Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 28: Teknik Dasar Tebasan Pedang


__ADS_3

Kaisar Quelle mengambil alih tubuh Enzi. Betapa terkejutnya Enzi melihat pemandangan dan suasana yang ada di dalam ruang jiwanya sendiri.


"A...Aa...apa ini? Di mana ini?"


"Tentu saja engkau sedang berada di dalam ruang jiwa."


"Apa? Ruang jiwa?" Enzi merasa semakin terkejut bukan kepalang. Kedua matanya terbelalak, mulutnya menganga terbuka lebar bagaikan mulut goa yang ada di bawah kaki gunung. "Ruang jiwa yang gelap itu? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ruang yang gelap itu bisa menjadi taman luas yang indah seperti ini? Hei, apakah engkau bukan manusia? Oh iya, tentu saja engkau bukan manusia. Engkau adalah arwah gentayangan yang berasal negeri jauh di sana!"


"Bodoh! Sudah berapa kali aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini dewa! Sosok yang mampu menciptakan dan mengatur dunia. Apa yang engkau lihat sekarang ini adalah dunia kecil yang aku ciptakan di dalam ruang jiwamu. Selama engkau berada di dalam sana, engkau bisa menikmati segala fasilitas yang ada di sana. Engkau juga bisa melihat suasana yang terjadi di bumi, terlebih khususnya apa yang terjadi di depan kedua mata dari ragamu ini, melalui kolam yang ada di sebelah sana!"


Enzi berlari menuju kolam, melihat tampilan suasana bumi melalui permukaan air kolam yang ada di hadapannya.


"Wow... Woww.... Wooowww!!!! Luar biasa! Ini benar-benar luar biasa! Aku belum pernah melihat hal yang begitu menakjubkan seperti ini seumur hidupku sebelumnya!"


"Tentu saja." ucap Kaisar Quelle dengan rasa bangga. "Di dalam kolam, terdapat berbagai macam hewan laut yang aman untuk dikonsumsi."


"Kau... Siapa engkau sebenarnya? Kenapa kau bisa sehebat ini?"


"Tentu saja, karena aku adalah Quelle. Dewa agung... Ah, lebih tepatnya Kaisar Dewa dari langit Gloxinia."


"Langit Gloxinia? Apakah yang engkau maksud adalah langit yang berwarna biru itu?"


"Tentu saja bukan. Bukan langit yang berwarna biru itu. Jika engkau ingin tahu langit Gloxinia itu seperti apa, aku akan menunjukkannya kepadamu!"


Kaisar Quelle menjentikkan jari.


Tik!


Pemandangan langit Gloxinia semasa Kaisar Quelle berkuasa di sana, tampil di layar kolam.

__ADS_1


Enzi tertegun untuk beberapa saat. Dirinya tidak mampu berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya ia melihat tampilan dunia yang berbeda dengan bumi tempat ia lahir dan tumbuh berkembang. Keindahan langit Gloxinia tidak dapat disandingkan dengan tempat-tempat indah yang pernah ia kunjungi selama ini. "Air yang mengalir di atas awan, pepohonan dengan aneka buah-buahan yang menggiurkan lidah tumbuh subur di atas awan, taman bunga dengan keindahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya juga tumbuh di atas awan. Istana... Istana dan bangunan-bangunan mewah berdiri kokoh di atas awan. Ini... Ini sungguh menakjubkan. Aku belum pernah melihat keindahan yang menakjubkan seperti ini. Bahkan walau hanya dalam mimpi. Langit Gloxinia, langit Gloxinia, di manakah langit Gloxinia berada?"


Kaisar Quelle menjawab "Jika engkau mendongakkan kepalamu, engkau akan melihat langit biru. Di atas langit biru, terdapat jagat raya yang luas. Di jagat raya yang luas, terdapat banyak planet. Jauh dari planet yang engkau huni saat ini, terdapat suatu planet yang begitu besar dan indah. Planet itu bernama Gloxinia. Di langit planet itulah langit Gloxinia berada."


"Jika aku berhasil menempa tubuhku menjadi kuat dan tidak tertandingi, apakah aku dapat menapakkan kaki di sana?"


"Itu tergantung dari bagaimana tingkat kekuatanmu. Dari hasil observasiku tentang makhluk di planet ini, aku belum mengetahui apakah ada sosok manusia yang telah mencapai tingkat dewa dan memiliki kekuasaan di atas langit bumi?" Kaisar Quelle menghela nafas "Haaaahh.... Fyuuuuuhh... Karena ketika aku berada di luar atmosfer bumi, aku tidak merasakan kekuatan energi seorang dewa. Atau bahkan keberadaan dunia dewa yang ada di langit bumi itu sendiri. Sejujurnya aku belum tahu, apakah itu disebabkan karena mereka benar-benar belum ada, ataukah mereka sudah berkuasa dalam kurun waktu yang cukup lama, namun ada suatu dinding pelindung yang begitu kuat, sehingga mampu menyembunyikan pancaran kekuatan energi sangat kuat. Sungguh betapa sulitnya bagiku untuk dapat mendeteksi kekuatan mereka."


"Aaaaa... Aku tidak mengerti apa yang engkau bicarakan. Namun yang pasti, aku telah menyadari bahwa engkau adalah seorang makhluk yang sangat hebat." Enzi bertekuk lutuh di depan kolam, memberi hormat kepada Kaisar Quelle. Beberapa saat kemudian Enzi berkata, "Kalau begitu, mohon bimbing aku guru, dan maaf atas ketidak sopananku selama ini."


"Berdirilah!" perintah Kaisar Quelle "Hari ini, aku akan mengajarkanmu secara langsung, tentang bagaimana cara menebas musuh dalam sekali tebasan dengan menggunakan ranting kecil ini!" sambungnya.


Enzi berdiri. Selang beberapa saat kemudian, ia mengambil posisi duduk bersila dan memandangi permukaan air kolam.


"Pertama, engkau fokuskan pikiran, fokuskan aliran energi ke seputar area tangan dan senjata yang engkau genggam. Saat aliran energi di seputar tangan dan senjata yang engkau genggam itu mengalir secara harmoni, fokuskan pikiranmu terhadap target musuh yang ingin engkau binasakan. Kemudian ayunkanlah tanganmu sedikit ke atas."


Kaisar Quelle sedikit mengayunkan tangannya ke atas.


"Wow..." Enzi merasa takjub dengan teknik Kaisar Quelle yang ditunjukkan kepadanya.


"Selanjutnya, tebaskan tanganmu ke udara secara horizontal, dan biarkan tekanan energi yang mengalir di sekitar area tangan dan senjatamu itu terhempas ke arah target yang engkau ingin melalui partikel udara."


Slasssshhhh!!!!


Segala macam jenis hama yang melayang di udara, baik hama berupa tikus, ular, burung, dan belalang, tubuh seluruh hama itu terbelah menjadi dua secara horizontal.


Kaisar Quelle mengayunkan tangannya ke bawah, hama-hama yang terbelah saling berjatuhan ke permukaan tanah.


"Sekian pembelajaran hari ini. Selamat berlatih." ucap Kaisar Quelle singkat.

__ADS_1


"Woaaah.... Woaaahhh... Woaaaahhhh...! Luar biasa! Teknik yang hebat! Aku ingin mempelajarinya!" ucap Enzi dengan penuh semangat.


Kaisar Quelle mengembalikan kendali raga kepada Enzi.


"Sekarang cobalah! Kau masih mengingatnya bukan?" tanya Kaisar Quelle.


"Tentu! Tentu saja aku masih mengingatnya!" Enzi menjawab dengan penuh semangat.


"Sekarang coba kau tebas hewan yang ada di atas rumput itu!" perintah Kaisar Quelle.


Enzi mengambil mengatur nafas panjang, mengambil posisi seperti yang diperagakan oleh Kaisar Quelle.


Pada saat mengambil posisi, Enzi baru menyadari satu hal.


"Fokuskan aliran energi.... Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan aliran energi itu? Apakah itu stamina?"


"Bukan, aliran energi yang dimaksudkan bukanlah stamina. Melainkan aliran tenaga dalam, itulah istilah yang digunakan di duniamu." jawab Kaisar Quelle.


"Oh~ ternyata tenaga dalam. Baiklah, aku mengerti." Enzi mengambil posisi, selang beberapa saat kemudian ia baru menyadari akan satu hal lagi. "tenaga dalam... Aku kan belum belajar tenaga dalam." ucap Enzi.


"...!!!" Kaisar Quelle juga baru menyadari akan ilmu tenaga dalam yang sama sekali belum dipelajari oleh Enzi. Meski Enzi sempat mengatakannya ketika mengeluh, Kaisar Quelle tidak memperhatikan keluhan Enzi pada bagian tenaga dalam. "Oh iya, aku lupa memperhatikan hal itu. Baiklah, kalau begitu mulai besok pagi engkau harus belajar tentang ilmu tenaga dalam terlebih dahulu."


"Baik guru..." jawab Enzi.


"Oh iya, jangan memanggilku guru. Panggil saja aku Quelle, seperti yang aku minta pada saat kita berjumpa untuk pertama kali."


"Bagaimana dengan saudaraku? Apakah aku boleh memanggilmu dengan panggilan itu?" tanya Enzi dengan wajah riang.


"Saudaraku? Engkau terlalu muda untuk menjadi saudaraku." jawab Kaisar Quelle.

__ADS_1


"Kalau usiaku kelak sudah menginjak seratus tahun, bagaimana? Apakah aku sudah boleh memanggilmu dengan sapaan saudaraku?"


"Tetap tidak boleh! Sampai kapanpun engkau tidak boleh memanggilku saudara!"


__ADS_2