Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 35: Pengorbanan


__ADS_3

"Dhatri, apakah engkau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Ageng Phatra pada Dhatri di kediaman rumah hulubalang.


"Apa yang aku lakukan, semuanya demi keluargaku, dan juga negeri ini. Tidak masalah bagiku untuk menikahi seorang pahlawan yang bersedia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan keluargaku dan negeri ini. Aku yakin, melalui ikatan itulah jalan takdir kami saling terhubung. Meski kami tidak saling mencintai." jawab Dhatri.


"Tapi, aku sebagai teman masa kecilmu tidak terima akan hal ini!" Ageng Phatra sangat tidak terima akan keputusan yang diambil oleh Dhatri.


Dengan tenang Dhatri memberikan jawaban, "Segala sesuatu butuh pengorbanan, ibuku bersedia mengorbankan nyawa saat melahirkanku. Ayahku, bersedia mengorbankan nyawa di garis depan demi memberikan asupan makanan kepada kami, agar kami tetap hidup. Begitu halnya denganku, aku bersedia berkorban demi mereka, meski apa yang aku korbankan sebenarnya tidaklah seberapa."


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kalau engkau masih tetap berpegang teguh pada pendirianmu, maka aku akan mengorbankan diriku untukmu!" ucap Ageng Phatra dengan tegas.


"Jika engkau melakukannya, maka engkau harus menikahiku!" ucap Dhatri.


"Tidak! Aku akan berkorban demi seorang sahabat yang begitu berarti bagiku! Jadi aku akan berkorban untukmu tanpa perlu menikahimu." ucap Ageng Phatra.


"Tapi, ayahku sudah berjanji untuk menikahiku kepada siapa saja yang berhasil menyelamatkan ibu dan adikku... Jika ayahku sudah berkata demikian, maka perkataannya harus dipenuhi." ucap Dhatri.


"Aku bisa menjelaskan hal itu kepada paman. Dia pasti akan mengerti. Jadi engkau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu!" bujuk Ageng Phatra.


"Baiklah, aku sangat menghargai keputusanmu. Terima kasih telah bersedia membantuku di masa-masa sulitku, wahai sahabatku.." ucap Dhatri.


"Tidak perlu sungkan, kita ini sahabat yang selalu ada ketika salah satu dari kita membutuhkan pertolongan." ucap Ageng Phatra.


Dhatri tersenyum mengangguk, memberi rasa hormat kepada Ageng Phatra.


"Besok, aku akan mulai melakukan operasi penyelamatan! Doakan aku agar semuanya berjalan lancar!" ucap Ageng Phatra.


"Tentu! Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." ucap Dhatri.


....


Beberapa hari kemudian...


Guyuran hujan lebat membasahi hutan, sangat sulit bagi seseorang untuk melintasi jalan. Terutama jalan menuju pegunungan. Itulah yang dirasakan oleh Ageng Phatra beserta pasukannya yang tengah melakukan perjalanan demi menyelamatkan ibu dan Anindita yang merupakan adik dari Dhatri yang kini sedang ditawan di kaki gunung Pulosari.


"Tuan, hujan semakin lebat, akses jalan semakin sulit untuk dilalui. Alangkah baiknya bila kita beristirahat di sini." saran seorang prajurit yang mendapatkan misi penyelamatan istri dan putri bungsu hulubalang.

__ADS_1


Ageng Phatra menolehkan pandangannya ke arah prajurit yang setia menemaninya ke kaki gunung Pulosari.


Tidak sedikit prajurit yang tampak kelelahan, dan merasa kesulitan untuk berjalan di tengah guyuran hujan.


"Baik! Kita akan beristirahat di sini untuk sementara waktu!" perintah Ageng Phatra kepada para pengikutnya.


........


Beberapa hari sebelumnya di tempat lain...


"Kakak...." Euis tersontak kaget melihat Enzi yang tiba-tiba saja hadir di depan pintu rumah tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


"Maaf jika kedatanganku terlalu tiba-tiba, dan mengagetkanmu." ucap Enzi sambil memegang pundak Euis.


"Tidak apa-apa kok Kak, Euis senang Kakak berkunjung ke rumah Euis. Ayo Kak, silakan masuk..." Euis mengundang Enzi masuk ke dalam istana kecilnya.


Euis menyuguhkan air dari dalam kendi yang terbuat dari tanah liat.


"Silakan Kak, airnya diminum dulu.."


Enzi meneguk air yang terasa begitu menyegarkan di mulut.


"Bagaimana kabarmu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Enzi kepada Euis.


Euis menjawab, "He em, semua baik-baik saja." Euis balik bertanya "Bagaimana dengan Kakak dan kabar ibu di rumah?"


Enzi menjawab "Kabar ibu dan Kakak baik-baik saja."


Euis menundukkan pandangan mencurahkan isi hati. "Sudah lama Euis tidak berjumpa dengan ibu di rumah.. Euis rindu."


"Euis, kami juga merindukan Euis.. Ibu di rumah merasa kesepian tanpa kehadiran Euis." ungkap Enzi menyampaikan isi hati.


"Euis ingin mengunjungi ibu, tapi.... Euis tidak bisa meninggalkan suami Euis seorang diri di sini..." Euis mencurahkan isi hati mengenai situasi yang ia rasakan.


"Bulan depan, Ibu dan Kakak akan mengadakan pertemuan dengan keluarga dari kerabat baik ibu. Dalam pertemuan itu, kami berencana untuk membicarakan mengenai perjodohan Kakak dengan putrinya. Sebelum berlangsungnya acara pertemuan, Kakak berencana menyiapkan hadiah khusus kepadanya. Untuk bisa menyiapkan hadiahnya, Kakak memerlukan kulit macan tutul untuk dijadikan pakaian untuknya. Karena itulah, Kakak memerlukan bantuanmu untuk menemani ibu di rumah." tutur Enzi.

__ADS_1


"Kedengarannya menarik!" kesan Euis dengan wajah ceria. "Kakak tidak perlu khawatir, Euis akan membicarakan berita bahagia ini kepada Kang Saka. Euis yakin, pasti Kang Saka sangat mendukung Kakak. Jika tidak ada halangan, Euis akan menemani ibu di rumah. Selain itu, nanti Euis akan berusaha sebisa mungkin untuk hadir di acara pertemuan Kakak dan calon Kakak ipar Euis.." sambungnya.


"Terima kasih Euis..." ucap Enzi.


.....Beberapa hari kemudian


Rumah keluarga Enzi.


"Kak, belakangan ini sering hujan.. Menurut Euis, alangkah baiknya jika Kakak mengubah rencana hadiah yang akan Kakak berikan kepada Kak Denok." saran Euis kepada Enzi.


Enzi paham dengan apa yang dipikirkan Euis. Apa yang disarankan Euis, merupakan suatu bentuk kepedulian dari Euis. Karena Euis khawatir, melakukan perburuan di musim hujan merupakan suatu tindakan yang sangat membahayakan.


"Tenang saja, Kakak bisa mengatasinya. Bagaimana pun, Kakak ini adalah seorang pedagang yang telah mengenal kondisi area pegunungan. Termasuk kondisi area pegunungan di kala hujan. Ketika hujan akan tiba, Kakak akan berteduh di tempat yang aman. Kakak berjanji." ucap Enzi.


"Apakah Kakak yakin? Padahal kan, di rumah ada banyak benda berharga yang bisa Kakak jadikan sebagai hadiah untuk Kak Denok..." ucap Euis.


"Itu beda Euis, hadiah yang akan Kakak berikan ini hadiah persembahan yang secara khusus Kakak buatkan untuknya. Dibuat dengan hasil jerih keringat Kakak sendiri." terang Enzi.


"Hmmmm.... Padahal kalian kan belum saling mengenal, kenapa Kakak memperlakukannya sebaik itu?" gumam Euis.


"Siapa bilang kami belum saling mengenal? Kakak sudah pernah berjumpa dan bermain dengannya waktu itu..." ucap Enzi.


"Iya, itu dulu... Dulu sekali, ketika kita masih kanak-kanak Kak...!"


Di tengah keributan itu, sang ibu datang menghampiri dan mendamaikan mereka berdua.


"Ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ribut?"


Suasana rumah secara mendadak menjadi tenang dan damai.


Di tengah kedamaian itu Euis menuturkan kata kepada sang ibu, "Ini loh bu, Kak Enzi... Kan belakangan musim hujan, Euis tuh khawatir kalau misalkan Kak Enzi keluar rumah di musim hujan... Kak Enzi bisa sakit atau terpleset di tengah hutan."


Sang ibu memegang tangan Euis sambil tersenyum dab berkata "Euis, Kakakmu sudah dewasa, dia sudah bisa menjaga dirinya baik-baik. Lagi pula, Kakakmu sudah memiliki banyak pengalaman. Ibu rasa, Kakakmu bisa menangani kondisi di luar sana."


"Tapi bu.." Euis masih tampak cemas.

__ADS_1


Sang ibu berkata "Euis tidak perlu khawatir... Percayalah, semua akan baik-baik saja."


Euis pun mengangguk. Dirinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Meski ia masih memiliki kekhawatiran terhadap Enzi.


__ADS_2