Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 48: Kawan Baru


__ADS_3

"Bukankah dia....?!" Enzi berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah melihat kedua gadis itu. "Ah! Aku ingat! Mereka adalah gadis yang waktu itu! Gadis yang waktu itu bersama rombongan pengawal arogan, dan yang disebelahnya adalah gadis aku jumpai di markas bandit-bandit bodoh itu! Lantas, apa yang sedang mereka lakukan di sini?"


Enzi datang menghampiri sang ibu, memeluk hangat tubuhnya dengan penuh rasa kasih sayang.


Anindita menatap diri Enzi, menatapnya cukup lama. Ia merasa, bahwa dirinya pernah melihat Enzi di suatu tempat.


"Sepertinya aku pernah melihat pemuda ini, tapi di mana ya?" pikir Anindita.


Sang ibu tersenyum dan berkata, "Duduklah Nak, duduklah di samping ibu..."


"Baik Bu.." jawab Enzi dengan nada lembut.


Sang ibu memperkenalkan putranya kepada dua putri bangsawan yang tengah duduk bersamanya.


"Ini putra Ambu, dia seorang putra yang berbakti dan sangat penyayang. Ladang jeruk ini, putra ambu inilah yang merawatnya. Dia setiap hari hanya bekerja di ladang, dan berjualan saat musim panen tiba."


Dhatri dan Anindita merasa kagum dengan kerja keras Enzi dalam merawat ladang jeruk yang cukup luas.


Dhatri dan Anindita menganggukkan kepala, sebagai tanda hormat kepada Enzi yang duduk di dekatnya.


"Bu, Enzi membawakan sedikit makanan untuk ibu." Enzi memberikan bungkusan makanan dan minuman kepada sang ibu.


"Terima kasih anakku." ucap sang ibu sambil membuka bungkusan makanan. Selang beberapa saat kemudian sang ibu bertanya, "Omong-omong, apakah kamu sudah makan?"


"Belum Bu." jawab Enzi singkat.


Berdasarkan adab keluarga, ketika telah berkumpul bersama keluarga, Enzi tidak akan makan sebelum ibunya makan terlebih dahulu. Karena itulah Enzi menahan lapar, dan ingin ibunya makan terlebih dahulu sebelum ia mengisi perut dirinya sendiri.


"Ayo Nak, mari kita makan bersama. Mari neng, silakan dimakan makanannya." Sang ibu mengajak Enzi, Dhatri, dan Anindita untuk makan bersama dengannya.


"Terima kasih Ambu..." ucap Dhatri dan Anindita dengan penuh rasa hormat.


"Omong-omong, putra Ambu ini sejak kecil sudah ikut ayahnya untuk berdagang di pasar. Sejak kecil, ia sudah dididik sebagai seorang pedagang. Putra Ambu tidak pandai bertarung. Jika Neng Dhatri dan Neng Anindita tidak berkeberatan, bisakah Neng Dhatri dan Neng Anindita memperkenalkan putra Ambu kepada seorang pendekar dan mengajarkan putra Ambu tentang ilmu bela diri?" pinta sang ibu kepada Anindita dan Dhatri sembari menyantap hidangan yang disajikan oleh Enzi.


Dhatri dengan lembut menjawab, "Tentu saja Ambu, Dhatri dengan senang hati akan memperkenalkan putra Ambu dengan pendekar terbaik di kerajaan ini."


Mendengar hal itu, Anindita memberi usulan, "Bagaimana kalau Kakak memperkenalkan putra Ambu kepada guru kita Kak? Dengan begitu, kita bisa belajar ilmu bela diri bersama-sama Kak.."


"Oh iya, benar. Itu ide bagus!" Dhatri sepakat dengan usulan yang Anindita.


"Gadis-gadis ini.... Ada-ada saja ide mereka. Baiklah, aku hanya seorang pedangang biasa. Tetap berakting sebagai tokoh figuran, dan berpura-pura tertarik dengan ide mereka." pikir Enzi

__ADS_1


"Toh, tidak ada salahnya aku mempelajari teknik bertarung mereka. Bukankah begitu Dewa?" tanya Enzi pada Kaisar Quelle.


"Itu terserah kau saja." jawab Kaisar Quelle singkat.


"Bagaimana Nak? Apakah kamu bersedia berlatih ilmu bela diri bersama Neng Anindita dan Neng Dhatri?" tanya sang ibu kepada Enzi.


"Jika itu untuk melindungi ibu, maka Enzi bersedia melakukannya Bu..." ucap Enzi dengan noda sopan.


"Baiklah Nak, Ibu bahagia mendengarnya. Berlatihlah bersama kedua putri-putri tuan hulubalang yang baik hati ini." ucap sang ibu merestui.


"Yeeeaayyy!!!" seru Dhatri dan Anindita secara bersamaan sebagai ungkapan kebahagiaan.


"Omong-omong, Ambu ingin kembali ke rumah dahulu. Ambu titip putra Ambu kepada kalian berdua. Akur-akurlah kalian, tidak perlu saling bertengkar." pesan sang ibu kepada Dhatri dan Anindita.


"Baik Ambu, percayakan saja putra Ambu kepada kami." ucap Dhatri.


"Ibu titip ladang ini ya Nak..." pesan sang ibu kepada Enzi.


"Baik Bu." ucap Enzi.


Sang ibu berdiri, dan berjalan perlahan meninggalkan ladang.


"Oh iya, kita belum saling mengenal. Alangkah baiknya, jika kita saling memperkenalkan diri dulu." ucap Dhatri kepada Anindita dan Enzi.


"Setuju...!" kata Anindita dengan penuh semangat.


"Perkenalkan, nama aku Dhatri, dan perempuan yang ada di sebelah aku ini adalah adik aku yang bernama Anindita." ucap Dhatri dalam memperkenalkan diri.


"Kok Kakak ikut memperkenalkan diri Dita juga? Kan Dita juga ingin memperkenalkan diri sendiri juga..." keluh Anindita kepada Dhatri.


"Hehehe.." Dhatri membalas keluhan Anindita dengan senyuman.


Selanjutnya Enzi yang mulai memperkenalkan diri.


"Perkenalkan, nama hamba Enzi Farres. Neng Dhatri dan Neng Anindita bisa menyapa hamba dengan sapaan Enzi." ucap Enzi dalam memperkenalkan diri.


"Tidak perlu formal seperti itu, mulai hari ini engkau adalah teman kami." tegur Dhatri kepada Enzi


"Enzi... Nama yang bagus." sanjung Anindita.


"Nama kalian berdua juga sangat indah." balas Enzi sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Omong-omong, daging yang kamu bawakan ini sangat lezat. Apakah kamu sendiri yang memasaknya?" tanya Dhatri pada Enzi.


"Iya, benar Neng Dhatri... Daging itu, aku sendiri yang memasaknya saat berada di rumah." jawab Enzi.


"Woaaahhh!!! Hebat! Kapan-kapan ajarkan Dita cara memasak ya?" sanjung Anindita kepada Enzi.


"Ah, Neng Dita bisa saja. Aku hanya memanggangnya di atas perapian saja kok Neng. Aku kurang pandai dalam memasak." ucap Enzi bersikap rendah hati.


"Kak, cobain deh daging bakarnya. Rasanya sangat gurih." kata Anindita sambil menawarkan daging kelimci bakar kepada Anindita.


Dhatri membuka mulut, dan mencicipi daging kelinci bakar yang ditawarkan oleh Anindita kepadanya.


Dhatri memejamkan mata, menikmati kelezatan daging kelinci bakar di setiap gigitan.


"Gurih, lezat, dan manis." sanjung Dhatri terhadap cita rasa daging kelinci bakar yang disantapnya itu. Selang beberapa saat kemudian Dhatri bertanya, "Ini namanya daging apa?"


"Daging kelinci." jawab Enzi singkat.


Dhatri terkejut mendengarnya. Seketika itu juga ia menutup mulut dengan tangan kanan.


"Kelinci?" tanya Dhatri seakan tidak percaya.


"Iya, kelinci." jawab Enzi singkat.


"Kelinci hewan yang lucu itu?" tanya Dhatri sekali lagi.


"Iya." jawab Enzi.


"Astaga.... Kok kamu tega sih? Kelinci itu kan hewan yang lucu..." keluh Dhatri kepada Enzi.


"Emm...." Enzi mencoba berpikir, mencari suatu alasan. Namun ia tidak juga menemukan alasan yang tepat untuk dijelaskan kepada Dhatri.


Akhirnya, Enzi hanya mampu diam seribu bahasa.


"Sudah Kak, mungkin saja karena Enzi tidak pandai berburu Kak... Dita mohon kepada Kakak untuk tidak marah kepadanya..." bujuk Anindita kepada Dhatri.


Dhatri menyilangkan kedua tangan di dada seraya berkata, "Baiklah, aku tidak akan marah. Aku dapat mengerti jika kamu bukan tipe laki-laki yang pandai berburu. Tapi bagiku, itu bukanlah suatu alasan. Meskipun kamu tidak pandai berburu, kamu bisa menangkap ayam hutan sebagai hewan buruan yang mudah diburu."


"Enzi tenang saja, nanti Dita akan minta tolong kepada Dita untuk mengajarkan Enzi tentang teknik berburu." pesan Anindita kepada Enzi.


"Terima kasih atas pengertian Neng Dhatri dan Neng Anindita kepada Enzi." ucap Enzi dengan rendah hati.

__ADS_1


__ADS_2