Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 54


__ADS_3

Di tengah gelapnya malam, guru besar perguruan padi melatih ilmu tenaga dalam.


Dari kejauhan, Enzi berdiri di atas ranting pohon yang rindang.


Enzi berdiri diantara rimbunnya daun pepohonan, sehingga sulit bagi kedua mata untuk dapat melihat keberadaannya.


Terlebih lagi, dirinya menyembunyikan kekuatannya, sehingga aura energi kekuatan yang ia miliki tidak dapat dirasakan oleh pendekar di tanah sunda lama.


"Tampaknya guru sedang berlatih ajian ilmu tenaga dalam yang sakti. Aku penasaran, ajian tenaga dalam apa yang tengah dipelajari oleh guru?" bisik Enzi dalam hati.


Ajian cakar elang menyapu bumi tingkat tiga. Itulah ajian yang tengah diasah oleh sang guru. Suatu tahapan tertinggi dari ilmu ajian cakar elang menyapu bumi.


Zeb!


Zeb!


Zeb!


Whosssshhh


Whossshhhh


Angin malam berderu kencang.


Ranting pepohonan tergoyak dan tersapu dalam terpaan angin kencang.


Daun-daun bertiup kencang, tiap daunnya merobek kulit batang pohon yang disentuhnya.


Sang guru mengibaskan tangan, jari tangannya mencengkram seperti cengkraman burung elang yang tengah menarget mangsa.


Tenaga dalam yang begitu kuat, mengalir di kedua telapak tangannya.


Sang guru menghempaskan cengkraman kedua tangan, ke arah pohon besar yang berdiri kokoh di hadapannya.


"Heyaaaa!!!"


Swoooossshhh!!!!


Badai angin tercipta, menyapu pohon-pohon yang ada di hadapannya.


Akar-akar pohon terlepas keluar dari dalam tanah.


Pohon-pohon tertiup dalam hembusan angin badai.


Whozzzz


Whozzzz


Whozzzz


Akibat dari serangan ajian itu, hutan yang berada di area mereka menjadi gundul sebagian.


Di atas pohon yang rindang, Enzi berdiri terpaku melihat kemampuan sang guru.

__ADS_1


"Ajian ini kalau tidak salah... Bukankah ajian milik pendekar Elang dari gunung Salak?


Pendekar tangguh yang telah lama menghilang dari dunia persilatan?


Mungkinkah, guru adalah pendekar sakti yang telah lama menghilang itu?"


Selang beberapa saat kemudian Enzi pun tersenyum seraya berkata, "Sungguh menarik...."


Tidak hanya Enzi, Kaisar Quelle yang berada di dalam ruang dan jiwa pun melihat kehebatan ajian cakar elang menyapu bumi.


"Untuk ukuran manusia, teknik seperti itu sangatlah menguras energi tenaga dalam. Jika engkau ingin mempelajarinya, lebih baik engkau tingkatkan lagi kekuatan energi tenaga dalammu." saran Kaisar Quelle kepada Enzi.


"Aku mengerti, Dewa. Terima kasih atas saranmu." ucap Enzi.


Di atas pohon, Enzi memperagakan gerakan ajian cakar elang menyapu bumi yang baru saja ia saksikan kehebatannya.


Memperagakan tanpa menggunakan tenaga dalam.


Sesaat setelah memperagakan teknik itu, Enzi memalingkan pandangannya ke arah sang guru berada. Namun sayang, sang guru sudah tidak lagi terlihat di sekitar area.


"Hmmm... Tampaknya guru telah kembali ke perguruan.


Baiklah, kalau begitu aku akan melanjutkan latihanku di sini."


Enzi melompat ke atas pucuk pohon, duduk bersila di atasnya, memejamkan mata, dan merasakan aura yang terpancar di sekitar area.


"Omong-omong, aku harus kembali ke kota. Bersiap-siap untuk acara lamaran pernikahanku yang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.


Aku tidak boleh berlama-lama di sini!"


Keesokan harinya, Enzi meminta izin kepada sang guru untuk kembali ke kota, karena ada keperluan yang harus ia selesaikan.


Sementara Anindita dan Dhatri masih terus berlatih dalam mempelajari ajian sakti yang diajarkan sang guru.


Mereka berdua tetap berada di perguruan, dan tidak dapat menemani Enzi dalam melakukam perjalanan kembali ke kota.


Enzi turun gunung seorang diri.


Dia berjalan normal, khalayaknya orang biasa yang tidak tahu tentang seni bela diri maupun ilmu tenaga dalam.


Saat sudah berada di luar wilayah perguruan padi, Enzi melangkah dengan cepat secepat cheetah yang sedang berburu mangsa.


Whoooosssshhh!


"Esok lusa, aku dan keluargaku akan berangkat menuju kediaman Denok. Mungkin butuh beberapa waktu dalam melakukan perjalanan ke sana." ucap Enzi kepada Kaisar Quelle.


Mendengar ucapan Enzi, Kaisar Quelle pun bertanya, "Apakah kalian akan berjalan kaki?"


Enzi menjawab, "Ya, tentu saja kami berjalan kaki."


Kaisar Quelle menghela nafas, "Sighh..." dan kemudian ia bertanya, "kenapa engkau tidak menggunakan kereta kuda saja?"


Enzi tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Kaisar Quelle.

__ADS_1


Wajahnya tampak kebingungan seperti orang bodoh.


"Kereta Kuda? Maafkan aku Dewa, aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu. Emmm... maksudku, aku tidak tahu apa itu kereta kuda?"


Kaisar Quelle pun menjelaskan tentang apa itu kereta kuda, dan memberikan contoh mengenai bentuk kereta kuda yang digunakan oleh penduduk bumi di abad 17.


"Ah, rasanya tidak mungkin aku bisa membuat kereta kuda dalam waktu satu hari. Lebih baik kami berjalan kaki saja." ucap Enzi.


"Jika engkau mau, aku bisa memberikanmu kereta kuda sekarang juga." kata Kaisar Quelle.


Bagi Kaisar Quelle, menciptakan kereta kuda hanya membutuhkan waktu satu jentikan jari saja.


"Tidak perlu Dewa, jika engkau memberikanku kereta kuda, maka orang-orang akan merasa heran dan bertanya-tanya dengan apa yang baru saja mereka lihat." kata Enzi.


"Baiklah jika memang itu keputusanmu." ucap Kaisar Quelle.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Enzi merasakan keberadaan segerombolan manusia yang tengah berjalan dari arah berlawanan.


Enzi memperlambat gerak langkah kaki, dan berjalan normal di bawah rindangnya pepohonan rasamala.


Dari kejauhan, Enzi melihat rombongan pengawal dari kerajaan.


Rombongan pengawal bertubuh kekar, berjalan tegap dengan tombak di tangan kanannya.


Enzi berjalan menepi kesisi kanan, berpindah posisi, mengambil posisi jalan dengan jalur yang berbeda.


Pada saat ia akan berpapasan dengan rombongan itu, Enzi melihat seorang bangsawan duduk di atas tandu.


Tandu yang terbuat dari kayu, dan dibopoh oleh empat orang pengawal bertubuh kekar.


Bangsawan yang duduk diatas tandu itu bernama Takur.


Dalam tata krama lama, seorang rakyat jelata harus bersujud dalam bentuk rasa hormat mereka kepada bangsawan yang melintas di hadapannya.


Namun hal itu tidak berlaku bagi Enzi.


Enzi terus berjalan, tanpa memperdulikan keberadaan bangsawan yang ada di dekatnya.


Takur merasa geram dengan sikap Enzi.


Seketika itu juga ia mengangkat tangan, sebagai isyarat perintah untuk berhenti.


Tak lama kemudian, Tuan Takur berbisik kepada salah satu pengawal yang ada di hadapannya.


Sang pengawal yang memperoleh teguran berupa bisikan dari Tuan Takur pun baru menyadari akan sikap Enzi.


Seketika itu juga, Ia pun menoleh ke belakang, menatap diri Enzi yang terus berjalan tanpa beban.


"Kurang ajar! Berani-beraninya seorang rakyat jelata sepertimu tidak memberi rasa hormat kepada Tuan Takur!"


Sang pengawal terus menatap diri Enzi yang terus berjalan tanpa memperdulikannya.


Sang pengawal pun merasa geram. Ia mengepalkan tangan seraya berkata, "Bocah ini...! Berani-beraninya ia meremehkan kami!"

__ADS_1


Seketika itu, sang pengawal dengan rasa hormat meminta izin kepada Tuan Takur, "Tuan, izinkan hamba untuk memberi pelajaran kepada bocah tengik itu."


"Lakukan sesukamu." ucap Tuan Takur.


__ADS_2