
Dhatri membuka pintu kamar Anindita. Ia mendapati adiknya yang masih tertidur pulas di atas ranjang beralaskan selimut sutera.
"Dasar kau ini..." ujar Dhatri sambil menggeleng-gelengkan kepala, saat ia melihat diri Dhatri yang masih tertidur pulas di atas ranjang.
Dhatri membuka jendela, membiarkan sinar mentari menyinari wajah Anindita.
"Ditaaaaa! Ayo banguuuuun! Hari sudah siang....!" Dhatri menggoyang-goyangkan tubuh Anindita, berusaha membangunkannya dari dunia mimpi.
Tidak lama kemudian, Anindita terbangun dalam kondisi setengah sadar. Rambutnya yang tampak megar dan kusut, kedua kantung matanya yang sedikit bengkak, membuat wajah Anindita terlihat seperti orang yang berbeda.
Dhatri mengambil cermin, dan memposisikan bagian permukaan cermin itu tepat di depan wajah Anindita.
"Aaaaaaaa....!" Anindita terkejut. Dirinya menjerit, saat melihat pantulan wajahnya sendiri yang terdapat pada cermin.
Anindita melangkahkan kakinya dengan begitu cepat, berlari menuju pemandian kerajaan, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Dhatri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan adiknya yang kacau balau.
Dhatri menghela nafas, dan merapikan selimut adiknya.
Dhatri sudah lama berencana pergi ke pasar bersama Anindita di hari itu. Hanya sekedar untuk jalan-jalan, menikmati nuansa pasar dan melihat aneka dagangan.
Sementara itu di lembah serigala..
"Ghiwa, aku titip lembah ini kepadamu. Tolong bantu Grayscale untuk melindungi wilayah ini dari berbagai serangan yang datang. Karena serangan invasi tidak hanya berasal dari hewan buas yang lain, tetapi juga dari kalangan manusia terutama bandit yang sedang membuat markas persembunyian." pesan Kaisar Quelle kepada Ghiwa.
"Baik tuan." jawab Ghiwa.
"Bagus jika engkau sudah mengerti. Kalau begitu aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu. Sampai jumpa." ucap Kaisar Quelle dan ia lenyap begitu saja dari pandangan.
Ghiwa masih berdiri separuh membungkuk, sebagai bentuk pemberian rasa hormatnya kepada Kaisar Quelle.
Kaisar Quelle mengembalikan alih kendali raga kepada Enzi.
Enzi bergerak melesat dengan cepat ke wilayah hutan gunung Pulosari.
Area hutan gunung Pulosari terbilang sangat berbahaya. Selain memiliki jalan yang terjal, licin, dan penuh pepohonan rimba yang bisa membuat seseorang tidak mampu menemukan jalan keluar dari hutan, di dalam hutan itu juga terdapat banyak sekali hewan buas dan berbahaya yang mematikan.
__ADS_1
Beberapa pasang mata macan tutul mengintip di balik dahan pohon yang besar dan tinggi menjulang. Sekumpulan macan tutul itu bersiap menunggu mangsa yang melintasi area kekuasaan mereka.
Seekor babi hutan berlari dengan cepat mengejar seekor tikus hutan yang masuk ke dalam area hutan yang berada di bawah kekuasaan kelompok macan tutul.
Tanpa babi hutan itu sadari, beberapa ekor macan tutul telah membidik dirinya.
Dalam perburuannya itu, babi hutan berhasil menangkap dan memangsa tikus hutan dengan lahap. Namun sayang, selang beberapa kemudian, justru babi hutan itu yang menjadi target buruan beberapa ekor macan tutul.
Babi hutan berlari kencang, berusaha menyelamatkan diri keluar dari wilayah kekuasaan macan tutul.
Dia mencari pohon dengan tanda cakaran beruang, agar macan tutul yang mengejarnya masuk ke dalam wilayah kekuasan sekelompok beruang. Namun sayang, si babi hutan tumbang karena kalah adu kecepatan.
Macan tutul mencabik raga babi hutan, memakan dagingnya dengan lahap.
Saat mereka sedang lahapnya menyantap daging babi hutan, tiba-tiba saja....
Slash!!!
******!!!
Benda tajam berupa pedang panjang.
Segerombolan macan yang tersisa, mengambil sikap waspada.
"Grrrhhh!!!"
Enzi bergerak melesat dengan cepat, menggorok leher gerombolan macan tutul tanpa ada perlawan.
Lumuran darah macan tutul, membasahi mata pedang panjang. Enzi sedikit mengayunkan pedang, melepaskan beberapa tetesan darah macan tutul ke permukaan.
"Selanjutnya, aku akan menguliti hewan-hewan ini." kata Enzi.
"Bagaimana dengan dagingnya? Apakah engkau akan membiarkannya begitu saja?" tanya Kaisar Quelle.
" Ya, aku akan membuangnya di sarang beruang yang lokasinya tidak jauh dari sini." jawab Enzi.
"Apakah engkau tidak ingin memakan daging itu?" tanya Kaisar Quelle pada Enzi.
__ADS_1
"Tidak." jawab Enzi.
"Bodoh! Minggirlah! Biar aku saja yang mengkonsumsi semuanya! Engkau tidak tahu betapa lezatnya daging itu!"
Kaisar Quelle mengambil alih kendali raga Enzi. Menguliti badan seluruh macan tutul, memanggang daging macan tutul dengan sedikit kekuatan energi apinya.
Kaisar Quelle menyantap seluruh daging macan tutul itu dengan lahap tanpa adanya daging yang tersisa. Hanya menyisakan tulang belulang dengan bentuk yang masih utuh saja.
Enzi hanya mampu tercengang melihatnya. Ingin rasanya berkata sesuatu, namun tidak berani. Bahkan untuk memberikan tanggapan hanya sebatas dalam pikirannya pun ia tidak berani.
"Aku akan mengambil alih raga ini hingga esok hari." kata Kaisar Quelle sambil menata rapih kulit-kulit macan tutul yang tergeletak di atas tanah, ke dalam beberapa susun tumpukan. "Ah, supaya aku tidak repot membawanya, aku akan membuat tempat penyimpanan tidak terbatas."
Kaisar Quelle memotong tulang macan tutul, dan mengubah potongan tulang itu menjadi cincin. Menempa cincin itu, hingga menjadi cincin yang kuat, tidak mudah hancur terhadap berbagai serangan dan tekanan.
"Selanjutnya, aku akan membuat dimensi ruang di dalam cincin ini! Sehingga engkau tidak perlu lagi repot-repot membawa segala macam benda yang engkau butuhkan di masa depan." terang Kaisar Quelle sambil menyalurkan sedikit energinya ke dalam cincin. Ia menciptakan dimensi ruang dan waktu di dalamnya.
Kaisar Quelle memasukkan kulit-kulit macan tutul itu ke dalam cincin penyimpanan yang baru saja ia ciptakan.
"Dewaaa... Aku tidak menyangka, ternyata engkau sungguh peduli padaku... Aku terharu.." kata Enzi sambil mengusap kantung mata, meski tidak ada air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Kaisar Quelle memberikan respon yang negatif terhadap apa yang diutarakan Enzi kepadanya "Tch! Kata-katamu itu terdengar sungguh menjijikkan!" Kaisar Quelle sangat tidak menyukai ungkapan-ungkapan konyol seperti apa yang diutarakan Enzi kepadanya.
Kaisar Quelle melepaskan baju dan topeng pendekar yang dikenakan di tubuh Enzi, dan menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan.
Hanya pakaian yang terbuat dari kulit rusa sajalah yang ia kenakan.
"Dewa, Eee... Mengenai cincin penyimpanan itu... Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Enzi dengan perasaan gugup setelah ia menerima respon negatif dari Kaisar Quelle.
"Ketika engkau menyimpan sesuatu, engkau cukup merekatkannya saja pada permukaan cincin ini. Seakan engkau ingin memasukkan benda itu ke dalam cincin. Tentu kau tidak hanya menyentuhnya begitu saja, tetapi kau harus berpikir bahwa engkau ingin menyimpan benda itu ke dalam cincin. Contohnya pedang ini." Kaisar Quelle merekatkan ujung sarung pedang pada cincin. Dalam sekejap mata, pedang itu lenyap dan masuk ke dalam cincin penyimpanan. "Nah, seperti itu! Merekatkan dengan keinginan untuk memasukkan benda itu ke dalam cincin." terang Kaisar Quelle.
Enzi bertanya lagi, kali ini dia sudah tidak merasa gugup "Lalu, bagaimana jika aku ingin mengambilnya?"
Kaisar Quelle menjawab "Cukup menjepit jari telunjuk dan ibu jarimu pada cincin, sambil memikirkan benda apa yang ingin engkau ambil dari tempat penyimpanan? Misalkan ingin mengambil kembali pedang yang baru saja disimpan." Kaisar Quelle menjepit jari telunjuk dan ibu jarinya pada permukaan cincin, lalu ia menarik kedua jarinya itu seakan ia tengah menarik sesuatu dari dalam cincin. Seketika itu juga, pedang panjang ketarik keluar dari cincin penyimpanan, dan berada dalam genggaman tangan Kaisar Quelle. "Nah, seperti itu! Tapi itu berlaku untuk benda yang sudah engkau simpan saja. Jika engkau sudah memikirkannya, dan berusaha menarik benda yang ingin kau keluarkan dari cincin ini, namun tidak keluar juga, itu artinya engkau tidak menyimpan benda itu di dalam cincin. Apakah sekarang engkau sudah paham?"
"Sudah dewa, aku sudah paham. Terima kasih atas petunjuk yang engkau berikan." ucap Enzi.
Enzi merasa senang mendapat ilmu dan pusaka baru yang begitu berharga dari Kaisar Quelle.
__ADS_1