Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 36: Pasukan Bandit Menara Timur


__ADS_3

Di bawah guyuran hujan, Enzi bergerak melesat dengan cepat diantara pepohonan. Melompat dari satu pohon, ke pohon yang lain. Fokus menjaga keseimbangan, dengan kekuatan tenaga dalam yang mengalir di seluruh tubuh.


Guyuran air hujan yang membasahi tubuh, membuat Enzi berpikir, "Apakah ada suatu teknik tenaga dalam yang mampu mengendalikan hujan?"


Kaisar Quelle yang mendengar suara pikiran Enzi menjawab, "Tentu saja ada. Bahkan, mengendalikan petir dan angin pun bukanlah hal yang sulit dilakukan."


"Benarkah?" tanya Enzi dengan penuh semangat.


"Tentu." jawab Kaisar Quelle.


Kedua mata Enzi berbinar, dengan penuh semangat ia bertanya pada Sang Kaisar, "Bagaimana caranya Dewa? Tolong ajarkan aku."


"Aku akan mengajarkanmu jika tingkat kekuatan tenaga dalammu sudah mampu menggetarkan bumi." jawab Kaisar Quelle.


"Tadi engkau bilang padaku bahwa itu bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan...


Ah~ ternyata engkau telah menipuku! Sungguh mengecewakan!" keluh Enzi dengan wajah yang tampak sedikit kecewa.


........


Sementara itu di tempat lain...


Guyuran air hujan telah membasahi raga Ageng Phatra. Karena zirah perak yang ia kenakan, tidaklah menutupi seluruh bagian anggota badannya. Hanya bagian vital seperti dada dan perut saja yang ada dalam perlindungannya. Namun tidak pada bagian kedua lengan tangannya.


"Kita sudah cukup lama berada di sini! Jika kita tidak segera melakukan penyergapan, maka kondisi keselamatan para sandera akan semakin terancam!" ucap Ageng Phatra sambil melihat situasi di sekitar hutan.


"Tuan, izinkan aku memeriksa keadaan." kata seorang prajurit dalam menawarkan dirinya maju ke garda terdepan.


"Baik, berhati-hatilah. Kami menunggu kabarmu di sini!" pesan Ageng Phatra kepada prajurit yang pemberani itu.


Sang prajurit maju, berlari menuju kawasan markas bandit tangan besi.


Di luar dugaan, jejak langkah kaki sang prajurit diketahui oleh para bandit yang berjaga di pos menara yang terbuat dari kayu.


Beberapa bandit yang melihat gerak gerik sang prajurit, memberi instruksi kepada bandit yang lain untuk menghabisi nyawa sang prajurit itu.


Sang prajurit terus mengendap tanpa menyadari akan bahaya yang mengintai. Bahkan keberadaan bandit yang berdiri di dahan pohon yang tinggi, berada tepat di aras ia berdiri. Tanpa membuang waktu, sang bandit pun langsung melompat dan menggorok leher sang prajurit dengan cepat. Sang prajurit pun tewas di tempat.


"Cepat! Cari tikus-tikus yang lain! Mereka pasti bersembunyi di sekitar sini!" perintah salah satu pimpinan gerombolan bandit.


Seorang bandit menemukan keberadaan Ageng Phatra dan bala pasukannya. Ia memberi kode kepada kawanan yang ada di dekatnya dalam bentuk kode tangan. Kawanannya yang menerima kode, bersiap siaga mengirim sinyal tatkala operasi penyergapan telah dimulai.


Tanpa membuang waktu, mereka langsung melompat dan mengepung Ageng Phatra beserta pasukannya.


Truuuutttt.....


Seorang bandit berhasil mengirim sinyal melalui tiupan terompet.


"Mereka di sana! Ayo cepat kita ke sana!" perintah salah satu pimpinan bandit yang memimpin pasukan bandit menara timur.


Segerombolan bandit dalam jumlah yang begitu banyak, berhasil mengepung Ageng Phatra dan pasukannya.


"Sial! Jumlah mereka terlalu banyak! Rasanya sangat sulit bagi kita untuk melawannya!" gumam salah satu pengawal Ageng  Phatra.

__ADS_1


Ageng Phatra berusaha bersikap dan berpikir tenang. Memikirkan cara untuk mengalahkan musuh yang jumlah pasukannya jauh lebih banyak daripada jumlah  pasukan yang dimilikinya.


"Kalian semua! Fokus pada pertahanan kalian! Aku akan mencoba mengobrak-abrik formasi musuh dengan kekuatan yang aku miliki!" Perintah Ageng Phatra dengan semangat membara.


Ageng Phatra bergerak melawan kepungan musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mengayukan pedang, menggetarkan musuh yang ada di hadapannya.


Para bandit tidak tinggal diam, mereka turut menyerang para pasukan Ageng Phatra yang tengah bertahan.


Pertarungan sengit pun tidak terelakkan.


"Heyaaaa!!"


Clang!


Clang! Clang! Clang!


"Hahahaha.. Lihatlah siapa yang datang?" kata pimpinan bandit penjaga menara timur"kita kedatangan tamu dari kerajaan... Mari beri sambutan mereka yang hangat, kawan-kawan!" sambungnya.


"Tutup mulutmu! Aku berjanji akan menghabisimu beserta kelompokmu hari ini!" ancam Ageng Phatra.


"Oh? Benarkah? Untuk melawan anak buahku saja, engkau tampak kesulitan. Hahahaha..." kata salah satu pimpinan bandit penjaga menara timur.


Ageng Phatra dengan gigihnya terus bertarung melawan para bandit. Mengayunkan pedang, menebas para musuh yang menyerang.


"Heyaaaa!!!!"


Clang!


Satu persatu pasukan bandit tumbang di tangan Ageng Phatra.


Pimpinan bandit menara timur merasa gatal melihat kemampuan bertarung yang ditunjukkan oleh Ageng Phatra.


Pimpinan bandit menara timur melompat, menyerang Ageng Phatra.


"Minggir kalian! Biar aku yang menangani bocah ingusan ini!"


Clang!!!


Dua senjata tajam saling berbenturan. Senjata pedang panjang milik Ageng Phatra, dengan senjata golok milik pimpinan bandit menara timur.


"Pedang yang bagus!" kata pimpinan bandit menara timur. "Lihatlah, aku akan mengambil pedang itu dari tanganmu nak.. Hahahaha!" sambungnya.


"Engkau terlalu banyak bicara! Ambilah pedang ini setelah engkau pergi ke alam baka!!" teriak Ageng Phatra sambil mengayunkan pedangnya ke arah pimpinan bandit menara timur dengan sekuat tenaga.


Clang!


Pimpinan bandit menara timur berhasil menahan serangan Ageng Phatra dengan mudah. Tak lama kemudian, pimpinan bandit menara timur itu tersenyum, kemudia ia menendang perut Ageng Phatra dengan tendangan yang begitu keras.


Buaghhh!


"Ugh!" Ageng Phatra berusaha menahan rasa sakit.


"Zirah yang bagus! Aku juga akan mengambil zirah perak itu dari tanganmu! Hahaha.. Hahahahaha~" ucap pimpinan bandit menara timur sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Pimpinan bandit menara timur sangat merasa yakin, bahwa kemenangan ada di genggaman tangannya.


Sementara itu, di suatu tempat yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari lokasi...


"Apa? Mengendalikan aliran air hujan menjadi suatu serangan?" tanya Enzi.


"Ya, mengendalikan air hujan menjadi suatu serangan yang dapat melumpuhkan pergerakan musuh. Aku rasa, itulah teknik yang bisa engkau pelajari untuk saat ini." jawab Kaisar Quelle sambil berendam air panas


"A..aa.. Apakah hal seperti itu bisa dilakukan oleh manusia biasa sepertiku?" Enzi bertanya, seakan tidak percaya.


"Tentu saja bisa." jawab Kaisar Quelle sambil memejamkan mata menikmati kolam air panas.


"Bagaimana caranya dewa? Tolong ajarkan aku...." pinta Enzi memohon...


"Tenanglah, aku akan mengajarkanmu nanti. Untuk sekarang, lebih baik engkau selesaikan urusanmu terlebih dahulu." kata Kaisar Quelle.


"Baik! Aku akan menantikannya!" ucap Enzi dengan penuh semangat.


Dalam kondisi semangat yang membara, Enzi melesat dengan cepat melintasi berbagai macam pepohonan. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya, dan tidak sabar untuk mempelajari teknik latihan selanjutnya.


Saat dalam perjalanan menuju gunung Pulosari, tiba-tiba saja Enzi merasakan energi pembunuh yang kuat dari arah hutan area barat.


"...!!!!


Energi ini?" Enzi menghentikan langkah kakinya sesaat. "Energi dengan hawa pembunuh berdarah dingin! Dan jumlah mereka sangatlah banyak! Siapa mereka ini? Aku harus segera memeriksanya ke sana sebelum mereka menjadi ancaman yang begitu besar!"


Enzi berputar arah, bergerak dengan cepat menuju sebelah barat.


Whoooossshhh!


......


....Enzi tiba di lokasi. Ia menghentikan langkah kaki, melihat keadaan dan situasi.


"Pasukan kerajaan?" Enzi melihat pertarungan antara Ageng Phatra melawan pimpinan bandit menara timur, dan pertempuran antara pasukan Ageng Phatra dengan pasukan bandit yang berlangsung sangat sengit.


Dalam pertempuran yang terjadi, pasukan yang dipimpin oleh Ageng Phatra berada dalam tekanan. Tidak sedikit dari pihak mereka yang jatuh berguguran. Jika pertarungan itu terus berlanjut, maka sudah dapat dipastikan bahwa Ageng Phatra beserta pasukannya akan tumbang di tangan kelompok bandit itu.


"Aku harus menolong ksatria kerajaan itu!" ucap Enzi.


"Lakukanlah. Jika perlu, engkau tidak perlu serius menghadapi serangga-serangga lemah itu. Anggap saja mereka sebagai objek latihan dalam perjalananmu kali ini." ucap Kaisar Quelle.


"Tapi sebelum itu... Aku harus menutup wajahku agar mereka tidak mengenaliku ketika aku kembali ke kota." Enzi tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian kerajaan dan mendapat perlakuan spesial sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan pasukan kerajaan.


Enzi melihat mayat bandit dengan topeng di wajah. Cukup mengayunkan kedua jari, ia mengambil topeng itu melalui aliran energi tenaga dalam yang disalurkan di udara.


Tap!


Kini, topeng itu sudah berada di genggaman tangan Enzi.


Saat itu juga, Enzi langsung mengenakan topeng bandit.


"Baik! Saatnya beraksi!"

__ADS_1


__ADS_2