Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 25: Aku Ingin Kuat


__ADS_3

...." Enzi tidak mampu mengucapkan sepatah kata, ia hanya mampu menangis dalam pelukan sang ibu.


"Kenapa kamu nak? Kenapa kamu menangis? Apakah ada suatu hal buruk menimpa ayahmu?"


Enzi masih terus menangis dan menangis. Ia ingin berhenti menangis, namun tidak kuasa menahan kesedihannya yang begitu mendalam.


Raju menarik kereta mayat, membuka pintu, dan menunjukkan mayat pria yang merupakan ayah dari Enzi kepada sanak keluarganya.


Betapa terkejut hati sang ibu tatkala melihat sang suami pulang ke rumah dalam kondisi tidak bernyawa.


Sulit untuk meluapkan kata. Nafas sungguh terasa sesak di dada.


Sang ibu menangis menjerit, meratapi kepergian suaminya.


Suasana duka menyelimuti keluarga Enzi di hari itu.


Raju memberikan instruksi kepada Ghiwa untuk membantunya mengambil seluruh peti dagangan keluarga Enzi dari kereta, dan menaruhnya di samping dinding rumah yang terbuat dari kayu.


Saat semuanya sudah diletakkan, Raju melanjutkan perjalanan ke istana kerajaan, dan melaporkan kejadian kepada raja, tentang perampokan yang menimpa para pedagang dan telah membuat mereka tewas di tengah hutan.


Raju meminta hukuman kepada raja, karena kegagalannya dalam melindungi para pedagang besar dari dua kerajaan.


Raja yang bijaksana, mengampuni kesalahan Raju. Bagaimanapun, Raju telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk dapat melindungi mereka. Bahkan, ia sampai memenuhi tanggung jawab mengantar seluruh peti dagangan milik pedagang yang telah tiada ke istana.


Raja memerintahkan bendahara kerajaan, untuk mengambil satu peti keping perak, dan mengirim beberapa utusan untuk menemani Raju membagikan keping perak itu kepada keluarga korban.


.........


Satu minggu telah berlalu sejak Enzi kembali ke kampung halaman. Suasana duka masih menyelimuti keluarga Enzi. Bayang-bayang sosok ayah masih terngiang di seluruh sudut rumah.


"Aku harus bangkit! Aku tidak boleh larut dalam kesedihan!" ucap Enzi dalam hati. Ia menolehkan pandangannya ke ruang di mana ibu dan adiknya berada.

__ADS_1


"Aku harus menjadi sosok yang kuat, agar aku bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi!" ucap Enzi dengan meneguhkan hati. "Baik! Mulai detik ini, aku akan belajar seni bela diri, dan berlatih untuk menjadi lebih kuat!"


Kaisar Quelle mendengar ucapan Enzi dan seketika itu juga ia memberi nasehat kepadanya, "Sebelum berlatih ilmu bela diri, hal yang perlu engkau lakukan adalah membangun pondasi tubuhmu! Perkuat fisikmu! Melatih pengontrolan dan ketenangan jiwamu! Jika semuanya sudah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah mempelajari ilmu tenaga dalam dan meningkatkan kekuatan energi tenaga dalam. Saat engkau sudah memilikinya, barulah engkau berlatih ilmu bela diri dari pendekar terbaik. Inilah hasil pengamatanku terhadap struktur tubuh kalian, makhluk bumi."


Enzi bertanya, "Apakah serumit itu?"


Kaisar Quelle menjawab, "itu bukanlah hal yang rumit untuk dilakukan. Jika engkau bersungguh-sungguh dan tekun melaksanakannya, maka hanya dalam kurun sepuluh tahun engkau sudah menjadi seorang pendekar yang kuat. Jauh lebih kuat dari seorang pengawal yang bernama Raju."


"Sepuluh tahun....." Enzi berpikir sesaat. "Hmmmm... Itu waktu yang cukup lama. Apakah tidak ada cara lain dengan waktu yang lebih singkat dari itu?"


"Tentu saja ada. Namun engkau tidak akan bersedia melakukannya."


"Engkau belum mengatakannya kepadaku, bagaimana engkau bisa berpikiran bahwa aku tidak akan bersedia melakukannya? Cepatlah katakan kepadaku, bagaimana cara aku bisa menjadi lebih kuat dalam waktu singkat!"


Kaisar Quelle dengan santainya menjawab, "pertama, engkau harus tertidur selamanya di dalam ragamu. Atau... Engkau pergi meninggalkan ragamu dan beristirahat dengan tenang di alam yang lebih indah dari bumi. Saat engkau sudah tidak lagi mengambil kendali atas ragamu, aku dapat mengambil alih tubuhmu sepenuhnya. Dengan begitu, aku dapat meningkatkan fisik tubuh ini sesuai dengan kebutuhanku. Untuk membangun pondasi tubuh, aku cukup melakukan meditasi. Soal seni bela diri? Aku dapat menguasai seni bela diri, hanya dengan melihat gerakan seni bela diri yang dimiliki lawan-lawanku."


Enzi merasa geram mendengarnya. "Kau.... Kau... Berani-beraninya kau mengusirku dari tubuhku sendiri!"


"Kau... Kau... Kau sungguh pandai bicara! Aku malas berbicara denganmu."


"Ingatlah nak, jika engkau ingin kuat, ikutilah saran pertama yang aku berikan padamu. Untuk meningkatkan fisik, engkau bisa melakukannya sembari menjual barang-barang yang ada di dalam peti ke penduduk kota. Di pagi hari, sebelum matahari terbit, engkau bisa membantu ibumu menumbuk padi. Mengangkut padi-padi itu seorang diri. Ketika mandi, duduklah bersila tepat di bawah air terjun. Cara itu selain dapat membantu meningkatkan kekuatan tubuhmu, dapat juga membantumu melatih pengontrolan emosimu dan ketenangan jiwamu."


"Ha? Apakah benar sesederhana itu?"


"Ya, benar. Sesederhana itu."


"Kenapa engkau tidak mengatakannya sejak awal? Jika hanya seperti itu, tentu saja aku dapat melakukannya." kata Enzi dengan penuh percaya diri. "Akan tetapi... Bagaimana dengan nasib ibu dan adikku? Aku khawatir, bila ada bandit datang ke rumah kami, merampas harta benda kami, dan melukai ibu serta adikku. Aku tidak ingin itu terjadi..."


"Engkau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku akan meminjamkan sedikit kekuatanku padamu bila memang ada bandit yang berani datang ke rumahmu."


"Sebenarnya, kekuatan Ghiwa sudah cukup untuk menumbangkan para bandit. Tapi bila aku menyebutkan nama Ghiwa, anak ini akan memberikan respon yang negatif, dan masih meragukan kesetiaan yang Ghiwa miliki." pikir Kaisar Quelle.

__ADS_1


"Ah, aku ada ide! Bagaimana jika engkau meminjamkan kekuatanmu kepadaku sepenuhnya? Bukankah kita berada dalam raga yang sama? Seharusnya aku juga bisa menggunakan kekuatan yang engkau miliki! Sejujurnya selama ini aku merasa... bahwa engkau sungguh tidak adil!"


"Tubuhmu terlalu lemah, jika meminjamkan kekuatanku kepadamu secara sepenuhnya, engkau tidak akan tahu seberapa besar tingkat batasan tubuhmu dalam mengendalikan kekuatanku! Jika kekuatan yang engkau gunakan melebihi tingkat batasan tubuhmu, engkau bisa mati konyol! Engkau harus tahu itu! Karena itulah aku memintamu untuk membangun pondasi tubuhmu terlebih dahulu, dan melakukan tahapan lainnya, supaya tubuhmu bisa menyesuaikan diri dalam mengendalikan beberapa kekuatanku tanpa harus terluka."


"Ya.... Ya... Ya... Aku tahu, tubuhku memang lemah, aku sangat menyadari hal itu! Baiklah, baiklah! Aku akan berlatih sekarang juga! Berlatih sesuai dengan petunjukmu!"


Enzi membuka peti dagangan, melihat benda apa saja yang dapat dijual dengan harga tinggi


"Angkut salah satu peti itu dengan kedua tanganmu! Tidak perlu pilih-pilih!" perintah Kaisar Quelle.


Ghiwa datang membantu.


"Katakan pada Ghiwa untuk tidak membantumu!" perintah Kaisar Quelle.


Enzi menuruti segala apa yang Kaisar Quelle instruksikan.


"Tidak perlu, biar aku saja yang mengangkut peti ini!" ucap Enzi kepada Ghiwa, sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh Kaisar Quelle kepadanya.


Enzi mengangkat peti, dan meletakkannya di atas kereta.


"Hei hei hei hei! Apa yang engkau lakukan? Cepat! Ambil kembali peti itu! Lakukan proses perdaganganmu dengan berjalan kaki dan tanpa alat bantu transportasi!" perintah Kaisar Quelle.


Enzi mengambil kembali peti dagangan dari atas kereta dan mengangkutnya dengan kedua tangan. Dia membawa peti itu dalam posisi memeluk di dada.


"Jika caramu seperti itu, engkau hanya mendapatkan rasa lelah saja. Angkatlah tinggi-tinggi dengan posisi tangan tegak lurus ke atas! Dengan begitu, engkau akan melatih seluruh otot-otot tubuhmu!"


Enzi memahami apa yang disampaikan Kaisar Quelle kepadanya. Dia mengangkat peti dagangan itu tinggi-tinggi, sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh sang kaisar.


Enzi berjalan ke pusat perdagangan kota. Menggelarkan isi dagangannya, dan menawarkannya kepada setiap penduduk yang melintas.


Melihat hal itu, Kaisar Quelle langsung menegur Enzi "Caramu salah! Jika engkau ingin meningkatkan kekuatan fisikmu sembari berdagang, seharusnya engkau tidak berdiam diri di tempat ini, dan berteriak ke sana kemari! Berdirilah, kemasi seluruh daganganmu lagi! Engkau harus mendatangi rumah warga, tawarkan barang-barang ini kepada mereka, gunakan teknik dari pintu ke pintu!"

__ADS_1


__ADS_2