagara. Ia menunggu moment yang tepat, untuk melanjutkan profesinya kembali sebagai saudagar yang berniaga antar wilayah kerajaan seperti yang dilakukan oleh sang ayah semasa hidup.


..............

__ADS_1


Keesokan harinya...


Awan mendung menyelimuti langit kota Rajatapura di pagi itu. Mendungnya pagi, tidak menyulutkan semangat Enzi untuk mengantarkan peti dagangan ke penginapan tempat pedagang dari India menginap.


Sesampainya di penginapan, Enzi langsung menyerahkan peti yang berisi perhiasan pernak pernik laut.


Sang pedagang memeriksa isi peti dan menanyakan total harga keseluruhan.


Enzi menyebutkan nominal harga satu peti perhiasan yang terbuat dari pernak pernik laut. Harga yang diberikan, tentu lebih hemat secara perhitungannya dibandingkan dengan harga satuannya.


Sang menyerahkan sejumlah uang kepada Enzi sesuai dengan total nominal harga yang disebutkan. Enzi menerima sejumlah uang dengan penuh rasa suka cita.


"Aku merasa sangat senang bisa bekerja sama dengan anda tuan saudagar." ucap Enzi sambil tersenyum bahagia.


"Kabarkan aku jika engkau memiliki cinderamata yang tidak kalah menariknya, tuan muda. Aku juga merasa senang bisa bekerja sama dengan anda." ucap sang pedagang dari India.


"Tentu saja tuan saudagar, aku akan mengabarkan anda jika aku memiliki produk yang menarik untuk tuan." ucap Enzi.


Sang pedagang dari India tertawa bahagia mendengar jawab yang didapatkannya dari Enzi.


.........


Usai bertransaksi, Enzi pergi ke ladang padi, membantu ibu memberantas hama yang selalu merusak ladang sebelum waktu panen tiba.


"Ambilah ranting kecil itu, dan gunakan rating itu untuk membasmi seluruh hama yang terdapat di ladang padi milik ibumu." perintah Kaisar Quelle.


Enzi menjawab "Hei arwah gentayangan! Apakah engkau sudah lupa? Aku ini masih dalam proses belajar ilmu bela diri. Lagi pula, mana mungkin semua jenis hama yang ada di ladang ini bisa dibasmi dengan menggunakan satu ranting kecil ini? Seorang pendekar yang berilmu tinggi saja tidak bisa melakukannya apalagi aku?"


Kaisar Quelle meneguk segelas air madu seraya berkata "Tidak ada yang bisa atau belum pernah ada yang melakukannya? Atau.... Memang engkaunya saja yang belum pernah melihat seseorang mampu melakukannya? Jika belum atau tidak ada yang melakukannya, bukan berarti hal seperti itu tidak bisa dilakukan. Jika memang demikian, maka hari ini aku akan menunjukkan kepadamu cara membasmi hama-hama itu dengan menggunakan ranting pohon dalam waktu singkat?"

__ADS_1


"Bagaimana caranya engkau bisa menunjukkannya kepadaku? Jika apa yang dapat aku lihat di dalam sana hanyalah ruang gelap nan hampa."


"Ruang gelap? Benarkah? Perhatikanlah dengan seksama....."


__ADS_2