Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 26: Sistem Barter


__ADS_3

Transaksi jual beli dari pintu ke pintu. Sebenarnya cara ini sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan sejak sistem barter masih berlaku di tengah masyarakat pada zaman dahulu.


Enzi mengetuk pintu, dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah, menawarkan barang dagangan berupa gelang dan kalung yang terbuat dari pernak pernik laut.


Tidak sedikit kaum hawa yang tergiur untuk memilikinya. Meski begitu, tidak semua yang tergiur mampu membelinya.


Enzi terus berusaha menawarkan barang dagangannya. Menawarkannya dengan penuh semangat, tanpa berputus asa, walau deras air keringat telah membasahi wajahnya.


Sesekali Enzi beristirahat. Duduk bersandar di tepi rumah warga setempat. Memejamkan mata, menghirup udara segar, sambil buah yang masih segar dengan lahap.


Ketika seluruh energi telah kembali terkumpul, Enzi melanjutkan misinya kembali dalam usaha perdagangannya ini.


Saat hari mulai memasuki petang, Enzi beristirahat di dekat aliran air sungai yang mengalir dari air terjun. Aliran air sungai yang dangkal, dan sangat jernih.


Di sore itu, Enzi memeriksa situasi di area sekitar, memastikan tidak ada kaum hawa di sekitarnya.


Enzi menanggalkan pakaian di atas peti dagangan. Merendamkan diri ke dalam air sungai yang dangkal. Membasuh tubuh, membersihkan kotoran dan keringat yang menempel di kulit.


"Sekarang waktu yang tepat bagimu untuk melatih pengontrolan emosionalmu dan ketenangan jiwamu!" ujar Kaisar Quelle.


Enzi mencerna ucapan Kaisar Quelle, mengingat-ingat kembali segala ucapan yang pernah disampaikan kepadanya.


"Apakah saat ini engkau ingin aku duduk bersila di bawah air terjun yang deras itu?" tanya Enzi memastikan diri.


"Tentu saja." jawab Kaisar Quelle.


"Ah, hari ini aku sangat lelah sekali. Aku akan melakukannya di lain waktu saja."


"Tidak ada istilah nanti. Berdirilah dan duduklah di bawah air terjun itu sekarang juga!" perintah Kaisar Quelle dengan tegas.


"Hei! Ini tubuhku! Kenapa engkau seenaknya saja mengaturku? Engkau tidak berhak mengaturku seperti itu!"


"Ya, benar. Itu terserah dirimu. Namun ingatlah, semakin engkau menunda, maka semakin lama proses waktu yang dibutuhkan bagi tubuhmu untuk menjadi lebih kuat. Semua itu tergantung pilihanmu."


Enzi berpikir sejenak, sampai pada akhirnya ia memutuskan...


"Baiklah, baiklah, baiklah! Aku akan menuruti ucapanmu!" dengan terpaksa ia pun berdiri sembari mengucapkan kata, "Tch! Menyebalkan!"


Mendengar ocehan Enzi Kaisar Quelle pun berkata, "Mengurus anak kecil sungguh sangat merepotkan!"

__ADS_1


Enzi duduk bersila di bawah air terjun. Deerasnya air yang jatuh, membuat tubuh Enzi goyang dan tidak seimbang.


"Duduk yang tegap dan berkonsentrasilah!" ujar Kaisar Quelle dalam memberi instruksi.


"Berisik!" ketus Enzi.


Dalam lubuk hati yang dalam Enzi terus berkata, "Aku harus kuat! Aku harus menjadi seorang pria yang sangat kuat! Aku harus menjadi seorang pria yang dapat melindungi orang-orang yang aku sayangi!"


.........


Waktu berlalu begitu cepat, dua bulan telah berlalu sejak Enzi mulai membulatkan tekad untuk menjadi yang terkuat. Selama proses pelatihan, Kaisar Quelle melalui lisan Enzi meminta Ghiwa untuk kembali ke lembah serigala. Membantu Grayscale melindungi lembah serigala, dari berbagai ancaman yang datang.


Terutama ancaman dari para pemburu.


Di pusat kota Rajatapura, para penduduk berkumpul, menyaksikan para pedagang dari negeri India menggelarkan barang dagangannya. Barang dagangan berupa gading dan porselin.


"Ayo semuanya kemari! Silakan diliat-liat! Porselin terbaru yang langsung didatangkan dari negeri nan jauh di sana." teriak seorang pedagang dari negeri India ketika mempromosikan barang dagangannya.


"Silakan, silakan dilihat dulu! Gading asli dari gajah negeri seberang!"


Enzi berdiri diantara kerumunan penduduk di pusat kota. Ia berdiri sambil melihat-lihat porselin yang dipamerkan oleh pedagang India.


"Porselin ini menarik. Aku akan membelikan porselin ini untuk ibu." ucap Enzi sambil tersenyum. Enzi menoleh ke depan dan bertanya kepada pedagang porselin dari India. "Berapa harga porselin ini?"


Sang pedagang melihat pakaian Enzi yang tampak mewah, karena faktor penampilan Enzi yang elegan, maka sang pedagang dengan senang hati menjawab "Porselin yang itu harganya tidak mahal. Cukup tiga perak saja. Jika tuan ingin membeli porselin terbaik dari negeri kami..." sang pedagang mengeluarkan porselin keramik dengan ukiran gajah dari dalam peti dan menunjukkannya kepada Enzi. "tuan bisa membeli porselin yang indah ini."


Enzi merasa terpikat dengan keindahan porselin yang dipamerkan oleh sang pedagang. Tidak beberapa lama kemudian Enzi pun bertanya kepadanya. "Kalau yang itu berapa harganya?"


Sambil tersenyum pedagang itu menjawab "kalau yang ini, harganya sangatlah istimewa. Sesuai dengan kualitasnya. Hanya bangsawan dan saudagar kaya yang mampu memilikinya. Mengenai harganya, tuan muda bisa membelinya dengan harga 20 perak saja."


"20 perak?" Enzi pun berpikir "20 perak itu bukanlah harga yang murah. Wajar saja, karena porselin ini tampak jauh lebih mewah dari porselin pada umumnya."


Enzi bertanya mencoba membuka negosiasi "Apakah tuan saudagar mau menerima sistem barter?"


"Barter? Hmmmm..." Sang pedagang tampak sedikit kecewa.


Enzi mengeluarkan kantung kecil dari balik pakaian yang ia kenakan.


"Jika tuan saudagar bersedia, aku ingin menukarkan cinderamata laut yang ada di dalam kantong kecil ini dengan porselin itu." ucap Enzi sambil menunjuk ke arah porselin keramik berukiran gajah.

__ADS_1


Enzi membuka lubang kantong kecil, dan menunjukkan isi kantong itu kepada sang saudagar India.


Sang saudagar mengintip, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui cindermata yang ada di dalam kantong tersebut.


Cinderamata yang ditunjukkan Enzi adalah tiga butir mutiara berukuran sedang yang diperolehnya saat berniaga di Kerajaan Agninusa. Enzi masih memiliki banyak mutiara di peti penyimpanan yang disimpannya di rumah.


"Tentu.. Tentu.. Tentu saja aku mau! Ini, ambil lah porselin ini!" sang saudagar menyodorkan porselin keramik berukirkan gajah India itu kepada Enzi.


Enzi tersenyum bahagia menerima porselin mewah dari pedagang India.


Sebelum dirinya beranjak, Enzi mencoba memberikan tawaran bisnis kepada sang saudagar.


"Aku ada beberapa cinderamata lain yang menarik untuk dilihat. Jika tuan saudagar berkenan untuk melihatnya, temui aku di ruang makan penginapan "Terang Bulan" malam ini."


"Tentu saja tuan muda, tentu aku akan melihat cinderamata lain yang tuan muda miliki. Baiklah, aku akan menemuimu di penginapan :Terang Bulan" malam ini!"


"Baiklah, aku akan menunggu kehadiranmu tuan saudagar. Sampai bertemu lagi."


Enzi undur diri dari hadapan sang saudagar India. Ia melangkah kembali ke rumah dengan perasaan riang.


"Silakan diliat-liat tuan.... Porselin asli dari negeri seberang........"


............


"Ibu.. Ibu...! Kak Enzi sudah datang!" Euis tampak sumringah menyambut kedatangan Enzi.


Enzi menemu sang ibu dan memberikan porselin kepada sang ibu.


"Ini hadiah kecil dari Enzi untuk ibu. Terima lah." uncap Enzi sambil tersenyum.


Sang ibu terkejut seraya berkata "Porselin ini... Aku belum pernah melihat porselin seindah ini. Harga porselin ini pasti sangat mahal. Dimana engkau mendapatkannya nak?"


"Baru saja aku bertemu pedagang dari India. Dia menawarkan porselin itu kepadaku, berhubung harganya terjangkau di kantong, jadi Enzi memberanikan diri untuk membelinya." ucap Enzi.


"Apakah engkau menggunakan seluruh uangmu demi membeli porselin ini?" tanya sang ibu penasaran.


Enzi dengan santai menjawab "Tentu saja tidak bu... Enzi tidak mengeluarkan perak sepersen pun untuk mendapatkan porselin itu"


Sang ibu terkejut mendengarnya. "Apa? Bagaimana mungkin engkau bisa mendapatkan porselin ini tanpa membelinya? Apakah engkau mencurinya?"

__ADS_1


Enzi dengan tenang menjawab "Tentu tidak dong bu, Enzi tidak berani mencuri... Enzi menawarkan metode barter untuk mendapatkan porselin itu."


__ADS_2