
Kereta yang akan digunakan untuk mengangkut mayat dan peti dagangan telah berhasil dibuat.
Masing-masing kereta beroda empat. Untuk kereta yang diperuntukan untuk mengangkut mayat, dibuat dengan ungkuran sedikit lebih kecil dibandingkan dengan kereta yang dibuat untuk mengangkut peti dagangan. Selain berukuran sedikit kecil, kereta yang diperuntukkan untuk mengangkut mayat, dibuatkan atap dan dinding yang terbuat dari kayu, agar terlindungi dari sengatan matahari, hujan, dan tatapan mata orang-orang saat memasuki ibukota.
Kaisar Quelle memerintahkan Raju untuk memindahkan seluruh peti dagangan dan mayat ke atas kereta.
Keesokan paginya barulah mereka melanjutkan perjalanan ke ibukota.
Akan tetapi, pada saat hendak mulai melakukan perjalanan...
"Ugggghhh..." Raju merasa sangat kesulitan saat dirinya berusaha mendorong kereta yang berisi peti dagangan milik para pedagang.Tenaga yang ia miliki tidak tidak sebanding dengan tingkat beban yang dimiliki oleh sejumlah peti.
"Urrrrgghhhh...!!" Raju terus berusaha dan berusaha dengan sekuat tenaga.
"Apakah selama perjalanan sebelumnya kita tidak mengendarai hewan tunggangan?" tanya Kaisar Quelle sembari melirikkan pandangannya ke arah sekitar.
"Tunggangan?" Raju balik bertanya tanpa memberi jawaban.
"Iya, hewan tunggangan."
"Apa maksudmu tuan muda? Bukankah kita sejak kita melakukan perjalanan dari kerajaan Agninusa ke wilayah ini kita terus berjalan kaki?"
"......" Kaisar Quelle berpikir sejenak.
"Maaf aku lupa." ucap Kaisar Quelle. "Kalau begitu aku akan mencari hewan yang dapat ditunggangi untuk mengangkut kedua kereta ini.
"Tapi tuan muda...."
"Ada apa?"
"Di hutan ini hanya ada hewan buas."
"Tidak masalah, hewan buas pun bisa dijadikan sebagai tunggangan. Aku bisa mengurusnya."
"Apa yang terjadi dengan anak ini? Sejak kehilangan ayahnya, banyak hal yang berubah pada dirinya. Seakan dia menjadi sosok orang yang berbeda." pikir Raju.
Kaisar Quelle yang secara tidak sengaja membaca pikirannya pun tersenyum. Dari apa yang dibacanya itu, dia akan bersikap hati-hati agar tidak memberikan suatu tanda tanya akan diri Enzi di benak orang lain.
Kaisar Quelle berlari ke dalam hutan, saat dirinya berada di luar jangkauan penglihatan Raju, Kaisar Quelle melompat tinggi ke atas puncak pohon. Mengamati kondisi hutan, mencari gerak-gerik hewan yang dapat dijadikan tunggangan.
Dari puncak pohon, Kaisar Quelle melihat gerak-gerik kawanan serigala yang tengah memakan bangkai rusa.
"Hewan buas yang satu ini, apakah sanggup mengangkut beban sebanyak itu?" Kaisar Quelle membayangkan situasi yang terjadi jika dia memanfaatkan kekuatan serigala dalam mengangkut beban.
"Satu hewan buas tidak sanggup, dua hewan buas itu pun tidak akan sanggup, tiga hewan buas? Aku rasa tidak seimbang. Bagaimana dengan empat? Hmm.. Aku rasa itu sudah cukup." Kaisar Quelle menghela nafas, "baiklah, aku akan menjinakkan mereka sekarang!"
Kaisar Quelle melompat dari puncak pohon ke batang pohon yang lain. Melompat dan terus melompat, hingga melandaskan kaki di hadapan sekumpulan serigala yang tengah asik menyantap hidangan sarapan pagi.
Tap!
__ADS_1
"Grrrrrhhh!!!!"
Kawanan serigala tampak geram dengan kehadiran Kaisar Quelle.
Dengan darah yang masih melekat di mulut, serigala-serigala itu melompat dan berusaha menerkam Kaisar Quelle yang berdiri di hadapan mereka.
Kaisar Quelle melompat tinggi menghindari serangan.
Kaki memijak pada ranting pohon yang kecil.
"Jika aku mengeluarkan secuil auraku, apakah tubuh ini sanggup untuk mengendalikannya?" pikir Kaisar Quelle bimbang.
Kaisar Quelle memegang dahan pohon dan menyerap sedikit energi kehidupannya.
Pohon yang dipijakinya itupun mengering, seperti pohon yang hidup tanpa air selama bertahun-tahun.
Melihat kejadian itu, kawanan serigala ketakutan. Mereka berlari kencang, berusaha kembali ke tempat persembunyian.
"Mereka melarikan diri? Tampaknya aku harus mengubah rencana."
Kaisar Quelle mengikuti jejak langkah kaki mereka secara sembunyi-sembunyi.
Gerombolan serigala sembunyi di dalam lembah yang lokasinya tepat berada di bawah kaki gunung pulosari.
Kaisar Quelle melompat dan menapakkan kaki di lembah serigala. Kawanan serigala perkasa keluar dari dalam lembah dan menyambut kehadiran Kaisar Quelle dengan auman yang begitu kencang.
Kaisar Quelle mengerti akan bahasa hewan, termasuk serigala. Bukanlah hal yang sulit bagi dewa untuk mengetahui bahasa makhluk hidup yang ada di alam semesta.
Kawanan serigala terkejut melihat sosok manusia yang mengerti bahasa mereka.
"Aku ingin sedikit berbincang dengan ketua kalian. Bisakah aku bertemu dengannya sekarang?"
Ketua kawanan serigala maju dan berdiri di hadapan Kaisar Quelle.
"Aku adalah Grayscale, penguasa lembah ini! Ada perlu apa engkau mencariku wahai putra manusia?"
"Senang bertemu denganmu, wahai Grayscale. Aku adalah pedagang kecil dari bangsa manusia. Aku datang kemari untuk membuka negosiasi penting denganmu."
"Negosiasi apa yang ingin engkau perbincangkan denganku wahai manusia?"
"Tawaran kerja sama."
"Tawaran kerja sama?" Ketua Serigala menolehkan pandangannya ke kanan dan kiri. Memandangi ekspresi pasukan serigala yang tengah berdiri di belakangnya. "Kerja sama? Engkau mengajak kami bekerja sama denganmu? Hahahaha." Ketua serigala tertawa mendengar tawaran yang diajukan oleh Kaisar Quelle kepadanya.
Kaisar Quelle hanya tersenyum melihat reaksi yang diberikan oleh ketua serigala.
"Tampaknya tawaran yang aku ajukan padamu terdengar lucu di telingamu."
"Memangnya keuntungan apa yang bisa kami dapatkan jika aku menerima tawaran kerja sama darimu?" tanya si ketua serigala.
__ADS_1
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku akan memberikan sedikit penjelasan tentang hukum alam. Dalam hukum alam, penguasa suatu wilayah dapat tergantikan oleh makhluk yang lebih kuat. Engkau tidak pernah tahu kapan kolonimu dapat bertahan di wilayah ini. Tanpa sepengetahuanmu, ada banyak makhluk yang lebih kuat darimu yang telah memperluas wilayah kekuasaannya di berbagai tempat di luar sana. Mungkin saja, pada suatu saat nanti, mereka mampu memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah ini, mungkin saja engkau dan kolonimu akan binasa jika hal itu sampai terjadi. Karena itulah, engkau memerlukan bantuan kekuatan pendukung yang dapat meningkatkan kekuatanmu."
"Jadi, engkau datang kemari untuk membantu kami dalam mempertahankan wilayah ini wahai manusia?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Bantuan apa yang ingin engkau berikan kepada kami?" tanya si ketua serigala kepada Kaisar Quelle. "Walaupun engkau begitu kuat, namun kekuatanmu tidak cukup untuk melindungi anak-anakku." sambungnya.
"Apakah engkau berpikir bahwa aku akan bergabung dengan kalian di sini, kemudian aku akan menunggu makhluk-makhluk yang lebih kuat dari kalian itu datang menginvasi ke wilayah ini? Lalu, saat aku berhasil melindungi kalian, aku akan memperoleh imbalan berupa wilayah kekuasaan? Tidak, tentu saja bukan seperti itu tawaran kerja sama yang ingin aku bangun dengan kalian."
"Jika bukan seperti itu, lantas seperti apa? Katakanlah secara langsung dan tidak usah bertele-tele, wahai manusia!"
"Kalian pernah mendengar tentang evolusi?"
"...." kawanan serigala hanya saling memandang satu sama lain.
"Ah, aku rasa kalian belum pernah mendengarnya. Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan sedikit penjelasan kepada kalian tentang evolusi yang aku maksudkan. Evolusi artinya suatu perubahan. Jadi aku akan membantu mengubah kalian yang sekarang ini, menjadi sosok makhluk yang lebih kuat. Dengan kekuatan yang berlipat ganda!"
"Bagaimana caramu melipat gandakan kekuatan kami?" tanya ketua serigala sambil tersenyum kecut. "Apa yang engkau umbarkan itu sungguh terdengar sangat mustahil, wahai manusia!" sambungnya seakan tak percaya.
Kaisar Quelle tersenyum hangat dan berkata, "Dengan kekuatanku, aku bisa membantu kalian berevolusi menjadi makhluk yang lebih kuat!"
"Energi yang aku keluarkan untuk membantu makhluk lemah seperti mereka untuk berevolusi, tidak jauh berbeda dengan energi yang aku keluarkan dalam memulihkan tubuh makhluk yang lemah. Beberapa tetesan darah yang mengalir dari tubuh ini, sudah cukup untuk membuat mereka berevolusi. Aku rasa, tidak akan ada masalah pada tubuh yang lemah ini jika aku melakukannya." pikir Kaisar Quelle.
"Dengan kekuatanmu? Dengan kekuatanmu engkau dapat membantu kami berubah menjadi makhluk yang lebih kuat? Hahaha, sulit dipercaya!" ketua serigala meragukan apa yang baru saja diucapakan oleh Kaisar Quelle.
"Jika kalian tidak percaya, aku bisa membuktikan kepada kalian sekarang!" kata Kaisar Quelle.
"Cepatlah buktikan ucapanmu itu wahai manusia!"
"Sebelum itu, tolong siapkan bejana berisi air ke hadapanku!"
"........?????" Kawanan serigala saling memandang, mereka tidak mengerti bagaimana cara menyiapkan bejana dan air ke hadapan Kaisar Quelle.
"Oops, maaf aku lupa kalau aku sedang berbincang dengan hewan. Kalau begitu, tunggulah di sini sebentar, aku akan menyiapkan bejana dan air untuk kalian!"
Kaisar Quelle melompat, bergerak dengan cepat mengambil bejana dan meminta satu kendi air kepada Raju.
Tanpa bertanya, Raju mengambil kendi air dari kereta, dan memberikannya kepada Kaisar Quelle.
Tanpa membuang banyak waktu, Kaisar Quelle melompat tinggi ke atas pohon, dan bergerak melesat dengan cepat ke lembah serigala.
Sekembalinya Kaisar Quelle ke lembah serigala, kaisar Quelle merobek ujung jari telunjuknya di hadapan kawanan serigala, dan membiarkan darahnya menetes ke dalam air yang telah disediakan di dalam kendi.
Jumlah tetesan darah yang mengalir dari jari telunjuknya sebanyak lima tetesan. Setelah tetesan kelima, Kaisar Quelle membiarkan ujung jari telunjuknya bergenerasi sendiri dengan sangat cepat tanpa ada bekas sayatan luka.
Saat darahnya sudah bercampur dengan air yang ada di dalam kendi, Kaisar Quelle melirikkan pandangannya ke arah kawanan serigala yang berada di belakang Grayscale. Dia mencari serigala yang paling lemah diantara mereka, dan menunjuk serigala lemah itu sebagai target evolusi pertama di muka bumi.
"Engkau yang ada di atas batu sana! Kemarilah!"
__ADS_1