
Ghiwa melakukan apa yang dikatakan oleh Kaisar Quelle. Mencoba membuktikan kebenaran akan apa yang diterangkan oleh sang kaisar.
"Ingat! Konsentrasi! Fokuskan energi dan pikiranmu!"
Ghiwa duduk bersila, memejamkan mata. Memfokuskan energi dan pikirannya untuk menjadi seekor serigala.
Sel-sel darah serigala yang ada di dalam tubuhnya mulai aktif, energi dewa yang ada di dalam raga Ghiwa membangkitkan sel-sel tubuh serigala dan menidurkan sel-sel raga manusia yang ada di dalam dirinya.
Siuuuuwww..
Ghiwa berubah wujud menjadi seekor serigala secara sempurna.
Ghiwa tampak sangat riang saat dirinya dapat berubah wujud kembali menjadi seekor serigala yang perkasa.
"Sekarang, berubahlah kembali ke wujud manusia!" perintah Kaisar Quelle.
"Baik tuan." jawab Ghiwa.
Ghiwa memejamkan mata, memfokuskan energi dan pikirannya untuk menjadi manusia.
Siuuwww.....
Dalam waktu singkat, Ghiwa berhasil berubah ke wujud manusia.
"Kerja bagus!" Kaisar Quelle menyanjung.
Beberapa saat kemudian, Kaisar Quelle menatap langit. Melihat matahari yang perlahan mulai terbenam.
"Saat ini pengawal itu sedang berjaga seorang diri melindungi harta berharga dari pemuda ini. Jika ia bermalam seorang diri di sana, maka itu sangatlah berbahaya."
"Apakah tuan khawatir bila manusia itu mencuri seluruh harta penting milik tuan?"
"Tidak! Bukan itu! Hal yang aku khawatirkan bukan harta itu! Apa yang aku khawatirkan adalah keselamatan orang itu! Jika ia bermalam seorang diri di sana, akan sangat berbahaya jika ada perampok yang datang menyerang. Atau bahkan serangan hewan buas yang tidak sedikit jumlahnya! Kita tidak boleh berlama-lama di sini! Ayo kita bergegas kembali ke sana!"
"Baik tuan!
Kaisar Quelle dan Ghiwa bergerak melesat dengan cepat menuju lokasi Raju berada.
Srekkk... Kretekk!
Raju mendengar suara daun dan ranting yang terinjak oleh kaki.
Raju menoleh ke arah sumber suara, dan memasang kuda-kuda.
"Siapa di sana?" tanya Raju.
__ADS_1
Raju mendatangi sumber suara.
Seekor kucing hutan yang garang tampak bersembunyi di balik ranting pohon yang jatuh.
"Ah, ternyata hanya seekor kucing. Bikin aku kaget saja."
Selang beberapa saat kemudian, Kaisar Quelle dan Ghiwa tiba di lokasi.
"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Kaisar Quelle.
"Oh! Kau sudah datang!" sahut Raju. "Tidak ada. Tidak ada yang mencurigakan."
"Baiklah, mari kita istirahat terlebih dahulu." Kaisar Quelle duduk bersandar di bawah pohon. "Oh iya, perkenalkan. Pemuda ini bernama Ghiwa."
Ghiwa menganggukan kepala, memberi salam hormat kepada Raju.
"Dia seorang pengembara yang sedang berlatih ilmu bela diri seorang diri di tengah hutan sana." kata Kaisar Quelle.
"Berlatih bela diri seorang diri? Di tengah hutan?" Raju bertanya-tanya dalam hati. Apa yang dikatakan oleh Kaisar Quelle terdengar absurd di telinganya.
"Perjalanan kita ke ibukota tidaklah begitu jauh dari ini. Mungkin esok hari kita sudah sampai." kata Raju.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mencari makan malam terlebih dahulu. Kalian berdua siapkan api, kita akan makan daging malam ini!" Kaisar Quelle berdiri menepuk-nepuk pakaian dan bersiap untuk memulai perburuan hewan.
Ghiwa menghampiri Kaisar, dan menawarkan diri. "Tunggu tuan, biar aku yang melakukannya."
"Jika aku membiarkan Ghiwa melakukan perburuan seorang diri, aku khawatir jika naluri dan insting hewan yang ia miliki akan keluar dengan sendirinya. Jika hal itu terjadi, maka tanpa dia sadari, dia akan berubah menjadi seekor serigala. Kemungkinan terburuknya, tanpa disadari dia bisa saja kembali kesini dalam wujud serigala. Hal itu tidak boleh terjadi!"
"Tidak apa-apa, biar aku saja. Engkau cukup membantu orang itu mencari kayu bakar." kata Kaisar Quelle.
"Baik tuan." jawab Ghiwa.
Saat itu juga Kaisar Quelle melompat ke atas pohon, bergerak melesat dengan cepat berburu hewan di tengah hutan.
"Aku harus menemukan dan menangkap hewan hutan sebelum matahari terbenam!"
Kaisar Quelle terus melompat dan melompat dengan gerakan yang sangat cepat.
Whoozzzz... Whooozzzz
Sampai pada akhirnya dia melihat seekor kancil yang tengah berlari ke tempat persembunyiannya sebelum matahari terbenam.
Kaisar Quelle memetik sehelai daun, dan menyentilkan sehelai daun itu ke arah si kancil.
Daun melesat cepat, bagai tembakan pisau terbang yang tajam.
__ADS_1
Sretttt!!!!
Daun yang ditembakan itu menancap di kaki si kancil hingga ia jatuh kesakitan. Si kancil berusaha bangkit, berjuang menyelamatkan diri.
Kaisar Quelle yang sudah berdiri tepat di depan si kancil, langsung menggorok leher si kancil dengan sehelai daun yang dijepit oleh dua jari.
Sretttt!!!
Si kancil tewas seketika.
Kaisar Quelle menggendong tubuh si kancil, dan membawanya ke tempat peristirahatan.
Di tempat peristirahatan.....
Raju dan Ghiwa duduk di dekat perapian, menanti kedatangan Kaisar Quelle dari perburuan.
"Sejak kepergian ayahnya, tuan muda itu banyak berubah, dan menjadi sangat aneh. Banyak hal yang ia bicarakan dan ia lakukan berada di luar logika ku. Entah, sebenarnya apa memang aku yang bodoh, atau memang tuan muda itu yang aneh!" gumam Raju.
".........." Ghiwa hanya diam, ia tidak mengerti dengan apa yang Raju bicarakan.
"Apakah engkau tahu? Tadi pagi, anak ini melakukan suatu hal yang gila. Suatu hal yang di luar logika kita! Tadi pagi, dia membawa seekor serigala besar untuk mengangkut peti-peti ini! Coba bayangkan, apa yang terjadi jika kami melanjutkan perjalanan ke ibukota dengan membawa serigala besar itu!" Raju menghela nafas, lalu ia bergumam lagi "Haaaaa.... Sungguh gila! Benar-benar gila! Dia tindakannya ini sama saja dengan tindakan bunuh diri di hadapan penduduk kota! Jika ingin bunuh diri, seharusnya lakukanlah sendiri, tidak perlu mengajak orang lain!"
Tanpa Raju sadari, Kaisar Quelle telah lama berdiri di belakangnya, dan mendengarkan segala keluhan Raju tentang dirinya.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengangkut peti-peti ini ke ibukota, namun aku tidak memiliki tenaga yang cukup untuk membawanya. Aku membutuhkan tenaga yang sangat kuat untuk dapat mengangkut peti-peti ini ke ibukota. Karena itulah aku meminta pertolongan serigala yang baik hati untuk mengangkut peti-peti ini." terang Kaisar Quelle
Raju diam seketika. Dia hanya mampu menelan ludah, dan merasa malu akan lisannya yang tidak mampu ia jaga.
"Engkau sudah tiba tuan."
"Terima kasih telah menunggu." ucap Quelle tersenyum hangat. Tak lama kemudian ia meletakan si kancil di dekat perapian "Sekarang tolong kalian bantu aku membersihkan kulit si kancil ini!"
Raju dan Ghiwa membantu membersihkan kulit si kancil. Menguliti si kancil, hingga menampakan daging kancil yang berwarna merah.
Saat malam tiba, mereka bertiga menyantap daging kancil bersama-sama.
Dalam menyantap daging kancil, Ghiwa mengikuti cara bermakan Kaisar Quelle.
Menggigit daging dan menguyahnya secara perlahan, menikmati kelezatan daging di setiap gigitan.
Berbeda dengan Raju yang menyantap daging seperti orang kelaparan yang sedang makan.
Menyantap daging dengan begitu cepat, dan lahap.
Kaisar Quelle berbisik pada Ghiwa, seperti orang dewasa yang berbisik pada anak kecil. "Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
Dengan riang Ghiwa menjawab "Enak tuan, daging ini sangat lezat. Aku belum pernah makan daging selezat ini."
"Aku rasa, aku sedang dikelilingi oleh orang-orang aneh!" gumam Raju dalam hati.