
"Terima kasih, berkatmu tubuhku kini terasa lebih baik." Pangeran Cusso bangkit, setelah tubuhnya telah pulih sepenuhnya dari luka.
"Dimana yang lain?" Permaisuri Ignia bertanya sembari melihat keadaan di sekeliling.
Hanya tumpukan mayat dewa dan raja dewa dari kedua kubu yang ia lihat di sepanjang mata memandang.
"Apakah tidak ada yang tersisa?" tanyanya lagi.
Pangeran Cusso menjawab "Eee.... Aku rasa hanya tersisa kita bertiga saja."
"Apa?! Apakah engkau bercanda?!" Permaisuri Ignia terkejut mendengarnya. Kedua matanya terbelalak, seakan ia tidak percaya dengan kabar itu.
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku sungguh tidak menyangka bahwa dia sekuat itu." jawab Pangeran Cusso dengan wajah berpaling dan menunduk.
Permaisuri Ignia bertanya lagi dengan suara rendah "Apakah engkau tahu di mana ayahmu berada?"
Pangeran Cusso menggelengkan kepala, "Tidak... Aku tidak tahu." jawabnya.
Pemaisuri Ignia tampak kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Pangeran Cusso.
"Setiap aku bertanya, engkau selalu saja menjawab tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu!" Permaisuri Ignia melayangkan jari telunjuknya ke bagian kepala Pangeran Cossu. "Kamu ini tahunya apa? Kau membuatku makin kesal saja! Aku penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam isi kepalamu itu?"
Pangeran Cossu yang mampu menunduk dan berkata "Aku memang tidak tahu, bagaimana bisa aku mengetahui keberadaan ayah dan si bodoh itu setelah mereka berdua lenyap begitu saja di depan mataku. Si bodoh itu menggunakan teknik dimensi ruang dan waktu, sehingga aku tidak dapat mendeteksi keberadaannya."
Mendengar pernyataan dari Pangeran Cusso, Permaisuri langsung menarik kesimpulan, "Jika dia menggunakan teknik dimensi ruang dan waktu, maka kemungkinan besar mereka berdua berada di dimensi yang berbeda dengan dimensi tempat kita berada."
"Ya, itu maksudku." jawab Pangeran Cusso mengiyakan. Selang beberapa saat kemudian, dia merasa cemas dengan keadaan ayahnya yang saat ini tengah bertarung dengan Kaisar Quelle di dimensi yang berbeda. "Lantas sekarang kita harus bagaimana?"
"Dimensi ruang dan waktu? Hmmm.... Sesuai dengan dugaanku. Jika memang seperti itu kondisinya, maka sangatlah tidak aman bagi si pangeran bodoh ini jika dia tetap berada di sini. Aku harus menyembunyikan dia di suatu tempat. Di sisi lain, aku tidak dapat memastikan bahwa mereka bisa memenangkan pertempuran ini setelah melihat apa yang telah terjadi." pikir Permaisuri Ignia.
Permaisuri Ignia membuka gerbang portal menuju dunia dari dimensi yang berbeda.
"Masuklah ke dalam portal itu, dan bersembunyilah di dunia yang ada di balik portal itu untuk sementara waktu. Dengan begitu, engkau akan aman." perintah Permaisuri Ignia.
"Bagaimana denganmu?" tanya Pangeran Cusso.
"Aku tetap di sini, memantau keadaan dan menanti kesempatan." jawab Permaisuri Ignia sembari terus memandangi keadaan sekitar.
"Berhati-hatilah, jangan sampai si bodoh itu tahu, bahwa semua ini adalah bagian dari rencanamu." pesan Pangeran Cusso.
"Tentu, tentu saja. Aku sudah memperhitungkan semuanya. Jadi engkau tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik." Pangeran Cusso memasuki portal dimensi ruang dan waktu, mengamati keadaan langit Gloxinia dari balik sana.
Permaisuri Ignia mengayunkan tangan, menyembunyikan portal dimensi ruang dan waktu dari pandangan.
.........
Diantara puing reruntuhan bangunan istana yang telah hancur Permaisuri Ignia berkeliling. Memeriksa keadaan pasukan dari kedua belah pihak. Memastikan tidak ada satupun dari pihak Kaisar Quelle yang masih hidup dan bisa diselamatkan.
"Pe.. Permaisuri... Engkau kah itu?" seorang dewi terbaring lemas diantara puing-puing reruntuhan. Tubuhnya penuh luka, tangan kirinya terpotong, dan sebilah pedang menancap di perutnya.
Permaisuri datang menghampiri dewi yang malang itu. Berpura-pura memasang wajah iba, berpura-pura mencemaskan keadaan sang dewi. "Bertahanlah dewi kecilku, aku akan menyelamatkanmu." ucap Permaisuri Ignia.
"Aku akan menyelamatkan dewi kecil ini, lalu aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri setelah ia tidak lagi berguna." bisik Permaisuri Ignia dalam hati.
Permaisuri Ignia mencabut pedang dari perut sang dewi.
"Ughhh..uuuughh...!!! Aaaaaaagggghhhhh...!!!" Sang dewi menjerit kesakitan.
Pedang yang bersarang telah berhasil dicabut.
"Bertahanlah! Sekarang aku akan mengobati lukamu!" Permaisuri Ignia membaringkan tubuh sang dewi di atas pangkuannya.
Permaisuri Ignia merobek kain gaun yang ia kenakan.
__ADS_1
Sreeetttttt!!!!
"Bertahanlah! Bertahanlah!"
Permaisuri Ignia membersihkan luka yang terdapat di sekitar area perut sang dewi dengan potongan kain gaun, dan menutup robekan luka dengan sentuhan jari.
Syuuuuu...
Perut sang dewi berhasil disembuhkan. Tanpa ada jejak goresan luka yang membekas, kulit perut sang dewi pun tampak putih mulus kembali tanpa ada satupun goresan.
Permaisuri Ignia menatap pergelangan tangan sang dewi yang telah terpotong.
"Aku ingin mengembalikan keadaan tanganmu seperti sediakala, tapi....." Permaisuri Ignia berpikir sejenak, ia tampak ragu dalam membuat keputusan.
Di tengah keraguan itu, tiba-tiba saja Permaisuri Ignia mendengar suara Kaisar Quelle yang memberi perintah kepadanya.
"Berikanlah dewi kecil itu sebuah tangan indah dan kuat sebagai hadiah spesial untuknya yang telah berjuang melindungi negeri ini dengan jiwa raganya."
Permaisuri Ignia menoleh ke arah sumber suara.
"Ya... Yang Mulia..." sahut Permaisuri Ignia terkejut.
"Sial! Kenapa dia tiba-tiba ada di sini!? Karena dia menyembunyikan kekuatannya, aku jadi tidak dapat merasakan pancaran aura kekuatannya." gumam Permaisuri Ignia dalam hati dengan menggunakan kekuatan penangkal pembaca pikiran dan hati. Permaisuri Ignia celingak celinguk, melihat keadaan di sekitar "di mana si tua bangka itu? Apakah dia telah binasa?"
"Apa yang engkau cari? Cepat lakukanlah!" perintah Kaisar Quelle.
"Baiklah Yang Mulia." Permaisuri Ignia mematuhi perintah Kaisar Quelle.
Permaisuri Ignia menyentuh pergelangan tangan kiri sang dewi yang telah terpotong. Tangan kanan Permaisuri Ignia memancarkan cahaya berwarna mint yang sangat terang.
Permaisuri Ignia menggerakkan tangan ke bawah, searah dengan bagian bawah lengan tangan kiri sang dewi yang terpotong seraya melapalkan skill "Regenerasi!"
Sebuah tangan yang sangat indah secara ajaib tumbuh dari potongan lengan tangan sang dewi.
Cliing....
"Berdirilah!" perintah Permaisuri Ignia. "tidak perlu sungkan kepadaku. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi dan menolong rakyatku."
"Terima kasih Permaisuri. Terima kasih atas kemuliaan hati Permaisuri, suatu kemuliaan bagi hamba untuk bisa melayani Permaisuri di masa depan."
"Baiklah, baiklah." ucap Permaisuri Ignia sembari membantu sang dewi kecil berdiri di hadapannya.
Permaisuri Ignia menoleh ke belakang, menatap wajah Kaisar Quelle yang berdiri di belakangnya.
Permaisuri Ignia berpura-pura memasang wajah rindu, ia berlari dan memeluk erat tubuh Kaisar Quelle dalam kepalsuan.
Permaisuri Ignia menangis sedih, menangis dalam kepalsuan.
Kaisar Quelle berusaha menenangkan, mengelus punggung Permaisuri Ignia dalam dekapan pelukan kehangatan.
"Tenanglah sayang, tenanglah... Sekarang aku sudah berada di sini, di sisimu." ucap Kaisar Quelle sembari mengelus-elus punggung Permaisuri Ignia.
Permaisuri Ignia masih terus menangis dan menangis. Dalam tangisan yang penuh dengan kepalsuan itu ia memikirkan cara untuk dapat membunuh Kaisar Quelle.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apakah aku harus melayani dia selamanya? Duh, yang benar saja?! Jika begini terus, maka tidak ada satupun dewa di langit ini yang dapat menandinginya, dan dia akan menjadi penguasa di langit ini untuk selamanya! Tidak! Aku tidak ingin membiarkan itu terjadi! Aku harus mencari cara agar aku bisa menghabisinya!" pikir Permaisuri Ignia.
"Yang Mulia, engkau sungguh kejam! Sangat kejam!" Permaisuri Ignia masih terus menangis dalam pelukan. Menangis tersedu dalam kepalsuan.
"Sudah sayang, tenanglah. Pertempuran telah usai. Tak ada lagi peperangan, langit Gloxinia telah kembali damai." Kaisar Quelle terus berusaha menenangkan suasana hati Permaisuri Ignia. Memeluk erat tubuhnya, dan terus mengelus punggung Permaisuri Ignia hingga perasaannya benar-benar tenang.
Masih dalam dekapan pelukan, Permaisuri Ignia berkata "Yang Mulia, maukah engkau berjanji satu hal kepadaku?"
Masih dalam posisi mengelus punggung Permaisuri, Kaisar Quelle bertanya, "Berjanji?Janji apa yang engkau inginkan dariku? Katakanlah...."
"Berjanjilah kepadaku, untuk tidak meninggalkanku lagi...."
__ADS_1
Kaisar Quelle tersenyum dan berkata "Baiklah, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, dan selalu senantiasa menemanimu. Oleh karena itu, aku akan menciptakan dunia yang damai di langit ini."
Permaisuri Ignia berhenti menangis dan melepas dekapan pelukan.
"Janji?" tanya Permaisuri Ignia memastikan.
"Ya, aku berjanji!" jawab Kaisar Quelle.
Kaisar Quelle menatap puing-puing bangunan istana. Menggerakkan telapak tangan ke atas, tumpukan mayat para dewa dan dewi terangkat, terbang melayang di udara.
Kaisar Quelle menggerakkan telapak tangan, memindahkan mayat para dewa dan dewi di atas taman.
Permaisuri hanya mampu menatap, memperhatikan Kaisar Quelle dari dekat.
Kaisar Quelle berpaling, menatap sang dewi yang berdiri tepat di belakang Permaisuri Ignia.
"Dewi kecil..."
Sang dewi berpaling, berdiri menghadap Kaisar Quelle dengan pandangan mata menunduk, penuh rasa hormat.
"Hamba di sini Yang Mulia." sahut sang dewi.
"Siapa namamu?"
"Nama hamba Hyacinthi Yang Mulia." jawab sang dewi.
"Hyacinthi... Nama yang indah." Kaisar Quelle menyanjung.
"Terima kasih Yang Mulia, hamba merasa sangat tersanjung."
"Omong-omong Dewi Hyacinth, aku ada satu permintaan."
"Hamba siap mendengarkan dan menjalamkan perintahmu Yang Mulia." jawab sang dewi dengan perasaan gugup.
"Dewi Hyacinth, mulai hari ini, engkau adalah pelayan pribadi Permaisuri. Jadi engkau harus setia melayani dan mendampingi Permaisuri di manapun dirinya berada. Apakah engkau mengerti?"
"Baik, hamba mengerti Yang Mulia. Hamba siap melayani dan melindungi Permaisuri dengan seluruh jiwa raga hamba."
"Baiklah, kalau begitu tolong kamu antar dan temani Permaisuri ke kamarnya."
"Kamar?" Sang dewi kecil tampak bingung. Dia memandang di luas di area sekitar, hanya puing-puing bangunan istana yang telah rata dan mayat para dewa dari pihak musuh yang tampak di depan mata.
Kaisar Quelle baru menyadari akan hal itu.
"Maaf, aku lupa. Tunggu sebentar!"
Kaisar Quelle menjentikkan jari
Tick!
Puing-puing bangunan lenyap dari pandangan.
Kaisar Quelle menghentakkan kaki.
Tap!
Istana megah tercipta. Istana yang lengkap dengan berbagai macam sarana dan bangunan kompleks yang luas di dalam lingkungannya.
"Sekarang kalian berdua masuklah ke dalam, aku akan di sini untuk sementara waktu. Aku masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini."
"Baik Yang Mulia." jawab Permaisuri Ignia dan Dewi Hyacinthi secara serempak.
...............
Sementara itu di suatu tempat, di dimensi yang berbeda.
__ADS_1
"Bocah tengik! Tunggulah pembalasanku! Kali ini aku benar-benar akan melenyapkanmu! Haaaaaahhhh!!!!"