
Sang guru mengingatkan Anindita akan betapa bahayanya kekuatan ajian cakar elang menggetar bumi.
"Ajian cakar elang bumi, bukanlah ajian sembarangan nak... Ajian ini dapat menguras energi tenaga dalam yang begitu besar. Satu kibasannya, setara dengan lima puluh gerakan seni bela diri berkekuatan tenaga dalam." terang sang guru.
"Iya guru, Anindita sudah mengerti dan sudah mempertimbangkan hal itu." kata Anindita.
"Tidak! Kamu tidak mengerti apa-apa!" bantah sang guru. kemudian beliau menambahkan, "jika kamu mengerti, maka kamu tidak akan meminta teknik bela diri yang sangat berbahaya itu! Guru tidak mengizinkanmu untuk mempelajarinya!"
Anindita tertunduk lesu tanpa mampu menyembunyikan rasa kekecewaannya.
"Tapi guru... Anindita ingin melindungi orang-orang yang begitu Anindita cintai. Anindita sungguh tidak ingin kejadian buruk seperti yang terjadi tempo hari terulang kembali. Dengan ilmu bela diri yang Anindita miliki sekarang, Anindita tidak mampu menghadapi musuh yang memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi." ungkapnya.
Mendengar keluhan Anindita, sang guru pun memberi saran, "Begini saja, bagaimana jika guru mengajarkanmu gerakan kibasan kipas angin puyuh saja?"
"Kibasan kipas angin puyuh? Apakah itu ajian baru?" tanya Anindita dengan penuh rasa ingin tahu. "Anindita baru mendengarnya guru..." sambungnya.
Sang guru pun menjelaskan, "Benar, ajian ini termasuk teknik gerakan bela diri yang masih baru. Gerakan teknik bela diri ini cukup sederhana, dan sangat mudah untuk kamu pelajari. Guru rasa, teknik bela diri ini sangatlah cocok untukmu."
"Kalau begitu, tolong ajarkan aku guru!"
"Iya, iya, tentu saja aku akan mengajarkanmu." kata sang guru. selang beberapa saat kemudian sang guru bertanya, "omong-omong, apakah pemuda yang datang bersamamu itu ingin belajar ilmu bela diri dari perguruan ini juga?"
Anindita dengan sopan menjawab, "Benar guru, pemuda itu bernama Enzi, beliau adalah teman Anindita dan Dhatri. Beliau adalah seorang saudagar muda yang butuh arahan dari guru, agar bisa bertahan hidup dari serangan bandit."
Sang guru mengusap janggut putihnya yang panjang, sesekali ia mengangguk dan berkata, "Baiklah, baiklah. Guru mengerti. Guru juga akan menerima temanmu sebagai murid dari perguruan ini."
"Terima kasih guru."
.........
Sementara itu, Enzi yang duduk di dekat tungku perapian bersama Dhatri, dia tidak mengetahui, bahwa dirinya telah diterima sebagai murid di perguruan padi.
Di dekat tungku perapian itu, Dhatri terus menatap wajah Enzi.
Enzi tertunduk, berusaha menutupi rasa gugup di hati.
Dirinya sungguh merasa malu, jika ada seorang perempuan yang terus menatapnya seperti itu.
Di tengah rasa gugupnya itu, Enzi memberanikan diri untuk bertanya kepada Dhatri yang terus menatapnya, "Mengapa engkau terus menatapku seperti itu?"
Seketika itu juga Dhatri pun menjawab, "Tidak, tidak ada apa-apa."
__ADS_1
Masih diselimuti rasa malu Enzi meminta dengan sopan kepada Dhatri, "Kalau begitu, tolong berhentilah menatapku seperti itu."
Dhatri memenuhi permintaan Enzi, Dhatri berhenti menatap Enzi. Dia memalingkan pandangannya dari Enzi, ke arah Anindita dan sang guru berada.
Tidak lama kemudian, Dhatri mencurahkan isi hatinya kepada Enzi.
Mencurahkan isi hati, tanpa menatap wajah Enzi.
kedua bola mata Dhatri menatap lurus ke depan, menatap tungku perapian yang menyala di hadapannya.
"Belakangan ini, kami berdua sibuk mencari sosok pendekar yang telah menyelamatkan ibu dan juga adikku. Aku ingin sekali berterima kasih kepadanya. Namun rasanya sangat sulit." kata Dhatri.
Enzi menolehkan pandangan matanya ke arah Dhatri dan seraya ia bertanya, "Apakah engkau mengenali pendekar itu?"
"Tidak! Aku tidak mengenalnya." jawab Dhatri singkat.
Enzi bertanya lagi, "Apakah engkau mengingat bagaimana rupa dan ciri-ciri dari pendekar itu?"
Dhatri mengambil sebatang ranting kecil dan mendorong kayu bakar yang ada di perapian.
Sembari mendorong kayu-kayu bakar itu Dhatri pun menjawab, "Tidak, aku tidak mengingat rupa dari pendekar itu, karena aku belum pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengannya.
Kemudian dengan santainya Enzi berkata, "Kalau begitu, engkau tidak perlu repot-repot mencarinya."
Dhatri mengerutkan alis, menatap Enzi dengan perasaan kesal.
"Hei adik kecil! Pendekar yang sedang kami cari ini, bukanlah pendekar sembarangan! Dia itu pendekar hebat! Pendekar yang rendah hati, suka menolong yang lemah, gagah perkasa, dan berani menumpas kejahatan!" Kata Dhatri dengan nada kesal.
Enzi merasa terkejut melihat reaksi Dhatri yang tampak begitu kesal.
Enzi pun baru menyadari, bahwa ucapannya itu telah menyinggung perasaan Dhatri.
"Maafkan aku, jika perkataanku tadi kurang sopan. Aku tidak ada maksud buruk. Aku berkata seperti itu, hanya sebatas saran saja." ucap Enzi dengan nada rendah.
"Baik, aku mengerti " ucap Dhatri singkat.
Dhatri memasukkan batang ranting kecil ke dalam tungku api. Sesekali ia menatap ke jendela, melihat kondisi cuaca yang sedang terjadi di luar sana.
Hujan lebat, masih mengguyuri perguruan padi.
Para murid saling duduk bercengkrama, membicarakan gerakan seni bela diri yang masih sulit untuk mereka pahami.
__ADS_1
Enzi yang masih merasa asing dengan suasana perguruan, hanya bisa duduk berdua bersama Dhatri.
Dalam kehangatan, Enzi bertanya kepada Dhatri, "Mengenai pendekar yang tengah engkau cari itu, apakah pendekar itu merupakan seorang pendekar misterius yang saat ini sedang ramai diperbincangkan orang?"
Dhatri pun menganggukan kepala, pertanda iya.
"Hu um." jawab Dhatri singkat. Kemudian Dhatri balik bertanya, "apakah kamu pernah melihatnya?"
Enzi menjawab, "Sepertinya belum. Aku belum pernah melihatnya."
Enzi benar-benar belum pernah melihatnya secara lamgsung. Karena dirinya sendirilah pendekar yang Dhatri maksud.
Enzi berpikir sesaat, berusaha mengingat kabar terbaru tentang aksi pendekar misterius yang sedang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
"Berdasarkan kabar yang beredar, kabarnya pendekar misterius itu selalu mengenakan topeng, dan selalu berjalan seorang diri, tanpa pengawal." kata Enzi
"Eh? Benarkah?" tanya Dhatri penasaran.
Kedua bola mata Dhatri tampak berbinar terang. berbinar dengan rasa ingin tahu lebih jauh tentang sosok pendekar misterius yang ingin sekali ia temui.
"Yap, Kabarnya, baru-baru ini dia telah menyelamatkan para pedagang dukuh pulosari dari tangan bandit. Tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka. Bahkan, dirinya juga mengembalikan seluruh harta dagangan yang dirampok oleh para bandit, kepada para keluarga korban." ujar Enzi.
Dhatri pun bertanya dengan rasa takjub, "Benarkah?"
"Yeah, sungguh." jawab Enzi.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku sungguh penasaran, siapa sebenarnya pendekar itu?" ucap Dhatri.
"Pendekar misterius itu, saat ini sedang berada tepat di sampingmu." kata Enzi.
"Siapa?" tanya Dhatri penasaran.
"Tentu saja aku. Siapa lagi kalau bukan aku?" jawab Enzi dengan nada bercanda.
"Kamu?" tanya Dhatri sambil menelunjukan jarinya ke arah Enzi.
Kedua mata Dhatri berkedip-kedip, menandakan bahwa ia tidak percaya dengan pengakuan Enzi.
Dhatri menganggap, bahwa Enzi tengah bercanda. Selang beberapa saat kemudian, ia pun tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk bahu Enzi.
Enzi tersenyum terpaku melihat diri Dhatri yang tengah tertawa di sampingnya.
__ADS_1