Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 43: Rubah Betina


__ADS_3

Gelapnya malam, sangat begitu terasa bagi seorang pendekar yang bermalam seorang diri di tengah hutan. Hanya bermodalkan perapian, dengan tumpukan kayu sebagai sumber bahan bakar. Selalu bersiaga di sepanjang malam, waspada akan adanya serangan hewan buas yang bisa saja datang secara tiba-tiba.


Berbeda dengan Kaisar Quelle, ia bermalam seorang diri di tengah hutan, menjadikan penghuni hutan yang liar sebagai tempat perburuan sumber energi kehidupan.


Di sepanjang malam itu, Kaisar Quelle terus berburu hewan buas tanpa henti. Menangkap mereka, dan menyerap energi kehidupan hewan-hewan buas yang selalu mengancam keselamatan manusia.


Kaisar Quelle tiba di hutan kaki gunung, ia melompat dari pohon ke pohon, mencari ular berbisa yang kerap membunuh para pedagang yang melintas di kaki gunung.


"Berdasarkan sumber energinya, aku merasakan bahwa sumber energi itu berasal dari sini!"


Beberapa ular berbisa, berjalan meliuk-liuk di dahan pohon, tepat di atas kepala Kaisar Quelle.


"Ssssstttt..."


"Ssssttt..."


Ular-ular berbisa itu membuka mulut....


Clap!!!


Belum sempat ular-ular itu menerkam, tiba-tiba saja Kaisar Quelle mengangkat tangan kanan, dan menangkap ular-ular berbisa itu dengan tangan kanannya.


Kaisar Quelle membuka mulut, dan menyerap energi kehidupan dari ular-ular berbisa.


Dia terus menyerapnya, hingga tubuh ular berbisa itu mengering, dan hanya menyisakan kulit yang kering. Tanpa ada darah, daging, isi tulang, dan sel-sel yang tersisa.


Menghisap energi kehidupan, menjadi salah satu cara instant yang dapat Kaisar Quelle lakukan dalam meningkatkan kekuatan. Bahkan, kekuatan yang menjadi ciri khas suatu makhluk hidup yang diserap energi kehidupannya, bisa menjadi bagian dari kekuatan yang dimiliki Kaisar Quelle.


Ketika Kaisar Quelle menghisap energi kehidupan ular berbisa, maka kekuatan bisa ular itu ada pada diri Kaisar Quelle. Ia dapat mengeluarkan bisa itu melalui gigitannya, ketika dia menginginkannya untuk menggunakan kekuatan itu.

__ADS_1


Pada saat ia tengah menikmati santapan lezat energi kehidupan dari ular-ular berbisa, tiba-tiba saja Kaisar Quelle merasakan tekanan energi yang cukup kuat. Tekanan energi yang Kaisar Quelle rasakan itu, berasal dari puncak gunung.


Kaisar Quelle melangkah dengan cepat, menuju ke puncak gunung itu.


"Terlalu lama jika aku hanya berlari dan melompat dari pohon ke pohon. Untuk menghemat waktu, lebih baik aku menggunakan teknik terbang saja!"


Whooossshh!!


Kaisar Quelle terbang tinggi di langit malam. Dari atas langit, dia hanya melihat hitamnya pepohonan yang diselimuti oleh gelapnya malam.


Dari kejauhan, Kaisar Quelle melihat suatu kelap kelip cahaya di atas puncak gunung.


Semakin ia terbang mendekat, semakin kuat tekanan pancaran energi yang ia rasakan.


Kaisar Quelle penasaran, apa yang ada di balik cahaya yang berkelap kelip itu?


Rubah itu tampak unik. Dalam setiap kelap kelipan cahaya itu, dia selalu mengalami perubahan wujud tubuh.


Wujud tubuh rubah, lalu berubah bentuk ke wujud manusia berjenis kelamin perempuan.


"Makhluk ini?" Kaisar Quelle menapakkan kaki, menghampiri makhluk berekor rubah itu.


"Apakah itu yang disebut dengan siluman rubah?" tanya Enzi pada Kaisar Quelle, saat ia melihat suatu hal menakjubkan yang terjadi pada makhluk berekor rubah itu.


Kaisar Quelle menjawab, "Di tempatku berasal, makhluk ini sangat mirip dengan hewan suci. Hewan yang berbeda dengan hewan yang lain meski memiliki wujud yang sama."


"Berbeda meski memiliki wujud yang sama? Bagaimana maksudnya dewa? Aku semakin tidak mengerti." tanya Enzi yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Kaisar Quelle.


"Ada beberapa hewan yang memiliki energi spesial dari alam. Sejak berada di dalam rahim, hewan itu memperoleh berkah kekuatan dari alam. Sehingga pada saat dilahirkan, hewan yang memiliki energi spesial ini, menjadi sosok makhluk yang paling kuat diantara habitatnya." terang Kaisar Quelle.

__ADS_1


"Tapi dewa, jika dia menjadi sosok yang paling kuat diantara habitatnya, kenapa dia memisahkan diri dari habitatnya? Bukankah seharusnya dia menjadi sosok pelindung bagi kawanannya?" tanya Enzi yang semakin dibuat heran dengan status hewan itu.


"Karena dia sudah bertemu dengan manusia." jawab Kaisar Quelle.


"Ha? Bertemu dengan manusia? Lantas apa hubungannya dengan itu dewa?" Enzi semakin bertanya-tanya.


Kaisar Quelle menghela nafas, lalu menerangkan lagi "Dia, seekor rubah yang lugu. Pada suatu hari, dia turun gunung dan berjalan hingga tiba di suatu desa. Di desa itu, dia melihat sekurumunan manusia yang menikmati hari-harinya. Ketika melihat pemandangan itu, muncul suatu keinginan di hati kecil rubah yang polos ini, untuk menjadi bagian dari orang-orang yang bahagia itu. Nah, keinginan yang ada di hati kecilnya ini terus berkembang. Hewan polos ini sangat berkeinginan kuat untuk menjadi manusia dan memisahkan diri dari habitatnya. Di atas puncak gunung ini, dia merasakan sumber energi alam yang kuat." Kaisar Quelle melapangkan kedua tangan, menunjukkan pemandangan yang dapat dilihat dari atas gunung. "Lihatlah dari sini! Betapa luas pemandangan yang bisa engkau lihat dari sini? Berapa banyak energi alam yang bisa engkau serap dari sini? Dia terus menyerap energi alam, terus menyerapnya tanpa kendali. Tanpa dia sadari, suatu keinginan kuat yang ia miliki, memicu inti energi spesial yang ada dalam dirinya, untuk berubah wujud menjadi sosok makhluk yang diinginkannya. Menjadi sosok manusia."


Enzi menganggukan kepala seraya berkata "Oh, begitu rupanya. Aku paham, aku sudah paham dewa."


"Tetapi, karena dia menyerap energi alam tanpa kendali atau tanpa terkontrol dengan baik, aliran energi makhluk ini menjadi tidak stabil. Itulah yang mengakibatkan dia menjadi seperti ini. Dirinya terus berubah wujud secara tidak stabil dan dalam kondisi tidak sadarkan diri." kata Kaisar Quelle sambil memegang pipi rubah itu. "Aku akan membantu rubah ini menstabilkan energinya dan mengabulkan keinginannya untuk menjadi seorang manusia."


Kaisar Quelle menyentuh bagian kepala rubah itu tepat pada bagian ubun-ubun. Menyalurkan sedikit energinya, membantu rubah itu menjadi seorang manusia.


"Ha? Wa..wanita? Rubah itu seorang wanita?" Enzi terkejut bukan kepalang saat rubah itu berubah wujud menjadi seorang gadis nan cantik jelita.


Seorang gadis dengan kulit putih, berambut lurus kecokelatan, bermata biru, berbibir mungil, dan berhidung mancung.


"Pada dasarnya, dia adalah seekor rubah betina. Jadi ketika berubah ke wujud manusia, seperti inilah wujud dari manusia dari rubah itu." Kaisar Quelle memegang kening sang rubah. "Aku akan menyalurkan beberapa pengatahuan tentang dunia ini kepadanya. Termasuk bahasa kalian, dan bagaimana cara berperilaku khalayaknya manusia. Ah, jika saja dulu kau sudah memiliki ilmu tenaga dalam, aku tidak perlu repot-repot mengajarkan Ghiwa tentang cara berperilaku khalayaknya manusia."


Kaisar Quelle menggendong tubuh rubah itu di atas pangkuan kedua tangannya. Membawanya turun gunung, dan menidurkan rubah itu di goa lembah serigala.


Saat Kaisar Quelle menidurkan rubah itu di goa yang dihuni oleh Grayscale beserta pasukan serigalanya, tidak ada satupun dari mereka yang berani menentang atas apa yang diputuskan oleh Kaisar Quelle.


"Gadis ini adalah seekor rubah. Izinkan gadis ini tinggal di dalam goa ini untuk sementara waktu. Mungkin tidak akan lama, aku akan segera mencarikan tempat yang aman untuk ia huni." kata Kaisar Quelle.


"Kami tidak keberatan tuan." jawab Grayscale. Lalu dia mengusulkan, "Di dasar lembah ini, terdapat goa yang indah dan memiliki mata air yang jernih. Goa itu sudah lama menjadi tempat peristirahatan bagi para serigala betina tuan. Jika tuan berkenan, bagaimana jika tuan menjadikan goa itu sebagai rumah baru bagi gadis ini?"


"Baiklah, itu ide yang bagus. Kalau begitu aku akan membawa gadis ini ke goa itu dan membiarkannya bermalam di sana."

__ADS_1


__ADS_2