
Pada pagi harinya, para penduduk dukuh ramai memperbincangkannya. Mereka ramai memperbincangkan sosok Ksatria gagah perkasa yang berhasil membasmi para bandit dalam waktu satu malam saja.
Membasmi para bandit, dan merebut kembali harta rampokan dari tangan mereka, serta mengembalikan harta rampokan itu kepada penduduk duku Pulosari.
"Aku penasaran, siapa sesungguhnya pendekar itu?"
"Tidak hanya engkau saja yang penasaran dengan jati dirinya, akupun merasa penasaran dengan keberadaannya."
"Siapa gerangan pendekar itu?"
Para penduduk terus memperbincangkannya, dengan rasa penasaran yang begitu besar.
Begitupula dengan Tuan Sarkesh. Dia juga merasa penasaran dengan sosok yang telah mengacaukan ambisinya.
"Siapa? Siapa cecunguk itu?! Berani-beraninya dia mengacaukan rencanaku!" gumam Tuan Sarkesh dengan suara lantang. "Tunggu saja! Aku pasti akan membalas perbuatannya!" sambungnya.
Tuan Sarkesh memerintahkan kepada anak buahnya, untuk mencari tahu siapa manusia yang telah mengacaukan segala rencananya.
Sementara itu, di suatu tempat yang lokasinya tidak jauh dari Kota Rajatapura....
"Hei, kemarilah! Bergegaslah adik kecil!! Sebentar lagi kita akan tiba!!" perintah Dhatri kepada Enzi yang berjalan di belakangnya.
Anindita, Dhatri, dan Enzi, secara bersama-sama melakukan perjalan ke perguruan silat tempat Anindita dan Dhatri mempelajari ilmu bela diri.
Dalam melakukan perjalanannya mereka harus melintasi sungai, melewati lembah, dan naik ke atas bukit yang cukup tinggi.
Di atas bukit yang tinggi, terdapat suatu perguruan silat yang terkemuka.
Perguruan silat itu bernama perguruan Pucuk Padi. Sesuai dengan namanya, perguruan itu menanamkan suatu prinsip kepada murid-muridnya.
Prinsip tentang semakin tinggi ilmu yang dimiliki, maka semakin menunduk. Dalam arti, semakin berendah hati dan tidak menyombongkan diri.
Sekitar lima orang murid perguruan Pucuk Padi, berlatih ilmu bela diri di bawah pohon-pohon nan rindang.
Seorang pria berumur yang telah memiliki keriput di wajahnya, dan warna rambutnya telah beruban, berjalan dan mengawasi gerakan bela diri yang ia ajarkan kepada kelima muridnya.
__ADS_1
Tak jauh dari posisinya berada, Anindita berlari dan datang menyapanya.
"Guruuuu!!!" seru Anindita sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Gadis cantik yang ceria itu datang menghampiri sang guru dan memberi hormat kepadanya.
"Anindita datang memberi hormat guru." ucap Anindita.
Dhatri berdiri di samping kanan Anindita, lalu ia bertekuk lutut di hadapan sang guru yang berdiri di hadapannya.
Sementara Enzi, dirinya berdiri tepat di belakang kedua gadis itu.
"Dhatri datang memberi hormat." ucapnya.
"Berdiri! Berdirilah nak!" perintah sang guru.
"Terima kasih guru." ucap Anindita dan Dhatri secara serempak.
"Sudah beberapa pekan, kalian tidak datang berlatih. Apakah kalian berdua sedang memiliki masalah yang begitu berat, wahai murid-muridku yang cantik?" tanya sang guru.
Dhatri, sebagai seorang Kakak angkat bicara, "Sebelumnya, Dhatri ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas besarnya perhatian guru terhadap kami berdua." Dhatri mengatur nafas sejenak, kemudian ia melanjutkan penjelasanya, "beberapa hari belakangan ini, kami berdua mendapatkan tugas penting dari ayahanda, sehingga kami berdua tidak sempat datang menemui guru, dan berlatih ilmu bela diri. Mohon maafkan kami guru. Kami bersalah, karena tidak menginformasikan hal ini sebelumnya kepada guru."
"Terima kasih guru." ucap Dhatri dan Anindita secara serempak.
"Bolehkah orang tua ini mengetahui, tentang tugas apa yang diberikan oleh ayah kalian, sehingga kalian tidak memiliki waktu untuk berlatih ilmu bela diri bersama orang tua ini?"
Dengan lembut Anindita menjawab, "Beberapa pekan lalu, Dita dan Ibunda diserang oleh komplotan bandit gunung. kemudian mereka menyandera kami di dalam goa selama berhari-hari. Untung saja, Kakanda Ageng Patra datang menyelamatkan kami. Namun sebelum ia datang, ada seorang pemuda yang lebih dahulu datang menyelamatkan kami, dan menumpas para bandit gunung itu seorang diri. Ilmu bela diri Pendekar itu sangatlah tinggi. Dita dapat merasakan kekuatan tenaga dalam yang pemuda itu miliki. Akan tetapi, hingga kini Anindita masih belum mengetahui tentang siapa sosok dari pemuda itu sebenarnya."
Sang Guru mengerutkan dahi, dirinya turut berpikir tentang siapa sosok pendekar muda yang berilmu tinggi di dunia persilatan.
"Bisakah engkau memberitahuku, tentang ciri-ciri dari sosok pendekar itu?" tanya sang guru.
"Tentu saja guru." jawab Anindita sembari menganggukan kepala. Kemudian Anindita menjelaskan tentang ciri-ciri dari pendekar bertopeng yang telah menyelamatkan nyawanya, "pemuda itu mengenakan topeng, memakai pakaian dengan bahan pakaian yang mewah, dia memiliki tubuh yang menawan, dan suara yang merdu. Setiap Dita memikirkannya, detak jantung hati ini sungguh terasa berdebar-debar dibuatnya. Dita rasa, pemuda itu memiliki wajah yang sangat tampan. Dita ingin sekali berjumpa dengannya. Dita sungguh merindukannya."
"Sudah cukup!!! Guru hanya ingin mengetahui ciri-ciri dari pemuda itu saja. Engkau tidak perlu menjelaskan kepada guru tentang perasaanmu terhadap pemuda itu!"
__ADS_1
"Maaf guru. Dita tak kuasa menahannya." jawab Anindita tersipu malu.
"Dasar gadis ini..." ucap sang guru sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
........
Angin berderu kencang, meniup ranting pepohonan.
Daun-daun yang masih hijau berguguran, langit perlahan tertutup awan hitam.
Sang guru memberi perintah kepada para murid, untuk menghentikan latihan, dan segera masuk ke dalam pondok yang cukup luas.
Di dalam pondok itu, Anindita, Dhatri, dan Enzi menyalakan tungku perapian.
Udara terasa dingin, air hujan pun berjatuhan.
Jatuh dengan derasnya, membasahi permukaan bumi yang masih hijau.
Anindita datang menghampiri sang guru, memijat-mijat bahu sang guru, dia berusaha mencari perhatiannya.
Sang guru menatap Anindita, menatapnya dengan tatapan curiga.
Sang guru bertanya, "Engkau tiba-tiba saja bersikap baik seperti ini, pasti karena ada maunya."
Tanpa mengelak, Anindita memberikan jawaban, "Hehehe, sepertinya tidak ada hal yang bisa aku sembunyikan dari guru."
Sang guru tertawa terbahak-bahak mendengarnya, "Engkau ini, engkau ini benar-benar sangat pandai dalam menyanjung guru." selang beberapa saat kemudian sang guru bertanya, "omong-omong, hal apa yang ingin engkau minta dari gurumu yang sudah tua ini?"
"Emmm, begini guru... Belakangan ini, bandit semakin merajalela. Tidak sedikit dari mereka yang berilmu tinggi. Seperti kelompok bandit tangan besi yang telah menyinggung keluarga Anindita beberapa waktu silam. Dengan kemampuan bela diri yang Anindita sekarang, Anindita khawatir, jika Anindita tidak mampu melindungi diri sendiri dan juga keluarga Anindita dari ancaman bandit." Anindita menghela nafas panjang dan berkata lagi, "jadi guru, tolong ajarkan Anindita ajian pamungkas cakar elang menggetar bumi."
Sang guru terdiam sejenak, berpikir bimbang akan permintaan yang diajukan muridnya itu.
Ajian cakar elang menggetar bumi, bukanlah ajian biasa. Ajian yang satu ini, termasuk ajian yang sangat berbahaya untuk digunakan. Ajian mematikan yang dapat membunuh lawan, dan mengancam nyawa seseorang yang menggunakannya.
tidak sedikit tenaga dalam yang dibutuhkan untuk mengerahkan teknik bela diri yang satu ini.
__ADS_1
"Apakah engkau yakin dengan keinginanmu itu?" tanya sang guru dengan wajah cemas.
"Tentu saja guru!" jawab Anindita secara tegas.